Melanggar Janji

Melanggar Janji
Seperti pepatah Buya Hamka


__ADS_3

Malik dan Angel sampai di Jakarta. Mereka terlebih dahulu mengunjungi butik, karena Mama Rini sudah menunggu di sana.


“Malik, Angel.” Mama Rini melambaikan tangannya ke atas, saat Malik dan Angel tiba di butik itu.


Malik menggendeng pinggang Angel dan menahan pintu itu agar sang istri masuk lebih dulu.


Angel dan Malik tersenyum dari kejauhan melihat antusias Rini yang di temani oleh Aira, adik bungsu Malik dari ibu yang berbeda.


Angel dan Malik menghampiri Rini dan Aira. Mereka saling bersalaman.


“Kak Angel makin cantik aja.” Ucap Aira polos.


“Masa sih? Aira juga makin cantik.” Jawab Angel tersenyum.


“Ngel, ini gaun yang mama pesan. Bagus ga?” Rini langsung mengajak Angel untuk melihat gaun pengantin yang terpajang di sana.


“Bagus, Ma. Bagus banget malah.” Jawab Angel dengan senyum sumringah.


“Kamu pilih yang mana?” Tanya Rini sembari menunjukkan dua patung yang sedikit berjauhan jaraknya.




Malik duduk di temani oleh sang adik, sambil memperhatikan istrinya yang sedang berinteraksi dengan ibu sambungnya. Entah mengapa Rini terlihat sangat dekat dengan Angel, seperti sebelumnya mereka pernah kenal, padahal belum. Memang sejak dulu, Rini selalu baik pada Malik, tapi sayangnya Malik sudah antipati terhadap istri kedua sang ayah. Padahal sejak Faisal mempersunting Rini yang pada saat itu masih perawan dan belum menikah. Rini menerima Faisal yang seorang duda dengan anak lelaki yang sudah menginjak usia remaja.


Malik sempat berpikir jika kala itu, Rini mau di nikahi oleh sang ayah hanya karena harta, tapi nyatanya tidak demikian. Ternyata Rini memang tulus mencintai ayahnya, hingga pernikahan itu pun langgeng sampai detik ini dan menghasilkan dua anak perempuan yang cantik.


Sesekali Malik pun berbincang dengan sang adik.


Angel memilih gaun berwarna pink. Ia melihat gaun itu sederhana tapi elegan.


“Mama juga suka yang ini.” Kata Rini.


“Ayo di coba!” Kata Rini lagi.


Malik berdiri dan menemani sang istri untuk mencoba gaun itu.

__ADS_1


“Lik, kamu juga coba jas ini.” Kata Rini. Malik pun mengangguk.


“Kak, aku ga nyangka mama Rini mempersiapkan ini semua.” Kata Angel sambil melangkahkan kakinya menuju ruang ganti.


“Iya, Mama Rini memang baik. Dia selalu baik padaku, tapi aku nya aja yang suka cuek.”


“Mulai sekarang, tidak boleh seperti itu, Kak.”


“Iya.” Malik mengacak-acak rambut istrinya.


Tak lama kemudian, mereka pun keluar dari ruang ganti. Aira langsung memfoto ketampanan sang kakak dengan balutan jas formal tengah menggandeng seorang wanita cantik dengan gaun yang elegan.


“Kalian serasi sekali. Pas banget.” Ucap Mama Rini dengan wajah sumringah.


Angel dan Malik pun saling bertatapan.


“Kamu cantik, Bee.” Kata Malik yang menatap istrinya dari kepala hingga ujung kaki.


Angel trsenyum. “Terima kasih suamiku.”


Angel tertawa. Interaksi keduanya membuat orang lain yang melihatnya menjadi iri. Dan, Aira selalu memoto kebersamaan sang kakak dengan istrinya itu. Entah mengapa ia suka dengan pasangan ini, terlihat natural dan tidak berlebihan. Cinta mereka terasa mengalir dan menebarkan cinta ke semua orang.


Setelah ke butik, Malik bersama Angel, Rini, dan Aira menuju ke rumah Faisal. Di sana, mereka di sambut hangat oleh Kanaya adik pertama Malik, atau kakak Aira dan Faisal. Rencananya Malik dan Angel akan bermalam di rumah ini.


Setelah makan malam, mereka berkumpul di ruang kelaurga. Angel berbincang seru dengan kedua adik Malik di ujung sofa. Sesekali Malik pun melihat sang istri yang tengah tertawa di sana bersama kedua adiknya.


“Kamu terlihat lebih gemuk, Lik.” Kata Faisal sembari mendudukkan dirinya persis di samping Malik.


“Ya, karena ada yang ngurus. Pa.”


“Enak ya ada yang ngurusin.”


Malik mengangguk. “Malik menyesal menikah, Pa.”


“Loh, Kok gitu? Bukannya Angel memang pilihan kamu?” Tanya Faisal bingung.


“Maksudnya menyesal, kenapa ga dari dulu Malik nikah.”

__ADS_1


Kedua pria itu pun tertawa.


“Papa senang, sekarang kamu bahagia. Terkadang kita memang harus melewati fase kegagalan untuk meraih keberhasilan.”


“Pa, jangan ciptakan trauma itu lagi pada Aira dan Kanaya! Malik pernah merasakan ragu untuk menikah karena rumah tangga papa dan mama dulu.”


“Iya, Papa mengerti. Itu hanya sebuah kegagalan, Lik. Sekarang bersama Mama Rini, Papa tidak pernah bertengkar. Begitu pun ibumu. Sekarang dia juga sudah bahagia. Kami menemukan kebahagiaan kami masing-masing setelah berpisah.”


“Bukankah dulu, Papa dan Mama menikah karena saling mencintai? Mengapa bisa berpisah?” Tanya Malik.


“Mungkin itu bukan cinta. Mungkin kami hanya saling menyukai dan tertarik. Jika cinta, mungkin ibumu akan menerima semua kekurangan papa dan papa juga akan menerima semua kekurangan mamamu. Tapi ternyata tidak, kami mempertahankan keputusan kami sendiri dalam segala hal dan tidak ada yang mau mengalah. Ibumu kuat, Papa pun demikian. Di dalam rumah tangga memang harus ada yang kuat dan harus ada yang lembut. Seperti pepatah Buya hamka ‘jelas sekali bahwasanya rumah tangga yang aman damai ialah gabungan di antara tegapnya laki-laki dan halusnya perempuan’.” Jawab Faisal yang menasehati sang putra, agar tidak gagal dalam berumah tangga.


Malik mengangguk. Ia mengerti sekarang. Ia pun tersenyum dan kembali menatap wajah sang istri di sana. Angel adalah wanita yang lembut dan penurut. Seperti perkataan sang ayah tadi, dirinyalah adalah orang yang tegap itu karena Ia memang tegas dan arogan, sangat cocok bersanding dengan wanita seperti Angel.


Lagi-lagi Malik tersenyum menatap sang istri yang kebetulan sedang menoleh ke arahnya. Angel pun membalas senyum itu dengan manis, membuat Malik sekali lagi jatuh cinta dengan wanita itu.


Angel masih berbincang dengan Aira sambil tiduran di depan televisi. Kanaya pun ikut berbaring di samping Angel, hingga tubuh Angel di apit oleh kedua adik perempuan Malik.


Tak terasa, Angel sampai tertidur di sana, setelah mendengarkan curhatan Kanaya tentang sekolah dan teman lelakinya.


“Bang, Kak Angel ketiduran di sini.” Kata Kanaya.


“Kamu sih Nay, dari tadi ngajak ngobrol Kak Angel terus. Sebenarnya Kak Angel udah capek tapi ga enak karena kamu ngomong terus.” Sambung Rini.


Kanaya hanya nyengir. “Abis Kak Angel asyik, Ma.”


“Tidak apa, Ma. Nanti Malik bawa ke kamar.” Dengan cepat Malik berdiri dari duduknya dan menghampiri Angel.


Ia pun mengeser dengan lembut tubuh Angel dan menggendongnya ala bridal, lalu memasuki kamar yang telah di sediakan.


“Ma, Bang Maik so sweet banget sih sama istrinya. Nay jadi ngiri. Pengen.” Kata Kanaya pada sang ibu dengan nada manja.


“Hush.. Pengen, Pengen. Belajar dulu yang bener.” Rini menepuk b*k*ng putrinya untuk segera ke kamar dan istirahat.


Kanaya pun menjulurkan lidahnya pada sang ibu. Sedangkan Aira sudah berada di kamarnya dari tadi. Faisal merangkul pundak istrinya dan mengajaknya untuk masuk ke kamar juga.


Setelah ini, Malik akan mengunjungi Mama Berlin di rumahnya dan sebelum mereka pulang ke Jogja, akan mampir ke rumah sakit tempat Adrian bekerja. Ia berharap hubungannya pada keluarga sang ibu kembali baik. Semoga.

__ADS_1


__ADS_2