Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Menjauh


__ADS_3

Sepulang dari mengantar Nabila, Egy segera pulang ke rumah. Ia akan meminta penjelasan pada Mamanya akan sikap yang diberikan pada Nabila tadi.


Kesan pertama dari perkenalan sudah tidak bagus. Mamanya melayangkan hinaan pada Nabila. Apa sebab dibalik semuanya itu? Apa yang membuat Mamanya begitu tega pada Nabila? Egy benar-benar butuh penjelasan.


Sesampainya di rumah, Egy langsung menghampiri Mamanya yang masih duduk di ruang tamu, tapi kini sudah bertambah, ada Papanya juga yang sepertiny baru pulang. Mareka tak menyadari kedatangan Egy.


"Bik, tolong buang rantang ini ya?" Perintah Bu Yura pada pembantu yang baru datang menghampirinya. Dan pembantu itu mengangguk sopan, baru saja tangannya ingin meraih rantang itu, tapi sudah ada yang melarangnya.


"Hentikan Bik!" Teriak Egy.


Pembantu yang dipanggil Bibik itu segera mengurungkan niatnya tadi. Ia jadi mundur dua langkah ke belakang. Sebenarnya ia juga bimbang. Bu Yura menyuruhnya membuangnya, sedangkan Egy melarangnyanya. Walau dipikir-pikir sayang juga rantang yang berisi rendang itu dibuang.


"Bibik boleh pergi." Ujar Egy ketika sudah berada di samping Mamanya.


Bibik pun segera permisi ke belakang, ia cukup tahu diri untuk tidak mendengar permasalahan yang sedang ada dalam rumah tempat ia bekerja ini.


"Kalau Mama gak mau, biar aku yang makan. Jangan pernah Mama buang. Mama gak tahu seberapa capeknya Nabila bikin ini Ma." Sungut Egy.


"Mama kan gak pernah suruh." Jawab Bu Yura santai tanpa rasa bersalah.


"Aku gak suka Mama seperti tadi." Protes Egy.


"Kamu berubah hanya karna janda itu?" Tanya Bu Yura dengan nada tersinggung. Ia tak suka Egy lebih berpihak pada Nabila dibanding dirinya, Ibunya sendiri.


"Mama yang berubah!" Jawab Egy penuh penekanan. "Apa coba maksud Mama bersikap seperti itu pada Nabila tadi?"


"Dia memang pantas diperlakukan begitu."


"Maksud Mama?"


"Dia hanya janda materialistis Egy, apa kamu gak sadar?"


"Kenapa Mama asal berasumsi? Mama gak tau kenyataannya."


Bu Yura dan Egy sibuk berdebat, Sedangkan sang Papa yaitu Pak Joy yang berada di seberang sofa masih diam. Pun Putri yang duduk di samping Bu Yura, ia masih menjadi penonton perdebatan itu. Tapi ini semua berpunca karna ulahnya.


"Mama gak bodoh Egy. Sebelum kamu bawa perempuan itu kemari, Mama sudah lebih dulu mencari tahu asal-usul dia dan kehidupan dia. Dia sama sekali gak pantas untuk kamu."


Egy menggeleng, tak setuju dengan pendapat Mamanya. "Gak Ma! Mama belum kenal Nabila," Egy menoleh pada sang Papa, berharap Papanya berpihak padanya. "Pa..., kasih tahu Mama Pa, aku cinta sama Nabila Pa."


Sayang sekali, Papanya yang biasanya akan berpihak padanya tiapa kali ia berbeda pendapat dengan Bu Yura, tapi kali ini tak lagi berpihak padanya. Pak Joy menggeleng.

__ADS_1


"Maaf Egy, kali ini Papa sependapat dengan Mama kamu." Ucap Pak Joy.


Egy menghela napas kasar. Ia tak habis pikir, mengapa tak ada yang mau mengerti dirinya?


"Coba kamu lihat di sekitar kamu, ada perempuan yang lebih dari dia." Tambah Pak Joy.


Egy menggeleng. Ia tak mau menerima saran apa pun. "Papa belum ketemu sama dia, kenapa Papa bisa langsung gak setuju?"


"Dia kerja di perusahaan Papa, gimana Papa gak kenal dia?"


"Pa..." Lirih Egy.


"Sadar Egy, dia hanya seorang janda. Andaikan kamu duda, itu lain cerita. Kamu belum pernah menikah, masa kamu dapat bekas orang?" Sergah Bu Yura.


"Mama masih mempermasalahkan status di era sekarang?"


"Bukan hanya status. Tapi dia memang gak pantas buat kamu."


"Lantas siapa yang pantas buat aku Ma?" Teriak Egy dengan suara keras sampai urat lehernya terlihat.


"Putri!" Jawab Bu Yura tak kalah keras. "Buka mata kamu lebar-lebar Egy, ini ada Putri yang lebib pantas untuk kamu."


"Enggak!" Tolak Egy langsung.


Ada nyeri di hati Putri ketika Egy menolaknya. Padahal sudah berkali Egy menolaknya, tapi rasanya tetap sama, sangat sakit, bahkan bertambah sakit. Rasanya benar kata Nabila, Egylah yang mengejarnya. Sebegitu kuatkah pesona Nabila? Hingga Egy tak mampu melihatnya.


"Kalau Mama gak restuin hubungan aku dan Nabila, jangan coba-coba jodohin aku denga. orang lain, siapa pun itu!" Tegas Egy.


Setelah mengucap itu, Egy mengambil rantang yang masih menganggur di meja itu. Kemudian Egy berlalu pergi tanpa menoleh lagi.


"Sejaj kenal perempuan itu, kamu jadi pembangkang!" Teriak Bu Yura emosi.


"Tante, biarin aja dulu. Mas Egy juga butuh waktu." Kata Putri sembari mengelus punggung Bu yura, seolah di dalam masalah ini, ia adalah seorang pahlawan. Padahal kekacauan yang terjadi sekarang adalah ulahnya.


Iblis bertopeng malaikat, itulah Putri.


...****************...


Setelah kejadian tempo hari, hubungan Egy dan orang tuanya berubah total. Hubungan mereka merenggang, dan semakin tidak baik. Egy yang jarang pulang ke rumah, atau saat di rumah ia hanya menghabiskan waktu di dalam kamar tanpa mau di ganggu. Bahkan ia tak lagi sarapan, atau makan malam bersama. Dan hak itu membuat orang tua Egy bertambah berang terhadap Nabila. Mareka menganggap yang terjadi sekarang ulah Nabila. Nabilalah yang membuat Egy berubah. Tak sampai di situ, mareka menagnggap Nabila telah menghasut Egy.


Tak jauh berbeda. Begitu pula hubungan Egy dengan Nabila. Perempuan itu kembali menjauhinya pasca penolakan kemarin. Padahal jika dipikir-pikir, tinggal selangkah lagi sudah berhasil. Tapi restu dari orang tua Egy membuat semuanya gagal.

__ADS_1


Egy mengirim banyak sekali karangan bunga ke rumah Nabila. Berharap perempuan itu luluh dan mau memaafkannya. Bukan memaafkannya, tapi lebih tepatnua memaafkan sikap orang tuanya. Tapi wanita itu tak bergeming, ia masih mendiamkan Egy.


Egy tak putus asa, ia terus memikirkan cara apapun untuk meluluhkan Nabila. Beberapa kali juga Egy memanggil Nabila ke ruangannya, tapi malah Nabila yang mengancamnya. Jika Egy terus mengganggunya, maka ia akan reaign.


"Bil, tolong jangan gini," Rengek Egy, " Jangan diemin aku terus."


Siang itu Egy kembali memanggil Nabila ke ruangannya. Berharap cara ini, kali ini ia berhasil.


"Kamu mau aku berlutut?" Tanya Egy, dan dibalas dengan mata yang melotot oleh Nabila. Artinya ia tak setuju dengan keinginan Egy.


Egy yang di posisi berdiri, kini berlutut di depan Nabila. Ia benar-benar gila pada Nabila. Sejujurnya Nabila sangat malas dengab situasi seperti ini, sebab ia masih sakit hati dengan segala hinaan yang keluar dari mulut Bu Yura.


"Bangun Mas!" Nabila sedikit menarik tangan Egy untuk bangun, tapi Egy tak mau.


"Aku gak mau bangun kalau kamu belum maafin aku."


Nabila membunag napas. "Mas gak salah! Kenapa harus Mas yang minta maaf?"


"Gak Bil! Kamu harus janji untuk gak pergi dari sisi aku." Bukan itu jawaban yang Nabila harapkan.


"Jangan kekanak-kanakan Mas! Aku udah dewasa, Mas Egy apalagi." Kata Nabila. "Toling jangan begini."


"Anggap saja Mas sudah berubah menjadi anak-anak." Tandas Egy. "Janji untuk gak pergi dari sisi aku?"


"Heum.." Sahut Nabila terpaksa.


Sebuah senyum terukir di bibir Egy, akhirnya Nabila luluh juga. Mengingat betapa frustasinya Egy kemarin saat Nabila mendiaminya. Rasanya itu cukup membunuh Egy secara perlahan.


"Sekarang bangun Mas!"


Egy segera bangun. "Makasih Bila."


Egy menggenggam tangan Nabila. "Aku janji akan dapatkan restu Mama, jangan berpaling ya?"


Nabila tak merespin. Sebenarnya ia cukup malas berurusan dengan kisah cinta yang rumit.


"Bilang iya bil!" Desak Egy.


"Heum."


Maaf ya readers ku semua. Yang tanya kenapa Up nya sedikit. Author benar-benar sangat sibuk. Tapi aku tetap janjiin update satu bab perhari, dan aku usahain. Terimakasih yang sudah mau baca. Komen terus ya biar authornya semangat nulisnya.

__ADS_1


__ADS_2