Melanggar Janji

Melanggar Janji
Mengambil keputusan


__ADS_3

Hampir satu jam, Angel menunggu Malik yang tak kunjung datang. Ia tak henti-henti menatap jam dinding.


“Ngel, sudah satu jam tapi pacarmu belum juga datang/ Ayah sudah meminta keluarga Adrian untuk datang ke sini sekrang dan mereka sedng dalam perjalanan.” Kata Hendra yang sudah emnyiapkan makan malam yang banyak.


Angel menggigit ujung kukunya. Ia pasrah dengan nasib yang di takdirkannya. Kemudian, Hendra mendekati sang putri.


“Ini yang terbaik untukmu, percayalah.” Kata Hendra, sambil merangkul putrinya.


“Assalamualaikum.” Tiba-tiba suara riyuh terdengar di depan rumah Hendra.


Radit beserta istri, anak dan kedua cucunya sampai di rumah itu.


“Waalaikumusalam.” Enin menjawab salam tamunya.


“Itu, mereka sudah datang. Ayo siap-siap keluar.” Kata Hendra meninggalkan Angel yang masih berdiri menghadap jendela kamarnya.


Angel kembali menangis setelah sang ayah pergi. Ia tak tahu harus apa dan bagaimana? Karena pria yang ia bela pun tidak ikut memperjuangkan cintanya. Ia tak kuasa untuk berkata tidak, karena di lain sisi rasa sayang dan hormatnya pada sang ayah melebihi segalanya.


“Mana Angel?” Tanya Dila yang tak melihat sosok gadis yang ingin cucunya temui.


“Masih di kamar sepertinya, tadi Angel sempat ketiduran karena lelah menyiapkan makanan ini.” Jawab Hendra menunjukkan beragam aneka masakan di meja makan.


“Wah, ini semua masakan Angel?” Tanya Radit bangga.


Hendra mengangguk.


“Angel memang sudah bisa memasak sejak SMA.” Sahut Enin.


“Wah, beruntungnya kamu, Iyan.” Ledek Dila, sambil menyenggol sikunya pada pinggang putranya yang berdidi persisi di sampingnya.


Adrian tersenyum.


“Kalau begitu, boleh kami samper bunda di kamarnya?” Tanya Alika.


“Alika sudah tidak sabar bertemu bunda ya?” Tanya Dila.


Alika langsung mengangguk dengan senyum yang lebar.


“Boleh, gih sana ke!” Jawab Hendra dengan membentangkan tangannya ke arah kamar Angel.


Alika di ikuti sang adik langsung berlari ke kamar Angel.


“Bunda.” Panggil Alika setelah membuka pintu kamar itu.


Dengan cepat Angel mengusap air mata yang terus mengalir di pipinya.


“Hai, Sayang.” Angel membentangkan kedua tangannya, Alika dan Fariz pun langsung menghampiri Angel dan memeluknya.


“Kangen, Bunda.” Kata Alika.

__ADS_1


“Iya, Fariz juga.” Kata anak lelaki berusia lima tahun yang sudah fasih tata bahasanya.


“Bunda juga kangen.” Jawab Angel setelah melonggarkan pelukannya.


Angel tersenyum melihat kedua anak kecil yang lucu ini.


“Alika kelihatan makin gemuk, tapi kok Fariz ngga. Faris masih susah makan ya?” Tanya Angel.


“Iya, Bun. Fariz tuh milih-milih makannya.” Jawab Alika.


“Soalnya makanan buatan bibi ngga enak.” Jawab Fariz polos.


Mereka pun tertawa.


“Eh iya, kata papa, tidak lama lagi Bunda akan tinggal bersama kami? Kalau Bunda yang masak mungkin lebih enak dari bibi dan aku lebih suka makan.” Ucap Fariz lagi.


Angel terdiam.


“Iya, benar kan, Bun? Bunda akan tinggal bersama kami?” Tanya Alika juga.


“Hmm.. memang kalian mau Bunda tinggal di rumah kalian?” Angel kembali bertanya, sambil mengelus rambut Alika dan Fariz.


Adrian sengaja melewati kamar Angel, ia pamit ke toilet pada orang tua yang tengah duduk bersamanya di ruang tamu. Adrian melihat kebersama kedua anaknya di sana. memang benar apa yang di katakan sang ibu. Kedua anaknya begitu menyukai Angel.


Alika dan Fariz mengangguk.


“Mau sekali, Bun. Pasti setiap malam Bunda akan menceritakan dongeng sebelum tidur untuk kami.” Sahut Alika.


Angel tersenyum.Ia menatap wajah Alika dan fariz yang begitu ceria. Ia ingat saat kecil yang tak mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu.


“Baiklah, Bunda akan tinggal di rumah kalian.”


“Hore..” Alika dan Fariz melompat kegirangan.


Fariz menoleh ke belakang dan melihat sang ayah yang berdiri di dekat pintu kamar Angel. Bocah lelaki itu langsung berlari menghampiri sang ayah dan dengan cepat Adrian menangkap putranya , lalu menggendongnya.


“Papa, Bunda mau tinggal bersama kita.” Ucap Fariz antusias.


“Oh ya?”


“Iya, Papa. Pokoknya papa harus secepatnya membawa Bunda ke rumah kita.”


Adrian mengangguk. “Baiklah.”


Para orang tua yang duduk di ruang tamu pun mendengar teriakan Fariz dan perbincangannya dengan Adrian.


“Lihatlah, Ndra. Anak-anak sudah oke. Tinggal kita tetapkan hari pernikahan.” Kata Radit.


“Benar sekali, bagaimana kalau bulan depan.” Sahut Dila yang ingin segera melihat putranya melepas satus duda.

__ADS_1


“Apa tidak terburu-buru?” Tanya Enin.


“Tidak, Enin.” Jawab Dila.


“Tapi, di jakarta Angel kuliah lagi. Setelah menikah, bagaimana dengan kuliahnya?” Tanya Hendra.


“Tidak masalah, kuliah tetap kuliah.” Jawab Radit.


“Bukan begitu, Yan?” Tanya Radit ketika melihat Adrian sudah kembali bergabung.


Angel dan kedua anak Adrian pun kelur dari kamar dan bergabung bersama yang lainnya setelah ia menyalami orang tua Adrian satu persatu.


“Memang kamu kuliah di mana?” Tanya Adrian menatap Angel.


“Di depok pasca sarjana, tapi aku mengambil kuliah sore karena paginya kerja.” Jawab Angel santun.


“Tapi setelah menikah, Angel akan berhenti kerja dan hanya kulaih saja, agar tetap bisa mengurus keluarga.” Kata Angel lagi.


Sebelum keluar dari kamar, Angel sudah bertekad untuk melupakan semua kisah cintanya bersama Malik. Salah satunya dengan menjauhi semua hal yang akan mempertemukan dirinya pada pria itu.


“Wah, tuh lihat, Yan. Angel dewasa sekali kan.” Sahut Dila dengan arah mata tertuju pada putranya.


Adrian mengangguk.


“Alhamdulillah kalau begitu. Itu keputusan yang bagus, Nak.” Kata Hendra pada putrinya.


“Baiklah, kalau begitu benar kata istriku. Secepatnya Adrian akan menikahi Agel, satu bulan dari sekarang. Oke? Setuju?” Tanya Radit girang.


Arah mata Radit tertuju pada Enin dan Enin pun mengangguk. Radit kembali menatap ke arah Hendra.


“Aku sih ikut aja, kalau kedua calon yang akan menikah ini setuju. Aku pasti setuju.” Jawab Hendra.


“Bagaimana Angel? Adrian?” Tanya Radit.


Adrian mengangguk dan arah matanya tertuju pada Angel. Sedangkan Angel hanya menunduk, ia tak membalas tatapan siapapun. Namun Agel tetap mengangguk.


“Alhamdulillah. Akhirnya kita berbesanan juga, Ndra.” Radit dengan senang memeluk tubuh sahabatnya.


Hendra pun menepuk punggung Radit. “Iya, tidak menyangka sama sekali ini akan terjadi.”


Dila dan Eninikut tertawa melihat kedua pria paruh baya itu tertawa bahagia. Sedangkan Adrian hanya terdiam dengan arah mata tertuju pada Angel yang masih menunduk. Hingga kepala Angel tertenggak karena kejutan dari Alika dan Fariz yang senang dan memeluknya.


“Hore, berarti bulan depan Bunda sudah tinggal di rumah kami?” Tanya Alika lagi.


Angel menagngguk. “Alika dan Rariz senang?”


“Senang sekali, Bun.” Jawab Alik dan Faris setelahnya.


Kemudian Angel memeluk tubuh dua anak kecil itu.

__ADS_1


“Maafkan aku, Kak. Maaf aku telah mengambil keputusan ini sepihak.” Ucap Angel dalam hati tertuju pada Malik yang tak kunjung datang hingga malam kian larut.


__ADS_2