
Malam ini mareka makan malam bertiga. Nabila, Nadeo juga Raya. Jika dulu perhatian Nadeo selalu tertuju pada Raya, maka kalian sekarang pasti tahu, Raya bukan lagi prioritas utama Nadeo. Sejak kehamilannya Nabila, Nabila dengan mudahnya menyingkirkan posisi Raya di hati Nadeo. Tak ayal, banyak perlakuan manis yang dulunya diberikan Nadeo pada Raya kini beralih pada Nabila.
Ah tidak, Nabila tidak pernah berniat melakukan itu. Apalagi menyingkirkan Raya, sungguh itu tidak pernah terlintas di pikirannya. Dia juga tidak berharap akan posisi itu setelah hampir empat tahun bersama dengan Nadeo. Ia sudah ikhlas bila Nadeo dimilit seutuhnya oleh Raya.
Tapi, ya begitulah. Takdir seolah tak mau berhenti mempermainkan Nabila. Ia yang sudah punya tekad kuat untuk berpisah dengan Nadeo, malah sekarang hamil anak pria tersebut. Kalian pasti tahu bagaimana kesalnya Nabila saat pertama kali mengetahui dirinya hamil. Bahkan ia punya niat jahat yang sudah ia cancel, menggugurkannya. Untungnya ia cepat sadar, bahwa itu adalah perbuatan dosa, dan syukurnya juga ia tak termakan bisika setan.
Dengan kehamilannya saat ini perasaan Nabila benar-benar cepat berubah. Entah ini juga termasuk hormon kehamilannya. Bayangkan saja, saat ia diperlakukan manis oleh Nadeo, tidak munafik ia bahagia, walau kerap kali ia menyangkalnya. Tapi ia memang benar bahagia dan terkadang bahkan ia juga menikmatinya. Tapi saat dihadapkan pada situasi yang di dalamnya ada Raya, ia menjadi merasa bersalah, merasa menjadi perempuan yang kejam yang telah teganya merenggut kebahagiaan perempuan lain. Dan yang paling menyesakkan dada, ketika ia harus melihat Bosnya. Itu pun akan selalu diliputi rasa bersalah yang lebih besar lagi, sedih, bahkan pernah juga Nabila meratapi nasibnya, mengapa ia harus hamil? Dan membuat Egy kecewa. Sungguh itu adalah satu perasaan dilema.
Setelah makan malam selesai, seperti biasa Nabila pasti ingin membereskan meja makan dan juga mencuci piring. Dan kembali ia langsung mendapat teguran dari sang suami. Nadeo sangat posesif terhadapnya. Ia tak boleh mengerjakan apa pun, kadang sikap Nadeo sering juga membuat Nabila jengah. Tak boleh ini, tak boleh itu. Nabila merasa seperti anak kecil, yang harus di awasi dan diwanti-wanti setiap saat. Nadeo benar-benar ngetreat Nabila like a queen.
" Udah sana, istirahat!" Ucap Nadeo ketika Nabila bersikukuh ingin membantu Raya. Tapi kalimatnya terdengar lebih ke memerintah.
Nabila nampak tek terima terlihat dari wajahnya, dan itu disadari oleh Nadeo.
"Biar Mas saja yang bantu. Kamu langsung istirahat, gak boleh lagi main Hp!"
Tuh kan, Nadeo ini kadang bersikap seperti seorang Ayah yang sedang menjaga anak gadisnya, sampai main HP saja tidak boleh. Ah..., Nadeo memang seperti mengingatkan Anak kecil saja.
__ADS_1
Tanpa niat membantah lagi, Nabila pun menuruti perintah dari paduka suaminya. Harus kalian ketahui bahwa Nadeo ini punya sifat yang dominan, dan keras kapala, kalian pasti menyadari itu kan? Ia tak suka dibantah Lagian tak ada gunanya juga membantah ucapan pria keras kepala ini. Sekali ia mengatakan A, maka sulit di ubah menjadi B. begitulah kira-kira.
"Ray, aku gak suka kamu marah-marah ke Nabila." Ungkap Nadeo datar setelah kepergian Nabila.
Deg!!
Raya yang sedang membereskan meja makan langsung memealingkan wajahnya menatao Nadeo heran dan penuh tanda tanya. Apa katanya tadi? Marah? Raya merasa tak pernah marah kepada siapa pun, termasuk Nabila.
"Gak usah pura-pura gaj tahu, aku liat kok gimana tadi siang kamu narah-marah saat Nabila ngajak kamu makan." Jelas Nadeo seolah menjawab pertanyaan di benak Raya. Dari wajah Raya dapat di simpulkan bahwa ia ingin berkilah, sengaja Nadeo berkata begitu, agar perempuan di depannya sadar di mana letak kesalahannya.
Astaga! Jadi tadi siang Nadeo menguping? Tapi Raya tak merasa memarahi Nabila. Ya, memang di akui tadi Raya sedikit sentimental, dan sedikit berbicara dengan nada kasar pada Nabila. Tapi sungguh, ia tak berniat begitu. Dan tak tahu juga bahwa hal itu membuat Nadeo tak menyukainya.
"Justru karna aku mendengarnya, jadi aku bisa menyimpulkannya."
"Aku gak ngelakuin itu Mas!"
"Kamu gak ingat tadi, gimana kasarnya kamu ngomong ke Nabila?" Dengan nada sedikit tinggi. "Nabila tadi berniat baik, ngajakin kamu makan siang. Tapi kamu jawabnya kasar banget. Harusnya kalau kamu emang gak mau, cukup bilang baik-baik, gak perlu bicara kasar. Harus banget ya ngomong kasar? Emang pernah Nabila ngomong kasar sama kamu?"
__ADS_1
Raya menarik napas dalam. "tapi.."
Ucaoannya dipotong Nadeo. "Udahlah Ray, kalau kamu memang merasa caoek ngurusin rumah, aku bisa cari pembantu kok! Sedari dulu aku memang aku mau cari ART, tapi kamu selalu ngelarang dengan dalih kamu suka melakukan ini semua. Tapi sekarang aku lihat kamu mulai kelihatan kesal melakukan ini semua. Kanapa?"
"Aku gak merasa seperti itu!"
"Karna aku gak izinin Nabila bantu kamu? Kamu harus ngerti, dia hamil! Gak mungkin dia lakuin ini semua. Atau jangan-jangan kamu iri sama Nabila karna dia bisa hamil, sedangkan..."
"Gak Mas, kamu salah paham."
"Salah paham gimana? Tadi jelas-jelas aku lihat kamu kesal saat Nabila gak jadi bantuin kamu." Nadeo mulai berang.
"Kadang aku jadi berpikir, mungkin ini alasan Mbak Ines gak suka sama kamu. Kamu keras kepala. Kamu gak bisa bersikap lembut seperti Nabila, pantas saja selama ini Mbak Ines mengagung-agungkan Nabila."
Kenapa tiba-tiba jadi membandingkannya dengan Nabila? Ini tidak adil.
Raya berdiri mematung. Kata-kata Nadeo tadi sukses menusuk sampai ke ulu hatinya. Nadeo bersikap seolah-olah Raya tak lagi dibutuhkannya, dan siap ia depak kapan saja ia mau. Lupakah Nadeo bagaimana dulu ia bersujud, memohon-mohon agar Raya mau menikah dengannya? Di rasa sepertinya Nadeo sudah lupa akan itu semua dan tergantikan dengan kehamilan Nabila. Coba saja jika dirinya yang hamil? Agrhhh sialnya ia hanya wanita malang yang mandul.
__ADS_1
"Dan aku harap, kamu tidak sedang memisahkan aku dengan anakku! Aku gak akan biarin itu!" Setelah mengucap itu, Nadeo berlalu begitu saja.
Puas? Puaskah ia sekarang? Ia berhasil menyakiti Raya, baik dengan sikapnya atau ucapannya. Di rasa, Raya sudah tak seberharga dulu. Sepertinya menerima kontrak kerja ke Paris bukanlah hal yang buruk, setelah melihat ini semua. Tidak ada satu alasan yang kuat yang membuat Raya bisa bertahan dengan rumah tangganya sekarang ini.