
Angel baru saja pulang dari kampus sekitar pukul tujuh malam. Ia pun sampai di rumah bersamaan dengan Adrian yang juga baru saja tiba. Keduanya bertemu di halaman rumah itu dan berjalan beriringan memasuki rumah yang cukup besar itu.
“Kamu pulang cepat?”Tanya Adrian, karena biasanya Angel tiba di rumah sekitr pukul sembilan malam.
“Iya sekarang sudah tidak ada mata kuliah, hanya sedang memulai tesis saja.”
“Oh, sudah dapat tema untuk tesismu?” Tanya Adrian lagi.
Adrian memang aneh, terkadang ia cuek dan terkadang ia perhatian. Sama seperti Malik kala itu, sewaktu Angel dan Malik masih menjadi partner kerja di perusahaan yang sama. Namun sayang, sebaik apapun Adrian, Angel tetap tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Berbeda dengan Malik, yang sudah membuat Angel terpesona sejak pandangan pertama. Jadi, walau se cuek apapun Malik, ia akan dengan senang hati menerima perhatiannya kembali.
Angel mengangguk. “Iya, sudah.”
“Bunda.” Alika langsung memeluk Angel, ketika melihat keberadaannya di rumah ini.
“Papa.” Fariz juga mengikuti jejak sang kakak. Bedanya ia langsung memeluk sang ayah.
Adrian menoleh ke arah Angel yang tengah tersenyum untuk Alika dan Fariz.
“kalian sudah mengerjakan PR? Tanya Angel.
Alika dan Fariz pun menggeleng.
“Kan tunggu katanya tunggu, Bunda.” Jawab Fariz.
“Iya, sebentar ya. Bunda bersih-bersih dulu.” Angel tersenyum dan berjalan menuju kamar Adrian untuk mandi lalu berganti pakaian.
Adrian masih bersama Alika dan Fariz.
“Jadi, Bunda pulang cepat untuk membantu kalian mengerjakan PR?” Tanyanya.
Alika dan Fariz mengangguk.
“Iya. Bunda memang selalu pulang cepat, jika kami banyak PR.” Sahut Alika.
Sontak hati Adrian terenyuh, karena kebaikan Angel pada putra putrinya. Selama ini, ia hanya bekerja dan jarang di rumah, Angel yang mengurus rumah dan anak-anaknya tanpa mengeluh. Namun, sikapnya terhadap istrinya itu selalu buruk.
“Kalau begitu, papa ke kamar ya.” Kata Adrian pada Kedua anaknya.
Alika dan Fariz pun mengangguk.
__ADS_1
Di kamar mandi yang terletak di dalam kamar Adrian itu. Angel selalu menyiapkan lengkap pakaian ganti yang akan ia pakai setelah mandi. Ia tak ingin ada kejadian lagi seperti dulu, hanya mengenakan handuk dan di akhiri pelecehan juga hinaan dari mulut suaminya.
Setelah merasa segar, Angel segera berpakain dan keluar dari kamar itu. Benar saja, di sana sudah ada Adrian yang tengah duduk di tepi tempat tidur. Entah apa yang ia pikirkan, tapi di sana terlihat Adrian yang tengah termenung.
Adrian mendengar pintu yang terbuka dari arah kamar mandi. Ia melihat Angel yang keluar daari sana. Angel memang selalu cantik memakai apapun. Adrian menatap istrinya, membuat Angel canggung.
“Hmm.. aku siapkan makan malam.” Kata Angel yang hendak keluar dari kamar itu.
Namun, dengan cepat Adrian berdiri dan mencekal tangan Angel.
“Maafkan sikapku selama ini.” Katanya.
Angel mengangguk. “Maafkan aku juga.”
Kata Maaf dari Angel menyiratkan banyak hal. Maaf karena dia telah membohonginya dan tidak jujur sejak awal bahwa dirinya pernah melakukan hubungan yang dalam dengan kekasihnya dulu. Maaf karena dia tidak mencintainya, dan yang utama maaf karena dia tidak pernah menjadi istri yang baik untuknya, karena Angel sendiri tidak pernah mau di sentuh oleh suaminya itu.
“Hmm.. kalau begitu aku ke kamar anak-anak, mereka sudah menungguku untuk mengerjakan PR.” Kata Angel, membuyarkan kata-kata yang sudah ia susun di benaknya, yang masih ingin berbincang dengan Angel.
Adrian mengangguk. “Baiklah.”
Lalu, Angel kelaur dari kamar itu dan berjalan menuju kamar Alika. Ternyata Alika tak ada di kamar itu. Kemudian, ia beralih ke kamar Fariz. Namun mereka pun tak terlihat. Dengan langkah perlahan, Angel tetap memasuki kamar Fariz.
“Dor.” Bersamaan Alika dan Fariz mengagetkan Angel dari balik pintu, membuat Angel langsung melonjak kaget.
Alika berteriak dan tertawa, begitu pun Fariz. Mereka melanjutkan cadaannya hingga di atas tempat tidur. Sontak suara Alika dan Fariz membuat Adrian ingin melihat langsung keeruan mereka. Adrian mengintip di balik pintu kamar Fariz yang sedikit terbuka. Ia tersenyum melihat Angel yang seperti ibu kandung untuk kedua anaknya. Harusnya ia bersyukur dan tidak menyia-nyiakan Angel sejak dulu. Walaupun Angel memiliki kekurangan, tapi dia pun memiliki kelebihan yang belum di miliki oleh wanita lain, yaitu menjadi ibu sambung seperti ibu kandung.
“Sudah, Bun. Sudah.” Kata Alika.
“Oke, tapi lain kali ga boleh ngagetin lagi ya.” Angel menghentikan tawanya dan mengeluarkan jari kelingkingnya.
“Iya.” Alika mengaitkan jari kelingking itu. Begitupun Fariz.
“Oke, let time to learn!” Angel beranjak dari tempat tidur menuju meja belajar Fariz.
“Oke, Mam.” Sahut Alika.
“Siap, Bos.” Fariz bergaya anak laki-laki yang selengeyan.
Adrian tersenyum melihat pemandangan itu. Ia sangat senang, karena kedua anaknya terlihat bahagia.
__ADS_1
Setelah menemani Alika dan Fariz belajar. Kedua anak itu menguap beberapa kali. Lalu, Angel pun menemani mereka hingga mata mereka terpejam.
Kemudian, Angel bangun dari tempat tidur itu dan mulai membuka laptopnya. Ia ingin menyelesaikan beberapa bab awal tesis yang akan ia ajukan kepada dosen pembimbingnya. Angel berpindah ke ruang televisi, agar tak mengangguk Alika dan Fariz yang tengah tertidur pulas, karena ia selalu mendengarkan lagu jika mengerjakan tugas di tengah suasana yang sunyi sepi.
Dret.. Dret.. Dret..
Ponsel Angel berdering, menunjukkan sebuah nomor yang sangat ia kenal.
“Halo.”
“Lagi apa, Bee? Ngerjain tesis?” Tanya seprang pria yang ada di sambungan telepon itu.
“Kok tahu.” Jawab Angel tersenyum.
“Apa sih yang aku ga tau tentangmu, Bee.”
Angel tertawa.
Lalu, mereka pun berbincang di telepon itu sambil tertawa riang. Sesekali Angel pun tertawa lepas mendengar candaan Malik.
Di saat yang sama, Adrian keluar dari kamarnya, lalu masuk ke kamar Fariz dan mencium kening putra putrinya itu. Ia mengira Angel pun ada di kamar ini. kemudian, Adrian turun ke bawah dan mendapati Angel yang tengah tertawa riang. Selama dua tahun hidup bersama Angel, ia tak pernah mendengar angel tertawa selebar itu dan selepas itu.
“Iya, iya. Ya udah. Aku ngerjain tugas lagi.” Kata Angel.
“Ya udah, jaga kesehatan dan banyak makan ya, Bee. Kamu itu pernah kena thyfus jadi jangan kecapean ya.” Kata Malik di seberang sana.
“Iya.”
Untungnya Angel hanya selalu menjawab ‘iya’ membuat Adrian berfikir jika telepon itu dari teman wanita yang dekat dengannya.
Angel pun menutup telepon itu, setelah perbincangannya dengan Malik selesai. Ia kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat Malik menceritakan hal lucu yang terjadi di kantornya pada sambungan telepon tadi.
“Ngel, kamu belum tidur?” Tanya Adrian, yang cukup membuat Angel terkejut.
Angel sedikit tergagap dan menaruh ponselnya di kolong meja.
“Hah, belum. Aku mau menyelesaikan bab awal untuk di ajukan ke dosen, lusa.”
“Oh, mau aku buatkan coklat hangat?” Tanya Adrian lagi.
__ADS_1
“Tidak, tidak perlu. terima kasih.” Angel kembali bersiap untuk fokus mengetik di depan laptopnya. Ia pun menghiraukan keberadaan Adrian di sana.
Adrian yang merasa keberadaannya tidak berarti, lalu kembali naik ke kamarnya. Sesekali, ia melirik ke arah Angel yang tetap tak meliriknya hingga ia berada di lantai dua. Ia baru menyadari betapa tidak enaknya jika tidak di anggap.