
Adrian memberhentikan mobilnya persis di lobby apartemen Farah.
“Kamu tidak mengajakku untuk mampir?” Tanya Adrian, membuat kening Farah mengeryit.
“Buat apa?”
“Hmm..” Adrian seperti tengah berfikir.
“Buat, minum teh sebagai tanda terima kasih karena aku telah menjemutmu.”
“Aku ga minta kamu jemput.” Ucap Farah santai.
Lalu, ia pun hendak membuka pintu mobil itu.
“Far.” Panggil Adrian.
Farah pun langsung menoleh dan tersenyum. “Oh, iya. Terima kasih dokter Adrian atas tumpangannya.”
“Bukan itu. Aku hanya mau bilang. Besok ada panggilan dari kepolisian untuk kita.” Adrian menunjuk dirinya dan Farah.
“Tentang?”
“Tentang kejadian malam itu. Apa kamu lupa?” Adrian balik bertanya.
“Kamu bukannya tidak melaporkan kejadian itu pada pihak berwajib?” Tanya Farah lagi.
Adrian menggeleng. “Video otu viral dan dua pelaku sudah tertangkap. Tinggal satu orang lagi yang masih buron.”
“Oh, alhamdulillah.” Farah mengurut dadanya.
“Besok kita di minta datang untuk memberi keterangan.”
Farah mengangguk. “Baiklah.”
“Kalau bisa pagi-pagi sekali. Karena jam dua, aku ada jadwal operasi.”
Farah mengangguk lagi dan segera keluar dari mobil itu.
“Hmm, Far.” Adrian memanggil lagi, membuat Farah pun kembali menoleh.
“Besok pagi aku jemput.”
__ADS_1
“Tapi.” Belum Farah melayangkan protes. Adrian sudah langsung menekan pedal gas.
“Ish, tuh orang.” Gerutu Farah, saat melihat mobil Adrian langsung melaju pergi.
****
Tiga hari kemudian, Tomy memarkirkan mobilnya di bengkel, bengkel resmi tempat ia biasa memelihara kendaraan roda empat yang penuh kenangan. Mobil ini adalah mobil pilihan Farah, entah mengapa wanita itu suka dengan mobil eropa, menurutnya design mobil eropa terlihat bagus dan mewah. Tak jarang, mereka pun sering melakukan hubungan intim di mobil ini. seperti satu waktu, saat mereka tengah berada di puncak untuk melepas penat. Sepulang dari puncak, sempat-sempatnya Tomy meminta Farah duduk di pangkuannya saat menyetir, dan mereka pun melakukan itu dengan posisi Tomy yang masih menyetir pelan di tol. Sensasi berbeda memang, tapi sungguh ekstrim bukan?
Tomy menghelakan nafasnya lagi, saat mengingat semua itu. Farah memang wanita yang selalu membuatnya puas, berbeda dengan Diva.
“Hai, Pak Tomy. Service pak?” Tanya salah seorang karyawan dealer itu.
Tomy mengangguk.
“Anton ada? Saya sudah janjian sama dia. Biasanya dia yang pegang mobil saya.” Tomy bertanya pada recsepsionis dealer yang menjadi satu dengan bengkel.
“Ada, Pak. Di belakang. Lagi benerin mobil sedan.” Pria resepsionis itu menunjuk ke arah belakang.
“Oh.” Tomy mengangguk.
“Tunggu aja sebentar, Pak.” Kata resepsionis itu lagi.
Tomy lagi-lagi hanya mengangguk dan duduk untuk menunggu orang yang biasa memegang mobilnya.
Tomy pun berdiri dan bersalaman dengan Anton.
“Mobilnya ada masalah, Pak?”
“Iya nih, AC nya ngga dingin. Sekalian service berkala.”
“Oke.” Ucap Anton yang langsung menerima kunci mobil Tomy.
Anton beralih keluar dan mengendarai mobil Tomy hingga ke dalam bengkel.
Lama, Tomy duduk. Lalu, Anton menghampiri Tomy lagi.
“Pak, sepertinya AC tidak dingin karena kerusakan ada kerusakan di mesin evaporator dan harus di ganti satu blok. Saya harus bongkar semuanya. Bapak mau lihat?” Tanya Anton.
Lalu, Tomy mengangguk dan mengikuti Anton ke bagian belakang, tempat semua mobil yang tengah di perbaiki. Tomy melewati banyak jejeran mobil di sana, hingga ia menangkap mobil sedan berwarna merah dengan plat nomor yang sangat ia kenal.
“Mobil ini pemiliknya perempuan?” Tanya Tomy pada Anton sembari menunjuk mobil Farah.
__ADS_1
”Iya, Pak. Mobilnya istri bapak kan?” Anton balik bertanya.
Ternyata Anton hafal dengan Farah, karena beberapa kali ketika ke bengkel, Farah sering di temani oleh Tomy yang kala itu masih berstatus suaminya. Farah juga membeli mobil ini di temani oleh Tomy di tempat ini juga.
“Maaf ya Pak, mobil istri bapak jadi lama di sini, karena kaca mobilnya inden. Udah dua minggu lebih, baru selesai sekarang.” Kata Anton.
“Kaca mobil?”
“Iya, Pak. Istri bapak kan kena begal di jalan xxx. Kaca mobilnya sampe di pecahin, untung istri bapak ga apa-apa ya, karena ada temannya yang nolongin. Saya liat videonya. Viral loh, Pak. Masuk di acara on viral juga di TV.” Anton menjelaskan panjang lebar, membuat Tomy semakin menganga.
“Di mana beritanya?” Tanya Tomy yang ingin melihat berita itu, karena selama ini Tomy memang tidak memiliki sosial media. Ia paling malas jika menggunakan itu, sehingga ia tidak update tentang sesuatu yang sedang viral.
“Ini loh, Pak.” Anton langsung mencari berita itu melalui ponselnya dan memberikannya pada Tomy.
Seketika tubuh Tomy melemah, kalau ia runtun tanggal dan waktu kejadian unggahan. Hal itu bertepatan pada saat ia tengah menelpon Farah dan tak jadi menjemputnya karena Diva merintih sakit perut.
“Tapi kemarin, yang bawa mobil ini ke sini sih pria yang menolong istri bapak itu.” Kata Anton lagi.
Kepala Tomy semakin berdenyut. Ia bodoh, sangat bodoh karena terlalu di butakan oleh amarah pada malam itu. ternyata Adrian memang sedang menolong istrinya pada saat itu. Seharusnya, ia berterima kasih pada Adrian dan bukan malah menuduh mereka yang tidak-tidak. Mungkin, jika saat itu Adrian tidak menolong Farah, wanita yang ia cintai itu hanya tinggal nama. Sekarang, malah Farah yang tinggal nama di hatinya. Palu hakim sudah terlanjur di ketuk dan keputusan tidak bisa di ubah lagi. Mungkin, jika Tomy tahu kebenaran ini sebelum palu hakim di ketuk, ia masih bisa rujuk. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Tomy kembali menunduk, meremas rambutnya.
“Arrrggg.” Ia berteriak kesal, membuat Anton bingung.
Lalu, Tomy hendak keluar. Ia yakin saat Farah berkata tidak mencintainya lagi, itu hanya akal-akalan Farah untuk mengalah.
“Hello, Tom. Sudah berapa lama kau mengenalnya? Dia wanita yang pasti akan mengalah untuk kebahagiaan orang lain, walau sebenarnya hatinya terluka.” Gumam Tomy yang terus berputar di kepalanya.
Tomy, bergegas keluar dari dealer itu. Ia butuh bicara dengan Farah sekarang. Saat Tomy keluar dari dealer itu untuk memesan taksi. Tomy melihat Farah yang keluar dari mobil Adrian. Mereka berjalan beriringan sembari tertawa lepas.
Ya, Farah di telepon Anton untuk mengambil mobilnya yang sudah selesai di perbaiki.
Farah tertawa riang di hadapan Adrian dan sesekali memukul lengan pria itu, membuat hati Tomy semakin perih. Ia pernah berada di posisi Adrian dulu. Melihat tawa riang wanita itu dan sesekali wanita itu akan memukul lengannya, jika candaan yang ia lontarkan sedikit garing.
“Apa secepat itu kamu berpindah ke lain hati, Far?” Gumam Tomy.
“Apa saat ini, aku sudah tidak ada artinya lagi bagimu?” Tomy kembali bergumam. Ia mengusap wajahnya kasar.
Rasanya untuk meraih Farahnya kembali sangat sulit, wanita itu semakin jauh dari genggamannya. Seharusnya Tomy menyadari hal ini sejak awal, sejak ia menikah dan akhirnya menyentuh istri kedua yang emnjadi pilihan sang mama. Seharusnya ia sadar untuk menerima konsekuensi ini, karena sebelum menikah jelas-jelas Farah mengajukan satu syarat, syarat yang langsung Tomy angguki dengan sadar, yaitu syarat untuk tidak menduakannya dalam kondisi apapun.
Kemudian, saat Farah menyetujui Tomy menikahi Diva, itu pun karena ia percaya pada Tomy yang berjanji hanya menikahi Diva sebatas kertas dan tak akan menyentuhnya sama sekali. Ia murni hanya menuruti perintah sang ibu, karena ibu yang melahirkannya itu tengah berbaring lemah dengan tabung oksigen di ruang perawatan rumah sakit. Namun, ia mengingkari janjinya.
Walau Tomy berdalih itu semua hanya jebakan dan tidak sungguh-sungguh melakukannya dengan sadar, tapi ada bukti dari hasil penyatuan itu, dan hal itu cukup membuat Farah tersakiti. Wanita itu menangis tujuh hari tujuh malam. Bahkan saat melakukan aktifitas apapun, Farah terus menangis. Hingga akhirnya, ia bisa kembali membenahi diri dan berusaha untuk menjadi wanita yang kuat.
__ADS_1
Tomy berjalan menelusuri jalan raya. Entah, ia akan kemana? Yang pasti ia ingin menenangkan hatinya yang hancur karena telah melanggar janji pada wanita yang selalu ia rindui kehangatannya. Sungguh, ia menyesali kebodohannya kini, karena ia tak lagi bisa menyentuh wanita itu lagi, bahkan berdekatan sebagai teman pun itu tak mungkin.