Melanggar Janji

Melanggar Janji
bonus chapter 7


__ADS_3

“Yan, Eum ...” Farah melenguh, saat Adrian memainkan area sensitif itu dengan lidah dan jarinya.


Adrian memang semakin lihai membuat Farah terbang ke langit ke tujuh. Farah terus di buat meledak berkali-kali di tempat ini, tempat yang indah dan hanya terdengar deburan ombak.


Ya, saat ini, Adrian dan Farah sudah berada di Maldives, tepatnya di pulau Como Cocoa. Pulau yang terletak sekitar empat puluh menit dari Bandara Internasional Male ini memiliki beberapa pantai eksotis dan juga romantis. Di pulau ini, mereka bisa menikmati keindahan kehidupan laut, tetapi dapat juga menemukan kemewahan, seperti menikmati spa dan sesi yoga di resort yang ia pesan ini.


Adrian mendongakkan kepalanya, menatap wajah sexy sang istri yang sedang menikmati pelepasan itu.


“Oh, Yan. Aku lemes, sumpah!” ucap Farah yang memang sudah terlihat tak berdaya.


Adrian tertawa dan menyamakan lagi wajahnya pada wajah sang istri. “Kamu kalah? Tumben! Biasanya aku yang kalah.”


Farah menggelengkan kepala. “Kali ini aku nyerah. Aku kalah.”


Adrian tertawa sembari mengelus wajah yang berada tepat di depan wajahnya.


“Kamu pasti minum obat,” kata Farah dan Adrian langsung mmenggeleng.


“Bohong, pasti kamu dapat ramuan dari Bayu,” kata Farah lagi dengan anda yang masih lemah.


Sesampainya di tempat ini, Adrian langsung menggempur Farah dan tak membiarkannya keluar dari kamar ini sekalipun.


“Kok tahu,” sahut Adrian.


“Temen kamu yang satu itu kan paling sengklek. Pasti dia biangnya.”


Adrian kembali tertawa. “Kamu lucu banget sih, Far.” Ia mencubit ujung hidung sang istri dan tetap menindih tubuh itu dengan masih sama-sama tak menggunakan kain sehelai pun.


Farah juga masih merasakan milik sang suami yang sepertinya masih tegak sempurna menempel di pahanya.


“Yan, aku lemes.”


“Satu kali lagi, Sayang. janji!” Adrian mengangkat kedua tangannya ke atas. “Setelah itu kita tidur.”


“Hmm ... padahal sesampainya di sini, aku ingin langsung ke pantai tau. Eh malah langsung diterkam sih.”


Jawaban sang istri selalu membuatnya tertawa. “Lagian siapa suruh langsung buka baju depan aku.”


“Ya, kan emng pengen bersih-bersih karena udah semalaman di pesawat.”


Adrian masih terkekeh geli.


“Kamunya aja yang mesum. Eum ...” Farah memukul pelan lengan yang sedang bersangga itu.


Adrian memelankan tawanya. “Sekali lagi, Plis.”


Ia menaik turunkan alisnya, membuat Farah tertawa, karena Adrian sudah tidak lagi menjadi orang-orangan sawah. Justru saat ini, ia semakin mesum. mungkin karena dikelilingi oleh orang-orang mesum, seperti Malik, Bayu, dan Egy sahabatnya.


****


“Yan, kita diving yuk!” pinta Farah, ketika mereka berada di pantai.


“Hmm ... boleh juga,” jawab Adrian.


Mereka langsung menanyakan keinginan itu pada petugas di sana dan meminta menyiapkan beberapa orang ahli untuk menemani mereka saat melakukan olahraga itu.


“Aku sudah lama tidak diving,” kata Adrian.


“Aku juga,” jawab Farah antusias.


Kebetulan, mereka memang melihat beberapa tim yang akan melakukan snorkling di sana, terlihat dari beberapa diantara mereka yang menyiapkan perlengkapan itu.


“Sir, anda bisa langsung bergabung bersama mereka. Kebetulan dua orang yang seharusnya hadir, tidak datang. jadi kalian bisa memaakai perlengkapan mereka,” ucap petugas itu sembari menunjuk tim itu.


“Kita memang beruntung, Far,” jawab Adrian sembari menggenggam tangan sang istri dan segera menghampiri tim itu.


“Ya.” Farah pun tertawa mengikuti langkah cepat Adrian.


Kini, mereka pun sudah berada di dalam speed boat bersama kelima orang yang juga akan melakukan snorkling termasuk sang pelatih.

__ADS_1


Bagi wisata yang berkunjung ke pantai, olahraga seperti snorkling, free diving, dan scuba diving adalah kegiatan yang tak boleh dilewatkan. Hanya saja untuk free diving dan scuba diving dilakukan untuk kalangan dewasa saja, karena tidak mengunakan alat-alat ketika menyelam ke dasar laut. Berbeda dengan snorkling yang memang menggunakan perlengkapan lengkap seperti pelampung, snorkel, masker, dan fin. Sehingga olahraga ini menjadi aman dan sedikit resiko.


Adrian memasangkan fin pada kaki Farah, lalu ia memakai snorkel di punggungnya sendiri, setelah itu memakaikannya pada punggung Farah.


“Jangan jauh-jauh dari aku ya,” kata Adrian.


“Iya, Sayang.”


Sejak memakai peralatan itu, Adrian tidak hendit-hentinya memberi wejangan pada sang istri, karena walau sudah aman, ia tetap khawatir.


“Already?” tanya pria yang menjadi guide itu.


“Yes,’ jawab keenam orang yang sudah siap meluncur kebawah.


“One, two, go!”


Byur


Mereka pun menceburkan dirinya bersama. Tubuh mereka terus meliuk, turun hingga ke kedalaman lima meter. Pemandangan di bawah sana, terlihat sangat indah.


Namun sesaat Adriam menengok kebelakang, karena ternyata sang istri sudah tidak lagi di dekatnya. Mata Adrian berkeliling mencari postur tubuh istrinya. Lalu, tiba-tiba di sana Farah melambaikan tangan. Adrian pun langsung menghampiri sang istri, ingin sekali ia mengomel karena Farah memeilih jalan yang tidak sama dengannya tadi saat meluncur.


Adrian mencubit lengan Farah, saat sudah dekat dengan istrinya itu.


“Hmm ...” Farah hanya bisa mengumam karena mulutnya di bungkam dengan alat snorkel. Ia protes karena tiba-tiba Adrian mencubitnya.


Adrian kesal melihat Farah yang tidak dekat-dekat dengannya, membuat drinya begitu khawatir.


Di dasar laut itu, para wisatawan yang tengah ada di sana berselfie ria oleh pemandu itu, karena memang hanya pemandu itu yang membawa kamera khusus untuk para wisatawannya.


****


“Huh, hari ini capek banget,” kata Farah sembari merebahkan diri di atas ranjang.


Seharian ini, aktifitas yang mereka lakukan sangat panjang dan menyenangkan.


“Seneng?” tanya Adrian juga ikut merebahkan diri di samping sang istri.


Adrian pun tak menyianyiakan itu, ia juga langsung ******* bibir Farah dan membelitnya. Ciuman mereka pun kian memanas, lalu tak lama kemudian Adrian melepasnya.


“Malam ini tidak ...”


“Tidak.” Adrian memotong perkataan Farah yang ia tahu akan kemana arah perkataan itu. “Tidurlah. Aku tidak akan menganggumu malam ini.”


Farah pun tersenyum. Adrian memang suami pengertian. Mereka tertidur berpelukan.


****


Sudah hari kelima, mereka berada di tempat ini. Rencananya mereka akan pulang setelah hari ke enam, karena mereka cuti selama tujuh hari. Sengaja, Adrian pulang diwaktu weekend agar ketika sampai di jakarta mereka masih bisa beristirahat esoknya.


“Sayang, kamu belum makan sejak pagi. Sarapan yang tadi aku siapkan, masih dikamar dan belum disentuh,” kata Adrian ketika mereka berada di restoran dan tengah menikmati makan siang di hemparan luas dan deburan ombak.


“Aku malas makan, Yan.”


Adrian meletakkan alat makannya, lalu menyentuh dahi dan leher Farah. “Kamu kecapean ya?”


“Ngga sih. Aku seneng malah.”


“Ya udah, hari ini kita ngga usah kemana-mana dulu. Di kamar aja ya.”


“Emmm ... ngga,” rengek Farah, karena jika hanya berada di kamar saja, ia tahu apa yang akan terjadi.


“Aku tidak akan menganggumu,” ucap Adrian dengan senyum menyeringai.


“Bohong.”


Adrian kembali tersenyum. “Benar.”


Kemudian, Adrian memaksa sang istri untuk makan. Bahkan ia menyuapinya di tengah keramaian itu. suatu pemandangan langka seorang Adrian melakukan hal itu di depan umum, sebelumnya ia tak pernah melakukan ini bahkan dengan istri-istri sebelumnya.

__ADS_1


Selesai makan siang, Adrian membawa sang istri ke kamar. Adrian menggenggam tangan sang istri untuk menaiki lift.


“Yan, kok aku pusing ya,” kata Farah sebelum kaki mereka sampai di depan lift.


“Wajahmu juga pucat, Far. Sepertinya kamu memang kelelahan.”


Farah mengangguk. Tetapi kian lama, pandangannya kian kabur dan gelap.


Bruk


Farah pingsan. Tubuh ambruk itu langsung ditangkap oleh Adrian dan hendak membawanya ke kamar. petugas resort itu pun sudah berhamburan menolong Adrian.


“It’s oke. I’m a doctor. I can handle it,” ucap Adrian agar beberapa petugas yang menghampirinya tidak panik.


Lalu, mereka mengantarkan Adrian hingga di depan kamar.


“Thank you,” ucap Adrian setelah petugas itu membantunya membukakan pintu kamar.


Adrian merebahkan tubuh sang istri perlahan di atas tempat tidur. Ia melakukan pertolongan pertama pada sang istri sembari memeriksa.


Adrian tersenyum. Ternyata apa yang ia yakini terjadi juga. Ia meletakkan alat periksa itu setelah memeriksa tubuh sang istri. Sebagai dokter, ia memang selalu membawa alat periksa itu kemanapun.


Kemudian, Adrian memberi rangsangan pada kulit Farah dengan menepuk pipi dan menciumnya, agar Farah segera siuman.


Farah mengerjapkan kedua matanya. Ia terbangun karena Adrian menggigit-gigit kecil bagian lehernya.


“Aku pingsan?” tanya Farah.


Adrian menyamakan posisi wajahnya pada sang istri dan terenyum mengangguk. “Eum ...”


“Tapi aku ngga sakit, Yan.”


“Iya, kamu ngga sakit. Tapi aku khawatir dia di sini sakit.” Adrian mengelus perut Farah. “Kamu lari-larian, diving, voly pantai. Huft! Untung saja dia kuat.”


Farah ikut melihat ke arah tangan Adrian yang mengelus perutnya.


“Memang kenapa?” tanya Farah.


“Ya ampun, Sayang. Kamu ngga berasa?”


Farah menggeleng. Sunggung pikirannya benar-benar blank.


“Sudah berapa hari kamu telat?’ tanya Adrian.


Farah berpikir, ia memang tidak pernah memperhatikan masa periodenya sejak Adrian antusias mengajak berlibur ke tempat ini.


Farah menutup mulutnya yang menganga. “Aku, Yan?” Farah bangkit dan menunjuk dirinya sendiri.


“Ini beneran, Yan?” tanya Farah lagi. Ia masih tak percaya.


Adrian mengangguk. “Iya, kamu hamil.”


“Oh, ya Tuhan. Terima kasih.” Farah tersenyum dan menghambur peluk ke tubuh sang suami.


Adrian pun membalas pelukan itu dengan erat.


“Yan, aku hamil,” ucap Farah lagi, tetapi kini diiringi dengan tangis haru.


“Iya, Sayang.” Adrian mengelus punggung belakang sang istri.


“Yan, ya ampun.” Farah melepaskan pelukan itu dan menepuk jidatnya. “Kegiatan kemarin itu tidak apa-apa kan? Ngga ganggu bayi kita kan?”


Wajah Farah tampak cemas.


“Sstt ... berpikir saja yang baik-baik. Oke! Dia kuat, dia tidak apa-apa,” jawab Adrian menenangkan.


Farah kembali memeluk sang suami. “Terima kasih, Yan. Terima kasih Angel dan Malik.”


Adrian kini yang melepas pelukan itu dan menatap tajam Farah. “Loh, kenapa terima kasihnya sama Angel dan Malik?”

__ADS_1


“Ya, karena mereka membuatmu patah hati dan membuatmu ingin menennagkan diri ke lantai atas, lalu bertemu denganku.”


Adrian tertawa. Sungguh, wanita ini selalu saja membuat dirinya tidak lagi kaku seperti orang-orangan sawah.


__ADS_2