Melanggar Janji

Melanggar Janji
Dasar gombal


__ADS_3

“Asslamualaikum, Ayah.” Jawab Angel pada sang ayah yang sedang meneleponnya.


“Uhuk.. Uhuk.. Waalaikumusalam, Ngel.”


“Ayah sakit?” Tanya Angel panik.


“Hanya, flu dan batuk biasa. Bagaimana keadaanmu di sana? Sudah tidak banyak pekerjaan? Kapan kamu bisa ke sini?” Tanya Hendra bertubi-tubi.


“Lusa, Angel ke rumah ayah. kebetulan besok bos Angel sudah kembali ke Jakarta dan Angel juga sudah mengajukan cuti dua hari, jadi bisa bablas sampai hari minggu.” Jawab Angel.


“Bagus kalau begitu. Kebetulan ada hal penting yang ingin ayah bicarakan padamu.”


Deg. Tiba-tiba jantung Angel berdetak kencang. Ia merasa seperti sang ayah akan kembali membicarakan masalah perjodohan itu. Namun, ia menepis rasa itu.


“Iya, Yah.” Angel menjawab patuh.


“Baiklah, sampai ketemu lusa, Nak. Jaga kesehatanmu.” Kata Hendra sebelum menutup sambungan teleponnya.


“Iya, ayah. Jaga kesehatan ayah juga. jangan lupa minum obatnya.”


“Iya, Nak.” Jawab Hendra tertawa.


Lalu, Hendra mematikan sambungan telepon itu, begitu pun Angel.


Angel meletakkan ponselnya di atas meja rias, lalu ia beralih ke kamar mandi. Tubuhnya sangat lengket setelah berkutat dengan aktifitas yang melelahkan seharian. Setelah selesai mandi. Angel membaringkan tubuhnya langsung di ranjang. Ia maregangkan otot-ototnya dan menarik selimut tebal itu.


Baru saja, matanya akan terpejam. Tiba-tiba ada tangan kekar melingkar di pinggang Angel dari arah belakang. Angel langsung merasakan aroma tubuh yang sangat familiar itu.


“Kak. Kamu janji untuk tidak bermalam di sini sampai kita menikah.” Kata Angel tanpa membalikkan tubuhnya.


Setelah hubungan mereka kembali baik-baik saja, Angel mengajukan dua syarat pada Malik. Syarat pertama, tidak ada lagi hubungan fisik yang lebih dari ciuman bibir, kening, atau pipi. Syarat kedua, Malik tidak boleh bermalam di apartemennya sebelum mereka menikah. Walau mereka sudah bertunangan pun, Angel meminta Malik mematuhi kedua syarat itu. Malik pun menyetujui syarat yang di ajukan kekasihnya. Ia menghormati keputusan Angel, karena memang ia ingin lebih mengerti wanita yang sangat ia cintai itu.


“Sebentar, Bee. Aku sangat lelah dan aku butuh kamu.”


“Kak.” Angel kembali mengingatkan kekasihnya.


“Hanya memelukmu, aku tidak meminta yang lain. Dan, hanya untuk malam ini. Janji.”

__ADS_1


Angel menghela nafasnya kasar. Ia pun kembali kalah dan menuruti permintaan Malik. Memang pekerjaan mereka sangat melelahkan, terlebih Malik yang sering memback up pekerjaan Angel karena Angel tidak bisa lagi lembur setelah mulai masuk kuliah.


****


Hingga di pertiga malam, mereka masih tertidur dalam posisi Malik memeluk Angel dari belakang. Malik merasa lelahnya hilang, ketika memeluk tubuh kekasihnya.


Angel sedikit terbangun dan membalikkan tubuhnya. Kemudian, ia memeluk kepala Malik. Ia tak tega dengan raut lelah yang terlihat dari kantong mata Malik yang menghitam. Malik pun semakin mengeratkan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Angel dengan kepala yang berada di dadanya.


Saat Matahari terbit dan mulai menyinari jendela kamar itu, Angel terbangun lebih dulu. Ia mengelus kepala Malik.


Tak lama kemudian, Malik pun membuka matanya. Ia tersenyum.


“Terima kasih, Bee.”


“Tidurmu nyenyak?” Tanya Angel.


“Sangat, sudah dua bulan tidurku tidak senyenyak ini.” Jawab Malik, yang sudah lama tidak tidur bersama Angel.


“Gombal.” Ucap Angel mencibir.


“Sungguh.” Jawab Malik jujur.


“Kak, lusa aku ke rumah ayah. kebetulan ayah sedang sakit.” Tiba-tiba Angel membahas keluarganya.


“Iya, aku tahu, kamu mengajukan cuti dua hari.”


Angel mengendurkan pelukannya. Malik pun bangkit dan bersandar pada dinding ranjang. Lalu, ia meraih tubuh Angel dan menempelkan kepalanya pada dada bidang milik Malik.


“Kapan kamu mau ketemu ayah?” Tanya Angel serius.


“Kapanpun kamu mau.” Jawab Malik.


Kali ini, ia tidak lagi menghindari permintaan Angel. Ia memang harus menikahi kekasihnya, karena memang dialah orang pertama yang telah menyentuh wanita cantik itu dari kepala hingga kaki. Ia pun sudah sangat nyaman dengan Angel dan tidak bisa jauh dari wanita yang sering menampilkan senyum manis itu.


“Benarkah? Kamu mau bertemu ayah?” Tanya Angel tak percaya.


Malik tersenyum dan mengangguk. “Benar.”

__ADS_1


“Kamu sudah tidak trauma dengan masa lalumu?”


“Ketakutan itu harus di hadapi bukan di hindari.” Jawab Malik serius.


Angel tertawa dan menatap wajah kekasihnya yang serius. Pasalnya selama ini, Malik tidak pernah serius jika berbicara tentang ini.


“Dapat dari mana kata-kata bijak itu?” Angel menyipitkan matanya.


“Big bos.”


Angel semakin tertawa. “Ternyata si bulgil itu bisa merubahmu.”


Angel meledek bos nya yang sering di panggil bulgil alias bule gila oleh istrinya sendiri, jika istrinya sedang kesal.


“Huss.. Jangan sebut dia seperti itu. Sir David sudah seperti kakak bagiku.”


Angel mengangguk. Ia tak meragukan kebaikan bos besarnya itu.


“Jadi, lusa kamu akan mengantarku ke Bandung?” Tanya Angel senang, sebelum ia beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.


“Lusa, aku ada pertemuan dengan Pak Nirwan satu kali lagi.”


Angel mengangguk, ia baru ingat jadwal itu memang sudah ia buat sendiri untuk Malik.


“Aku akan mengantarmu sampai bus travel. Pulangnya aku akan menjemputmu dan bertemu dengan ayah. Aku juga akan memintamu padanya.”


“Sungguh?” Angel bertanya lagi dengan raut gembira.


Malik mengangguk. “Sungguh. Aku akan meminta pada ayahmu untuk segera menikahkan kita, tidak perlu pakai tunangan.”


“Apa orang tuamu setuju?”


“Aku sudah sempat mengintrokan hal ini pada papa dan mama. Mereka hanya menjawab terserah.”


Angel langsung menghambur peluk. “Aku senang, Kak. Aku senang sekali mendengar ini.”


Malik membalas pelukan itu. “Aku juga senang bisa mengambil keputusan ini, karena jujur aku tak bisa jauh darimu.”

__ADS_1


Angel mengendurkan pelukannya dan menatap wajah Malik yang tak berjarak. “Dasar gombal.”


Malik tersenyum dan kembali mengeratkan pelukan itu.


__ADS_2