Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Dewa Penyelamat


__ADS_3

"Nabila!" Teriak seorang laki-laki di ambang pintu.


Mawar yang ada di tangan pria itu jatuh. dan pastilah Nabila sempat melihatnya. Tapi untuk saat ini ia tak bisa memikirkan mawar itu. Ia harus segera lepas dari kungkungan Egy.


"Mas Deo! Tolong Bila!" Teriak Nabila.


Nadeo? Dia beneran ngancurin semua rencana aku!


Egy yang menyadari kedatangan Nadeo langsung saja menghampiri Nadeo, dan melepaskan Nabila.


"Jangan ikut campur!" Teriak Egy.


"Brengsek!" Nadeo meninjunya dua kali.


Egy tak mau kalah, lantas membalasnya dengan meninju muka Nadeo dengan begitu keras. Sedang Nabila yang melihat aksi tinju meninju itu memekik ketakutan. Beberapa kali ia berteriak agar Nadeo dan Egy menghentikan aksi adu ototnya.


"Gak gini caranya kalau lo sayang Nabila!" Geram Nadeo.


"Jangan sok suci! Ini juga cara lo dulu mempertahankan Nabila. Aku belajar sama kamu!"


"Tapi kamu tahu kan? pada akhirnya aku juga kehilangan Nabila. Aku rasa kamu juga akan tahu ending dari perasaan kamu!"


"Sialan!!" Teriak Egy dengan melayangkan pukulan pada Nadeo.


Tak terima. Nadeo membalas memberikan bogem mentah pada Egy juga menendangnya hingga Egy jatuh tersungkur ke lantai.


"Bangsat!!! Brengsek lo!!" Nadeo tak bisa berhenti menendang Egy yang bisa dikatakan hampir kalah.


"Mas! cukup Mas!" Teriak Nabila yang mulai menangis melihat mareka.


Nadeo segera berbalik ketika Nabila memanggilnya. Ia menghampiri Nabila yang duduk ketakutan dengan menekuk lutut. Baju Nabila sedikit koyak mungkin karna Egy yang memaksanya dan menarik bajunya. Kalau jilbab jangan ditanyakan lagi, memang sudah terlepas.


Nabila tak berhenti menangis.


"Kamu ada yang kenapa-napa?" Tanya Nadeo panik dan mengecek kondisi Nabila.


"Aku takut Mas!" Isak Nabila.


"Tenang, Mas udah ada di samping kamu sekarang."


Nabila mengangguk.

__ADS_1


Belum sempat Nadeo melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja Nabila menadorongnya dan..., Sebuah benda keras yaitu kursi menghantam Nabila.


Ulah siapa? Jelas Egy pelakunya. Tapu jangan salah paham, targetnya bukanlah Nabila, melainkan Nadeo. Namun tak disangkanya Nabila malah menggagalkannya dan membuat dirinya yang menjadi korban.


Alhasil setelah itu Nabila tak lagi mengingat apa-apa. Terakhir yang ia ingat, ia mendengar suara dua laki-laki yang memanggil namanya dengan keras.


...****************...


Nabila dilarikan ke rumah sakit oleh Nadeo. Ia takut terjadi cedera pada kepala Nabila. Untungnya kursi itu tak mengenai kepala Nabila, namun punggungnya.


Tak lama setelah berada di rumah sakit, Nabila sadarkan diri. Dan yang lebih untungnya adalah tak terjadi sesuatu yang seiru pada Nabila. Dan jika sampai itu terjadi, Nadeo tak akan bisa memaafkan Dirinya sendiri, apalagi Egy yang menyebabkan semua ini terjadi.


"Jangan banyak gerak Bil! Badan kamu pasti sakit semua." Kata Nadeo menahan Putri agar tak bangun.


"Mas?" Lirih Nabila.


Nadeo langsung mengikis jarak antaranya dan Nabila, ia duduk lebih dekat daripada sebelumnya.


"Maafin aku ya Bil? Baru kali ini Mas ngerasa gak berguna sama sekali."


Nabila menggeleng lemah. "Justru Mas berguna banget! Aku gak tau apa yang akan Mas Egy lakukan kalau Mas gak segera datang. Aku gak bisa ngebayangin." Kata Nabila dengan raut sedih membayangkan jika Nadeo tak menyelamatkannya.


"Tapi tetap saja kamu ngebiarin diri kamu celaka buat lindungin Mas!" Sesal Nadeo.


"Mana mungkin aku tega ngeliatin Mas untuk kedua kalinya celaka gara-gara nolongin aku."


"Jadi intinya kamu takut Mas terluka ya?" Goda Nadeo dengan senyum nakalnya.


Nabila yang malu memalingkan mukanya. "Bukan gitu ya? Aku cuma bayar hutang sama Mas karna nolongin aku. Lagian kalau Mas celaka, aku juga yang repot jagain Mas di rumah sakit, gak ada kerjaan banget." Balaa Nabila sewot.


Nadeo tersenyum. "Iya deh iya, Mas percaya. Tapi kali ini kamu berhutang lagi sama Mas ya?"


Nabila memutar bola mata malas melihat Nadeo. "Aku gak nyangka ya? Mas perhitungan banget nolong aku." Ucap Nabila bercanda.


"Harus dong!" Balas Nadeo juga bercanda.


Mareka tertawa pelan bersama.


"Oh ya Mas? Ada hal yang ingin aku tanyakan sama Mas!"


"Tanya aja!"

__ADS_1


"Tapi Mas harus janji, jawab jujur ya?"


"Sebisaku Bil!" Jawab Nadeo yang berarti ia tak bisa berjanji.


Nabila diam sejenak.


"Mawar itu?"


Nabila mengingat mawar yang dibawa Nadeo saat ingin menolongnya, persis! Persis seperti mawar yang ia dapat selama ini. Maksudnya Nabila mendapatkan mawar itu setiap hari kamis, dan ini juga hari kamis. Apakah itu pertanda bahwa selama ini Nadeo adalah? Nabila sibuk menerka-nerka dalam hatinya.


Kecurigaan Nabila semakin kuat ketika mengingat juga ada sepucuk surat yang di legang Nadeo juga sama persis yang di dapatnya selama ini. Nadeo adalah penggemar rahasianya? Tapi untuk apa? Nadeo kan bisa mengatakan langsung tanpa harus cosplay menjadi laki-laki misterius yang membuat Nabila menjadi penasaran.


"Mawar itu Mas yang mengirimkannya?" Tanya Nabila lanhsung.


Nadeo diam sejenak, ia tampak berpikir keras.


"Mas?" Panggil Nabila lagi menuntut jawaban.


"Iya!" Jawan Nadeo akhirnya. "Selama ini Mas memang slalu mantau kamu Bil! Jangan salah paham dulu."


Nabila bingung harus memberikan ekspresi apa. Senang? Kesal? Atau malah sedih? Ia tak menyangka bahwa Nadeolah yang menerornya dengan bunga-bunga dan kata-kata cinta lewat aksara.


"Mas gak ada niat untuk jahatin kamu kok Bil!" Aku Nadeo, "Mas hanya ingin melihat apakah kamu baik-baik saja, tidak lebih dari itu."


"Tapi awalnya." Sambung Nadeo lagi.


"Mas pikir Mas akan merelakan kamu kepada Egy, jika memang kamu bahagia sama dia. Tapi, makin ke sini yang Mas kihat kamu hanya banyak mendapat ancaman, dari berbahai pihak."


"Jadi Mas putuskan untuk mengejar cinta kamu kembali."


Hah? Apa ini sebuah ungkapan. Tolong! Ini sama sekali gak romantis ya? Nabila bukan tersanjung tapi lebih ke terkejut juga bingung.


Dan yang Nabila tak habis pikir adalah, Nadeo masig selalu memperhatikannya. Mungkin itu sebabnya dia selalu menjadi dewa penyelamat untuknya.


"Maaf Mas aku gak tahu harus ngomong apa." Akhirnya ucap Nabila.


Jujur saja, ia juga tidak tahu apakah ia harus bagaimana. Apakah ia harus menolak Nadeo? Tapi kan Nadeo tak memintanya untuk bersamanya.


"Maaf kalau selama ini Mas gak jujur! Tapi itu adalah cara Mas mengungkapkan perasaan Mas sama kamu." Ujar Nadeo lagi.


Kini mareka terasa canggung. Seolag ada sesuatu yang masih terasa mengganjal dalam diri masing-masing. Dan anehnya bukannya malah merasa lega, Nadeo malah menjadi takut. Takutnya Nabila tak menyukai sikapnya yang selama ini tak jujur.

__ADS_1


__ADS_2