Melanggar Janji

Melanggar Janji
Di marahi habis-habisan


__ADS_3

Angel berlari saat kereta yang tengah ia naiki sedang bermasalah, sehingga ia harus lama di dalam kereta itu tanpa ada pergerakan. Tak lama kemudian, semua penumpang di minta turun dari kereta yang sebelumnya dan pindah ke KRL yang lain. Ia kembali melihat jam di tangannya, waktu sudah puku 12.30 tapi ia masih ada di pertengahan jalan. Masih butuh waktu setengah jam lebih untuk bisa sampai rumah Adrian, sedangkan ia harus menjemput Alika dan Fariz tepat jam satu.


Angel semakin gelisah, karena ia masih berada di KRL pukul 12.45. Ia mengecek ponsel, nomor ponsel si bibi ternyata belum tersimpan di sana, nomor ponsel Adrian pun belum ia masukkin di sana.


“Ck, gini nih kalo bales dendam. Giliran lagi urgen, bingung mau hubungin siapa?” Gumam Angel sembari menarik nafasnya kasar.


Angel kesal karena sikap Adrian yang tidak menganggapnya ada. Oleh karena itu ia pun menganggap Adrian tidak penting, hingga nomor ponsel suaminya itu pun tak ada, Angelpun merasa pria itu tak penting untuknya.


Angel pasrah, menunggu hingga sampai di rumah nanti, ia akan langsung menjemput Alika dan Fariz. Ia pikir kedua anak itu nantinya kan menunggu di sekolah, karena sebelumnya Angel juga pernah telat menjemput.


“Bi.” Panggil Angel pada maid Adrian yang sudah bekerja kurang lebih sepuluh tahun.


“Iya, Bu. Loh, Den Fariz dan Non Alika mana?” Tanya si Bibi melihat angel yang hanya masuk ke rumah seorang diri.


“Iya, Bi. Aku baru sampe, karena kereta yang tadi aku naikin mogok. Mang Asep mana? Ayo langsung berangkat aja ke sekolah.”


“Loh, Mang Asep tadi di suruh Bapak ke rumah sakit, katanya nganter bapak keluar kota buat seminar.” Jawab si Bibi.


“Lah, terus mobilnya Mas Adrian gimana?”


“Bapak emang suka gitu, Bu. Dia ga mau bawa mobil sendiri kalau ke luar kota. Jadi biasanya Mang Asep yang antar, terus mobilnya bapak di tinggal di rumah sakit.


“Oh, gitu. Kok tadi pagi dia ga bilang.” Ucap Angel lirih.


“Lupa kali, Bu.” Si Bibi berusaha membuat Angel berpikir positif pada Adrian.


“Ya udah, saya pesan ojek mobil online aja.”


“Iya, Bu.”


Beberapa lama kemudian, mobil online yang Angel pesan pun datang.


“Haduh, Bi. Kasihan ini anak-anaka, pasti nungguin aku lama. Udah jam segini.” Angel melihat lagi jam di tangannya tepat pukul 14.00. Hampir satu jam ia terlambat menjemput.


“Paling mereka di temani bu guru di sana, Bu.” Kata si Bibi. Angel pun mengangguk setuju.


“Oh iya, saya minta nomor telepon bibi dong.” Kata Angel sebelum ia menaiki mobil online yang ia pesan tadi.


“Oh, iya. Ini saya whatsapp ya, Bu. Saya simpen nomor ibu kok.”


“Oke.” Angel mengacungkan ibu jariny ke atas. Lalu menaiki mobil itu.


Sesampainya di sekolah, Angel mengedarkan pandangannya. Ia mencari Alika dan Fariz yang tidak terlihat di sudut manapun.


“Pak, anak SD kelas 1 dan 3 sudah pulang semua?” Tanya Angel pada sekuriti di sana.

__ADS_1


“Sudah, Bu. Memang ibu mau jemput siapa?”


“Alika dan Fariz.”


“Oh, anaknya pak dokter?” Tanya sekuriti itu tadi.


“Iya, pak benar. Bapak lihat?”


Sekuriti itu pun mengangguk.


“Tadi sih, udah di jemput sama bapak-bapak.”


“Kok di bolehin sih, Pak. Terus?” Angel mulai frustrasi. Ia pun di bawa ke kantor guru oleh si sekuriti itu.


Di sana, para guru pun panik, karena mereka teledor dan tidak melihat Alika beserta adiknya di jemput oleh siapa. Mereka pun melihat cctv, tapi ternyata Alika dan Fariz tidak berdiri di tempat yang terdapat cctvnya.


Angel melangkah gontai, ia bingung harus mencari kemana? Ia pun kembali pulang ke rumah.


“Haduh, Bu. Terus gimana ini Bu? Pasti bapak marah.” Kata si Bibi, setelah ia mendengar Angel menceritkan konologis saat ia menjemput anak-anak Adrian di sekolah itu tadi.


“Bi gimana dong?” Angel semakin panik. Ia mondar mandir sembari menggigi kukunya.


“Ibu telepon Bapak.” Kata si Bibi.


Angel menggeleng. Ia sungguh takut. “Bibi saja.”


“Bu, Bapak mau ngomong.” Kata si Bibi menyerahkan ponselnya pada Angel. Sementara Angel menerima ponsel itu dengan takut.


“Mas.”


“Aku sudah percayakan kamu, kenapa bisa teledor seperti ini?” Teriak Adrian di telepon.


“Maa.”


Tut.. Tut.. Tut..


Baru Angel ingin berkata Maaf, tapi ponsel itu langsung di tutup se pihak oleh Adrian. Angel kembali menarik nafasnya kasar. Tamat sudah riwayatnya. Ia pasrah dan hanya bisa berdoa semoga Alika dan Fariz baik-baik saja.


“Bu.” Si bibi berusaha menenangkan Angel, karena Angel terus menangis di atas sajadahnya.


“Bi, mereka tidak apa-apa kan? Tidak di culik kan, Bi? Mas Adrian ga punya musuh kan?” Tanya Angel bertubi-tubi.


“Tidak, Bu. Pak Adrian orang baik, almarhum Bu Alya juga orang baik. Mereka tidak punya musuh. Mungkin Den Fariz dan Non Alika di jemput saudara Bapak, tapi ga tau siapa?”


“Tapi sekuriti sekolah tadi hanya bilang mereka di jemput bapak-bapak tua. Dia juga ga bisa kasih tau detail ciri-cirinya karena hanya lihat sekilas.” Angel semakin lemas.

__ADS_1


Tiba-tiba Adrian pun datang. Ia sampai di rumah setelah, tiga jam kemudian. Ia terpaksa meninggalkan seminar itu dadakan karena urusan ini. Padahal di acara itu, Adrian sebagai nara sumbernya.


“Angel, apa kamu tidak bisa menjaga anak-anakku?” Tanya Adrian dengan mata merah.


Baru saja, Angel menyambut Adrian, karena mendnegar suara mobilnya berhenti di depan rumah. Namun, ia langsung di semprot oleh suaminya karena keteledoran ini. Angel menunduk, seperti seorang pengasuh yang berbuat salah.


“Maaf, Mas.” Ucap Angel lirih.


“Aku tahu, mereka bukan anak-anakmu, tapi pentingkanlah mereka.”


“Mas. Walau aku bukan ibu mereka, tapi aku menyayangi mereka seperti anakku sendiri. Kamu jangan berkata seperti itu.”


“Tapi apa buktinya? Hah. Menjemput saja tidak bisa tepat waktu. Kamu tahu aku nikahin kamu hanya karena anak-anak.” Adrian kembali berteriak di depan wajah Angel. Sebenarnya ia pun tak ingin berkata seperti itu, tapi entah mengapa kata-kata itu keluar begitu saja karena saat ini Adrian sangat emosi.


Hati Angel kembali teriris. Sejujurnya ia pun tidak mau dinikahkan. Angel menangis.


Si Bibi yang melihat pertengkaran itu pun terenyuh. Ia tahu betul bagaimana Angel menyayangi Alika dan Fariz. Ia pun merasa kasihan dengan Angel. Ia tahu sikap Adrian terhadap Angel selama di rumah ini.


“Loh, Yan. Ada apa ini? Mengapa kamu memarahi Angel?” tiba-tiba suara Radit terdengar dari luar.


“Papa.” Adrian tergagap saat melihat sang ayah yang tiba-tiba muncul.


“Mengapa kamu memarahi Angel hingga dia nangis seperti ini?” Tanya Radit menghampiri dan merangkul bahu Angel.


“Dia tidak bisa menjaga Alika dan Fariz, Pa. Sekarang anak-anak Adrian hilang.”


“Memang kata siapa Alika dan Fariz hilang? Mereka papa yang jemput. Itu dia.” Radit menunjuk Alika dan Fariz yang baru akan memasuki rumahnya.


Radit kesal melihat putranya yang memarahi istrinya seperti majikan yang memearahi pembantunya.


“Bunda.” Alika dan Fariz langsung memeluk Angel.


“Kalian kemana? Bunda jemput tidak ada.” Angel mencium Alika dan Fariz satu persatu.


“Iya, kami di jemput Opa.”


“Bunda, Jangan nangis. Maafin kami bikin Bunda panik.” Kata Alika dan Angel tetap tersenyum sambil menghapus air matanya.


“Iyaa, Papa yang menjemput mereka, karena kebetulan papa sedang di sini dan akan menengok Yusuf yang sedang di rawat di rumah sakit XJ.”


Yusuf adalah ayahnya Malik. Angel hanya diam karena ia tak pernah mendengar nama itu sebelumnya.


“Mengapa papa tidak bilang? Kami semua panik dan Iyan harus buru-buru ke Jakarta, padahal Iyan lagi ada seminar di Bogor.”


“Ah sudahlah.” Adrian langsung menghampiri Alika dan Fariz.

__ADS_1


Angel meninggalkan tempat itu dan beralih ke dapur. Ia mengambil air minum dan mencoba meredam kesedihannya dengan meminum beberapa gelas air putih. Ia juga sudah lelah karena baru pulang dari kampus, lalu kesekolah Alika dan berakhir di maki-maki, padahal ia sudah berusaha untuk menjadi ibu sambung yang baik selama ini.


__ADS_2