
Tok.. Tok.. Tok
Ruang pintu kerja Malik di ketuk dari luar.
“Ya, Masuk.’ Teriak Malik.
Terlihatlah sosok yang sudah enam bulan tidak Malik lihat. Karena kesibukan keduanya, mereka hanya bisa berkomunikasi melalui telepon atau video call.
Terakhir Malik bertemu pria paruh baya ini, saat kelakuannya menjadi trending topik di keluarga besar sang ibu.
“Hai, Nak. Akhirnya Papa bisa ketemu kamu. Susah sekali menemuimu, sudah seperti pejabat saja.” Ucap Faisal, ayah Malik meledek putranya.
Malik langsung berdiri dan menghampiri sang ayah. Ia mencium punggung tangan yang semakin terlihat guratan kerut. Ia tersenyum.
“Masa sih, Yah.” Malik tersenyum dan menggeser kursi untuk ayahnya duduk.
“Kebetulan, Malik memang sedang menggarap cabang di Jogya.” Kata Malik lagi.
“Buat apa kamu kerja dengan orang lain, sementara kamu sendiri punya perusahaan.” Ucap Faisal yang selalu meminta sang putra untuk menggantikan posisinya.
“Justru cabang di Jogya ini murni saham Malik yang di berikan cuma-cuma oleh bos Malik itu, sebagai tanda tterima kasih atas dedikasi Malik selama ini.”
“Oh, ya?” Tanya Faisal tak percaya.
“Lagipula, walau Malik tidak ikut langsung di perusahaan Papa, tapi Malik tetap membantu kan?” Sahut Malik yang memang selalu membantu sang ayah saat berurusan dengan birokrasi.
“Makanya, Papa jangan banyak permintaan!” Ucap Malik lagi.
Faizal tertawa, pasalanya Faisal bersikukuh untuk menjodohkan Malik dengan Tiara, yang kebetulan ayah Tiara adalah rekan bisnisnya.
“Bukankah Tiara, berkerja di sini?” Tanya Faisal.
Malik mengangguk. “Tapi kami beda divisi dan Malik jarang bertemu dengannya.”
“Jarang bertemu atau memang kamu menghindarinya?” Tanya Faizal lagi.
Malik menarik nafasnya kasar. “Pa.”
Malik tidak ingin membicarakan wanita yang tidak ada arti untuknya sama sekali.
“Oke.” Faisal mengangkat kedua tangannya ke atas tanda menyerah.
“Sebegitu cintamu kamu dengan mantan istri Adrian itu.” Ledek Faisal lagi.
Sejak Malik di coret namanya dari keluarga sang ibu. Faisal menjadi lebih dekat dengan Malik dan sering menggodanya, karena menurut Faisal, putranya itu benar-benar gentleman.
__ADS_1
Malik mengangguk.
“Keluarganya masih tidak menerimamu?” Tanya Faisal.
Malik mengangkat bahunya.
“Ah, cemen.” Jawab faisal.
“Neneknya sangat kecewa pada Malik, Pa. Malik bingung ingin memulai dari mana?” Tanya Malik frustrasi.
“Papa jadi penasaran seperti apa rupa wanita yang bernama Angel itu. Bisa-bisanya dia menjadi rebutan kamu dan Adrian.” Ledek Faisal lagi.
Malik berdecih.
“Kalau kamu masih belum juga menikah dengan wanita itu, terpaksa Papa akan jodohkan kamu dengan Tiara.” Ucap Faisal.
“Apaan sih, Pa. Dengarkan Malik, Papa dan Mama menikah atas dasar cinta saja masih tetap bercerai, apalagi yang di jodohkan.” Tegas Malik.
“Tidak semua yang di jodohkan juga bercerai. Tergantung orangnya dan kadar keimanannya.”
Malik kembali berdecih.
“Oke. Ini tawaran papa terakhir. Papa bantuin kamu untuk dekat dengan keluarga Angel bahkan menikahinya, tapi pegang perusahaan Papa.”
Malik tersenyum. “Deal.” Ia menunjukkan jari kelingkingnya ke atas.
“Tunggu dua tahun lagi ya? Karena Angel akan dinas dua tahun di Jogya sebagai masa bakti.”
Faisal tersenyum menyeringai. “Hmm.. pantas saja kamu langsung menerima saham itu, ternyata ada maksud di balik itu.”
“You knows.” Malik tertawa.
“Kau memang putraku.” Faisal dan Malik saling mengadukan kepalan tangannya.
“Oke, Deal. Papa akan mempersiapkan pengalihan tahta ini padamu dari sekarang hingga dua tahun ke depan.” Ucap Faisal.
“Bagaimana dengan Mama Rini? Malik kan bukan satu-satunya anak ayah.”
“Tapi kamu satu-satunya putra ayah.” Jawab Faisal.
“Satu lagi, sering-seringlah kamu ke rumah Papa, kedua adikmu selalu menanyakan kakaknya.”
Malik tersenyum. “Nanti malam, Malik ke sana.”
“Baiklah, Papa pergi dulu.” Faisal berdiri, begitu pun Malik.
__ADS_1
Mereka berjalan keluar dan Malik mengantar sang ayah hingga lobby. Sesaat sebelum menaiki mobil itu, Malik menyempatkan untuk mencium punggung tangan ayahnya.
Malik memang sudah jauh berubah, itu pun yang di rasakan Faisal. Pria itu juga tidak sedingin dulu, ketika bertemu istri dan anak Faisal yang baru. Padahal sebelumnya, Malik tidak pernah mau menerima keberadaan ibu tiri dan kedua adik perempuannya itu. Namun, kini Malik berbeda, ia justru terlihat humble saat bersama adik perempuannya sekarang.
****
“Angel. Ayo kita berangkat, nanti kamu ketinggalan kereta.” Teriak Ella dari luar kamar.
Hampir dua minggu, Enin dan Angel tinggal di rumah Ella. Sedangkan rumahnya yang di Bandung di kontrakkan. Ella atau Fajar hanya dua minggu sekali mengontrol rumah makan mereka di sana dan Neneng ikut di boyong, karena ia merasa sudah sangat dekat dengan keluarga Angel. Mengingat Neneng juga janda dan memiliki anak-anak yang semuanya sudah menikah, bahkan ada yang tinggal di Jakarta juga.
Semua kelurga Angel tengah bersiap untuk mengantarnya ke stasiun kereta api, karena mulai besok ia akan tinggal di Jogya. Ella membeli dua tiket kereta api eksekutif. Satu untuk Angel dan satu lagi untuk Fajar, karena sang paman akan menemani Angel satu hari di sana, agar mereka tenang melepas keponakannya itu yang akan tinggal sendirian selama dua tahun.
“Semuanya ikut?” Tanya Angel, saat keluar kamar tengah mendapati Neneng dan kedua putri Ella berdandan cantik.
“Iya, dong. Semua ikut nganterin kamu.” Jawab Enin.
“Ya ampun, kaya yang mau pergi keluar negeri aja sih, Nin. Angel Cuma ke Jogya kok, deket. Sebulan atau dua bulan sekali juga bisa main ke sini.” Ucap angel tertawa.
“Ih, kami tuh sayang sama kamu.” Jawab enin sembari mengusap kepala Angel.
“Terima kasih, ya Nin. Terima kasih semuanya.” Tiba-tiba air mata Angel mengalir. Ia ingat lagi pada sang ayah.
Ella pun menghampiri dan memeluknya. “Kami hanya ingin yang terbaik untukmu. Semua akomodasi di sana sudah di siapkan Mang Fajar. Pokoknya kamu sudah tinggal beres.”
“Makasih ya Bi, Mang.” Angel menggengganm dan mencium punggung tangan Paman dan Bibi yang sangat mengerti dirinya.
Ella dan Fajar pun tersenyum, mereka saling melirik.
“oke, kalau begitu. Ayo berangkat!” Kata Neneng yang sudah siap menggendong anak bungsu Ella.
Ella menggandeng putri sulungnya dan berjalan menuju mobil. Angel dan Enin ikut dari belakang.
“Sebenarnya tiket kereta Angel tuh masih nanti siang loh, Mang. Ini pagi-pagi udah berangkat.” Kata Angel di dalam mobil.
“Si Enin mau lihat stasiun Gambir katanya. Enin kan ga pernah naik kereta api.” Jawab Fajar yang seidkit menoleh ke belakang karena Enin dan Angel duduk di sana.
“Iya, kata orang stasiun gambir itu seperti Mall, sekalina nunggu sore, Enin mau lihat dalamnya monas.”
“Ya ampun.” Angel menepuk jidatnya sembri tersenyum lebar.
Sesampainya di gambir, Angel dan keluarganya memasuki area itu. Selang beberapa lama ia duduk, iatak mendapati keluarganya di sampingnya. Ia terlalu asyik membuka media sosial di ponselnya, hingga lupa keberadaan keluarganya yang lain.
“Hai, Apa kabar? Mau meninggalkanku lagi?” Suara itu persis terdengar di telinga Angel.
Sontak Angel pun menoleh ke samping dan ternyata dia adalah pria yang sudah enam bulan tidak ia temui. Pria yang sangat ia rindukan sekaligus penyebab percerainnya dengan Adrian. Pria yang selalu ada di saat Angel butuhkan. Pria yang selalu membuat hari-harinya penuh warna. Ia pikir, ia tidak akan bertemu pria itu lagi. Namun kini, pria itu duduk di sampingnya.
__ADS_1
Angel terkejut, lalu tersenyum.