
"Pa, bunda mana?” Tanya Alika sambil menggoyangkan tubuh sang ayah yang masih terlelap di atas tempat tidurnya.
“Hmm..” Adrian langsung membuka matanya.
“Bunda belum pulang juga?” Adrian balik bertanya.
“Loh, kata Bibi, semalam papa jemput bunda.” Jawab Alika.
“Papa semalem ga nemu bunda, kak. Mungkin bunda nginep di rumah temannya.” Jawab Adrian menenangkan Alika.
“Bunda di culik, Pa?” Tanya Fariz.
“Bukan, Bunda sudah besar, tidak mungkin di culik.”
“Ada, Pa. Fariz nonton spiderman, yang perempuannya di culik, padahal dia sudah besar seperti bunda.”
“Fariz, itu kan film.” Alika membentak adiknya.
“Mungkin Bunda ke rumah Aki.” Kata Alika menyebut Hendra.
“Ga mungkin, Kak. Ngapain malam-malam, Bunda ke bandung. Sudah kita tunggu saja.” Jawab Adrian dengan lemas. Ia pu bangkit dari tempat tidur itu.
Baru kali ini, Angel pergi tanpa kabar. Adrian mengusap wajahnya kasar. Ia beralih ke kamar mandi dan membersihkan diri. Kebetulan, hari ini hari libur. Ia akan menunggu Angel pulang sambil mengurus putra putrinya.
****
Di apartemen, Angel dan Malik bersiap untuk pergi ke Bandung. Malik bersikeras mengajak Angel untuk bertemu ayahnya. Ia ingin meminta restu, walau sebenarnya apa yang mereka lakukan salah. Namun, Malik ingin bertanggung jawab, terlebih semalam ia melepaskan benih di rahim wanita yang ia cintai itu. Malik sengaja ingin mengikat Angel, agar wanita itu menjadi miliknya.
Di dalam mobil Angel terlihat gelisah. Ia menggigit kukunya.
“Bee, tenanglah.” Kata Malik sembari melepas menarik tangan Angel yang sedari tadi ia gigit sendiri.
“Aku takut, Kak.”
“Ada aku. Kamu ga sendirian. Aku penyebab semua ini terjadi dan izinkan aku untuk memperbaikinya.” Kata Malik menenangkan.
“Ayah sudah dua kali pasang ring. Aku takut, jika kabar ini mengejutkannya.” Sahut Angel.
“Kamu bicaralah lebih dulu dengan ayah pelan-pelan. Selanjutnya aku yang bicara.”
__ADS_1
Angel mengangguk.
Tiga jam, mereka berada di jalan menuju Bandung. Malik melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, karena jalanan yang cukup sepi.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan rumah Hendra. Malik memarkirkan mobilnya, persis di depan Hendra yang tengah duduk di teras rumah itu sambil membersihkan kipas angin yang kotor.
Hendra berdiri dan mendekati mobil yang tengah terparkir di pekarangan rumahnya itu.
“Angel?” Tanya Hendra yang mendapati putrinya keluar dari mobil itu.
Hendra menyungging senyum saat Angel menghampiri dan mencium punggung tangannya. namun seketika, senyum itu memudar saat melihat Malik keluar dari mobil itu dan menghampirinya.
“Kalian? Ayah kira kamu ke sini bersama Adrian.”
Malik dan Angel saling menatap.
“Begini ayah, ada yang ingin kami bicarakan pada ayah.” Jawab Malik.
“Ayah, Angel ingin bicara.” Angel manarik lengan sang ayah untuk masuk ke dalam dan meminta Malik untuk duduk di teras.
Ia ingin bicara dengan ayahnya dari hati ke hati.
“Ada apa ini, Angel?” Tanya Hendra bingung.
“Ayah, Hah..” Angel menarik nafasnya kasar.
“Ayah, Angel minta keluasan hati ayah dan ayah jangan marah dulu dengan apa yang akan Angel katakan.” Angel kembali menarik nafasnya, sungguh jantungnya berdetak sangat kencang.
“Ayah, Angel tidak bahagia bersama Adrian. Adrian tidak pernah mencintai Angel, dia masih mencintai almarhumah istrinya. Selama menjadi istrinya, bahkan Angel tak pernah di sentuh. Dia juga tidak bisa di ajak kerjasama. Ayah sendiri pernah melihatnya bukan? Angel tidak bisa bersama dengannya, Yah. lagi pula Angel juga tidak mencintainya.” Ucap Angel panjang lebar.
Hendra menatap wajah putrinya tak berkedip. Baru kali ini, putrinya menjelek-jelekkan orang, terlebih ini adalah suaminya sendiri.
“Apa ini karena pria yang duduk di teras itu?” Tanya Hendra.
“Dia Malik Ibrahim, kami bertemu saat Angel bekerja, dia asisten pribadi sedangkan Angel sekeretari dari bos yang sama. Kami sering bertemu dan beekrja sama dalam bekerja, sehingga rasa cinta itu muncul. Lalu kami pacaran dan dia tidak datang saat ayah memberinya waktu. Dia tidak datang karena menolong temannya yang hampir bunuh diri.”
“Lalu, kalian selingkuh?” Tanya Hendra dengan tetap menatap tajam putrinya, seolah-olah akan menelannya.
Angel mengangguk. “Ini karena Adrian tidak bisa menjagaku dengan baik Ayah. hanya dia yang selalu ada di saat Angel membutuhkan seseorang. Sedangkan Adrian selalu sibuk dengan urusannya.” Angel menangis.
__ADS_1
Hendra pun ingin menangis, tapi ia tahan.
“Sekarang Angel ingin meminta restu pada ayah. Angel ingin menggugat cerai Mas Adrian dan..”
“Dan, menikah dengan Pria itu?” Hendra melanjutkan perkataan Angel yang ia potong.
Angel mengangguk.
Dada Hendra terasa sesak. Namun, ia juga salah, ia tak pernah bertanya pada putrnya apa dia bahagia? Apa putrinya baik-baik saja? Hendra terus menatap Angel yang tengah menangis tersedu-sedu.
Kebetulan, di rumah ini, Hendra tengah berada sendiri. Hanya di temani oleh satu pembantu rumah tangga yang baru akan datang di siang hari dan pulang setelah pekerjaan rumah selesai. Enin sedang tidak berada di rumah, karena mengunjungi Ella karena saat ini kedua anak Ella sedang sakit bersamaan, sehingga ia membutuhkan sang ibu untuk membantunya.
“Apa kalian telah melakukan hubungan itu hingga..?”
Angel langsung mengangguk. Ia tahu kemana arah perkataan sang ayah.
“Maafkan Angel ayah. Kami pun telah melakukannya sewaktu masih berpacaran.”
Sekatika, Hendra berdiri dan memukul keras pipi Angel, hingga kursi yang ia duduki bergeser dan tubuh Angel tersungkur di lantai. Mendengar suara gaduh itu, Malik langsung berlari ke dalam dan memeluk Angel.
“Salahkan saya Ayah. saya yang salah bukan Angel. Saya memang anak nakal ayah, saya anak nakal yang telah mengajak anak ayah menjadi nakal. Pukul saya. Jangan pukul Angel ayah, saya mohon.” Ucap Malik menangis di kaki Hendra. Sementara Angel terus meraung sambil memegang pipinya yang merah.
Hendra pun menangis. Putri yang selama ini ia banggakan, melempari kotoran ke wajahnya. Namun, ia juga mengakui bahwa ia pun ikut bersalah karena terlalu menggebu ingin berbesanan dengan Radit dan mengabaikan perasaan putrinya.
“Jangan minta restu padaku, jangan meminta maaf padaku. Karena kamu bukan lagi tanggung jawabku. Kamu tanggung jawab Adrian, sekarang. Ayah telah menyerahkanmu padanya. Mintalah maaf padanya dan mintalah restu padanya.” Ucap Hendra lantang tanpa menatap ke arah Angel dan Malik.
Angel berdiri dan memeluk tubuh sang ayah. “Maafkan Angel ayah. Maaf.” Ia terus menangis dan meraung, hingga dadanya terasa sesak.
“Pergilah.” Ucap Hendra dan melepask paksa tangan Angel yang memeluk pinggangnya.
“Ayah.” Ucap Angel yang tengah di peluk oleh Malik.
“Pergilah, Aku jijik melihat kalian.” Kata Hendra tanpa menoleh sedikitpun ke arah Angel dan Malik.
“Maafkan saya ayah.” Ucap Malik dan menuntun Angel untuk pergi.
“Ayah.” Angel masih meraung.
“Ayah.”
__ADS_1
Seketika Hendra terduduk lemas, setelah mendengar mesin mobil Malik yang keluar dari pekarangan rumahnya. Ia menangis, selama ini ia kira, ia sudah berhasil mendidik putrinya dengan baik dalam hal pendidikan agama dan akademis. Ia membayangkan kembali saat Angel kecil, Angel yang penurut dan tidak pernah membantah. Angel yang rajin mengaji dan berjanji akan membawa ayahnya ke surga, berkumpul bersama sang ibu di sana. Nyatanya, ia yang akan memberatkan langkah sang ayah menuju surga nanti.
Hendra menangis lagi. Ia meraung sekencang-kencangnya. Ia sungguh telah gagal.