Melanggar Janji

Melanggar Janji
Semakin dekat


__ADS_3

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan berlalu, Angel semakin mengerti dengan tugas-tugasnya di kantor. Ia pun sudah bisa memilih mana tugas yang prioritas dan mana yang tidak. Ia juga sudah sedikit banyak mengerti keinginan bosnya.


Angel juga tak pernah absen menelepon sang ayah yang jauh di kotanya dan hampir setiap libur weekend, Angel menyempatkan diri ke Bandung untuk menemui ayah dan neneknya, terkadang ia di temani Ella dan fajar, terkadang ia berjalan sendiri ke sana, atau terkadang Hendra sendiri yang berkunjung ke rumah Ella, jika sudah satu bulan Angel tak pulang.


“Good, Angel, saya tidak salah memilihmu. Kamu memang pintar.” Puji David pada Angel, ketika ia memberikan laporannya.


“Oh, iya, Malik. Lusa saya akan ke Bali. Handle semua urusan di sini.”


“Yes, Sir.”


Lalu, mereka merancang perencanaan kegiatan bulan ini. Setelah selesai, Malik dan Angel keluar dari ruangan David. Semakin hari, Malik dan Angel semakin dekat.


Malik berjalan lurus, melewati meja Angel.


“Pak.” Panggil Angel pada Malik.


“Hmm..” Langkah kaki Malik terhenti dan menoleh ke arah Angel.


“Saya bawakan ini untuk bapak.” Angel menyerakan kotak makanan miliknya pada Malik.


Malik menyipitkan matanya. “Untukku?”


“Iya, Pak. Kebetulan tadi pagi saya membuat sapi lada hitam. Lagi pula, saya juga sering di belikan sarapan pagi oleh bapak. Semoga Bapak suka ya.” Kata Angel dengan senyum yang manis, semakin memancarkan kecantikannya.


Sejak Angel berada di kantor ini, Malik pun semakin semangat dalam bekerja. Namun, ketika hari libur tiba, ia malah terlihat lesu. Ini semua karena senyum Angel yang cukup membuat dirinya bersemangat. Entah mengapa ia sangat menyukai senyum di wajah Angel, padahal banyak wanita yang juga tersenyum padanya, tapi senyum Angel terasa berbeda.


Malik termasuk pria yang dingin dan tidak pernah dekat dengan wanita. Trauma perceraian kedua orang tuanya, membuat ia enggan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Pertengkaran yang sering terjadi pada kedua orang tua di hdapannya, kala ia kecil dulu, membawa efek negatif di masa depannya kini. Ia menjadi orang yang anti terhadap sebuah komitmen. Namun, kehadiran Angel menghangatkan hatinya yang terlanjur beku. Senyum Angel melelehkan es yang menutup dinding hatinya.


“Memang kamu bisa masak?”


“Bisa. Di rumah, saya sering kebagian tugas untuk memasak.”


Malik tersenyum.


“Baiklah, akan aku coba.” Ia mengangkat tempat makan yang berwarna ungu itu.


Angel mondar mandir keluar masuk ruangan Malik untuk urusan pekerjaan. Beberapa kali, matanya pun tertuju pada tempat makan berwarna ungu yang tergelatk di sudut meja kerja pria tampan itu. Angel sedikit kecewa, karena hingga menjelang sore, Malik belum menyentuh makanan itu. Tempat akanan itu masih terlihat bersih, lengkap dengan sendok garpu di atasnya yang juga terlihat bersih seperti yang belum tersentuh.


“Nah, betul seperti ini. Benar kata Sir David, kamu memang pintar.” Kata Malik setelah melihat hasil ketikan Angel untuk di serahkan pada perusahaan yang akan bekerja sama pada perusahaannya.


“Alhamdulillah.” Angel tersenyum dan mengucap syukur.


“Kalau begitu, saya permisi, Pak.” Angel Pamit hendak keluar dari ruangan itu.


“Tunggu!” Suara Malik menghentikan langkahnya.


“Ini, terima kasih. Masakanmu enak.” Malik menyerahkan tempat makan milik Angel.


“Bapak sudah makan?”

__ADS_1


Malik mengangguk. “Sudah.”


Angel menerima tempat makan yang bersih itu.


“Kok bersih.” Kata Angel bingung, karena sebelumnya ia sempat berfikiran buruk.


“Karena sudah masuk ke sini semua.” Jawab Malik sambil menepuk perutnya.


“Dan, aku langsung mencuci tempatnya. Sudah di beri makan gratis, masa aku pulangin tempatnya dalam keadaan kotor.”


Angel tersenyum, semakin mengenal Malik, ia semakin menyukai pria ini. Malik ternyata tidak buruk, ia tidak seburuk pandangan Angel saat pertama kali mereka bertemu.


“Ngel, nanti malam ada acara?” Tanya Malik lagi.


Angel menggeleng. “Tidak.”


“Bagaimana kalau, pulang kerja nanti, kita nonton. Mau?”


Hati Angel berbunga-bunga, ingin rasanya ia berjingkrakan, tapi itu tak mungkin karena ada Malik yang sedang duduk di hadapannya.


Angel tersenyum dan mengangguk.


Malik pun tersenyum melihat ekspresi Angel.


“Baiklah, kalau begitu nanti jangan langsung pulang! Tunggu aku di lobby.” Kata Malik lagi, membuat Angel kembali mengangguk.


Lalu, ia pun meninggalkan ruangan Malik dan menutup pintunya.


“Eh kenapa kamu, Ngel?” Tanya Yasmin, salah satu karyawan yang cukup dekat dengan Angel dan teman makan siang bersama.


“Ngga apa-apa, Mba. Saya senang aja, laporan saya hari ini tidak ada yang salah.” Jawab Angek bohong.


“Oh, kirain aku kenapa. Ya udah. Lanjut kerja ya.” Yasmin pun kembali ke ruangannya.


Lepas Maghrib, Angel menunggu Malik di lobyy. Ia sudah bangun duduk, bangun dan duduk lagi. Namun, Malik tak kunjung terlihat.


“Angel, belum pulang?” Sapa Pak Ranu, teman Fajar yang membawa Angel ke kantor ini.


“Eh, Pak Ranu. Belum pak, ini baru mau pulang.” Jawab Angel nyengir.


Ranu yang sudah memiliki keluarga itu pun bergegas meninggalkan kantornya.


“Kalau begitu, saya duluan ya. Istri sudah nunggu di rumah.”


Angel membungkukkan sedikit tubuhnya. “Iya, Pak. Salam untuk keluarga di rumah.”


“Oke,” Ranu menampilkan ibu jarinya ke atas.


“Angel, belum pulang.” Kini suara Fauzi, yang sudah mengincar Angel dari awal gadis itu bergabung di kantor ini, hanya saja Fauzi tidak pernah bisa mendekati Angel karena Angel selalu bersama Malik, orang yang sangat di segani di kantor ini.

__ADS_1


“Belum.” Angel menggeleng.


“Nunggu di jemput kakak iparmu?” Tanya Fauzi yang kenal Fajar dari Pak Ranu.


Fajar memang sering menjemput Angel, karena letak kantornya searah pulang dengan kantor Angel.


“Ngga, lagi nunggu..”


“Angel.” Suara Malik dari balik tubuh Angel dan Fauzi.


“Ayo!” Malik langsung menarik lengan Angel dan meninggalkan Fauzi yang masih berdiri di sana.


“Maaf ya, Mas Uji, saya masih ada urusan dengan Pak Malik.” Ucap Angel sedikit berteriak, karena kakinya mau tidak mau harus mengikuti langkah Malik yang keluar cepat.


Fauzi mengangguk.


Rahang Malik mengeras, entah mengapa ia kesal dengan sikap manis Angel terhadap Fauzi.


“Masuk!” Malik memerintahkan Angel untuk memasuki mobilnya.


Sepanjang perjalanan, Malik diam dan tak berkata apapun, membuat Angel bingung. Hingga, mereka sampai di sebuah gedung bioskop dan Malik memarkirkan mobilnya.


“Bapak, marah sama saya?” Tanya Angel.


“Bisa kita tidak seformal ini, jika di luar kantor. Panggil aku Malik.”


Angel menggeleng. “Tidak sopan, Pak. Apalagi panggil nama, bapak lebih tua dari saya.”


“Terserah kamu panggil aku apa, yang penting tidak Bapak.” Jawab Malik, dengan menekankan kata terakhir di akhir kalimatnya.


“Mas, ah ngga, saya tidak biasa memanggil dengan sebutan mas. Atau Aa, ah tapi bapak belum tentu orang sunda. Atau kaka saja ya, itu lebih umum.”


Malik menatap wajah Angel yang sedang berkata entah dengannya atau dengan dirinya sendiri.


Tiba-tiba, Malik mendekatkan wajahnya pada wajah Angel, sontak membuat Angel mematung dan gemetar.


“Terserah.” Malik terus memandang wajah itu dan perlahan tangannya terangkat untuk merapihkan anak rambut yang menutupi sedikit wajah Angel, lalu menyelipkan di belakang telinganya.


Cup


Malik mengecup bibir tipis Angel yang berwarna merah muda. Angel pun menutup matanya, merasakan kecupan itu. Melihat, ekspresi Angel yang menerima kecupannya, Malik pun memperdalam ciuman itu. Ia menahan tengkuk Angel untuk memperlama durasi pangutan itu. Sedangkan Angel, baru kali ini merasakan berciuman bibir dengan lawan jenisnya, membuat seluruh darahnya berdesir dan jantungnya berdetak kencang.


“Hmm..” Angel mulai kehabisan oksigen dan Malik pun langsung melepas pangutan itu.


“Ini ciuman pertamamu?” Tanya Malik, sambil mengusap sis saliva yang menempel di bibir Angel.


Angel mengangguk dan Malik pun tersenyum bangga.


“Jangan pernah bersikap manis dengan pria selain aku! Mengerti!”

__ADS_1


Kepala Angel mengangguk perlahan. Lalu, Malik mengajak Angel keluar dan memasuki gedung bisokop itu bersama. Mereka seperti sepasang kekasih, walau belum ada ketetapan status pada hubungan itu, karena Malik belum mengungkapkan perasaannya pada Angel.


__ADS_2