Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Rival Datang


__ADS_3

Pagi-pagi Nadeo sudah menyodorkan setangkai mawar pada Nabila. Nabila mengerutkan keningnya heran. Ada apa dengan laki-laki itu? Kesambet apa dia semalam?


"Apa ini Mas?" Tanya Nabila dan menerima mawar merah itu.


"Ya bunga lah! Bunga mawar."


"Buat apa?"


"Ya buat kamu dong Nabila."


"Aneh!"


"Kok aneh? Kan kamu suka bunga mawar."


Nabila menggeleng dan tersenyum. Ada yang aneh menurutnya. Sejak kapan Nadeo tahu kalau ia suka pada mawar.


"Iya, tapi dalam rangka apa aku di kasih bunga? Gak jelas banget!"


"Dalam rangka mengejar cinta Nabila."


Nabila tertawa. Apa kah Nadeo lupa, bahwa mareka tidak lama lagi akan sidang perceraian?


"Ya udah, makasih deh, tapi Maa gaknpetik di belakang rumah kan?"


"Enggak lah!" Jawab Nadeo cepat. "Kamu nih ada-ada aja pikirannya. Kata Soegi kamu suka mawar, jadi aku minta beli ke tetangga depan sana."


"Ya sudah sekali lagi makasih deh,Mas udah repot-repot beli bunga buat aku."


Nadeo mengangguk.


"Aku mau belanja dulu. Mas gak papa kan aku tinggal?" Tanya Nabila.


"Aku ikut!" Pinta Nadeo manja.


"Ya udah kalau mau ikut. Mas siap-siap terus." Pasrah Nabila. Rasanya seperti menghadapi anak kecil saja.

__ADS_1


"Mbak ada tamu untuk Mbak!" Seru Soegi yang menghampiri Nabila.


"Siapa?" Tanya Nabila penasaran.


"Gak tahu, kayaknya kawan Mbak. Ganteng orangnya."


"Laki-laki?"


"Ya iyalah Mbak. Masak perempuan ganteng."


Nadeo jadi penasaran, Nabila lebih lagi. Nabila pun bergegas berlari ke arah pintu.Ia penasaran, siapa orang yang sedang mencarinya. Kata Soegi temannya.Teman yang mana? Seingat Nabila ia tak dekat dengan laki-laki mana pun saat sekolah.


Siapa yang sedang mencarinya?Kawan SMPnya? Ah.., rasanya tidak mungkin. Atau kawannya yang di jakarta? Tapi untuk apa?


Nabila membuka pintu untuk menjawab rasa penasarannya. Laki-laki tamoan tersebut melemparkan senyum manisnya pada Nabila. Dan tidak mungkin Nabila tidak membalasnya. Tapi benarkah laki-laki ini nyata?


"Masuk Mas!" Nabila mempersilakan tamunya masuk.


Kalian penasaran tidak siapa tamunya? Egy. Iya Egy. Egy datang jauh-jauh dari jakarta untuk menyusul Nabila. Hatinya was-was mengetahui Nadeo menyusul Nabila.


"Harusnya aku yang tanya itu." Sahut Egy.


"Ck! Dia istri aku, pantaslah!"


"Jangan lupa, calon mantan istri." Balas Egy sengit.


"Ih... udah-udah, masuk Mas Egy."


Setelah Egy masuk, ia di persilakan duduk di sofa ruang tamu. Lalu Nabila membuatkan minuman untuk tamunya, juga untuk Nadeo. Setelah itu Nabila duduk di single sofa.


"Minum Mas!"


"Iya makasih Bil."


Nadeo juga yang berada di situ memutar bola matanya malas. Ia duduk di sigle sofa satu lagi, dan berhadapan dengan Nabila, walau agak jauh. Dalam hati Nadeo berkata untuk apa si bedebah ini datang, mengacaukan acara PDKTnya pada Nabila.

__ADS_1


"Mas kok tahu aku tinggal di sini?" Tanya Nabila.


"Harus banget aku jawab ya?" Egy balik bertanya.


"Ya iti sih kalau Mas mau jawab." Nabila mencari jawaban aman.


"Kamu kayak gak tahu aku aja. Apa sih yang gak aku tahu tentang kamu?"


Jangan kalian tanya bagaimana perasaan Nadeo. Ia bagaikan cacing kepanasan melihat interaksi Nabila dan Egy yang begitu akrab.


Tak berselang lama, datanglah Pakde, Bude dan Soegi.


"Siapa ini Bil?" Tanya Bude dengan senyum di wajah.


Tahu senyum Bude di tujukan untuk Egy. Egy membalas senyum tersebut, ia bangkit dan menyalami Pakde dan Bude. Pakde dan Bude bergabung di sofa. Sedangkan Egy masuk ke dalam kamar.


"Yang Nabila ceritain kemarin ya?" Tanya Bude lagi.


Nabila mengangguk dan tersenyum malu-malu.


"Apa? Yang diceritain kemarin? Itu artinya Nabila udah cerita tentang Egy ke Pakde dan Bude? Sial! Ini gak boleh dibiarin" Umpat Nadeo.


"Lama sudah sampai?" Tanya Pakde ramah.


"Baru Pakde." Jawab Egy tak kalah ramah.


"Mana Pakde ramah banget lagi sama dia. udah ngerasa menang banyak tuh orang!"


Dan Nadeo di sini tidak ada fungsinya sama sekali. Ia bagaikan barang pajangan.


"Geulis pisan atuh!" Puji Bude. Dan Egy membalas dengan terimakasih.


"Geulis? geulis dari mana? gantengan kemana-mana juga gue. Kayaknya Bude perlu di kasih kaca mata nih. matanya rabun, orang modelan gitu dibilang geulis."


Nadeo memutar bola matanya malas.Iasama sekali tidak di ajak dalam obrolan itu.

__ADS_1


__ADS_2