Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Dewa penolong


__ADS_3

Lagi-lagi Cinthya dipaksa menjadi dewa penolong untuk Egy. Egy memaksa Cinthya untuk menjadi detektifnya, untuk apa lagi kalau bukan untuk mengoreksi seputar informasi Nabila akhir-akhir ini.


Nabila dan Cinthya sekarang memang kurang berkomunikasi dikarnakan mareka yang sibuk dengan urusan masing-masing. Nabila yang sibuk dengan urusan asmaranya yang bagaikan benang kusut, juga pekerjaan barunya di perusahaan lain tentunya sebagai perencana keuangan atau financial planner. Sedangkan Cinthya masih sibuk dengan UKMPDD-nya. Tapi hubungan mareka masih sangat baik pastinya.


Dan karna permintaa Egy, jadilah hari ini mareka berdua bertemu.


"Udah lama nunggu?" Tanya Cinthya yang baru duduk.


"Lumayan." Jawab Nabila jujur. Memang ia sudah datang sekitar tiga puluh menit yang lalu.


"Maaf ya? Aku bener-bener sibuk akhir-akhir ini. Sampe-sampe gak sempet kirim pesan ke kamu."


"Iya deh yang calon Bu Dokter!"


"Gimana kabar kamu Bil? Kamu kurusan banget ya?"


Nabila tersenyum tipis.


"Kayaknya aku pesan dulu ya? Kamu udah pesan belum?"


Nabila mengangguk.


Setelah pesanan Cinthya juga Nabila datang. Mareka mengobrol panjang berbagi cerita. Dan setelah obrolan panjang itu berakhir, barulah Cinthya memberanikan diri bertanya pada nabila.


"Bil, bye the way kamu sama Mas Egy gimana sekarang?" Cinthya mulai masuk ke dalam pembicaraan.


Mendengar nama Egy, seketika senyum di bibir Nabila menjadi masam.


"Kita gak ada hubungan lagi." Jawab Nabila ketir.


"Putus?"


"Emang kami pacaran?"


Ah iya juga sih. Gak ada kata pacaran dalam hubungan Egy dan Nabila.


"Ya.., lebih dari itu maksud aku. Calon pasutri gitu?"


Nabila menggeleng lemah. "Aku yakin kamu juga tahu kalau orang tuanya Mas Egy gak suka sama aku. Mareka gak setuju dengan hubungan kami."


Bohong kalau Cinthya bilang tidak tahu, "Kali aja butuh perjuangan Bil!" Papar Cinthya asal, ia juga bingung harus menanggapi dengan cara apa.


"Awalnya aku juga berpikir begitu, tapi makin ke sini kok aku dapat banyak ancaman ya? Bukan untuk aku saja, bahkan untuk keluarga aku."


Cinthya membulatkan matanya. "Maksud kamu?"

__ADS_1


"Kedengarannya seperti becanda, tapi aku diculik Cin!"


"Aku makin gak ngerti, kamu diculik siapa?"


"Intinya aku harus menjauhi Mas Egy, Cin! Agar aku, juga keluargaku jauh dari ancaman itu."


"Tante Yura pelakunya?"


Nabila menggeleng. "Aku gak bisa kasih tau itu siapa, tapi aku harap Mas Egy gak tahu tentang ini, cukup kamu aja yang tahu."


"Aku gak janji Bil!" Tentu saja itu hanya terucap dalam hati Cinthya.


...****************...


Cinthya dan Egy berdiri di balkon apartment milik Egy. Akhir-akhir ini Egy memang jarang pulang ke rumah, ia lebih memilih menghabiskan waktunya di kantor dan Apartment.


Kehidupannya sekarang berubah seratus delapan puluh derajat. Ia yang dulunya dekat dengan orang tuanya, sekarang seolah ia tak lagi mengenal mareka. Terkadang ia berpikir, siapakah di sini yang berubah, orang tuanya? Atau ternyata dirinya?


"Mas tahu gak kemarin Nabila diculik?" Tanya Cinthya sembari menoleh sesaat pada Egy, dan setelah itu atensinya tertuju lagi pada hiruk pikuknya pemandangan kota Jakarta. Macet, polusi, seolah hal yang biasa.


"Maksud kamu?"


"Sebenarnya Nabila nyuruh untuk merahasiakan hal ini dari Mas! Tapi kali ini aku berkhianat sama Nabila demi Mas Egy," Jeda, "Nabila bilang ada yang ngancamnya untuk jauhin Mas!"


"Siapa? Ini pasti ulah Mama kan?" Tebak Egy.


"Iya Mama!" Egy membenarkan ucapannya tadai.


"Aku mikirnya juga gitu, siapa lagi coba yang bernai berbuat sejauh ini?"


"Ck!" Egy berdecak kesal.


"Pasti ulah Mama, gak ada yang akan senekat itu! Baru kali ini aku ngerasa menyesal terlahir dari rahim Mama." Sesal Egy.


"Aku harap Mas gak ambil langkah yang gegabah. Bijaklah Mas dalam mengambik keputusan." Pesan Cinthya.


...****************...


"Assalamu'alaikum?"


"Wa'alaikim salam." Sahut Nabila agak lama.


Ia membukakan pintu, lalu menaikkan sebelah alisnya ketika melihat orang yang ada dibalik pintu. Nadeo. Nadeo Arga Winata.


Nadeo melemparkan senyum kepadanya, tapi dibalas dengan tatapan aneh oleh Nabila. Nadeo jadi salah tingkah sendiri, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Kebetulan Mas lewat sini, jadi mampir. Sekalian juga nganterin ini, dari Mbak Ines!" Jelas Nadeo tanpa menunggu pertanyaan dari Nabila, sembari memeberikan rantang yang ada di tangannya. Nabila pun menerimanya.


"Boleh masuk?"


Nabila nampak berpikir.


"Sebentar aja, soalnya capek banget. Kalau gak boleh gak papa juga sih!"


Nabila mengangguk, dan melebarkan pintu agar Nadeo bisa masuk.


"Terimakasih!" Ucap Nadeo seraya melangkahkan kaki masuk ke dalam.


Nadeo memindai seisi rumah. Tak banyak yang berubah dari rumah ini, rumah yang menyimpan banyak luka untuk Nabila. Tapi Nabila masih mau menempatinya.


"Duduk Mas!" Nabila mempersilakan Nadeo duduk di sofa.


Padahal dulu di adalah tuan rumah di sini. Tapi hari ini ia di jamu sebagai tamu. Untungnya ia masih di jamu Nabila, bukan suami Nabila.


"Aku buatin minum dulu ya Mas?"


Nadeo mengangguk. Dan Nabila berlalu ke dapur.


Nadeo tersenyum sendiri membayangkan kejadian yang terjadi dalam hidupnya. Jika saja ia dulu tak egois dan mendengar Mamanya, pasti semua tak akan terjadi. Dan dapat dipastikan ia sekarang tengah berbagia dengan Nabila, dan bisa saja saat ini Nabila hamil, dan menunggu kelahiran buah hati mareka.


"Mas! Diminum tehnya, kok bengon?"


Seketika Nadeo bingung. Ternyata ia banyak melamun, hingga tak sadar wanita yang ia khayalkan ada di sampingnya sekarang.


"Oh iya! Iya!"


Nadeo langsung mengambil secangkir teh yang ada di depannya dan meminumnya.


"Aw!!!" Jerit Nadeo.


"Eh Mas!" Nabila panik."Aku lupa tehnya masih panas!"


Nabila mencoba mengipasi bibir Nadeo dengan tangannya, dan..., tak disangka pandangan mareka bertemu. Canggung! Berada bersama dengan ex.


"Maaf Mas!" Cicit Nabila dan memalingkan wajahnya dari Nadeo. Pipinya merona karna malu, dan jangan tanyakan bagaimana jantungnya? Pastilak berdetak dengan kencangnya.


"Aku harap untuk kedepannya bisa minum teh buatan kamu setiap harinya."


Hah? Apa yang diucapkan Nadeo?


"Bil? Bisakan? Aku ingin berjuang lagi untuk kamu."

__ADS_1


Hay hay. Maaf sekali kemarin gak update, aku super sibuk. Aku mau minta maaf sama reader yang mungkin ngerasa alur cerita ku berbelit-belit, atau mungkin kecewa dengan alur cerita aku. Tapi disini aku ingin mengatakan, aku banyak sekali kekurangan, karna ini adalah novel pertama aku. Dan aku juga masih banyak typo yang belum aku perbaiki. Maaf sekali juga aku sama sekali tidak bisa mengubah alur cerita aku, karna ini murni isi kepala ku, mungkin ada beberapa reader yang kecewa dengan alur cerita ini. terimakasih atas kritik dan sarannya. Jangan bosan-bosan baca. Dan terimakasih sudah baca cerita aku. love you all😘😘


__ADS_2