
Adrian dan Farah sudah bersiap untuk sarapan, karena Alika dan Faris sudah menunggunya dari tadi di kamar pasangan yang baru kemarin mengucapkan iajb qobul.
Adrian keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Ia menatap ke arah Farah yang tengah bercengkrama dengan kedua anaknya di tempat tidur.
“Ayo dong, Pa! Cepetan. Faris udah lapar banget nih.” Anak laki-laki itu menghampiri ayahnya yang sedang berada did epan cermin.
“Iya, tunggu sebentar, papa nyisir dulu.”
“Papa, lama banget mandinya.” Sahut Alika.
“Ya, kan Papa emang kalau mandi selalu lama.” Sanggah Adrian, padahal ia tengh menuntaskan hasrat yang tertunda sebelum kedua krucil ini mengetuk pintu kamarnya.
Farah yang mendengarkan percakapan ayah dan anak itu, terus tertawa cekikikan. Adrian pun menoleh lagi ke arah Farah yang tengah tertawa.
“Ayo, Pa!” Adrian langsung di tarik oleh Faris untuk keluar, sementara Farah pun demikian, lengannya di gandeng Alika untuk turun ke restoran hotel itu.
“Iya, Ayo!” Kaki Adrian melangkah untuk meninggalkan kamar itu.
Ia menggiring kedua anaknya untuk keluar lebih dulu. Lalu, ia merangkul istrinya dari samping. “Puas ya ngetawain aku.”
Farah masih mengembang senyum. “Banget.”
Setelah, semua keluar dari kamar itu, Adrian menutup pintu dan Farah menggiring kedua anak itu untuk berjalan lebih dulu.
“Awas ya, nanti malam aku bales.” Kata Adrian yang berjalan di belakang Farah.
“Siapa takut.” Jawab Farah menoleh ke belakang sembari menjulurkan lidahnya.
Adrian tersenyum.
“Ris, Oma sama Opa sudah ke restoran?” Tanya Adrian pada putranya.
“Udah, bareng Oma Berlin.” Jawab Faris.
Berlin dan suaminya juga masih menginap di hotel ini, semalam ia pun malas untuk pulang. Lalu, Adrian, Farah, dan kedua anak itu berjalan menuju restoran hotel yang berada di lantai paling bawah.
Di kamar yang berbeda, Malik dan Angel juga tengah bersiap menuju tempat yang sama. Malik duduk di tempat tidur, sambil memperhatikan sang istri yang berdandan dan menggunakan hijabnya. Angel melihat sang suami dari balik cermin.
“Dari tadi ngeliatain aja.”
“Emang ngga boleh, lni kan punya aku.” Malik mendekati Angel dan memeluknya.
“Kayanya ada yang kode nih. Masih kurang?” Ledek Angel, karena Malik masih bergelayut manja di pundaknya.
Malik nyengir menampilkan jejeran giginya. “Kalau hari ini udah kenyang. Tapi besok pasti minta lagi.”
Angel tertawa, memang Malik tidak pernah puas untuk menyentuh tubuhnya. Pria itu selalu ingin bercinta setiap hari, tidak ada kata tidak mood atau sedang banyak pekerjaan, Malik selalu ingin berada di atas tubuh sang istri.
Angel selesai mengenakan phasmina modis. Lalu ia tersenyum di balik cermin itu, karena Malik masih menatapnya dari sana.
“Kamu cantik, Bee.”
Angel masih tetap tersenyum. “Terima kasih.”
Malik pun ikut tersenyum.
“Yuk!’ Angel menggenggam tangan Malik yang semula berada di kedua pinggangnya. Ia Mengajak Malik untuk keluar dari kamar.
Tepat sebelum Malik membuka pintu itu, Angel memasangkan kakinya pada sandal yang memiliki pengait di bagian belakang. Angel kesusahan untuk menunduk dan mengaitkan ikatan itu pada sandalnya, mengingat perut Angel yang semakin besar karena sedang hamil tua.
“Sini aku bantu, Bee.” Melihat hal itu, Malik dengan sigap berjongkok da mengaitkan tali sandal itu pada kedua kaki Angel.
Angel yang melihat itu pun tersenyum dan semakin mencintai suaminya.
Sesampainya di Restoran hotel, sudah ada Berlin dan suaminya, kedua orang tua Adrian, Alika dan Faris, juga pasangan pengantin baru yang gagal melakukan malam pertamanya.
“Lik, kapan balik ke Jogja?” Tanya suami Berlin sekaligus ayah sambung Malik.
__ADS_1
“Nanti sore, Om.”
“Oh, mama kira kamu mau nginep di rumah mama dulu.” Sahut Berlin.
“Ngga, Ma. Malik sudah meninggalkan banyak pekerjaan di sana.”
Malik dan Angel satu meja dengan kedua orang tuanya dan Radit. sementara Adrian dan Farah sibuk mengurusi kedua anaknya di meja berbeda bersama Dila. Ibu dari Adrian itu merasa sangat cocok dengan menantu barunya.
“Oh, iya, katanya kamu mau mengambil alih perusahaan Papamu?” Tanya Radit pada Malik.
“Belum, Om. Malik masih mengurusi perusahaan Malik sendiri di Jogja, setelah itu bisa di tinggal, baru Malik pegang perusahaan Papa.”
“Wah, hebat kamu.” Suami Berlin menepuk bahu Malik.
Berlin pun tersenyum senang, pasalnya putra yang sering membuat onar ini akhirnya sadar juga. setelah menikah, Malik semakin menunjukkan pribadi yang baik dan bertanggung jawab.
****
Setelah sarapan, kedua keluarga itu bercengkrama di taman hotel, sambil menunggu Alika dan Faris bermain di sana.
“Wah, gimana bos malam pertamanya?” Ledek Malik, ketika menghampiri Adrian yang tengah duduk sendiri di taman sambil memeperhatikan kedua anaknya yang sedang bermain di temani Farah.
Angel pun ikut berkumpul bersama Farah dan kedua anak Adrian di sana.
“Gagal, tuh gara-gara kedua kucaci itu.” Jawab Adrian.
“Parah lu, anak sendiri di bilang kurcaci.”
Adrian tertawa, mengingat lagi kejadian lucu tadi pagi.
“Tapi emang bener sih, anak-anak lu suka ganggu orang aja.”
Adrian kembali tertawa. “Gimana kalo gue titip mereka sama lu? Bawa gih ke Jogja. Lima hari aja.”
“Et dah, enak aja lu. Ogah. Angel bentar lagi lahiran, repot gue. Lagian emang anak lu ngga sekolah.” Jawab Malik tak terima.
“Sekolah mah gampang, gue bisa minta izin seminggu ke kepala sekolahnya.”
“Ah,” Angel merintih memegangi perutnya yang sakit.
“Angel kamu kenapa? Kontraksi?” Tanya Farah yang langsung menghampiri Angel.
Malik masih tak menyadari isrinya yang sedang sedikit duduk membungkuk dan memegangi perutnya. Ia masih asyik bercengkrama dengan Adrian dan arah matanya tidak tertuju pada kedua wanita dan kedua anak Adrian di seberang sana.
“Ngga tau, Mba. Kok sakit ya. Ah, sakit banget mba.” Ucap Angel.
“Malik.” Teriak Farah.
Malik pun langsung menoleh ke arah itu dan berlari menghampiri istrinya.
“Angel kenapa, Mba?” Malik berjongkok di hadapan Angel.
“Sepertinya kontraksi. Bawa ke rumah sakit, Lik.”
Dengan cepat Malik menggendong istrinya, emmbuat semua keluarga panik, termasuk Farah dan Adrian.
Adrian langsung mengendarai mobil menuju rumah sakit. Di bangku penumpamg belakang, Malik terus memeluk istrinya yang sedang mengaduh dan Farah tepat menemani Adrian di samping kemudi. Farah memang sudah kembali bertugas di Jakarta, karena ia hanya membantu di Jogja selama enam bulan saja.
Sejak awal, Malik dan Angel sudah merencanakan tanggal kelahiran calon bayi yang masih di perut Angel, karena mereka ingin malahirkan dengan operasi caesar, mengingat ada dua janin di dalam perut itu. walau Angel bisa melahirkan dengan cara normal, tapi karena Angel memiliki riwayat tekanan darah yang rendah, membuat Farah menyarankan hal lain.
Sesampainya di parkiran rumah sakit, Adrian memarkirkan mobilnya di parkiran vvip, lalu Farah langsung keluar dan meminta tim medis untuk segera membawa Angel ke ruang instalasi gawat darurat.
Malik berlari mengikuti ranjang yang membawa istrinya. “Bee, kamu kuat.”
Angel masih meringis menahan sakit, tapi ia mencoba tenang dan tersenyum. Malik terus menciumi tangan Angel untuk memberi dukungan.
“Siapkan ruang operasi.” Pinta Farah pada tim medis yang bertanggung jawab di sana.
__ADS_1
Farah menenangkan Angel dengan menyuntikkan anti nyeri. Suster kembali memeriksa Angel dan lagi-lagi tekanan darahnya sangat rendah, Farah tidak ingin mengambil resiko. Lalu, ia pun memulai untuk melakukan operasi.
Di luar sana, Malik di temani banyak keluarganya, ada Adrian dan Berlin juga ayah sambungnya. Sementara Dila dan Radit membawa kedua cucunya untuk pulang kekediaman Adrian.
Adrian dan berlin masih cuti hari ini. ia tidak sedang ebrtugas di rumah sakit ini, tapi mereka tetap berada di sini untuk mensupport Malik dan istrinya.
Di dalam ruang operasi, Farah meminta Malik untuk menemani istrinya. Malik pun sangat senang dan terus ada di samping Angel.
“Bee kamu tahu, sejak aku menumpahkan bakso yang kamu bawa di pesta pernikahan Adrian dan Mba Alya, aku sudah menyukaimu. Aku ngga tau ternyata sekretaris itu adalah kamu, wanita berkacamata dan memakai behel.” Malik mengoceh agar Angel terus dalam kesadarannya dan tidak jenuh atau tegang saat operasi berlangsung.
“Masa, padahal dulu aku kan jelek.” Jawab Angel lirih. Ia ingat saat SMP memang penampilannya sangat culun.
“Nggak, kamu cantik. Kamu selalu cantik di mataku.”
Angel tersenyum dengan mata yang sayu. “Gombal.”
Malik pun ikut tersenyum. Ia menampilkan kedua jarinya ke atas. “I swear.’
Malik kembali mendekatkan wajahnya pada Angel. “Sebentar lagi anak kita lahir, kamu mau beri nama apa? Dari kemarin kita tidak pernah serius mencari nama untuk mereka.”
“Terserah, upin ipin boleh.”
Malik tertawa. “Apaan sih, Bee. Lagi begini malah ngelawak aja.”
Angel tersenyum. “Bagaimana kalau Adam dan Hawa.”
“Good. Itu bagus.” Jawab Malik.
“Adam Fauzan Hamish dan Hawa Aluna Hamish.” Kata Malik lagi, dengan suara lantang dan Angel pun tersenyum.
Owek.. Owek.. Owek..
Selesai Malik penyelesaikan mengucapkan kedua nama lengkap itu, suara tangis bayi pun terdengar. Malik langsung berdiri dan melihat bayi yang tengah di pegang oelh suster. Tiga menit kemudian suara tangisan itu terdengar lagi. Bayi kedua langsung di sambut oleh tangan suster yanga ada di samping Farah. Lalu, Farah melanjutkan pekerjaannya pada Angel.
“Bee, mereka lahir.”
“Selamat Angel, mereka sehat semua.” Ucap Farah tersenyum ke arah Angel.
“Alhamduillah.” Angel langsung tersenyum sumringah.
Kemudian, Malik mengecup seluruh wajah Angel dengan ceria. Ia sungguh bahagia. Senyum yang terus mengembang di bibir Malik, menggambarkan bahwa dirinya kini benar-benar bahagia.
“Terima kasih ya Allah. Terima kasih, Bee. Mereka adalah buah cinta kita.”
Angel tersenyum dan mengangguk. Sebesar apapun rasa sakit itu, serasa hilang dengan senyum yang mengembang dari sudut bibir Malik, pria yang ia cintai sejak ia mengenal arti cinta.
****
Semua keluarga yang menunggu prosesi kelahiran anak Malik dan Angel itu pun langsung mengucapkan selamat, ketika Angel sudah berada di ruang perawatan. Berlin terlihat antusias untuk menggendong cucu kembarnya yang tampan dan cantik. Ayah sambung yang merupakan suami Berlin pun terlihat demikian.
“Malik, Angel. Cucu mama cantik dan tampan.” Kata Berlin.
Adrian dan Farah tersenyum menemani keluarganya di sana.
“Mba, makasih ya.” Ucap Angel pada Farah sembari menggenggam tangan lembut dokter Farah yang ramah dan baik.
“Bro, Sorry, sepertinya malam pertama lu ke tunda lagi.” Ucap Malik berbisik pada Adrian, karena hari ini waktu Farah terlewatkan banyak untuk mengurusi Angel.
“Sebagai gantinya, anak-anak gue sama lu lima hari.” Jawab Adrian santai.
“Ah, gila lu.” Teriak Malik pelan.
Adrian tertawa. “Lu kan lagi puasa.”
Angel dan Farah melirik ke arah kdua pria yang tengah bertengkar itu, sementara Berlin dan suaminya sibuk dengan kedua cucu mereka yang baru lahir.
__ADS_1
Lucu kan mereka 🤗
Terima kasih untuk kalian yang udah mengawal kisah cinta Malik dan Angel dari awal hingga akhir. Terima kasih untuk dukungan kalian melalui vote, hadiah, like, dan komen. Setelah ini hanya tinggal bonchap aja ya 😘😘😘😘