Melanggar Janji

Melanggar Janji
Nyonya Adrian Hamish


__ADS_3

Adrian sudah menunggu satu jam lebih, tapi Farah tak kunjung keluar dari kamar mandi dan tak ada suara juga yang terdengar dari dalam sana.


Adrian pun melangkah menghampiri kamar mandi itu.


“Far, kamu belum selesai?” Tanya Adrian sambil mengetuk pintu.


Namun, Farah tak kunjung mengeluarkan suaranya untuk menjawab, tak ada gemericik air juga yang terdengar dari dalam sana.


“Far, kamu baik-baik aja kan? Kamu lagi apa sih?” Adrian bertanya lagi. Ia pun mencoba memutar gagang pintu. Namun, Farah menguncinya dari dalam.


“Farah.” Adrian kini berteriak.


“I-iya.. aku baik-baik saja.” Jawab Farah, karena ia tak ingin Adrian mendobrak pintu itu.


“Kamu ngapain? Masih lama?” Tanya Adrian.


“Masih.”


“Aku juga mau mandi, Far. Jangan lama-lama di dalam!” Ucap Adrian.


“Iya.” Teriak Farah dari dalam kamar mandi.


Farah hanya terduduk di kloset. Ia ingin keluar dari kamar mandi ini, tapi selain masih malu bertemu Adrian karena sikap konyolnya tadi. Ia juga bingung, karena lupa membawa pakaian ganti, saat berlari ke kamar mandi. Alhasil, saat ini ia hanya terduduk di kloset dengan melilitkan handuk yang kecil itu di tubuhnya. handuk yang hanya pas untuk menutupi b*k*ngnya yang bulat. Jika ia menunduk sedikit saja, maka pasti akan menampilkan bagian intinya.


“Duh, gimana ini.” Gumam Farah sambil berjalan mondar mandir, sungguh ia enggan untuk keluar tapi tetap harus keluar dari tempat ini.


Ia ingin memakai pakaian yang tadi di pakai untuk tidur, tapi celananya sudah basah dengan kelakuannya sendiri.


“Far, udah dong. Udah satu jam lebih loh kamu di kamar mandi. Gantian.” Kata Adrian lagi. Ia menempelkan telinganya di luar pintu kamar mandi itu.


Ceklek.


Akhirnya Farah membuka pintu itu, hingga tubuh Adrian sedikit tersungkur ke depan, karena tubuhnya tengah menyandar pada pintu itu. Lalu, tubuh Adrian pun menempel pada dada Farah yang hanya di lilit handuk.


“Ups, Sorry.” Adrian kembali berdiri tegap.


Ia menelan ludahnya kasar saat mendapati pemandangan sangat indah di hadapannya.


“Ish, kamu jangan liatin aku seperti itu.” Farah mengusap wajah Adrian dan segera keluar dari kamar mandi dan meninggalkan Adrian yang masih berdiri di sana.


Jiwa kelelakian Adrian pun meronta. Matanya ingin terus menatap tubuh indah sang istri, hingga ia mengintip Farah yang tengah membuka lemari.


Farah menoleh ke arah Adrian yang masih menatapnya. “Katanya mau mandi.”


“Hah, iya ini juga mau mandi. Tapi pakaianku ada di situ.” Adrian melangkah mendekati Farah untuk mengambil pakaian ganti yang ada di dalam lemari yang tengah Farah buka.


Jantung Farah berdegup kencang, ketika tubuh Adrian menempel pada tubuhnya dari belakang. Tangan Adrian meraih pakaian yang tergantung di lemari itu dan hembusan nafasnya terasa menggelitiki bagian tengkuk Farah, membuatnya semakin tak berkonsentrasi.


“Mau aku bantu merasakan yang lebih nikmat dari ini.” Adrian menunjukkan jari tengah yang di pakai Farah untuk memuaskan hasratnya tadi.


Farah membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan Adrian. Ia sudah memasang wajah kesal dengan bibir merengut


“Jangan di bahas!”


Adrian tertawa geli.

__ADS_1


“Yan.” Rengek Farah yang membuat wajahnya semakin memerah, karena Adrian terus mentertawakan kelakuannya tadi.


“Iya, ngga. Maaf.” Adria masih tertawa tepat di hadapan Farah.


“Terus aja ketawa, terus. Kamu nyebelin.” Tangan Farah bergerak untuk memukul dada suamiya. Tanpa ia sadari ujung pengikat handuk yang ia selipkan di dadanya pun semakin lama mengendur.


“Iya, maaf.” Adrian masih tertawa sembari menahan pukulan sang istri dengan lengannya yang kekar.


Namun, tiba-tiba handuk Farah melorot dan jatuh ke lantai.


“Aaa...” Teriak Farah dan dengan cepat tangannya menyilang untuk menutupi dua gunung kembarnya, juga kakinya menyilang untuk menutupi bagian intinya.


Dengan cepat pula Adrian mengambil handuk yang terjatuh di lantai itu. tapi seringai jahat di otak Adrian ternyata sedang berfungsi. Ia hanya menatap tubuh indah istrinya tanpa berniat untuk mengembalikan handuk itu pada yang menggunakannya tadi.


“Yan, siniin handuknya.” Rengek Farah yang tidak bisa menggerakkan tangannya karena sibuk menutupi bagian penting dari tubuhnya.


Adrian menggeleng.


“Yan, jangan rese deh kamu. Nyebelin banget sih.”


“Ya udah nih ambil.” Adrian memberikan handuk itu dengan jarak yang cukup jauh, agar tangan Farah terbuka dan meraih sendiri handuk itu.


“Masa ngasihnya begitu, yang bener dong.”


“Yang benernya, bagaimana?” Tanya Adrian meledek, padahal ia tahu bahwa harusnya handuk itu langsung di lilitkan ke tubuh sang istri.


“Tau ah, kamu bener-bener nyebelin.” Rasanya Farah ingin menangis, karena baru semalam jadi Nyonya Adrian Hamish, tapi sikapnya yang memalukan itu sudah langsung terlihat.


“Hei, kamu nangis.” Adrian langsung memeluk tubuh istrinya, tapi tetap tidak berniat mengembalikan handuk itu.


“Kamu nyebein, Yan.”


Adrian menatap mata Farah yang berkca-kaca. Spontan, Farah pun menenggak dan membalas tatapan itu. Mata Adrian yang teduh, mampu menghipnotis Farah untuk berlama-lama menatapnya.


“Beruang kutub ini ternyata hangat juga.” Gumam Farah dan tanpa ia sadari, ia membuka tangannya untuk memeluk Adrian.


Tangan Farah yang semula menutupi dua gunung kembarnya itu pun, kini melingkar di pinggang suaminya. Dada Adrian yang hanya menggunakan kaos dalam, merasakan ada benda bulat kenyal yang menempel. Perlahan kedua tangan Adrian yang semula memeluk bahu Farah, kini turun dan berpindah ke bagian belakang tubuh Farah yang sintal.


Wajah mereka beradu tanpa jarak. Adrian langsung memiringkan wajahnya untuk mencium bibir sang isri. Farah pun tidak menolak. Wajahnya ikut di majukan agar Adrian dapat dengan mudah menciumnya.


“Alya, maafkan aku. Maaf aku telah melanggar janji. Aku mencintainya, sama seperti aku mencintaimu.” Gumam Adrian dengan mata yang sesekali melirik ke bibir dan mata Farah.


Farah sudah siap dengan apa yang akan di lakukan suaminya. Lalu, Adrian pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia langsung melahap bibir Farah yang sudah siap untuk di santap. Adrian mencium bibir itu dengan lembut dan Farah pun membuka bibirnya untuk membalas ciuman itu. lama Adrian menyecap manisnya bibir sang istri, hingga ia ********** menjadi liar. ia terus menyesap bibir itu dengan tangan yang terus ikut bergerak di bagian belakang tubuh Farah yang halus dan tak berbalut apapun.


Di sela ciuman itu, Adrian langsung menggendong Farah hingga kedua kaki Farah pun melingkar di pinggangnya. Farah juga terlihat lihai dalam berciuman. Ia tak menunjukkan kehilangan pasokan oksigen, padahal pangutan itu tak terlepas cukup lama.


“Mmpphh.’ Adrian dan Farah melepas pangutan itu bersamaan dan tanpa Farah sadari, dirinya sudah berbaring di ranjang dengan posisi Adrian yang sudah menindihnya.


“Ternyata kamu jago berciuman.” Ucap Adrian lirih sambil membersihkan sisa saliva yang menempel di bibir istrinya.


“Sepertinya bibirku langsung bengkak.” Ledek Farah karena ciuman tadi benar-benar panjang.


Adrian tertawa. “Sepertinya begitu.”


“Boleh aku mulai sekarang?” Tanya Adrian yang sudah siap ingin kembali menjadi pria sejati.

__ADS_1


“Memangnya kamu mau?” Farah kembali bertanya, pasalnya Farah tahu betul alasan Adrian dulu tak menyentuh Angel pada saat istrinya Malik itu masih berstatus istrinya dulu.


“Kenapa ngga mau?” Adrian kembali bertanya.


“Hmm.. karena.. Hmm.. ” Farah enggan untuk menyebut nama mantan istri Adrian yang sudah tiada. Ia khawatir akan membuat Adrian bersedih dan membuat suasana menjadi tidak enak.


Adrian kembali mengelus rambut Farah dan dengan lembut menyelipkan rambut itu ke belekang telinga Farah.


“Tapi aku mau.” Ucap Adrian dengan mata penuh gairah.


“Kenapa?”


“Karena kamu istriku. Lagi pula, sayang kan, tubuh seindah ini, jika di lewati.” Jawab Adrian tersenyum.


“Aaa.. Dasar cab*l. Kamu kebanyakan berteman sama Bayu. Otaknya ikut gesrek juga jadinya.”


Adrian tertawa dan bibir Farah yang semula merengut kini tersenyum. Kemudian, Adrian memelankan tawanya dan menempelkan keningnya pada kening Farah.


“Karena aku mencintaimu.” Jawab Adrian lembut.


Farah mengerutkan dahinya. Sungguh ia tak percaya dengan pernyataan cinta dari si orang-orangan sawah ini, begitu Bayu memanggil Adrian.


Adrian kembali ingin memangut bibir Farah, tapi Farah menahannya. “Sejak kapan?”


“Nanti aku kasih tau setelah ini.” Adrian kembali menerjang bibir itu, kemudian turun ke leher dan memberi tanda di sana.


“Eumm..” Farah melenguh, karena sensasi itu.


Adrian kembali memberi kenikmatan pada Farah dengan memainkan bagian sensitifnya itu dengan lidah dan jarinya, hingga membuat Farah menggelinjang hebat, karena sebelumnya Tomy tak pernah melakukan hal ini, hanya Farah yang aktif melakukan ini pada milik mantan suaminya dulu.


“Yan, Euumm..” Racau Farah, hingga ia mengerang dan mendapat pelepasannya yang pertama.


“Enak.” Adrian kembali mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Farah.


Farah mengangguk. “Mau gantian?”


Adrian langsung memposisikan diri, agar Farah melakukan apa yang ia lakukan tadi.


“Far, hmm.. kamu pinter banget.” Racau Adrian yang juga tidak pernah merasakan kegiatan ini sebelumnya bersama Alya.


“Far, Ah, udah.” Adrian menahan Farah yang masih ingin melanjutkan aksinya, karena ia ingin melepaskan pelepasan itu pada tempatnya.


Kini Adrian memutar tubuhnya kembali ke posisi semula.


“Aku mulai ya!” Ucap Adrian lirih tepat di wajah Farah.


Farah mengangguk.


Tok.. Tok.. Tok.


Baru saja Adrian akan melanjutkan aksi utamanya, tapi tiba-tiba pintu kamar itu di ketuk dengan cukup kencang dan betubi-tubi.


“Papa, Mama.. Ayo sarapan!”


“Papa.. Mama.. Ayo sarapan!” Teriakan dari suara Alika dan Faris, sontak membuyarkan aksi mereka.

__ADS_1


Adrian tertunduk lemas. “Sepertinya, mereka memang harus di ungsikan dulu di rumah Malik.”


Farah pun tertawa geli, melihat ekspresi Adrian yang kesal bercampur gemas.


__ADS_2