
"Bil! Bila!" Suara bariton dari Nadeo terdengar sedikit berteriak memanggil Nabila.
"Iya Mas, aku lagi cuci muka di kamar mandi. Ada apa?" Teriak Nabila yang berada di kamar mandi.
"Mas pinjam motor kamu dong. Mobil Mas mogok."
"Masuk aja Mas, kuncinya ada di laci. lihat sendiri."
Setelah punya izin dari empunya kamar, barulah Nadeo masuk ke dalam. Seperti tujuannya, ia segera membuka laci mencari barang yang di inginkannya.
Nadeo membuka laci pertama. Mengobrak-abrik isinya. Tapi barang yang dicarinya tidak ada.
Laci kedua ia lakukan hal yang sama. Juga tidak ada.Tapi, ada yang menarik perhatiannya. Ada satu map yang membuatnya penasaran.
Segera Nadeo mengambil dan membukanya.
PLAK!!!
Bagaikan ditampar kenyataan. Namanya ada di dalam kertas putih yang dihiasi tinta komputer. Dengan judul 'Surat Gugatan Cerai'. Ternyata tanpa ia ketahui Nabila sudah melayangkan gugatan cerai untuknya. Bahkan tanpa persetujuan atau pemberitahuan kepadanya. Hati Nadeo mencolos begitu saja.
"Mas aku lupa kuncinya aku taruh di..." Suara Nabila terputus ketika melihat sesuatu di tangan Nadeo. Ia terpaku di pintu kamar mandinya.
"Apa ini Bila?" Teriak Nadeo keras.
Dapat dilihat Nabila, Nadeo yang berdiri dengan wajah memarah menahan emosi. Rahangnya mengetat. Dan urat-urat lehernya terlihat jelas.
Nabila tak berani menatap Nadeo. Nyalinya menciut begitu saja.
"Jawab Bila!" Nadeo semakin mendekat ke arahnya. Suaranya masih meninggi. Bahkan intonasinya lebih tinggi dari yang tadi.
Nabila tak berani berpindah barang sejengkal pun. Ia tambah takut jika Nadeo kehilangan akal sehatnya, lalu membantingnya di kasur begitu saja, seperti beberapa bulan yang lalu. Ah..., membayangkannya saja Nabila sudah tidak bisa.
"Mas....a..aku..." Nabila memaksa mulutnya untuk menjelaskan, tapi ia terlalu takut.
Ia belum siap untuk mengatakan pada Nadeo, makanya Nabila tak memberikan itu pada Nadeo. Itu bukan ulahnya, Egylah yang memaksanya mengurus semuanya.
"Kamu mau ninggalin aku?" Kini nada bicara Nadeo mulai rendah. Malah sangat rendah. Ia seperti orang yang kehilangan semangatnya.
"Mas..., aku rasa gak ada yang bisa kita.."
Kata-katanya langsung di potong Nadeo. "Aku gak setuju. Aku gak mau cerai sama kamu."
__ADS_1
Nadeo merobek apa yang ada di tangannya hingga tak terbentuk lagi, menjadi bagian² yang tidak bisa disatukan lagi.
"Jangan berharap untuk pergi dari aku Bila, aku gak akan biarin itu!" Tegas Nadeo dan pergi dan membanting pintu dengan keras, membuat Nabila terkejut dan takut.
Nadeo seperti inginmenunjukkan bahwa ia tak mau dibantah. Keputusannya tadi sudah telak, seperti tak ada negosiasi lagi. Tapi kenapa?
Kenapa ia tak mau berpisah dari Nabila? Bukankah ini yang diharapkannya dulu? Padahal sudah tak ada lagi penghalang perceraian mareka. Dulu padahal ia tak pernah ingin terikat dengan Nabila.
...****************...
Nabila duduk di samping Nadeo dengan perasaan canggung. Beberapa hari ini Nadeo terua mendiamkannya. Sepertinya laki-laki itu memang sedang marah kepadanya.
Lihat saja sekarang, ia tak peduli dengan keberadaan Nabila. Ia tetap fokus dengan tontonannya yang ada di TV. Mungkin saja TV lebih terlihat menarik daripada Nabila. Sekedar menoleh pun tidak.
Nabila memutar-mutar ujung jilbabnya dengan jari telunjuknya. Ia seperti seseorang yang sedang membuat kesalahan besar. Nadeo masih cuek dan tak mempedulikannya, dan hal itu sukses membuat nyali Nabila semakin menciut.
"Mas..." Panggil Nabila pelan dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Tidak ada sahutan. Bahkan sekadar lirikan saja tidak ada, seolah tak ada Nabila dalam ruangan ini.
"Ada yang mau aku omongin Mas."
Kenapa tiba-tiba suara Nadeo terdengar menyeramkan di telinga Nabila.
"Tapi Mas?"
"Gak ada tapi-tapi, apa pun yang terjadi aku gak mau pisah sama kamu Jadi secepatnya hilangkan niat jelek mu itu Bila." Ujar Nadeo.
kemudian Nadeo bangun dari sofa yang di dudukinya, dengan cepat Nabila menarik lengan Nadeo yang sudah berdiri. Nabila mendongakkan kepalanya menatap Nadeo yang kini juga menatapnya. Mata mareka bertemu. Dari sorot mata Nabila seolah memohon agar keinginannya dikabulkan.
Perlahan Nadeo mendekatkan wajahnya pada wajah Nabila. Entah mengapa jantung Nabila berdetak lebih cepat dari biasanya. Muka Nabila memerah, dan wajah Nadeo semakin dekat dengannya, hidung Nadeo hampir menyentuhnya. Dengan cepat Nabila memalingkan wajahnya ke samping, menghindari tatapan Nadeo dan perlahan tangannya terlepas dari lengan Nadeo.
Nadeo tersenyum menyeringai, karna melihat tingkah Nabila yang sebenarnya membuatnya gemas. Nadeo yakin pasti Nabila sedang malu dan salah tingkah.
"Kenapa? Kenapa gak berani tatap aku? Takut jatuh cinta lagi?" Goda Nadeo sengaja.
Nabila tak menyahut, ia sedang menetralkan detak jantungnya saat dekat dengan Nadeo.
"Jangan buru-buru Nabila, mungkin masih ada sisa-sisa cinta kamu buat aku, aku juga merasa kalau aku sudah jatuh cinta sama kamu, istriku." Kata Nadeo lalu berlalu pergi.
Sedang Nabila mencoba meyakini bahwa hati dan cintanya sudah usai pada Nadeo. Ia akan memulai lembaran baru, tanpa Nadeo.
__ADS_1
...****************...
Sore ini Nabila mengajak Cinthya bertemu. Rasanya ia harus berbagi keluh kesahnya dengan sahabatnya itu. Ia akan mencoba meminta saran pada Cinthya. Tak ada yang dapat di andalkan selain Cinthya. Cinthya lebih dari seorang sahabat untuknya.
Kini mareka duduk di cafe yang di desain minimalis, dengan cat yang di dominasi dengab warna putih.
Nabila duduk berhadapan dengan Cinthya. di depan mareka ada segelas kopi untuk teman mengobrol.
"Cin, gimana ya? Mas Nadeo gak mau pisah. kemarin dia sampe robekin surat gugatan cerai."
Terlihat wajah frustrasi Nabila.
"Oh ya? Kok dia gitu sih? Gak jantan banget!"
"Aku harus gimana ya?"
"Coba deh kamu beri alasan kenapa kamu dan Pak Nadeo harus berpisah. Bukan hanya karna kamu pengen sama Mas Egy. Tapi karna semua perilaku dia selama ini ke kamu. Hubungan rumah tangga yang kek gitu gak layak diperjuangkan. Sesekali kayaknya Pak Nadeo harus dikasih kaca deh, biar dia bisa lihat kesalahannya itu apa. Biar introspeksi tuh orang." Celetuk Cinthya panjang lebar.
"Apa nanti Mas Nadeo mau nerima semua alasan aku?"
"Harus!" Jawab Cinthya cepat. "Dia, harus nerima. Secara dulu kan dia juga nolak kamu. Dan perpisahan ini keinginan dia yang dulu. Kok bisa sekarang dia gak mau berpisah. Bilang aja Bil, kamu sedang mewujudkan keinginan dia yang dulu. Jangan seenak jidat dia aja dong!"
Cinthya lupa akan hormatnya pada Nadeo sebagai Dosennya. Ia terlampau kesal dengan tingkah laku Nadeo yang seenaknya saja.
"Aku ingetin lagi ya Bil. Dia itu mempertahankan kamu karna gak ada lagi si Raya itu di sisinya. Percaya deh!" Hasut Cinthya. "Emang kamu mau dijadiin pengganti?"
Nabila menggeleng. Ia tak suka dijadikan pengganti. Nabila juga satu pikiran dengan Cinthya. Bahwa Nadeo sekarang mempertahankannya karna tidak ada lagi Raya. Kalau tidak, ia pasti sudah mendepak Nabila jauh-jauh hari setelah Bu Ningrat meninggal.
"Kamu mau? Kamu yang urusin dia, yang masakin dia, layanin dia. Tapi hati dan pikirannya dia masih buat perempuan lain. Kalau aku ogah! Udah dari dulu aku depak tuh lakik! Cuma berhubung ini kamu Bil, yang terlalu polos, baik, dan gitulah pokoknya. Aku kehabisan kata-kata."
"Kamu juga harus bilang Bil, sebenarnya kamu bertahan selama ini karna Mamanya, bukan karna dia. Takutnya tuh Om-om kegeeran kalau selama ini kamu tergila-gila sama dia!"
Cinthya tak lagi menyebut 'Pak' untuk Nadeo, ia mengganti dengan kata 'dia'.
"Tapi aku takut."
Nabila masih dengan segala kebodohannya.
"Takut apa? Takut kenapa? Kalau aku sudah dari dulu aku biarin Bil. Biar tahu rasa tuh cowok."
Betapa sudah Cinthya tak lagi menghormati Nadeo sebagai seorang gurunya.
__ADS_1