Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Nadeo VS Egy Part 2


__ADS_3

"Nak Egy suka ya sama Nabila?" Tanya Pakde lembut.


Malam ini mareka duduk berdua di halaman belakang rumah. Pakde mengajak Egy mengobrol ketika melihat Egy belum tidur, rasanya ia perlu bicara dengan Egy.


"Saya bukan sekedar suka Pakde, saya serius sama Nabila. Dan sebenarnya tanpa saya jawab pun, Pakde pasti mengetahuinya." Jawab Egy.


"Kamu tak apa dengan status Nabika ke depannya?"


Egy tersenyum simpul. "Kalau saya keberatan, saya tidak akan berada di sini Pakde."


"Pakde hanya ingin memastikan, jika nantinya Nabila memilih kamu, tolong jangan sakiti dia. Pakde gak mau di tersakiti untuk kedua kalinya."


"Saya janji Pakde!" Jawab Egy mantap.


Setiap kata yang keluar dari bibir Egy menunjukkan keseriusan yang amat besar. Dan Pakde dapat merasakan hal itu. Pakde berharap ini bukan hanya perasaannya saja. Jujur ia sedikit trauma akan kegagalan rumah tangga Nabila sebelumnya.


"Tapi kembali lagi, keputusan akhir ada di tangan Nabila. Pakde tidak ingin campur tangan lagi. Karna ketika Pakde ikut mencampuri, hubungannya gagal. Dan Pakde sangat merasa bersalah. Biarlah sekarang dia yang memilih sendiri. Dia pasti tau mana yang terbaik untuknya. Dan Pakde juga berharap, kalau dia tidak memilih mu, kamu hargai putusan dia." Jelas Pakde oanjang lebar.


"Baik Pakde." Egy mengangguk mengerti.


Pandangan Pakde menusuk ke langit, seolah mengingat kejadian yang lalu. dan Pakde mulai bercerita.


"Nabila itu gadis yang penurut sekali. Ketika dulu Pakde menjodohkan dia, dia tidak menolak sam sekali. Dia mengiyakan semua keinginan Pakde, dia menyembunyikan permasalahan rumah tangganya agar kami tidak khawatir. dia menjaga hati kami, juga ibu mertuanya."


Pakde menghela napasnya. Dan Egy masih setia mendengar cerita Pakde tentang wanita yang di sukainya.


"Pakde terlalu bodoh saat itu. Bisa-bisanya sebegitu lama dia tersiksa, Pakde tidak tahu." Ada raut penyesalan ketika Pakde mengatakan hal itu.


"Pakde pikir, dia bahagia. Dia baik-baik saja. Dia sangat pintar menyimpan luka."


Dalam keheningan malam itu, Egy mendengar semua cerita tentang Nabila melalui Pakde. Tentang bagaimana perempuan itu tumbuh, dan menjadi pribadi yang baik.


Dan setelah mendengar itu semua, maka cinta di hati Egy semakin tumbuh, seolah disiram dan dipupuk. Tak ada sedikit pun keraguan di hati Egy untuk memperjuangkan Nabila. Egy yakin Nabila adalah perempuan terbaik yang Tuhan takdirkan untuknya. Jika pun bukan untuknya, maka biarlah ia sendiri. Ia tak butuh wanita mana pun lagi untuk mendampingi hidupnya.


...****************...


Nabila mengambil domoetnya dan keluar dari kamar. Rencananya hari ini ia akan berbelanja ke pasar, karna kebutuhan di rumah sudah habis. Ketika keluar dari kamar, Nabila mendapati dua laki-laki yang saat ini terobsesi kepadanya tengah duduk di sofa bersama Soegi, Pakde dan Bude.


"Nabila pergi dulu ya?" Ujar Nabila yang mendekat ke arah Pakde dan Bude dan menyalami keduanya.

__ADS_1


"Hati-hati tuh di jalan." Pesan Bude.


Nabila tersenyum mengangguk. "Iya Bude, Nabila pasti hati-hati."


"Emang mau kemana Bil?" Tanya Egy.


"Belanja Mas, ke pasar."


"Sama siapa?"


"Sendiri."


"Aku antar ya?" Tawar Egy.


Belum sempat Nabila menjawab, Nadeo sudah berkata. "Aku aja Bil yang antar."


Nabila menjadi bingung melihat dua lelaki ini memperebutkan untuk mengantarnya.


"Sama aku aja ya?" Rayu egy. "Kamu masih mau jalan sama dia?"


"Eh, enak aja! Aku masih sah sebagai suaminya Nabila ya." Sanggah Nadeo.


"Enggak, engak boleh! Apa kata orang liat Nabila jalan sama Lo! Sedangkan dia punya suami, lo jangan mempersulit dia deh!"


"Nabila aja gak keberatan tuh!"


"Eh, jangan bikin Nabila jadi ribet. Lo gak tau, lo bukan siapa-siapa dia. Gak ada ikatan, bukan muhrim. ngerti gak sih?"


Pakde, Bude, Soegi dan Nabila dibuat melongo dengan adu mulut Nadeo dan Egy yang kesekian kalinya. Mareka tidak tahu tempat, asal bertemu tetap aja ada cekcoknya.


"Udah dong ah!" Nabila menengahi. Aku bareng Soegi aja. Yuk Gi temenin Mbak belanja."


...****************...


Akhirnya Nabila berangkat bersama Soegi. Dua laki-laki yang saat ini berada di rumahnya benar-benar punya sifat kekanak-kanakan.


Gimana enggak, mareka berdebat hanya untuk hal-hal kecil. Dan saling adu argumen denga hal yang tidak penting sama sekali. Bahkan mareka lupa ketika mareka adu mulut, Pakde dan Bude juga ada bersama mareka. Betapa tidak tahu malunya laki-laki itu.


Pernah gak sih kalian berpikir kalau diperebutkan dua laki-laki sempurna itu sangat menyenangkan? Ternyata jawabanbya tidak. Tidak sama sekali. Alih-alih tersanjung, Nabila malah merasa dongkol melihat tingkah laku Nadeo dan Egy. Kehadiran mareka benar-benar membuat mood Nabila rusak. Nabila yang niatnya ingin menenangkan diri pulang ke kampung, malah hatus dihadapkan dengan keadaan yang membuatnya bertambah stres.

__ADS_1


Sepertinya dua laki-laki itu takkan pergi walaupun di usir. Buktinya mareka sudah nekat menyusul Nabila. Artinya mareka menerima apa pun konsekuensi dari perbuatan mareka.


Apalagi Nadeo. Laki-laki itu benar-benar keras kepala. Ia bahkan menerima pukulan dari Pakde dan sama sekali tidak membalasnya. Itu juga membuat Nabila merasa iba.


Cara satu-satunya adalah Nabila harus kembali lagi ke Jakarta. Dengan begitu mareka juga pasti akan balik ke sana. Dan Nabila akan menyelesaikan masalahnya di Jakarta.


"Mbak, itu cowok-cowoknya Mbak kok kayak anak-anak sih?" Tanya Soegi ketika Nabila sedang asyik memilih sayur.


"Heh! Kok cowok-cowoknya Mbak sih? Kesannya Mbak punya banyak cowok." Protes Nabila.


"Maksudnya Mas Nadeo sama Mas Egy." Egy mengoreksi lagi kata-katanya.


"Memangnya kenapa?" Tanya Nabila sok tidak tahu. Padahal sebenarnya ia tahu Soegi sangat jengah melihat tingkah konyol Nadeo dan Egy, dirinya pun merasa begitu.


"Mbak gak liat tadi? Masa' masalah nganterin Mbak aja harus berdebat dulu?"


Nabila tersenyum. "Mbak juga gak tahu."


"Kekanak-kanakan banget. Kayak ABG yang masih SMA aja cara rebutin cewek. Aku aja dulu gak gitu."


"Ya udah sih, biarin aja. Nanti juga capek sendiri."


"Mbak gak ingat semalam? Mareka adu mulut cuma gara-gara jurusan kuliah aku. Padahal belum tentu juga aku mau sama saran mareka. Gak jelas!" Celoteh Soegi sebal.


"Tapi menurut kamu Gi, Mbak pilih yang mana?" Nabila mencoba minta saran oada adik laki-lakinya.


"Enggak dua-duanya." Jawab Soegi asal.


"Kok gitu?"


"Ya..., dua-duanya sama. Dominan dan keras kepala."


"Jadi Mbak gak usah pilih dua-duanya ya?" Tanya Nabila lagi.


"Itu sih terserah Mbak. Tapi keliatan Mas Egy dan Mas Nadeo benar-benar sayang sama Mbak. Ikutin kata hati Mbak."


"Ya udah Mbak bayar dulu ya?"


Nabika segera mengambil barang yang di pilihnya, dan membawanya kepada penjual agar di hitung. Ingat tidak ada kasir di sini.

__ADS_1


__ADS_2