
Selesai resepsi, Malik membawa Angel ke apartemen yang ia beli untuk kekasihnya padda waktu itu. Apartemen yang penuh kenangan juga dosa.
“Malik, mengapa kamu tidak menyewa kamar di hotel ini sekalian?” Tanya Faisal yang sudah sangat lelah.
“Papa saja yang menginap di sini. Kami akan ke apartemen.” Jawab Malik.
“Loh, bukannya apartemenmu sudah di jual demi perusahaanmu yang sedang kau rintis di jogja?” Tanya Faisal bingung.
Keluarga Angel dan Berliana, telah pulang terlebih dahulu. Tak ada keluarga yang menginap di hotel, kecuali Farah, karena ia adalah tamu khusus yang Malik undang. Di samping itu, Farah semakin dekat dengan Angel dan sudah seperti kakak, karena saat ini Angel pun sedang menjalani treatment agar mendapatkan Malik junior.
Di lobby hotel, Farah masih di temani oleh Adrian dan kedua anaknya. Farah pun sudah di terima oleh kedua orang tua Adrian.
“Iya, Pa. Ini apartemen Malik yang dulu pernah Malik berikan pada Angel sewaktu kami masih berpacaran.”
“Oh, begitu.” Faisal membulatkan bibirnya.
“Kami ingin nostalgia di apartemen itu, karena apartemen itu banyak menyimpan kenangan.” Kata Malik seraya menampilkan senyumya ke arah Angel di iringi genggaman tangan yang tak pernah lepas.
“Apartemen itu menyimpan kenangan indah, apa dosa terindah?” Ledek Adrian dengan senyum menyeringai.
Malik dan Angel hanya tersenyum.
“Lu masih belum rela, Bang?” Tanya Malik.
Adrian tertawa. “Lu harus berterima kasih sama gue, karena gue udah jagain punya lu.”
Malik menghampiri Adrian. Ia mengerti maksud dari ucapan kakak sepupunya itu. Malik memang harus berterima kasih pada Adrian yang waktu itu pernah berstatus suami Angel, tapi tak pernah sekalipun menyentuh istrinya.
“Iya, iya. Gue terima kasih banget. Makanya sekarang punya lu juga gue jagain di Jogja.” Jawab Malik melirik ke arah Farah yang masih bercengkrama dengan kedua anak Adrian di seberang sana.
‘Ah, si*lan lu. Bisa aja ngelesnya.” Adrian tertawa dan kembali memeluk adik sepupu yang bagai adik kandung.
Faisal dan keluarganya pun ikut tersenyum melihat kedua pria ini kembali akur.
“Ya udah, Papa pulang dulu.” Kata Faisal.
“Mama juga ya, Lik. Angel.” Rini berpamitan.
“Terima kasih untuk semuanya, Ma.” Jawab Angel yang langsung mencium pungung tangan Rini dan memeluknya.
Malik pun bergantian melakukan hal yang sama. “Terima kasih, Ma.”
Rini tersenyum dan mengangguk. “Semoga kalian selalu bahagia.”
“Aamin.” Malik dan Angel menjawab bersamaan.
“Aku juga pulang ya, Bang.” Kanaya dan Aira brergantian menyalami Malik dan Angel. Sesekali Aira pun menguap.
“Tutup itu mulutnya.” Kata Mlik sembari menepuk b*k*ng sang adik.
“Ih, iya.” Aira tak terima dan menjulurkan lidahnya, membuat Malik tertawa.
__ADS_1
“Yan, Mama sama Papa juga pulang, Ah. Kasihan Alika sama Faris. Ini sudah malam.” Kata Dila. Lalu,
Dila pun pamit pada kedua insan yang tadi menjadi raja dan ratu semalam. Dila dan Radit membawa pulang kedua anak Adrian, sedangkan Adrian masih ingin berada di hotel ini.
“Sana, Yan. Kasihan Alika dan Faris kalau kamu ga ikut pulang.” Kata Farah.
“Terus kamu nanti sendirian di sini.” Ucap Adrian.
“It’s oke.” Jawab Farah lagi.
“Ciye..” Angel meledek, membuat Adrian dan Farah menoleh. Mereka lupa bahwa di lobby ini masih ada orang lain.
“Udah, Om. Buruan Adrian di kawinin.” Celetuk Malik sembari tertawa.
“Hush, nikah bukan kawin.” Jawab Radit tertawa, membuat orang dewasa yang ada di sana pun ikut tertawa, termasuk Farah.
“Lucu.” Adrian tak terima dan tetap memasang wajah datar.
Akhirnya, Adrian pulang bersama kedua orang tua dan kedua anaknya. Sedangkan Malik dan Angel pun ikut pamit pada Farah dan meninggalkan dokter itu sendiri di hotel ini, karena besok pagi ia akan kembali ke Jogja.
****
Sesampainya di apartemen. Malik menggandeng sang istri berjalan beriringan menuju flat mereka. Malik menekan passcode itu.
“Kodenya ga pernah kamu rubah?” Tanya Malik.
Angel menggelng.
Angel tersenyum dan mengangguk. Pasalnya Passcode itu masih menggunakan tanggal jadian mereka saat resmi menjadi kekasih.
Setelah pintu terbuka, Malik merubah passcode itu. lalu, Malik mnutup kembali pintunya.
“Sudah ada yang bersihkan?” Tanya Angel saat melihat semua ruangan di sini bersih dan tak berdebu.
Malik mengangguk. “Minta tolong di bersihin sama pembantunya Papa.”
“Oh.”
Lalu, perlahan Angel memasuki ruangan demi ruangan tempat itu. tempat yang di penuhi banyak kenangan. Hingga, kakinya sampai di sebuah kamar. satu-satuya kamar yang ada di apartemen yang Malik beli.
Angel membuka pintu kamar itu dan mengedarkan pandangannya. Ia ingat saat pertama kali Malik menyentuhnya dan mengambil mahkota berharganya itu. ia pun memngingat saat menangis meratapi nasibnya yang pilu menjadi istri dari pria yang sama sekali tidak ia cintai.
Malik memeluk istrinya dari belakang. Ia menaruh dagunya di pundak Angel dan membiarkan sang istri berkelana dengan memorinya.
Angel kembali mengingat saat ia dengan ganas menerjang Malik terlebih dahulu, padahal saat itu ia masih berstatus istri Adrian. Angel menangis, ia menangisi dosa-dosa yang pernah di lakukan.
“Bee.” Malik semakin memeluk erat sitrinya. Ia tahu apa yang Angel pikirkan.
“Sekarang, kita tak lagi berbuat dosa. Maafkan aku, Bee.” Malik masih merasa bersalah, karena telah menjerumuskan Angel dulu.
Angel menggeleng. “Cinta dan nafsu memang beda tipis ya, kak.”
__ADS_1
Malik mengangguk. “Ya, begitulah.”
“Tapi sekarang nafsu itu menjadi halal.” Kata Malik lirih dan membuka sedikit resleting dres yang Angel kenakan.
Ia sengaja menyingkirkan bahan yang menutupi bagian punggung istrinya. Lalu, meraba punggung mulus itu dengan bibirnya, hingga ia kecup dan menggigit menjadi tanda merah. Kecupan itu pun naik ke atas leher, membuat kepala Angel sedikit miring ke samping untuk memberi akses keleluasaan pada sang suami dan melakukan yang ia mau. Angel menggigit bibirnya, saat Malik menggigit lembut kulitnya itu.
“Kak.”
“Apa kamu capek?” Tanya Malik dan Angel langsung menggeleng.
Kemudian, Malik membalikkan tubuh Angel dan ******* bibir itu. Angel langsung membalasnya. Kedua mulut mereka langsung terbuka dan saling menerima kecapan di bibir dan lidah itu. Malik memangut bibir istrinya dengan ganas. Namun, sekarang Angel sudah mampu mengimbangi ciuman Malik yang terbilang cukup lihai dan menuntut.
Malik menggendong Angel seperti koala. Ia menggiring langkah Angel untuk lebih masuk ke dalam kamar dengan tak melepaskan pangutan itu. Lalu, ia menutup pintu kamar dengan satu kakinya.
“Mmpphh..”Angel melenguh, pertanda oksigen di rongga dadanya mulai menipis.
Malik pun melepas pangutan itu. Ia masih ingin memangut bibir itu. Mulut Malik kembali terbuka dan hendak memangut bibir sang istri lagi. Namun, Angel langsung menahan dada suaminya.
“Kak. Kita mandi bareng yuk!” Ajak Angel dengan senyum menggoda. Apalagi saat ini, dres yang resletingnya telah Malik buka, semakin terbuka lebar, hingga kedua gundukan itu pun terlihat.
Malik melirik ke bagian yang sangat menggoda itu. “Kamu nakal banget sekarang. Bee.”
Angel tersenyum. Lalu, Malik langsung membawa istrinya ke kamar mandi. Di sana, Angel menservis abis suaminya seperti wanita jalang yang melayani pelanggannya, hingga Malik benar-benar merasakan kenikmatan yang tiada tara. Walau di sini, Angel pun merasakan hal yang sama.
Satu jam mereka bergelut dengan berbagai posisi, hingga berakhir di dalam bathup, membuat air yang berada di sana terguncang dan membasahi lantai yang semula kering. Tak lama kemudian, Malik mengerang keras, sembari memeluk erat sang istri.
“Bee. Love you.” Kata Malik di sela erangannya, menumpahkan banyak sel telur dengan harapan salah satunya akan menjadi embrio yang kuat di rahim sang istri.
“Love you, too. Kak.” Bisik Angel di telinga Malik yang masih memeluknya erat.
Malik melonggarkan pelukannya dan tersenyum ke wajah Angel dengan nafas tersengal dan Angel pun langsung membalas senyuman itu dengan keadaan yang sama.
“Dari mana kamu dapat teknik-teknik tadi?” Tanya Malik tersenyum, mengingat percintaan panas mereka tadi.
Angel teripu malu. Ia benar-benar tidak sadar, apa yang tadi ia lakukan. Ia hanya mengikuti irama saja, seperti yang di sarankan Farah pada saat mereka berbincang tema tentang hubungan suami istri yang menyenangkan.
“Berlebihan ya?” Angel malah balik bertanya.
Malik tersenyum sembari menggeleng. “Tidak, malah aku suka.”
Angel tertawa dengan menggigit bibirnya. Sungguh, ia sangat malu. Namun, Malik justru senang dengan ekspresi itu, ia terus menatap lekat wajah Angel yang semakin cantik dan meggemaskan. Malik melirik ke arah bibir Angel yang sedang ia gigit sendiri. Tangannya terangkat untuk mengelus bibir itu dan berkata, “jangan digigit, Bee.”
Angel tersenyum. “Biar kamu saja yang menggigitnya ya.” Goda Angel.
“Nah, itu tau.”
Mereka pun tertawa. Lalu, Malik melepas penyatuan itu. Ia menoleh lagi ke arah istrinya.
“Bee. Nanti tengah malam, kalau aku mau lagi. Aku bangunin kamu ya.”
“Hmm..” Angel membulatkan kedua bola matanya.
__ADS_1
Malik kembali tertawa, melihat ekspresi sang istri.