Melanggar Janji

Melanggar Janji
Terima kasih, Kak


__ADS_3

“Ma, Iyan tidak mau menceraikan Angel. Titik.” Kata Adrian saat duduk dan hendak menikmati sarapan pagi bersama.


“Buat apa kamu mempertahankan rumah tangga seperti itu. Apa kamu tidak jijik melihat istrimu pernah di sentuh Malik?” Tanya Dila mendengus kesal. Ia tak habis pikir dengan putranya.


“Toh, memang dari awal kami menikah, Angel sudah pernah di sentuh Malik. Lalu apa bedanya?” Jawab Adrian.


“Apa kamu sudah ga waras, Hah? Masih banyak wanita lain yang lebih baik dari Angel, Yan.” Kata Dila lagi.


“Tapi dia menyayangi Alika dan Fariz, Ma.” Ucap Adiran lirih.


“Sudah lah, Yan. Malik benar. Kamu yang salah. Dulu mengapa kamu menyia-nyiakan Angel, sekarang malah mempertahankan.” Ucap Radit santai.


“Maksud papa apa?” Tanya Dila.


“Iya, Papa pernah melihat Adrian memarahi Angel dengan murka. Dia memang hanya menganggap Angel baby sitternya.”


Dila melirik ke arah putra dan suaminya bergantian.


“Itu dulu Papa, karena saat itu Adrian masih memegang teguh janji pada almarhumah Alya. Tapi sekarang Adrian mencintai Angel.”


“Terlambat kamu, Yan.”


“Jadi, apa yang di katakan Malik itu benar?” Tanya Dila tak percaya. Ia tak percaya jika putranya seperti itu.


“Iya, Ma. Papa pernah lihat sendiri Iyan memarahi Angel seperti memarahi pembantunya.” Jawab Radit.


Dila terdiam.


“Ya sudah, biar perceraian itu papa yang urus. Lagi pula Angel juga tidak mencintaimu, Yan. Sudah lepaskan saja.” Ucap Radit lagi.


Adrian menunduk. Ia tak lagi bisa bicara.


****


“Anak itu masih di luar?” Tanya Enin pada Ella, melihat ke arah luar, tempat Malik duduk.


“Iya, Bu. Sepertinya dia memang sangat mencintai Angel. Kelihatan dari sorot matanya yang tulus.”


‘Tapi, mereka telah mencoreng nama keluarga, La.” Jawab Enin lirih. Mereka juga penyebab Hendra tiada.

__ADS_1


“Bu, semua manusia punya takdirnya sendiri. Aa pergi memang karena sudah waktunya, walau saat waktunya tiba memang karena sebab.”


“Tapi, Enin ingin mereka terpisah dulu, agar ada hukuman untuk mereka yang telah melangar batas.”


Ella mengangguk.


Lalu, Ella menghampiri Angel di kamar kakaknya. Angel sudah terlihat lebih segar. Ia melepas mukenanya setelah selesai mengaji. Dari subuh, Angel tak beranjak dari sajadahnya. Ia mendengar semua perkataan Ella. Ia sadar, bahwa ia kini sudah tidak pernah menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Sudah lama ia tak melakukan sholat, apalagi mengaji. Ia tidak ingin memberatkan keda orang tuanya di sana, karena kelakuannya yang buruk. Ia ingin menebus semua keburukan itu dengan melakukan hal yang baik.


“Bi.” Angel memeluk Ella dan kembali menangis.


“Apa Ayah dan Ibu akan menerima siksaan di sana karena ulah Angel di sini?” Tanya Angel.


“Itu hakNya, Bibi tidak tahu. Tapi yang jelas, bertaubatlah, memohon ampunlah, karena memang apa yang kamu lakukan sudah di luar batas. Sekarang jalanilah hidupmu dengan baik.”


Angel mengangguk.


“Sepertinya, keluarga Adrian akan menggugat cerai. Setelah itu, pergilah sementara waktu. Bibi akan coba mencari universitas yang sedang membutuhkan dosen sesuai dengan gelar kelualusanmu. kamu mau?”


Angel menganggu lagi. “Walau itu di luar kota. Angel mau. Angel memang butuh waktu untuk sendiri.”


Ella tersenyum. “Baiklah, akan Bibi carikan, kebettulan teman Bibi banyak yang sekarang jadi dosen.”


Angel ikut tersenyum. Mungkin memang ia harus membenahi diri dari nol sekarang. Kalau Malik jodohnya, ia akan bertemu lagi dalam keadaan yang baik. Kalau pun tidak, ia pun tidak tahu. Mungkin akan menjalani hidupnya sendiri sulu seperti ini, pikirnya.


****


Alika dan Fariz pun kaget dengan ketidak beradaan Angel di rumahnya. Sempat Fariz Alika demam tinggi, hingga harus rawat inap di rumah sakit. Angel pun di jemput Adrian, karena anak itu selalu menyebut namanya. Akhirnya, Angel merawat Alika hingga pulih dan mencoba menjelaskan kondisinya saat ini. lambat laun, Alika dan Fariz pun harus mengerti kondisi itu.


“Angel, maafkan aku. Maaf karena selama ini aku tidak menjadi suami yang baik untukmu.” Adrian dan Angel sama-sama berdiri berhadapan untuk mengucapkan salam perpisahan.


Angel mengangguk. “aku juga minta maaf karena selama ini tidak menjadi istri yang baik untukmu.”


“Seandainya, rasa yang ada tidak terlambat. Mungkin tidak akan begini akhirnya.” Kata Adrian lirih.


‘Ini memang takdir, Mas. Aku yang banyak salah padamu. Maaf. Semoga kamu memaafkan kesalahanku.”


Adrian mengangguk. “Ini pelajaran untukku.”


Angel mengangguk lagi. “ini juga pelajaran untukku.”

__ADS_1


“Boleh aku memelukmu?” Tanya Adrian dan Angel mengangguk senyum.


Mereka pun berpelukan. Sementara jauh di seberang sana, Malik mengenakan kacamata hitam, menyaksikan perpisahan itu.


Enin meminta Malik untuk menjauhi cucunya sementara waktu. Ia menyetujui hal itu. Lagi pula setelah meninggalnya Hendra, Angel tinggal bersama Enin di Bandung dan Malik tetap bekerja di Jakarta. Proses wisuda Angel di lewatkan, karena bertepatan dengan empat puluh hari meninggalnya sang ayah, yang terpenting ia sudah mengantongi ijazah.


Angel pun mematuhi perintah sang nenek. Ia tak pernah sekalipun komunikasi dengan Malik. Ia berusaha untuk memeprbaiki diri.


Begitu pun dengan Malik, kini ia sering mendatangi kajian, untuk menenangkan hatinya.ia selalu memanjatkan doa agar di jodohkan dengan Angel dan di pertemukan dalam keadaan yang baik.


****


Tiga bulan berikutnya.


“Angel, kamu di terima di Jogya.” Teriak Ella yang kini sedang berada di rumah Hendra.


Semula, Angel malas untuk melihat hasil test CPNS yang ia lakukan persis seetelah ketukan palu pengadilan agama, yang menetukan statusnya kini.


“Beneran, Bi?” Tanya Angel berbinar.


“Beneran. Ini nomor kamu kan? Ama kamu tercetak jelas nih.” Kata Ella lagi saat membuka situs perguruan tinggi negeri di sana.


Angel menongolkan kepalanya di depan layar laptop itu.


“Alhamdulillah.” Ia mengusap wajahnya lembut. Akhirnya, cita-cota itu tercapai juga.


“Selamat ya, Ngel.”


Enin dan fajar pun menghampiri dan melihat layar laotop itu bergantian.


“Wah, congrat, Ngel. Kamu memang beruntung.” Fajar menepuk bahu Angel.


Enin pun memeluknya. “Selamat ya, Sayang. Di sana, kamu harus benar-benar menjaga dirimu dengan baik. Jadikan masa lalumu itu sebagai pelajaran dan jangan mengulangiya lagi!”


Angel tersenyum dan mengangguk. “Iya, Enin. Angel juga tidak mau menyiksa ayah dan ibu di sana.”


“Bagus.” Enin mengangguk.


“Terima kasih semua.” Angel memeluk Enin dan Ella. Fajar pun ikut memeluk ketiga perempua ini dari belakang.

__ADS_1


“Terima kasih, Kak.” Gumam Angel untuk Malik yang tak tahu di mana.


Padahal, Malik tahu Angel berada di mana. Ia pun tahu, apa yang di lakukan Angel saat ini, karena Neneng menjadi mata-matanya sekarang dan Neneng tengah tersenyum sembari menaruh pisang goreng persis di seberang mereka dan memoto kebersamaan majikannya di sana, lalu di kirimkan untuk Malik.


__ADS_2