Melanggar Janji

Melanggar Janji
Pemberi semangat


__ADS_3

Hendra dan keluarga mengantarkan Angel ke rumah Adrian, beserta orang tua Adrian. Setelah sampai di rumah itu, mereka berbincang dan berisitrahat sejenak. Tidak lama kemudian, Hendra pun kembali ke Bandung.


“Jadilah istri yang baik, Nak.” Ucap Hendra saat ia akan pulang.


“Iya, Sayang. baik-baik di sini ya.” Sambung Enin.


“Iya Yah, Nin.” Angel tersenyum.


“Yan, jaga putri ayah dengan baik ya.” Hendra pun menitipkan putrinya pada suaminya.


Adrian mengangguk.


“Tenang saja, Ndra. Iyan akan bahagiakan putrimu dan akan di buat seperti ratu.” Sahut Radit.


Hendra pun tersenyum di irngi senyum para orang tua lainnya. Sedangakn Adrian dan Angel hanya terdiam.


Hari semakin malam, Angel membersihkan diri dan hendak beristirahat. Ia melihat Adrian yang sudah terlebih dahulu berada di atas ranjang, walau hanya duduk dan menyandarkan bahunya pada dinding tempat tidur itu. Jantung Angel kembali berdetak, ia takut Adrian akan meminta haknya. Angel hanya mondar mandir dan tak berani mendekati tempat tidur itu.


“Kamu kenapa?’ Tanya Adrian yang melihat sikap canggung Angel.


“Tidak apa, A. Aa mau di buatkan teh?” Tanya Angel, yang melihat suaminya masih memainkan ponsel di tangannya.


Adrian menggeleng.


“Kamu tidak perlu canggung. Aku tidak akan mengkhianati cintaku pada mendiang istriku. Kalau bukan karena Alika dan Fariz, aku juga tidak akan menikah lagi.” Kata Adrian dingin, membuat Angel mematung.


“Satu lagi, jangan memanggilku dengan panggilan Aa, karena panggilan itu khusus hanya untuk Alya padaku. Kamu bisa memanggilku dengan sebutan lain.”


“Apa?” Tanya Angel bingung.


Adrian mengangkat bahunya. “Terserah.”


“Panggil saja aku Kakak.” Kata Adrian.


Sontak Angel terdiam, karena panggilan itu hanya untuk Malik.


“Bagaimana kalau Mas saja.” Jawab Angel lirih.


“Terserah.” Ucap Adrian lagi santai, lalu langsung menaruh ponselnya dan mulai berbaring.


Perlahan Angel pun mendekati tempat tidur itu. Hatinya sedih, seperti inikah rasanya tidak di cintai? Padahal ia sudah mengubur cintanya pada Malik dan bertekad akan belajar mencintai suaminya.

__ADS_1


Tok.. Tok.. Tok..


Pintu kamar itu berbunyi.


“Bunda..” Teriak Alika.


Angel bergegas membuka pintu itu. Adrian pun kembali terbangun.


“Ada apa Alika?” Tanya Adrian yang mendengar teriakan keras sang putri.


“Papa, boleh Alika tidur di sini?”


Tiba-tiba Fariz pun berlari mendekat. “Fariz juga mau tidur di sini.”


“Haduh, kalian ini. Sudah sini.” Adrian bangkit dan mengambil selimutnya.


“Papa, tidur di mana?” Tanya Alika.


“Di kamar Fariz.” Ucap Adrian dan pergi dari kamar itu.


Angel tersenyum ke arah dua anak menggemaskan itu. Hatinya tak lagi sedih ketika melihat dua malaikat kecil itu. Hanya dua anak itu yang membuat hari-hari Angel bersemangat, walau anak-anak itu bukanlah anaknya.


“Yeeayy.” Sorak Alika dan Fariz.


****


Di tempat berbeda. Semakin hari, Malik semakin menyibukkan diri. Hari-harinya hanya di isi untuk kerja dan kerja. Ia pun tengah mempersiapkan diri untuk pergi ke Singapura. Setiap pagi, Malik selalu memutar video Angel tengah memasak sarapan pagi untuknya di ponsel itu. Hanya video itu, yang membuat Malik semangat dalm menjalani hari-harinya tanpa Angel kini.


“Apaan sih, Kak? Pake di vidioin segala.’ Ucap Angel di video itu, dengan rambut kuncir asal di gelung ke atas dan raut wajah khas bangun tidur, angel terlihat tetap cantik.


“Kamu masak apa, Bee?” Tanya Malik yang tak terlihat di video itu.


“Tara.. Nasi goreng seafood ala Angel.” Angel menmpilkan piring dan senyum manisnya ke arah kamera.


Malik men-zoom wajah Angel dan tersenyum sendiri.


“Pagi, Bee. Semoga harimu juga menyenangkan.” Ucap Malik menghabiskan secangkir kopi yang ia buat sendiri. Lalu, mematikan video itu.


Cukup wajah Angel yang terpampang di video itu, yang mampu menjadikan semangat Malik dalam mengawali aktifitasnya sehari-hari.


Sesampainya di kantor, ia pun melengkapi semua pekerjaan yang akan ia tinggalkan.

__ADS_1


Tok.. Tok.. Tok..


“Masuk.” Kata Malik.


Yang mengetuk pintu itu adalah Tiara. Tiara adalah orang yang paling bahagia ketika mendapat undangan pernikahan dari Angel. Namun, sekarang ia menjadi orang yang paling sedih karena Malik akan pergi jauh dan tak lagi bekerja di kantor ini.


“Malik.’


Malik menengadahkan wajahnya, saat tau suara yang ada di hadapannya.


“Apa tidak bisa kamu tetap di sini?” Tanya Tiara.


“Sir david membutuhkanku di sana.”


“Aku pasti akan kehilanganmu, Lik.”


Malik mengeakkan tubuhnya. “Tiara, sudah berapa kali aku bilang. Aku bukan pria yang baik untukmu. Jangan pernah memaksakan sesuatu sesuai dengan yang kamu mau, karena hidup itu tidak selalu berjalan seperti yang kita mau.”


“Kamu marah padaku?” Tanya Tiara.


“Kalaupun aku marah, tidak akan mengembalikan semua yang terjadi.” Ucap Malik kembali mefokuskan dirinya pada berkas-berkas yang berserakan di meja itu.


Malik semakin menjadi pribadi yang dingin dan gila kerja.


Tiara menarik nafasnya panjang. “Aku tidak bisa hidup tanpamu, Lik.”


“Aku juga tidak bisa tanpa dia, dia yang sudah menjadi milik orang lain karena kebodohanku malam itu. Aku menyelamatkanmu, tapi aku sendiri tidak ada yang menyelamatkan. Ironis bukan? Kalau aku tidak menyadari betapa hidup itu berharga, mungkin aku juga sudah mengakhiri hidupku, sama seperti yang kamu lakukan dulu.”


“Malik.” Sontak Tiara terkejut.


“Aku tahu rasanya mencintai, karena aku juga mencintai seseorang seperti kamu mencintaiku. Namun hidup tetap harus berjalan, Ra. Dan, aku memilih menjauh dari semua ini sementara.”


Tiara terdiam. Ia mengangguk. Lalu, berdiri dan hendak keluar dari ruangan itu. Ia sadar bahwa apa yang ia lakukan telah membuat orang yang di cintainya terluka.


“Maafkan aku, Lik.” Tiara menoleh ke arah Mlik sbeelum ia keluar dari ruangan itu.


Malik tersenyum. “It’s Oke.”


Tiara pun ikut tersenyum dan keluar dari ruangan itu.


Keesokan harinya, Malik berangkat ke Singapura. Ia sudah berpamitan dengan semua temannya di kantor. Ia pun telah menyerahkan pekerjaannya pada Abram sesuai perintah bosnya. Malik tersenyum meninggalkan semua kenangan manisnya di sini. Ia melangkah ke dalam pesawat.

__ADS_1


__ADS_2