Melanggar Janji

Melanggar Janji
Alhamdulillah


__ADS_3

Angel tercengang, ketika kakinya memasuki kereta yang akan membawa mereka menuju Jogja. Ternyata, Malik membeli tiket kereta taksaka luxury, padahal kereta eksekutif saja sudah bagus.


“Kak, ini?” Tanya Angel bingung.


“Iya, aku beli tiket luxury, supaya kamu nyaman.” Malik meminta Angel untuk duduk lebih dulu, di kursi yang dekat jendela.


Kereta api luxury itu hanya menampung 26 penumpang dengan dua kursi di sebelah kiri dan satu kursi di sebelah kanan pada setiap barisnya.


Di sana juga terdapat monitor untuk memutar film atau musik yang terdapat di depan setiap kursi.


“Kak, ini berlebihan. Padahal kereta eksekutif juga sudah bagus kok.” Kata Angel lagi.


“Ga apa-apa, Bee. Aku ingin kamu nyaman selama perjalanan.” Malik mencubit ujung hidung Angel hingga wajahnya bergoyang pelan ke kanan dan kiri.


“Yang penting sama kamu, itu juga sudah buat aku nyaman.” Jawab Angel, membuat Malik menoleh saat ia mengatur kursi Angel agar nyaman untuk di duduki.


Sontak Malik tertawa. “Bisa gombal juga ya sekarang?”


Angel pun tersenyum. Seketika tangan Malik kembali terangkat dan mengelus pipi mulus itu.


“Aku kangen banget senyum ini.”


Angel semakin menampilkan senyum manisnya. Lalu, tangan Malik beralih ke bibir ranum Angel.


“Aku juga kangen bibir ini.” tiba-tiba mata Malik terlihat sayu dan memandang terus bibir istrinya yang berwarna merah muda.


“Kak, ini di tempat umum loh.” Protes Angel, karena Malik sudah memajukan tubuhnya.


“Cuma cium doang, Bee.” Rengek Malik.


Kemudian, Angel menengok ke depan dan ikut memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan wajah Malik.


“Mmuah.” Angel mengecup bibir Malik sekilas.


“Ah, ini sih bukan ciuman.” Malik berdecak kesal.


“Kamu ih.” Angel menepuk dada Angel.


Malik langsung merangkul kepala Angel dan ******* bibir itu. Akhirnya, ia memangut bibir manis itu. Malik melampiaskan kerinduan itu dalam sebuah ciuman dan ******* yang cukup lama. Ia menutup aksinya dengan menggunakan bantal kecil berbentuk segi empat yang Angel bawa.


“Mmpphh.” Angel akhirnya berhasil mendorong dada Malik dan melepaskan pangutan itu.


Kepala Angel mendongak, tiba-tiba ia melihat seorang pria berseragam seperti pramugara berdiri di samping kursi Malik.


“Ekhem, maaf mengganggu. Saya memberikan ini.” Pria itu memberikan dua buah selimut berwarna merah.


“Maaf, oh iya. Terima kasih.” Wajah Angel merona. Ia tak menyangka aksinya di tonton oleh seorang prama atau sebutan pramugara di kereta api


Sedangkan Malik, seolah tak berdosa. Ia malah tersenyum senang. Apalagi dengan wajah cemberut Angel, membuatnya semakin ingin mengerjai istrinya lagi.


“Malu tau, ketahuan orang tuh.”


“So, what? Udah resmi ini.” Jawab Malik santai.

__ADS_1


“Iya, tapi ga di tempat umum juga.”


“Biarin. Bibirnya belum aku buat bengkak. Cium lagi donk.” Malik kembali mendekatkan wajahnya.


“Ish.” Angel menampik wajah Malik sembari tertawa.


Malik pun ikut tertawa.


“Tiap hari, aku akan buat tanda merah di sini. sebagai tanda kamu itu punya aku.” Kata malik lagi menunjuk leher Angel, yang tengah ia singkat untuk di kuncir.


Angel hanya membalas dengan menjulurkan lidahnya. Namun, Malik mendekat dan ingin melahap lidah itu. Sontak Angel mundur dan menahan dada suaminya.


“Kamu, ih.”


“Ga tahan, Bee. Aku kangen banget sama kamu. Enam bulan kita ga ketemu.” Ucap Malik memelas.


Angel tertawa, melihat ekspresi suaminya yang tak lagi galak seperti saat pertama kali ia kenal.


Tak lama kemudian, datang Prami sebutan pramugari kereta api menghampiri kursi penumpang Angel untuk memberikan makanan ringan.


“Silahkan di nikmati.” Kata prami itu.


Malik menerima makanan itu. “Terima kasih.”


Kereta api sudah mulai berjalan kencang.


“Cantik ya, kak.” Ucap Angel menunjuk prami tadi, setelah malik berinteraksi dengannya.


“Ah, biasa. Cantikan sebelah aku.” Jawab Malik.


“Ga percaya? Aku cium lagi nih.”


“Ih.” Angel menutup bibir Malik yang sudah mulai mendekat.


Lalu, Malik mengangakt tangannya untuk merangkul bahu Angel dan memeluknya dari samping.


Malik menariknafasnya kasar. “Akhirnya, kita menikah juga. Aku bersyukur banget, semua berjalan dengan lancar.”


Angel menoleh ke arah Malik, wajah mereka bertatapan tanoa jarak hingga ujung hidung angel menempel pada pipi Malik.


“Ceritakan padaku, bagaimana kamu melunakkan hati Enin?” Tanya Angel.


“Hmm.. kasih tau ngga ya?”


“Kak.” Angel kembali merengek dan menegakkan posisi duduknya. Wajahnya kini berjarak dengan wajah Malik.


“Ya udah kalo ga mau cerita.” Angel menyandarkan kepalanya pada jendela.


“Ih, ngambek. Ga asyik banget sih kamu, Bee.” Malik menarik kepala Angel dan mendekapnya kembali di dadanya.


“Aku sama papa datang kerumah Bi Ella saat kamu pergi untuk mengurus pemberkasan di Jogja.”


“Terus?” Angel tampak antusias.

__ADS_1


“Ya, aku baru lihat kesungguhan papa untuk membantuku saat itu. Biasanya Papa arogan dan pemaksa, tapi di depan Enin Papa malah menyalahkan dirinya sendiri. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas kesalahan yang aku perbuat. Sumpah itu, di luar ekspektasi aku.”


Angel menatap serius wajah suaminya. “Terus?”


“Ya, akhirnya Enin luluh. Mereka sangat menyayangimu, mereka juga tidak tega melihatmu yang selalu menangisi aku setiap malam.”


Tubuh Angel menjengat. “Siapa yang menangisimu setiap malam. Ih ge-er.”


“Itu kata Enin loh. Aku sih yakin, kamu bakal nangisin aku tiap malem dan kangen berat sama aku.”


Angel mencibir dan Malik tertawa.


“Terus, Papa memberi ide ini dan di lanjut dengan yang lain. Mereka akhirnya mendukung. Lagi pula keluargamu juga khawatir kamu nakal lagi.”


“Maksudnya?” Angel menyipitkan matanya.


“Aku ga nakal kalo ga ketemu pria nakal seperti kamu.”


“Tapi kamu mau kan di nakalin.” Ledek Malik.


“Kak.” Rengek Angel.


“Udah ah, males ngomong sama kamu. Nyebelin.” Kata Angel lagi.


Lalu, Malik kembali merangkul Angel. “Aku tahu kamu sekarag sudah berubah. Aku pun ingin seperti itu. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari semua yang terjadi sebelumnya dan kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi nantinya.”


“Aamiin.” Jawab Angel.


Tangan Malik terjulur ke perut rata Angel dan mengelusnya.


“Tadinya aku khawatir akan ada Malik junir di sini. tapi ternyata belum.”


Angel ikut menatap perutnya. Ia pun tidak tahu jika ada yang hidup di sini, di saat ia sedang terpuruk, mungkin akan semakin terpuruk.


“Allah maha baik, selalu baik walaupun pada pendossa sepertiku.” Kata Malik dengan mata berkaca-kaca.


“Sepertiku juga.” Kata Angel yang juga mulai berkaca-kaca.


Malik kembali mengeratkan rangkulan itu dan Angel pun semakin mengeratkan lingkaran kedua tangannya di perut Malik.


****


“Bee, kaki kamu di lurusin.” Malik mengatur tombol di gagang kursi itu untuk memanjangkan bagian bawah kursi, agar kaki Angel dapat di luruskan dan tidur dengan posisi yang nyaman.


“Bisa seperti ini?” Tanya Angel antusias.


“Please deh, Bee. Ya bisa lah.”


“Aku baru naik kereta api seperti ini, Kak.”


“Aku juga baru liat kamu norak kek gini, Bee.”


“Kaak.” Angel kembali menepuk lengan Malik dan Malik pun tertawa.

__ADS_1


Sungguh ia sangat bahagia. Ia bahagia karena akan ada orang yang ia jahili setiap hari, dan membuatnya cemberut, karena Angel terlihat semakin menggemaskan jika seperti itu. Ia pun bahagia karena akan melihat senyum manis Angel di setiap ia membuka mata pagi hari.


“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.” Ucap Malik bersyukur.


__ADS_2