
Seminggu telah berlalu dari hari ines memergoki nadeo di rumahnya. hari ini nadeo mendapat telpon dari adiknya icha. icha mengatakan bahwa mama sedang sakit hingga dirawat di rumah, penyakit jantungnya kambuh lagi, icha juga menyuruh nadeo untuk pulang ke rumah. mendengar kabar itu, nadeo tak tinggal diam, ia langsung mengajak nabila untuk segera pulang ke rumah mamanya.
Sampai di rumah, nadeo dan nabila langsung ke kamar bu ningrat, karna memang disitulah bu ningrat dirawat.
Disana terlihat bu ningrat yang sudah terbaring lemah dengan selang infus yang sudah terpasang di tangan. di dalam kamar juga sudah ada ines, hanis dan juga icha yang menemaninya.
Nadeo langsung menghamburkan diri di ranjang bu ningrat. nadeo sangat khawatir pada mamanya. saat di perjalanan saja nadeo ngebut demi bisa cepat-cepat sampai ke rumah mamanya. apapun yang terjadi, bu ningrat adalah orang yang paling disayang dalam hidupnya.
"Mama, mama kenapa bisa gini?" tanya nadeo penuh kekhawatiran.
Bu ningrat melirik nadeo yang mengelus tangannya, nampak ia tak begitu tertarik dengan anak laki-laki satu-satunya.
"Menantu mama mana?"
Menantu yang ditanyakan saat ini adalah nabila. sungguh nabila sudah menggeser posisi nadeo di hati bu ningrat, sehingga ia lebih rindu pada menantunya dari pada anaknya sendiri.
Semua melirik ke arah nabila yang berdiri di samping ines. nadeo bangkit dari ranjang mempersilakan nadeo untuk duduk, karna yang sedang di cari mamanya bukanlah dirinya melainkan nabila. tak apa, begitu pikir nadeo. ia senang bisa membuat mamanya bahagia, walau penuh dengan drama layaknya sebuah sinetron. andai saja mamanya tahu apa yang terjadi antara dirinya dan nabila, sungguh ia pasti akan kecewa dan bisa saja penyakitnya merenggut nyawanya karna shok hebat.
"Sehat nak?" tanya bu ningrat lebih dulu diiringi senyum rindu "kok kamu nampaknya kurusan?"
Nabila membalas senyum bu ningrat hangat sambil berkata " Ma, aku sehat, yang seharusnya di tanyain itu mama"
"Mama sudah tua, bedalah. mama kangen sekali sama kamu. kenapa jarang pulang?"
"Mas nadeo sibuk, mama sudah makan?" nabila mencoba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Mama gak mau makan mbak, mbak bujuk dong" ujar icha
"Makan ya ma, nabila suapin"
Bu ningrat mengangguk. ichapun memberikan sepiring nasi pada nabila. nabila dengan telatennya menyuapi ibu mertuanya itu. meski anaknya sudah menyakiti hatinya, tak membuat rasa sayang nabila pada ibu meetuanya menghilang. toh, bu ningrat juga sangat menyayanginya.
"aku gak nyangka nabila bisa begitu baik sama mama, meski aku udah nyakitin dia" batin nadeo.
Entah mengapa hati nadeo sekarang mulai terbuka pada nabila, apalagi saat melihat sikap nabila pada mamanya, laki-laki ini kini jauh lebih manusiawi. dulu nadeo adalah sosok laki-laki yang cuek dan tak berperasaan terhadap nabila.
Nadeo melirik ines disampingnya, kemudian menarik perempuan yang punta rambut lurus dan panjang itu keluar dari kamar. ada yang mewanti-wanti perasaan nadeo sedari tadi. apakah sakitnya mama ada hubungannya dengan mbak ines, yang bisa saja ternyata mbak ines memberitahukan pada mama kelakuannya selama ini sehingga penyakit mama kambuh.
"Ada apa sih deo?" sungut ines tidak suka. jujur saja setelah kejadian seminggu lalu, ines sudah hilang respect pada nadeo.
"Mbak, mbak gak ceritakan sama mama masalah kemaren?" tanya nadeo was-was.
"Ya iyalah mbak pake nanya lagi"
"Kenapa takut?, kalau kamu berani nikahin perempuan ****** itu, berarti kamu juga berani kalau pada akhirnya semua tau, termasuk juga mama, iyakan?"
"Mbak pleas, jangan bahas ini sekarang. aku cuma pengen mastiin, mama sakit bukan karna mbak yang kasih tau semuanya kan?"
"Aku bukan kamu deo, yang rela egois hanya demi kebahagian diri kamu sendiri tanpa mikirin perasaan mama. walau sebenarnya mbak kecewa dan kesal sama kamu, tapi mbak tahan, itu demi mama. bukan seperti kamu yang demi ****** itu rela mengorbankan perasaan mama" jelas ines panjang.
"Iya mbak, akau tahu aku salah. kita bahas masalah ini lain kali ya?" bujuk nadeo pada ines yang sudah emosi.
__ADS_1
Nadeo juga sudah sedikit lega, rupanya kakak perempuannya tidak membeberkan kesalahannya pada mama. entahlah, pernikahannya dengan raya bisakah disebut kesalahan karna tanpa restu. lalu bagaimana jika ia dan raya nekat berzina?, bukankah ini yang dinamakan kesalahan. toh dalam agama juga diperbolehkan berpoligami asal adil, hanya saja nadeo tidak adil. nadeo juga pusing memikirkannya. yang terpenting sekarang adalah mama tidak mengetahuinya, karna kalau sama ia tahu, pasti ia akan menyumpahi nadeo anak durhaka.
Sebenarnya nadeo juga tidak ingin berada di posisi ini. tak menikahi nabila, mamanya pasti akan marah dan kecewa. tak menikahi raya, dirinyalah yang kecewa dan tak mampu hidup tanpa raya.
"Mbak gak pernah mau bahas tentang perempuan itu. mbak cuma pengen kamu tinggalin dia, kalau kamu masih mau lihat mam hidup" perintah ines diiringi sebuah ancaman.
"Enggak semudah itu mbak"
Jujur saja nadeo tidak mau meninggalkan raya, cintanya sudah terlampau besar pada istri keduanya itu.
"Saat menikinya mudah, kenapa ninggalinnya susah, atau karna kamu lebih sayang dia dari pada mama, dan kamu lebih memilih kehilangan mama dari pada kehilangan ****** itu. iya begitu?" cecar ines tak sabar.
"Gak gitu mbak. pernikahan itu bukan main-main, bisa nikah cerai seenaknya" bantah nadeo. sepertinya kakaknya sudah tak waras.
"Lalu kenapa bisa kamu mempermainkan pernikahan kamu dengan nabila. perempuan yang baik dan gak salah apa-apa?" ines menyerang balik. telak!.
Nadeo diam tak bisa menjawab lagi, kakaknya sangat hebat dalam berdebat, ia kalah telak.
"Kamu gak bisa jawabkan?" tambah ines diiringi senyum ketus.
"Sudahlah mbak, cukup. aku mohon jangan bahas ini lagi, aku takut mama denger" ucap nadeo khawatir.
"Terserah, mbak sudah tidak menganggap kamu sebagai adik lagi. mbak sangat teramat kecewa sama kamu, dikasih berlian kok mungut sampah" geram ines seraya pergi.
"mbak bisa ngomong gitu karna mbak gak pernah di posisi aku. ini berat untuk aku mbak, raya udah menemani aku bertahun-tahun, gak mudah bagi aku" lirih hati nadeo.
__ADS_1
Nadeo tahu kalu dirinya salah. apa yang ia tanam, itulah yang sedang dipetiknya sekarang, dan itu belum seberapa, ini masih sangat panjang. kakaknya yang dulu dijadikan sebagai tempat curhat kini sudah tidak mau peduli dengannya. padahal dulu mbak ines adalah orang pertama yang paling takut jika terjadi sesuatu padanya. apakah nadeo masih bisa mengembalikin kepercayaan kakaknya seperti dulu lagi?