Melanggar Janji

Melanggar Janji
Adrian dan Farah 3


__ADS_3

Di saat yang bersamaan, dari kejauhan Adrian melihat sedan merah yang sangat ia kenal. Adrian langsung melajukan mobilnya dengan cepat dan mengerem mendadak persis di belakang mobil Farah.


Ia pun langsung keluar dari mobil dan berkelahi dengan ketiga pria yang menghadang Farah. Di dalam mobil Farah masih memejamkan matanya saat kaca mobil pecah. Ia tak berani menbuka matanya. Ia hanya bisa menangis. Ia mengira akan mati di tempat ini.


Bugh


Bugh


Bugh


Adrian menghajar kedua pria yang sudah membuka paksa pintu mobil Farah, karena kaca jendela yang pecah memudahkan orang itu untuk membukanya dari dalam. Satu orang yg menghadang Farah dari depan pun ikut turun dan membantu kedua temannya untuk melumpuhkan Adrian.


Adrian memang memiliki ilmu beladiri yang cukup mumpuni. Sejak SMP, ia dan Malik sama-sama menggeluti olahraga taekwondo, hingga sabuk terakhir. Bahkan, Adrian sering mengikuti kompetisi dan memenangkannya, walau pun Malik ikut, tapi tetap saja, prestasi yang Malik peroleh selalu berada di bawah kakak sepupunya itu.


Akhirnya Adrian di kepung oleh ketiga pria bringas itu, tapi Adrian tidak kalah strategi. Ia sudah memasang kuda-kuda untuk melawan ketiga pria itu.


Di dalam mobil, Farah membuka matanya karena ia tak lagi di ganggu oleh pria-pria itu. setelah keluar dari mobil, ia mendapati sosok teman kerjanya yang sedang bergelut bersama ketiga pria yang mengganggunya tadi.


“Iyan.” Teriak Farah.


Sontak, Adrian pun menoleh ke suara itu. Namun, saat Adrian lengah karena tidak fokus dan menatap Farah yang berdiri jauh di sana. Benda tajam yang di pegang salah satu pria itu pun mengacung ke arahnya.


“Yan, awas.” Teriak Farah.


Sret


Dada Adrian sudah terkena benda tajam itu. untungnya hanya sebuah goresan, goresan yang cukup dalam hingga kemeja Adrian sobek dan mengakibatkan luka yang cukup menganga.


“Yan." Farah menagis histeris.


"Tolong” Farah teriak lagi. Ia bingung harus bagaimana?


Farah terus berteriak dan meminta pertolongan, hingga akhirnya ada satu kendaraan yang berhenti dan keluar untung menolong. Kemudian, ada satu motor lagi berhenti dan menolong Adrian.


Di sana, Adrian pun tidak kalah, tapi ketiga orang itu langsung kabur membawa motornya masing-masing karena melihat dua pengendara yang berhenti dan menolong Adrian.


“Saya rekam, Bu. Supaya viral.” Kata si pengguna motor yang berhenti dan berniat menolong Adrian. Namun, orang itu malah mengambil ponselnya dan merekam kejadian.


Farah tidak peduli dengan perkataan di pengguna motor itu. ia langsung menghampiri Adrian.


“Yan, kamu berdarah.” Farah memeluk dada bidang teman sejawatnya itu, tapi Adrian sibuk menelepon Mang Asep.


“Mas, dada anda berdarah.” Kata pengguna mobil yang tadi berhenti dan menolong Adrian.


“Ga apa, Pak. Terima kasih bantuannya.” Jawab Adrian. Sedangkan Farah sibuk mencari P3K di mobilnya untuk memberikan pertolongan pertama pada pria yang sudah menjadi dewa penolong malam ini.


“Di sini itu jalannannya sepi, Bu, Pak. Banyak kejadian begal.” Kata pengendara motor yang merekam kejadian itu.


Adrian mengangguk. “Iya, Pak. Terima kasih. Terima kasih.”


Adrian menganggukkan kepalanya pada kedua orang yang sengaja berhenti untuk menolongnya.


“Mas, baik-baik saja? Apa perlu di bawa ke rumah sakit?” Tanya si pengguna mobil yang menolong Adrian.


“Tidak usah, dia juga dokter.” Adrian menunjuk ke arah Farah yang sedang mengoleskan alkohol ke dada Adrian.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu kami tinggal, Pak. Hati-hati.”


“Oke, sekali lagi terima kasih.” Adrian menangkup kedua tangannya. begitu pun dengan Farah, walau tadinya Farah sedang fokus mengobati luka Adrian.


“Terima kasih, pak.” Ucap Farah.


Tak lama kemudian, Mang Asep datang.


“Walah, Pak. Gimana bisa seperti ini?” Tanya Mang Asep terkejut.


“Sudah tidak apa. Mang Asep tolong bawa mobil ini.” Adrian berdiri dari kursi kemudi mobil Farah yang terbuka.


Adrian sengaja menyuruh Mang Asep untuk datang ke TKP dengan menggunakan ojek motor supaya cepat. Lalu, Adrian meminta Farah untuk pindah dan mengendarai mobilnya.


“Kemana kita?” Tanya Farah sebelum ia menyalankan mesin mobil Adrian.


“Ke rumah temanmu dulu. Aku antar kamu pulang.”


Farah menggeleng. “Lukamu cukup menganga, Yan. Itu perlu di jahit.”


“Tidak apa, yang penting kamu sampai ke tempatmu dulu malam ini.”


Farah menyalakan mesin mobil itu. Namun, ia mengendarai mobil Adrian menuju rumah pria itu.


“Loh, Far. Ini menuju rumahku?” Tanya Adrian.


“Aku obati kamu dulu di sana. di rumahmu perlengkapan medisnya pasti lebih lengkap.”


Ya, Adrian memang selalu menyediakan peralatan medis lengkap di rumah, untuk berjaga-jaga ketika kedua anaknya terjatuh atau kecelakaan ringan, karena Faris memang pernah megalami robek di lutut saat berenang dan terkena ujung marmer yang retak dan sedikit lancip.


“Tidak perlu mengkhwatirkanku. Justru saat ini keadaanmu yang perlu di khawatirkan.” Balas Farah dengan fokus menyetir.


Sesampainya di rumah Adrian. Farah langsung berputar membukakan pintu untuk Adrian. Tak lama, Mang Asep yang mengendarai mobil Farah pun tiba. Mendengar suara deru mobil yang datang beriringan, membuat si Bibi terbangun. Malam sudah semakin larut. Alika dan Faris pun sudah terbang ke alam mimpi.


Farah dengan cekatan membawa Adrian ke kamarnya. Ia hanya meminta si Bibi untuk membawakan air hangat di wadah kecil. Ia juga meminta si Bibi untuk menyiapkan segala perlengkapan medis yang ia perlukan.


“Sudah, Bi. Mang Asep. Kalian istirahatlah. Saya akan mengobati Adrian.”


Si bibi dan Mang Asep pun mengangguk, lalu keluar dari kamar itu dab menutup pintu itu kembalindengan rapat.


Farah menarik nafasnya, melihat teman seprofesinya itu terbaring di sana. Ia menghampiri Adrian dan duduk di tepi ranjang. Perlahan, Farah mengobati luka di dada Adrian. Wajah mereka begitu dekat, Adrian dapat merasakan hembusan nafas Farah di dadanya. Begitu pun sebaliknya, Farah dapat merasakan hembusan nafar Adrian di pucuk kepalanya.


“Jagoan.” Ledek Farah untuk menghilangkan kecanggungan keduanya, pasalnya mereka dalam keadaan tak berjarak.


“Keras kepala, sudah ku bilang jangan melewati jalan yang sepi. Ini pake menepi segala.” Ucap Adrian ketus.


“Ya, aku juga menyesal tadi kenapa mengangkat telepon dari Tomy, hingga aku harus menepikan mobil.”


“Tandanya masih cinta.” Ledek Adrian.


“Apaan sih, udah mau ngelupain.” Jawab Farah.


“Semakin ingin melupakan akan semakin teringat terus.” Kata Adrian lagi meledek.


“Pengalaman, Pak?” Balas Farah dan keduanya pun tertawa.

__ADS_1


Setelah fokus memberikan jahitan pada dada Adrian sebanyak 12 jahitan. Farah sedikit menegakkan tubuhnya.


“Siip, beres. Jahitanku baguskan.” Kata Farah.


Adrian menunduk untuk melihat dadanya. “Lumayan.”


“Bener-bener jagoan kamu, tidak meringis kesakitan sama sekali.” Kata Farah sembari memegang dada bidang Adrian.


"Emang aku Faris."


Keduanya kembali tertawa.


Wajah mereka semakin dekat, jika Farah menoleh ke samping maka bibir keduanya pun akan saling bersentuhan.


Brak


Seketika seorang pria membuka paksa pintu kamar Adrian yang memang tidak di kunci.


“Oh, ternyata di sini kamu selama ini.” Suara Tomy mengejutkan Adrian dan Farah.


Farah yang ingin menoleh ke arah Tomy pun akhirnya membuat bibir mereka bertemu dan tersentuh. Sontak hal itu membuat Tomy memalingkan pandangannya. Sungguh hatinya sangat sakit melihat sang istri bersama pria lain, terlebih posisi mereka yang sedang berciuman, menurutnya.


“Yan.” Dila dan radit pun masuk ke kamar itu dan mendapati Adrian bersama Farah yang sedang menempelkan bibir mereka.


“Ya ampun, Gusti. Yan.” Teriak Dila yang mendapati putranya sedang berselingkuh dengan wanita yang telah bersuami.


Flashback On


Sebelumnya, di saat Farah sedang mengobati Adrian di kamarnya yang terletak di lantai atas. Dila dan Radit sampai di rumah putranya sembari menggerutu. Ia menyalahkan suaminya karena berangkat ke Jakarta terlalu sore, sehingga terjebak macet parah di sana sini dan sampai di rumah ini tengah malam.


“Papa sih, lelet dari tadi di suruh berangkat juga. Mama pegel nih, masa ke Jakarta aja enam jam.” Kata Dila.


“Mama yang cuma duduk doang aja pegel, apalagi papa yang nyetir.” Jawab Radit.


Baru saja Dila dan Radit keluar dari mobil, tiba-tiba mobil Tomy datang. Tomy datang karena mobil Farah terparkir di halaman rumah Adrian.


“Kamu siapa?” Tanya Dila.


“Saya suami Farah, teman kerja Adrian di rumah sakit.”


Tomy memang tidak terlalu mengenal Adrian, tapi Tomy tahu siapa Adrian, karena Farah pernah memperkenalkannya dalam satu acara dan Farah juga istri yang sering menceritakan kegiatannya di luar rumah pada sang suami ketika mereka tengah menghabiskan waktu bersama.


“Ga mungkin Adrian membawa teman wanitanya ke rumah ini, apalagi ini sudah larut malam.” Jawab Dila.


“Tapi mobil istri saya terparkir di sana.” Tomy menunjuk ke arah sedan berwarna merah itu.


“Istrinya selingkuh dengan Iyan?” Tanya Radit berbisik di samping istrinya sembari berjalan di belakang Tomy yang tengah masuk ke rumah itu.


“Sembarangan.” Dila menyenggol sikunya ke perut Radit.


“Anak kita tidak seperti keponakanmu yang nakal itu.” Dila membandingkan Adrian dengan Malik.


Lalu, langkah mereka sampai ke kamar Adrian dan mendapati kedua lawan jenis ini tengah berada di dalam kamar berdua dengan posisi yang terlihat sedang berciuman.


Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2