
Malam tiba, hawa dingin terasa merasuki kulit. Rasanya jika udara malam begini ingin segera cepat sampai ke rumah dan merebahkan badan di atas kasur. Melepas semua penat dan lelah akan aktivitas yang dijalani seharian.
Begitulah yang dirasakan Nabila. Tadi siang Nabila begitu sibuk dengan pendaftaran kuliahnya di tempat baru, hingga ia baru sampai ke rumah jam sembilan malam.
Nabila memasuki rumah. Pemandangan tak enak dipandang langsung terpampang di depan matanya. Raya sedang tiduran di pangkuan Nadeo, mareka berdua sedang menonton tivi bersama. Hal yang tak pernah sekalipun Nadeo lakukan saat dengan Nabila. Bahkan dulu Nadeo sering pulang larut malam menghabiskan waktu di luar rumah. Berbeda sekali saat sudah ada Raya. Nadeo jadi lebih sering di rumah dan menghabiskan waktu bersama.
Raya yang menyadari kepulangan Nadeo langsung bangun dari pangkuan Nadeo.
"Eh Bil udah pulang?" Sapa Raya ramah dan memberikan senyum.
Nabila hanya membalas dengan senyuman saja dan terus melangkah.
"Udah makan? aku udah buatin buat makan malam loh, makan dulu. atau gak gabung di sini yuk, nonton tivi bareng kita."
Bareng kita? Tidakkah Nabila salah dengar? Bagaimana mungkin Raya mengajaknya menonton bersama. Apakah ia sengaja menyuruhnya menonton kemesraan mareka?
"Enggak usah mbak, makasih. Mau langsung istirahat aja, gerah banget soalnya." Tolak Nabila diiringi senyum keterpaksaan.
Nabila terus melangkahkan kakinya menaiki tangga. Rasanya Nabila tidak sanggup melihat kemesraan mareka yang terus-terusan dipamerkan padanya.
Nabila sadar, Nadeo tidak salah mencintai wanita seperti Raya. Raya adalah wanita yang baik. Raya selalu bangun pagi untuk memasak, tak pernah lupa juga untuk Nabila. Raya benar-benar memperlakukan Nabila bagaikan seorang adik. Jika Nabila belum makan, Raya pasti akan mengantarkan makanan ke kamar. Kadang Nabila kesal akan sikap Raya yang terlalu baik hingga membuatnya sulit untuk membenci Raya.
"Mas apa gak sebaiknya kamu memperlakukan Nabila layaknya istri kamu yang sesungguhnya? Aku liat kamu terlalu cuek dan tidak peduli sama dia, aku gak tega." Tutur Raya.
Lihat betapa bijaknya seorang Raya. Mungkin inilah nilai plusnya di mata Nadeo.
"Maksud kamu gimana Ray? Aku harus membagi malam dengan dia?"
__ADS_1
"Iya loh Mas, kamu harus adil." Jawab Raya yang tak tega melihat sikap dingin Nadeo pada Nabila.
"Ray aku adil. Transferan bulanan dia gak pernah telat sekalipun. Tapi kalau adil yang kamu maksud aku harus tidur sama dia, perhatian sama dia. Maaf. Kayaknya aku gak bisa deh Ray!" Tolak Nadeo akan saran istrinya.
"Tapi kamu gak boleh gitu."
"Raya sayang, aku punya alasan sendiri gak ngelakuin itu. Aku mau dia bisa dengan mudah menemukan pria lain, tanpa harus berbagi cinta, dan keluar dari rumah ini dalam keadaan masih gadis. Aku gak bisa lakuin saran yang kamu suruh itu." Nadeo tetap kekeh.
"Kamu Mas, padahal dia cantik loh, masih muda lagi. Aku yakin deh suatu saat kamu pasti akan jatuh cinta sama dia."
Nadeo menggeleng dan tersenyum mengejek "Gak akan. Gak usah bahas itu, mending kita fokus ke promil kamu dulu aja."
Pendapat Raya tentang Nabila saat pertama kali melihat Nabila adalah cantik dan anggun. Apalagi usia Nabila yang masih sangat muda. Usia Nabila dan Nadeo saja terpaut sepuluh tahun, harusnya Nadeo bersyukur menikah dengan gadis yang masih sangat muda, bukan malah menyia-nyiakannya.
...****************...
Nabila memasuki rumah dan mengkuncinya. berjalan menuju tangga, di samping ada kamar Nadeo yang sekarang juga kamar Raya. rupanya mareka belum tidur. Nabila berhenti sejenak.
Terdengar suara ******* dari dalam kamar mareka. Iya, ******* perempuan yang tak lain adalah Raya, ******* yang begitu sexy. sesekali Raya mengerang menyebut kata-kata sayang, yang pasti ditujukan pada Nadeo. kalian pasti tahu mereka sedang apa. yupz, mareka sedang berhubungan suami istri.
Nabila merasa geli membayangkan apa yang mereka lakukan, membuat merinding bulu kuduk Nabila. Dengan cepat Nabila menggeleng, menghilangkan pikiran tentang Nadeo dan Raya. Sebenarnya dulu Nabila pernah membayangkan bagaimana jika ia dan Nadeo melakukan hubungan suami istri.
Sampai dalam kamar Nabila duduk di tepi ranjangnya.
"Aku harus lupain Mas Nadeo. Aku gak boleh egois. Mas Nadeo juga berhak bahagia dengan orang yang dia cinta." Tekad Nabila melupakan Nadeo.
...****************...
__ADS_1
Pagi ini hujan turun. Terpaksa Nabila harus sarapan di rumah, menunggu hujan reda. karna tak mungkin juga Nabila berangkat dengan motor maticnya, motor matic yang lebih tepatnya dibelikan oleh Nadeo kepada Nabila agar tak harus repot-tepot mengantarkannya.
Tadi Raya juga sudah mengetuk pintu kamar Nabila mengajak sarapan bersama, rasanya tak enak juga Nabila menolak ajakan madunya yang baik itu. Alhasil turunlah Nabila ke dapur untuk bergabung sarapan bersama mereka. Menunya sereal.
"Ayok Bil sarapan!" Ajak Raya dan meletakkan semangkok sereal dan susu penuh lemak ke hadapan Nabila.
"Kita lagi promil Bil, jadinya menunya aku ganti ke yang sehat-sehat. Kalo kamu gak suka aku bisa buatin yang lain." Tawar Raya.
Ah..., mengapa ia harus sebaik dan seramah itu?
"Udah sayang, gak usah ngerepotin diri kamu. Nabila bukan anak kecil kok, dia bisa masak sendiri." Ucap Nadeo tak suka.
"Iya Mbak, ini udah cukup kok!" Tambah Nabila yang sebenarnya tersinggung dengan ucapan Nadeo.
"Aku sama sekali gak ngerasi di repotin kok. Aku malah senang lagi!" Bantah Raya seolah tahu perasaan Nabila.
Raya duduk di sebelah Nadeo yang duduk berhadapan dengan Nabila.
"Sayang, aku maunya disuapin kamu." Ucap Nadeo dengan nada manja, ia sengaja berkata begitu di depan Nabila.
Raya menurut. Nabila berusaha tak melihat. Setelah menyendokkan sereal ke dalam mulut dua sendok, dan meminum seteguk susu, Nabila pamit berangkat. Karna yang sebenarnya terjadi, Nabila tidak sanggup melihat pemandangan yang menyakiti hati.
"Aku duluan ya Mbak. Ujannya udah reda, takut telat!" Pamit Nabila seraya pergi.
"Loh kok gak di habisin?" Tanya Raya.
"Udah kenyang!" Jawab Nabila yang sudah hampir di ambang pintu.
__ADS_1
Lebih baik pergi daripada menyakiti hati sendiri.