Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Mencintai Nabila


__ADS_3

"Ini!"


Egy menyodorkan kertas pada Nabila.


Hari ini mareka bertemu di sebuah cafe minimalis yang ada di kota.


"Apa ini?" Tanya Nabila. "Paket tour wisata?"


Egy mengangguk.


"Maksudnya?" Nabila menaikkan sebelah alisnya.


"Biar kamu bisa refreshing sebentar. Kamu udah ngalamin banyak hal yang berat. Saatnya kamu lepasin itu semua dengan cara liburan."


Nabila tampak berpikir sebentar. Ia menimang-nimang saran dari Egy. Egy ini terlampau baik sudah padanya. Dengan apa ia bisa membalas semua kebaikan Egy.


"Udah gak usah dipikirin. Biaya udah di tanggung semua. Kamu butuh loh liburan, biar gak stres terus-terusan. Liat diri kamu, cuma tinggal kulit nempel di tulang. Sesekali sayangi diri sendiri dong Bil."


"Tapi mas-"


"Gak usah tapi-tapi. Kamu kan kemaren juga habis keguguran. Tubuh kamu lelah banget Bil, kayaknya memang butuh seneng-seneng dulu."


"Bahagiain diri sendiri sekali-kali gak papa kan?" Tambah Egy.


Bibir Nabila melengkung ke atas. Betapa pria di depannya ini sangat pandai mengambil hatinya. Ia tak pernah gagal membuat dirinya tersenyum. Ada saja tingkahnya yang membuat Nabila ingin memujinya terus.


Tapi dari sekian wanita, kenapa harus dirinya yang dipilih? Padahal ia tampan, banyak uang, itu gak diragukan lagi. Kenapa harus dengan dia, yang masih menjadi istri orang lain? Kadang Nabila bertanya-tanya begitu. Tak mungkin tak ada wanita yang menyukainya.


"Mas?"


"Heum"


"Kenapa Mas ngetreat aku like a queen?"


"You are a queen to me."


Jawaban Egy sukses menciptakan senyuman di bibir Nabila. Makin kesini, Egy makin membuatnya kesem-sem.


Nabila terharu akan perhatian Egy padanya. Padahal berkali-kali sudah Nabila menyakiti pria itu. Tapi dengan berbesar hati pria itu masih mencintainya. Terkadang Nabila merasa takut. Takut jika ia tak bisa membalas perasaan Egy. Takut Egy kecewa lagi. Takut Egy terluka lagi.


"Makasih Mas." Ucap Nabila tulus. "Mas Egy selalu ada saat aku butuh."

__ADS_1


...****************...


Nadeo turun dari kobik dan bergegas untuk masuk ke super market. Nadeo memilih beberapa barang yang ia perlukan. Ia juga ingin membeli beberapa makanan untuk Nabila. Mulai sekarang ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Nabila sebagai suami istri. Nadeo ingin mempertahankan rumah tangganya. Ia telah bertekad untuk mengambil hati Nabila.


Sedang asik memikih snack ringan, Nadeo dikejutkan dengan tepukan di bahunya. sontak Nadeo berbalik ke arah orang yang menepuknya. Nadeo merasa menyesal telah penasaran, dan berbalik melihat orang tersebut. Waktunya rugi beberapa detik.


"Kebetulan ketemu di sini." Ujar orang tersebut.


Nadeo memutar bola matanya malas. Benar kata pepatah, dunia begitu sempit.


"Ada perlu apa? To the point" Tegas Nadeo tak suka. "Gue gak punya waktu lama buat ladenin lo."


"Waw!!" Seru Egy dengan nada meledek.


Iya. Orang itu adalah Egy. Musuh bebuyutan Nadeo.


"Gue cuma mau ucapin bela sungkawa atas meninggalnya Mama lo! Gimana pun juga, Tante Ningrat itu sudah aku anggap seperti keluarga sendiri. Maaf kemaren gak sempat datang."


"Gak usah sok bersimpati. Gue gak butuh simpati dari lo!"


"Gak papa kalau lo berpikiran seperti itu. Tapi gue tulus kok. Gue gak sok bersimpati."


"Gue tau ada hal yang pengen lo katakan. Langsung aja!"


"Tinggalin Nabila!" Tegas Egy.


Nadeo tersenyum remeh. "Ck! Apakah Egy Al-Vikri seorang CEO di ASHER GROUP tidak pernah keluar?" Ejek Nadeo, "Mengapa dari sekian banyak perempuan, ia hanya bisa melihat istri orang saja? Apa memang sudah hobinya merebut milik orang lain?"


Egy geram akan kata-kata Nadeo.


"Pleas Deo, jangan egois!" Tegas Egy lantang. "Nabila gak bahagia sama lo!"


"Tau apa lo soal kebahagiaan Nabila?" Sanggah Nadeo cepat.


"Gue tau semua tentang Nabila. Mulai dari hal yang disukai hingga tidak disukai. Mulai dari kebahagiaan dia, sampai yang menyakiti dia. Gue perjelas! Lo adalah orang yang menyakiti dia!"


"Jangan asal ngomong lo! Gue suami dia."


"Status lo boleh suami dia. Tapi gue jadi pengen tau, ada gak yang lo ketahui dari Nabila?"


Nadeo diam. Benar. Ia tak tahu apa-apa tentang perempuan itu. Hal-hal kecil saja tidak ada yang ia tahu dari Nabila. Walau bertahun-tahun sudah bersama Nabila, tapi ia tak mengetahui apa pun tentang perempuan itu.

__ADS_1


"Gue mau tanya dari hal yang kecil. Apa sih makanan kesukaan Nabila?"


Bahkan makanan kesukaan Nabila saja ia tidak tahu. Nadeo hanya mampu diam, menahan emosinya.


"Gak ada kan? Lo gak tahu apa-apa kan tentang Nabila?" Ledek Egy. "Memang Nabila gak pantas buat lo. dan seharusnya Nabila gak pernah ketemu sama lo. Sayang, takdir telat mempertemukan kami."


"Jangan terlalu bermimpi"


Egy menyeringai. "Tolong Deo tinggalin Nabila. Biarin Nabila bahagia sama gue!"


"Gak! Gue akan tetap perjuangin dia sebagai istri gue!" Tolak Nadeo. "Gue mulai sadar kalau ternyata selama ini gue sayang sama dia!"


"Dan gue akan rebut dia dari lo!"


"Ok. Mari bersaing, kita lihat siapa yang akan menang. Lo atau gue?" Tukas Nadeo dengan menunjuk dirinya dan Egy.


...****************...


Pagi itu setelah Nabila membuat sarapan untuk Nadeo, ia segera mengambil kopernya. Koper yang sudah ia siapkan dari semalam.


Nadeo yang baru keluar kamar nampak heran melihat Nabila yang turun dengan satu koper di tangannya. Semuanya mengingatkan kembali Nadeo pada Raya, yang saat itu pergi juga dengan koper di tangannya. Apakah kejadian itu akan terulang lagi? Mau kemana Nabila? Apa dia mau pergi juga? Mau meninggalkannya juga?


"Aku sudah buat sarapan Mas. Itu pun kalau Mas mau!" Sengaja Nabila menekan kata-katanya.


Mengingat hubungannya dengan Nadeo yang sempat tak baik dan Nadeo yang tak pernah mau makan masakannya. Jadi tak salah kan kalau Nabila berpikiran seperti itu?


"Iya.Tapi kamu mau kemana? Kok bawa-bawa koper?"


"Oh Maaf, aku lupa bilang sama Mas. Aku mau liburan tiga hari. Maaf ya Mas? Aku belum terbiasa bilang sama Kas. Karna sedari dulu Mas kan selalu ngebebasin aku. Aku minta izin pun Mas gak peduli!"


Ucapan Nabika sukses membuat nyali Nadeo menciut. Sebegitu tidak pedulikah dulu ia pada Nabila? Mengapa rasanya sakit ya mendengar Nabila berucao begitu.


"Aku butuh sedikit liburan Mas! Aku mau melepas penat dari masalah ini. Lagian ini juga paket liburan gratis dari perusahaan." Kata Nabila diiringi senyum. "Sayang kalau gak di gunakan."


"Owhh. Kalau kamu mau liburan lagi, aku kau kok temenin kamu."


Telat! Kenapa gak dari dulu kata itu keluar dari mulutnya?


"Iya Mas!"


"Aku berangkat ya?"

__ADS_1


Nadeo mengangguk. Setelah menyalami Nadeo dan diantar hingga ambang pintu. Nabkla pun melangkah pergi.


"Kamu selangkah lebih jauh dari aku Gy. Rupanya cepat juga ya kamu?" Gumama Nadeo.


__ADS_2