
Angel pulang ke Jakarta sore ini, karena besok pagi ia kembali dengan rutinitas kerjanya. Ia melangkahkan kakinya malas menuju apartemen yang sudah Malik berikan atas namanya.
Bip
Pintu apartemen itu terbuka, setelah Angel menekan passcode yang berada di gagang pintu itu. Ia masuk dan menyalakan saklar lampu utama. Di sana terlihat seorang pria yang tengah duduk. Pria itu berdiri, setelah melihat Angel berdiri di hadapannya. Ia berjalan menghampiri Angel.
“Ponselmu tidak aktif?’
Angel tetap melangkah ke dalam, tanpa membalas ucapan Malik. Selama di rumah ayahnya, Angel sengaja tidak mengaktifkan ponselnya. Ia ingin mendapatkan ketenangan dengan berkumpul bersama orang-orang yang ia sayang dan menyayanginya, di tambah kebersamaan dengan kedua anak Adrian, sedikit membuat Angel terhibur dan menghilangkan sejenak masalahnya dengan Malik.
“Kamu belum jawab pertanyaanku. Mengapa ponselmu tidak aktif?” Malik menahan lengan Angel.
“Sedang tidak ingin di aktifkan saja.” Jawab Angel santai, tanpa menoleh ke arah Malik. Ia tetap berjalan menuju kamarnya.
“Apa kamu menghindariku?”
Langkah Angel terhenti. Ia membalikkan tubuhnya.
"Bukankah kamu yang menghindariku? Bukankah aku sudah meminta maaf sebelumnya, tapi kamu tetap marah dan tidak membalas."
Malik berjalan mendekati Angel. Ia berdiri persis di hadapan Angel, hingga tak berjarak.
“Maaf, aku hanya butuh waktu untuk bisa mengerti keputusanmu.” Malik meraih pinggang Angel dan hendak menciumnya.
Namun dengan cepat, Angel mengerakkan kepalanya ke samping. Entah mengapa justru saat ini, hatinya yang sakit, apalagi ia sempat melihat Malik dan Tiara makan siang bersama di kantor dan ketika itu Malik melihat ke arahnya, tapi pria itu malah cuek.
“Pulanglah, aku ingin istirahat.” Jawab Angel dengan melepaskan kedua tangan Malik yang melingkar di pinggangnya.
“Mengapa sekarang jadi kamu yang marah?” Tanya Malik.
“Aku tidak marah, hanya butuh waktu untuk mengerti keadaan ini.” Angel tersenyum dan kembali membalikkan tubuhnya untuk berjalan menuju kamar.
Malik mengejar Angle. Ia kembali memeluk tubuh wanita itu dari belakang.
“Maaf, Bee. Maafkan aku. Aku hampir gila dua hari tanpamu. Aku meneleponmu dari kemarin hingga ratusan kali. Aku khawatir, rindu, semua jadi satu.” Malik menenggelamkan kepalanya di cerug leher Angel.
Angel mengetahui hal itu. Sebelum ia naik lift dan sampai di flat apartemennya ini, ia sempat mengaktifkan ponselnya dan di sana tertera ratusan panggilan masuk dari Malik, juga pesan whatsapp.
__ADS_1
“Pulanglah, Kak. Aku lelah ingin istirahat.” Angel kembali melepas pelukan itu dan tetap berjalan menuju kamar.
Malik menatap sendu kekasihnya yang sangat berbeda. Selama yang ia kenal, Angel tidak pernah bersikap seperti ini. Biasanya, Angel akan mudah luluh jika Malik sudah meminta maaf dan memeluknya. Malik menatap Angel yang masuk ke kamar dan menutup kembali pintunya.
Angel masuk kemarnya tanpa menoleh ke arah Malik lagi. Sejujurnya, ia pun tidak ingin bersikap seperti ini, hanya saja pikirannya sedang bingung dengan perkataan sang ayah yang akan menjodohkannya dengan anak sahabatnya itu. Yang semula ia pikir itu hanya candaan, kini sedikit menuju kenyataan. Pasalnya sebelum Angel berangkat lagi ke Jakarta, Hendra menanyakan kesiapan Angel untuk di jodohkan pada anak sahabatnya itu lagi. Namun, Angel hanya terdiam, ia tak berkata iya juga tidak berkata tidak.
Setelah menutup pintu kamar. Angel menangis di balik pintu itu dan Malik pun menyesali sikapnya yang seperti anak kecil beberapa minggu kemarin. Ia pun menangis karena melihat sikap kekasihnya yang tak biasa, padahal ia sudah sangat merindukan Angel.
****
Di kantor, Angel dan Malik di sibukkan dengan segudang pekerjaan, karena bos besarnya akan pulang kampung. David beserta ibu dan keluarga istrinya akan bertandang ke Inggris, sehingga ia menyerahkan segala pekerjaan pada Malik dan Angel. David mempercayakan semua urusan kantornya pada Malik dan Angel, yang juga di bantu Abram.
Malik yang memang seorang workaholic dan profesional, membuat ia lupa dengan masalah yang belum terselesaikan dengan Angel. Lagi pula sikap Angel sudah biasa lagi. Angel seperti biasa melakukan aktifitas bersama Malik. Mereka berpartner dengan solid, tanpa terlihat bahwa sebelumnya sempat ada ketegangan di antara sepasang kekasih ini.
Hampir dua minggu, Malik dan Angel sibuk dengan urusan dan tugasnya masing-masing, sesuai arahan big bos mereka sebelum pergi.
“Bee, makan siang bareng Yuk!” Ajak Malik, yang sudah berdiri di depan meja kerja Angel.
Angel yang sedang fokus di layar komputer itu pun langsung menoleh ke sumber suara itu.
“Hmm..” Angel menggeleng.
“Tidak apa, tinggalkan saja dulu. Nanti bisa di kerjakan lagi.” Ucap Malik.
Angel tetap menggeleng. “Nanti malam aku tidak bisa lembur, karena perkuliahan hari pertama akan di mulai.”
Ini yang Malik tidak suka. Bukan ia ingin melarang kekasihnya untuk mengejar mimpinya. Hanya saja ia tidak ingin waktu kebersamaannya menjadi berkurang, bahkan akan sedikit hilang.
Malik menarik nafasnya kasar. “Kalau begitu setelah makan siang, pekerjaanmu akan aku kerjakan sebagian.”
Angel menggeleng lagi. “Tapi pekerjaanmu juga sudah banyak.”
“Tidak apa, biar aku yang lembur, yang penting hari ini kita makan siang bersama, karena besok-besok jadwal pertemuanku dengan klien akan padat.” Kata Malik tegas.
“Ayolah!” Malik menarik lengan kekasihnya agar Angel mau berdiri dari kursinya itu.
“Baiklah. Tunggu sebentar.” Angel berdiri dan mengambil tasnya.
__ADS_1
Mereka pun berjalan beriringan menuju keluar. Malik akan membawa Angel ke restoran favorit mereka. Ia sudah merancang momen romantis siang ini bersama kekasihnya di luar kantor. Sungguh, Malik sangat merindukan Angel.
Angel tersenyum, saat mereka sampai di restoran itu.
“Nasi goreng seafood tidak pedas, dimsum udang, dan es lemon tea.” Ucap Malik, memesan semua makanan kesukaan sang kekasih.
“Banyak sekali.” Kata Angel.
“Kamu memang harus makan yang banyak, Bee. Pikiran dan tenaga kita terkuras penuh akhir-akhir ini untuk bekerja.”
Angel mengangguk, karena apa yang Malik katakan memang benar. Dua minggu ini, ia sangat lelah dengan pekerjaan kantor yang menumpuk selama David pergi.
Lalu, Malik menyebutkan beberapa makanan lagi untuk dirinya sendiri kepada pelayan yang berdiri di hadapannya.
“Ada tambahan lagi, Bee?” Tanya Malik lembut.
Angel tersenyum dan menggeleng. “Itu cukup.”
Setelah menikmati makan siang. Mereka kembali lagi ke kantor. Malik menepati janjinya dengan mengerjakan pekerjaan Angel.
“Pulanglah, Bee. dua jam lagi kamu kan harus sampai di kampus. Setidaknya masih ada waktu untuk membersihkan diri dulu di apartemen.” Kata Malik pada Angel yang berada di ruangan Malik.
“Lalu, ini?” Angel bertanya dengan beberapa pekerjaannya yang belum selesai.
“Sudahlah, semuanya biar aku yang menyelesaikan.” Jawab Malik meyakinkan bahwa dirinya bisa membantu Angel.
“Tapi ini masih banyak.” Ucap Angel lirih.
“Tidak apa, sungguh. Setidaknya ini membuktikan bahwa sebenarnya aku mendukungmu untuk meraih cita-citamu.” Malik pun menjawab lirih.
Angel berdiri dan memeluk Malik. “Terima kasih, Kak. Maafkan aku.”
“Maafkan aku juga, Bee.” Malik tersenyum dan mengecup kening Angel.
“Hati-hati.” Ucap Malik lagi, saat Angel akan pergi.
“Iya.” Angel tersenyum ke arah Malik dengan manis dan menutup pintu ruangan itu setelah ia buka.
__ADS_1
Malik pun tersenyum, saat pintu itu kembali tertutup. Ia cukup senang, karena hubungannya dengan Angel kembali baik-baik saja dan ia dapat melihat senyum manis itu lagi. Kini, Malik berjanji akan lebih mengerti kekasihnya.