Melanggar Janji

Melanggar Janji
Seperti kamu dulu


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit, Malik langsung membawa istrinya pulang ke rumah. Sesuai saran Farah, Angel harus banyak istirahat. Padahal setiap weekend, Malik selalu mengajak Angel jalan-jalan ke tempat wisata yanga da di kota itu.


“Beib, aku mau ke pantai.” Rengek Angel saat mereka masih berada di dalam mobil.


“Nanti, Bee. Kalau mereka sudah kuat.” Jawab Malik sembari mengelus perut sang istri.


“Sekarang kamu harus banyak istirahat. Terus kalau di kampus dan harus menaiki tangga, usahakan jalannya pelan-pelan dan jangan terburu-buru, apalagi sampe berlari!”


“Siap, Bos.” Angel menempelkan kelima jarinya di dahi.


“Aku tahu kamu tuh orangnya energik. Aku khawatir kamu pecicilan dan lupa kalo lagi hamil.” Malik kembali berkata.


“Iya, bapak Malik yang terhomat. Pokoknya semua perintah pak Bos, siap di laksanakan.”


Malik melirik ke arah angel dan tersenyum sembari mengusap kepala Angel yang sekarang sudah berbalut hijab. Kalau dulu, Malik akan mengacak-ngacak rambut istrinya, jika sedang menggemaskan seperti ini.


Sesampainya di rumah. Malik dan Angel membuka pintu yang tak di kunci. Mereka memang meminta Rumi untuk menunggu rumah ini, selama mereka pergi. Dan, sejak Angel dinyatakan positif, Malik meminta Rumi untuk tinggal di rumah ini, karena Rumi pun menggantikan Angel untuk masak di pagi hari.


Perlahan Angel dan Malik memasuki rumahnya.


“Rumi di mana, Kak?” Tanya Angel yang tak melihat keberadaan gadis itu.


Malik mengangkat bahunya sembari membuka lemari es. Tenggorokannya terasa sangat kering. Setelah meminum habis minumannya, Malik menuangkan air mineral dingin itu ke gelas yang telah habis ia minum tadi.


“Minum, Bee.” Malik memberikan minuman itu pada sang istri.


Angel pun menelan habis air minum yang di berikan suaminya.


“Aw. Sakit. Hmm, enak.” Ucap suara seorang lelaki yang seperti Malik kenali.


Angel dan Malik terkejut mendengar suara pria dari kamar Rumi.


“Kak.” Panggil Angel pada suaminya.


Malik melangkah menuju kamar Rumi, di iringi langkah Angel.


“Rumi.” Panggil Angel sambil menutup mulutnya, saat melihat Rumi dan Jo tengah ebrada di ranjang.


“Rumi, kamu.” Tiba-tiba suara joni terdengar lantang dari belakang Malik dan Angel yang berdiri di ambang pintu kamar Rumi.

__ADS_1


Entah sejak kapan Joni masuk ke dalam rumah itu. Rumi dan Jo seperti sepasamg muda mudi yang kepergok bercumbu di pojokan taman. Jonathan saat itu tidak mengenakan baju dan hanya mengenakan boxernya saja, sementara Rumi pun hanya mengenakan tang top dan rok selutut.


“Tega kamu, Rum.” Ucap Joni.


Rumi mengejar Joni yang sudah keluar dari kamar. sementara Jo hanya terduduk santai di tepi ranjang itu.


“Heh, sejak kapan lo dateng ke rumah gue?” Tanya Malik.


“Tadi pagi.” Ucap Jo santai.


“Gue liat rumah sepi dan cuma ada Rumi doang.”


“Dasar otak mesum. terus lu goda Rumi dan rumah gue jadi tempat lu berdua bercinta. Sial dah ini rumah.” Ucap Malik dengan kesal.


Di luar sana, terdengar suara ribut Joni dan Rumi.


“Yah, cuma sepukul dua pukul, Lik.”


“Mau tiga pukul empat pukul kek, terserah. Tapi jangan di rumah gue. Di hotel sana.”


“Tunggu, emang kalian lakukan apa?” Angel masih tidak percaya jika Rumi dengan semudah itu bercinta pada Jo yang nota bene baru mengenalinya beberapa kali pertemuan saja.


“Menurut lu, kalo di kamar gini, emang ngapain, Angel?” Jo balik bertanya.


“Aku ga pernah marah dan selalu maafin kamu, kalau kamu selingkuh. Kenapa seperti ini aja kamu marah seperti itu. ini ga sengaja, Jon.” Ucap Rumi.


“Ah, aku ga percaya. Kamu emang pura-pura lembut. Pura-pura sok suci dan ga mau di sentuh, padahal apa. Sama seperti cewek-cewek yang aku bayar.”


Plak


Rumi menampar Joni.


“Oke kita putus.” Ucap joni yang saat itu sangat kesal. Padahal besok mereka akan jalan-jalan berdua dan Joni tengah mempersiapkan momen agar bisa mendapatkan Rumi seutuhnya.


“Oke. Aku juga ga rugi.” Sahut Rumi.


Joni menatap Rumi tajam. “Dasar pel*cur.”


Seketika, Rumi menangis. Memang mulut Joni terkadang tidak bisa terkontrol. Kemarahan menggelapkan matanya. Ia tak bisa lagi membedakan mana yang benar dan yang salah. Setelah ini, Joni pasti akan menyesali perkataan dan perbuatannya. Ia akan menyesal karena telah membuang berlian. Membuang wanita baik-baik dan lembut yang menerima dirinya apa adanya, selalu menerima kekurangan Joni dan selalu memasfkan kelakuan Joni yang kerap selingkuh beberapa kali.

__ADS_1


“Tuh gara-gara kelakuan lu.” Ucap Malik pada Jo.


Jo melihat Rumi yang tengah menangis. Sementara Angel dan Malik duduk di bangku mini bar itu. mereka hanya bisa menonton kisah cinta sang asisten dengan sahabatnya ini.


Malik menopangkan dagunya. “Aku kasihan sama Joni. Walau memang anak itu bejat.”


“Kalau aku lebih setuju Rumi dengan Kak Jo.” Sahut Angel yang juga tengah menopangkan dagunya di atas meja mini bar itu.


Mereka seperti yang tengah menonton adegan teather live.


Jo mendekati Rumi yang terduduk lemas di lantai. Jo berjongkok dan merangkul bahu Rumi.


“Maaf, ini semua salahku.” Kata Jo.


“Kenapa kakak diam saja. Harusnya tadi kakak menjelaskan pada Joni.” Rumi menutup wajahnya.


Ia juga bodoh, karena setelah kedatangan Jo, ia yang buru-buru dan masih mengenakan tang top karena merasa rumah ini tak ada siapa-siapa, tak segera mengganti bajunya.


“Aku akan bertanggung jawab.” Kata Jo.


Rumi membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya. “Tanggung jawab untuk apa?”


“Menikahimu.”


“Tapi kita tidak melakukan apa-apa.” Ucap Rumi bingung.


“Tapi menurut mereka, kita melakukan apa-apa.” Wajah Jo tertuju pada Angel, Malik dan Joni yang sudah entah di mana.


“Aku yakin, Malik akan mengusirmu setelah ini, karena kamu di anggap wanita penggoda. Ia pasti tidak mau ada wanita penggoda di rumahnya.”


“Seperti itu kah?” Rumi kembali menangis. Jo telah berhasil mendoktrin pikiran gadis lugu seperti Rumi.


“Tenanglah, Rum. Aku akan membahagiakanmu, kamu tidak perlu menangis.” Jo berusaha menenangkan Rumi dan perlahan memeluk tubuh gadis itu, beruntungnya Rumi pun tak menolak. Ia pun sedang tak bisa berpikir jernih.


Di sana, Malik dan Angel saling bertatapan melihat kelakuan Jo yang ternyata bisa merayu seorang gadis. Mungkin karena yang di rayu adalah Rumi.


Malik dan Angel tertawa.


“Sebentar lagi, aku harus bersiap menjadi pendengar yang baik untuk Joni, karena dia pasti akan menjadi pria yang paling bodoh dan menyesali apa yang dia lakukan hari ini.” Ucap Malik dengan pandangan lurus ke depan, melihat sahabatnya tengah memeluk sang asisten rumah tangga.

__ADS_1


“Seperti kamu dulu.” Ledek Angel.


Lalu, Malik merangkul Angel dan tertawa bersama.


__ADS_2