Melanggar Janji

Melanggar Janji
Farah Maulida


__ADS_3

“Far, tunggu!” Teriak Tomy, berlari menghampiri Farah yang berjalan cepat.


Farah tak menoleh ke sumber suara itu. Ia tahu pemilik suara itu. oleh karenanya, ia tak menoleh dan tetap berjalan cepat, hingga seperti berlari.


“Far.” Tomy mengejar istrinya yang terus berlari di lorong rumah sakit itu.


Sudah lebih dari tiga hari Farah tidak pulang dan tidak ada kabar sama sekali. Hal itu membuat Tomy resah dan selalu mencarinya, bahkan setiap hari ia menunggu di depan ruangan praktek istrinya bekerja. Namun, Farah selalu punya akal untuk menghindari suaminya. Farah sudah bertekad untuk mengakhiri pernikahannya. Walaupun mungkin Tomy akan menolak, tapi Farah akan menggugatnya lebih dulu.


Tomy berlari semakin cepat, hingga langkahnya mulai dekat dengan sang istri. Setelah semakin dekat dengan Farah yang tak mau menghentikan langkahnya, ia langsung menarik lengan Farah dari belakang.


“Kamu menghindariku?” Tanya Tomy kesal.


“Kita sudah selesai, Mas.” Farah berusaha melepas cengkraman tangan Tomy.


“Apa maksudnya?” Tanya Tomy tak mengerti.


“Hah? Apa maksudnya katamu? Kamu pura-pura ngga tau. Apa emang ngga tahu?” Tanya Farah.


“Aku benar-benar ga tahu, Far. Tiba-tiba kamu tidak pulang sejak sabtu kemarin. Aku berusaha menelepon dan kirim pesan, tapi ponselmu tidak pernah aktif. Kenapa? Apa salahku?” Tanya Tomy yang tidak tahu, jika Farah sudah mengetahui kehamilan istri keduanya.


Sebelumnya, Tomy berjanji pada Farah, walau ia menikahi istri keduanya yang bernama Diva karena keinginan sang ibu yang sedang sakit keras. Ia tak akan menyentuh wanita itu, dan akan menceraikannya ketika kondisi ibunya membaik. Tomy memang memenuhi janjinya, satu tahun ia menjalani pernikahan keduanya itu, tapi Diva tak pernah di sentuh, karena Tomy lebih sering bersama Farah. Namun dua bulan yang lalu, Farah dan tim rumah sakit yang bersangkutan di tugaskan ke Singapore selama satu minggu untuk mensurvei alat pendeteksi kanker serviks yaag cepat dan akurat, yang baru di luncurkan oleh negara itu. lalu, pada saat itu, Tomy terjebak oleh buaian Diva yang di dukung oleh ibunya sendiri, hingga akhirnya Diva mengandung anak Tomy yang baru berusia enam minggu.


Tomy selalu menutupi kehamilan Diva dari Farah. Ia tak mau Farah marah karena dia telah melanggar janjinya pada sang istri. Ia tak pernah berfikir Farah akan meninggalkannya, karena ia yakin Farah sangat mencintainya.


Farah mengetahui Diva hamil saat wanita itu datang ke rumah sakit ini untuk periksa kandungan satu minggu yang lalu. Walau wanita itu periksa dengan dokter lain, tapi bukan hal yang sulit untuk Farah mencari tahu apa yang wanita itu lakukan di sini, saat ia melihat Diva tengah duduk sendiri di ruang tunggu.


Saat tahu Diva hamil, seisi dunia Farah seperti runtuh. Ia tak lagi bisa mempercayai suaminya. ingin sekali ia meminta penjelasan Tomy hari itu juga. namun, ia enggan membuka mulutnya. Ia hanya bersikap biasa dan tidak lagi bergelayut manja pada sang suami.


“Tolong lepasin tangan aku!” Teriak Farah pada suaminya. ini adalah kali pertama Farah mengeluarkan suara dengan nada yang tinggi.


Delapan tahun mereka menikah tapi tidak pernah ada pertengkaran hebat, bahkan untuk pertengkaran kecil pun tak pernah terjadi. Sosok Farah yang manja dan periang, selalu bisa mencairkan suasana. Tomy tidak pernah bisa marah pada sang istri, karena sikap Farah yang terkadang menjengkelkan, tapi justru membuat Tomy tertawa.


“Oke. Tapi aku butuh penjelasan.” Tomy melepaskan cekalannya.


Farah menarik nafasnya. “Memang harur di hadapi, Far. Semakin lu menghindar akan semakin lama selesainya.” Gumam Farah dalam hati.

__ADS_1


“Oke, kita ngobrol sekalian makan siang. Aku ga mau kita jadi tontonan orang di sini.” Jawab Farah ketus dan kembali membalikkan tubuhnya untuk berjalan lebih dulu.


Bahunya sengaja menyenggol keras bahu Tomy. Sementara Tomy menatap punggung yang sedang berjalan cepat di depannya. Baru kali ini, ia melihat sikap Farah yang dingin dan angkuh padanya.


Farah melangkah dengan cepat ke sebuah cafe di lantai dasar rumah sakit. Tomy pun berjalan dengan cepat untuk mensejajarkan dirinya pada sang istri. Sesekali ia menoleh ke arah wanita yang ia cintai itu. namun, tak sekali pun Farah menoleh ke arahnya. Wanita itu tetap berjalan dengan pandangan lurus ke depan.


Tomy mulai resah, hatinya bertanya-tanya apa Farah mengetahui tentang kehamilan Diva? Tapi dari mana wanita itu tahu hal ini? Semua kemungkinan berputar di kepala Tomy.


Sesampainya di cafe, Farah menggeserkan kursinya sendiri. Padahal Tomy sudah menggeserkan kursi yang lebih dekat dengannya. Namun, Farah memilih kursinya sendiri.


Setelah Farah duduk, ia kembali menarik nafasnya dan berkata, “aku sudah tahu semuanya, Mas.”


Jantung Tomy seolah berhenti sejenak. Akhirnya yang ia khawatirkan terjadi juga.


“Tahu apa?” Tanya Tomy menyelidik.


“Satu minggu yang lalu, Diva ke rumah sakit ini. dia memeriksa kandungannya. Selamat ya, Mas.” Farah mengulurkan tangannya dan tersenyum, walau sebenarnya hatinya ingin menangis lagi.


Tomy terdiam. Ia melihat uluran tangan itu, tapi tak sedetikpun Tomy ingin membalas ucapan selamat dari Farah.


“Hah.” Farah memalingkan pandangannya.


“Ngga ada suami yang di jebak oleh istrinya, Mas. Apalagi jebakannya urusan ranjang. Ga di jebak juga kamu berhak menyentuhnya kok.” Kata Farah lagi.


“Far, aku mencintaimu dan akan tetap selalu mencintaimu. Diva tidak berarti bagiku.”


“Tapi dia ibu dari anakmu. Sekarang dia akan berarti untukmu, Mas.”


“Far.”


“Mas.”


Keduanya menarik nafasnya kasar.


“Sudahlah, Mas. Mungkin memang takdir kita sampai di sini.” Ucap Farah.

__ADS_1


Tomy menggeleng. “Aku mohon, maafkan aku. Aku tidak bisa membiarkanmu sendiri. Nanti siapa yang akan memelukmu dari belakang saat tidur, mengusap rambutmu saat lelah dan membantumu jika kamu memerlukan sesuatu.”


Farah dan Tomy memang sudah berpacaran sejak SMA. Saat itu ia baru masuk ke sekolah itu dan Tomy menjadi ketua osis yang mengorientasi adik kelasnya. Tomy menyukai Farah sejak pertama kali melihatnya. Ia mulai mendekati Farah dan akhirnya berpacaran. Sikap Tomy yang mengayomi, membuat Farah tidak butuh siapapun, terlebih ketika kedua orang tua Farah meninggal karena sebuah kecelakaan pesawat. Tomy selalu ada untuknya dan Farah yang manja semakin ketergantungan, apalagi setelah mereka menikah. Semua urusannya selalu di selesaikan oleh sang suami.


Farah tertawa. “Aku bisa hidup tanpamu, Mas. kamu jangan khawatir. See, aku bisa tiga hari tanpamu.”


Tomy menatap tajam wakah sang istri. Ia menghelakan nafasnya.


“Selama tiga hari kamu tinggal di mana? Bersama siapa?” Tanya Tomy, membuyarkan topik pembicaraan yang sedang mereka bicarakan.


“Itu bukan urusanmu. Sudah ku bilang. Aku bisa hidup tanpamu.”


Seketika, hati Tomy mencelos. Ia sedih.


Farah menunduk. “Aku sudah mengajukan gugatan cerai.”


“Apa? Tidak? Itu ga mungkin. Kamu bercanda.”


Farah mengangguk. “Aku sudah mendaftarkan perceraian kita.”


Sontak Tomy berpindah tempat duduk. Kini, ia berada dekat dengan Farah.


“Kamu tidak bisa memutuskan ini sepihak, Far.”


“Maaf, Mas. Aku lelah. Aku tidak mau lagi di bohongi. Sekali kamu berbohong, akan ada kebohongan kedua, ketiga, dan seterusnya.” Kata Farah tegas.


Tomy mencengkram kedua bahu istrinya. “Tidak ada maksudku untuk membohongimu, Far. Sungguh. Justru aku menutupi ini karena ingin menjaga perasaanmu. Aku tahu aku salah, tapi kesalahan ini tidak sepenuhnya sebuah penghianatan. Aku ingin kamu mengerti posisiku.”


Kini Tomy menggenggam kedua tangan Farah yang terletak di antara kedua pahanya.


“Far, aku mohon. Beri aku waktu hingga Diva melahirkan. Kemudian, aku akan menceraikannya dan kita bisa mengasuh anak itu. Aku yakin kamu bisa menyayangi anakku seperti anakmu sendiri, karena kamu sangat menyukai anak-anak.”


Farah terdiam.


“Aku mohon. Aku sangat mencintaimu, Farah Maulida. Aku tidak ingin kita berpisah. Please.” Tomy meneteskan air mata.

__ADS_1


__ADS_2