
"Lama tidak bertemu!" Ucap Nadeo ketika Egy sudah duduk di hadapannya.
Yupz! Setelah sekian lama, baru kali ini Nadeo dan juga Egy duduk bersama. Nadeo mengajak Egy bertemu di sebuah cafe yang tak terlalu jauh dari rumah sakitnya.
Tidak! Mareka tidak bertemu untuk melepas rindu. Melainkan ada hal yang harus diselesaikan berdua.
"Mau pesan minum?" Tawar Nadeo. "Aku yang traktir!"
"Tidak usah basa-basi, katakan saja apa yang ingib kamu katakan." Ucap Egy dengan nada kesal. Entah kenapa ia yang dulu begitu santai sekarang menjadi orang yang temprament sejak hubungannya dengan Nabila terancam gagal.
"Baiklah kalau kamu menolak niat baikku." Ujar Nadeo sambil mengedikkan bahu pelan.
Kendati begitu Nadeo tetap memesankan cappucino untuk Egy. Tak etis rasanya bila ia sendiri saja yang minum, padahal ialah yang mengajak bertemu.
"Katakan saja! Aku gak punya waktu lama-lama! untuk meladenimu" Ketus Egy.
Nadeo menyeruput kopinya sebentar.
"Baiklah! Aku rasa aku sudah cukup berpikir tentang ini." Kata Nadeo.
Egy mengerutkan keningnya.
"Setelah aku pikir-pikir lagi, aku akan merebut Nabila dari kamu!" Tambah Nadeo.
"Maksud kamu?" Egy ingin penjelasan lebih detail.
"Apa perkataan ku tadi kurang jelas?" Tanya Nadeo, "Haruskah aku mengatakan aku ingin rujuk lagi dengan Nabila?"
Oh no! Egy langsuk tidak terima dong niatnya Nadeo.
"Jangan coba-coba ganggu Nabilaku!" Tegas Egy.
"Aku gak ganggu dia." Kilah Nadeo santai.
"Sebaiknya simpan saja niatmu itu, karna itu tidak akan terwujud, dan aku gak akan biarkan itu terwujud." Kata Egy penuh penekanan.
"Awalnya aku sudah menyimpan niatku ini. Ku pikir, asal Nabila bahagia, bersama dengan mu pun tak apa." Tutue Nadeo pelan. "Tapi rupanya tidak! Dia hanya menderita bersamamu. Jadi aku putuskan untuk memperjuangkan dia kembali."
"Percaya diri sekali kamu. Kamu pikir Nabila akan langsung mau kembali sama kamu? Setelah apa yang udah kamu lakuin sama Nabila?
__ADS_1
"Lihat saja akhirnya, lagi pula ini salahmu sendiri!"
"Makaud kamu?"
"Andai kamu bisa menjaga Nabila dengan baik, aku pasti tidak akan melakukan ini."
"Tolong bicara dengan jelas! Jika yang kamu makaus adalah restu dari orang tuaku, dapat aku pastikan dalam waktu dekat ini aku pasti akan mengantongi restu dari mareka."
"Salah satunya juga itu! Aku rasa orang tua kamu juga terlalu kejam sama Nabila. Dan sayangnya bukan hanya itu saja yang terjadi pada Nabila, ia juga mendapatkan kekerasan fisik."
"Kekerasan fisik?" Ulang Egy.
"Jangan kira aku tidak tahu! Selama ini aku tidak muncul jangan beepikir bahwa aku diam dan tak melakukan apa-apa, aku selalu memantau Nabila." Jawab Nadeo.
"Bicara dengan jelas! Dari mana Nabila mendapatkan kekerasan fisik?" Berang Egy.
"Apa kamu belum tahu Nabila diculik?" Tanya Nadro mengejek. "Owh aku tahu, pasti kamu telat mengetahuinya."
"Gimana kamu bisa tahu itu?"
"Sudaj aku bilang tadi, aku memantau Nabila. Dan jangan lupakan aku sebagai dewa penolong ketika Nabila disekap. Dan kamu tahu siapa dalang di balik penculikan Nabila?"
"Ah..., aku sudah yakin, kamu pasti gak tahu!" Sindir Nadeo, "Otakmu itu terlalu pendek, sehingga untuk menyewa orang yang mau menyelidiki saja kamu tak terpikirkan. percuma uang banyak!"
Kata-kata Nadeo ada benarnya juga. Kenapa pila ia tidak menyewa seseorang untuk mwnyelidikinya? Ia kan punya uang banyak. Tapi sebenarnya bukan begitu, ia tetap yakin Mamalah yang melakukannya. Hanya perlu pengakuannya saja.
"Katakan siapa orangnya!" Berang Egy.
"Apa tidak ada orang yang kamu curigai?" Pancing Nadeo, "Ah biar ku beritahu saja, biar kamu gak penasaran.
Nadeo menatap Egy tajam, "Arif!'
"Arif?" Ulang Egy penuh tanya.
"Abangnya Putri." Jelas Nadeo.
"Putri?"
Rasanya kapala Egy mau pecah saat itu juga! Bagaimana ia tidak bisa curiga kepada perempuan itu sedikit pun. Benar-benar bodog! Egy ingin merutuki kebodohannya sendiri.
__ADS_1
"Jangan berpura-pura bodoh! Jelas kamu lebih tahu tentang Putri dibanding aku." Lontar Nadeo.
Egy masih nbelum bisa berkata-kata, karna nama Putri terua berputar di otaknya, hingga membuatnya mual.
"Harusnya aku menceritakan lebih awal tentang hal ini kepada kamu, biar tidak ada kesalah pahaman antara kita berdua, yang membuat kita bermusuhan selama beryahun-tahun." Tukas Nadeo.
"???"
"Aku ingat dulu bagaimana persahabatan kita. Bahkan aku menganggap mu bagaikan adikku sendiri. Namun semua itu harus kandas ketika kita memperebutkan seorang wanita, Raya." Nadeo menjeda sebentar.
"Sebenarnya dulu aku tak pernah mencintai Raya. Tidak mungkin aku mencintai wanita yang juga dicintai sahabatku, sungguh itu terlalu brengsek menurutku. Namun, aku terpaksa berpura-pura menyukainya untuk membuat Raya tetap aman dari segala ancaman Putri. Kamu tahukan bagaimana Putri berkuasa?" Nadeo melirik Egy sebentar, kemudian ia melanjutkan ceritanya lagi.
"Kamu tahu apa yang akan Putri lakukan jika Raya tetap kekeh bersama kamu?" Tanya Nadeo.
Egy tak menjawab, ia lebih fokus pada cerita masa lalu mareka.
"Putri akan kembali membuka kasus Raya yang menjafi mantan PSK!" Jawab Nadeo akan pertanyaannya tadi. "Dan kamu tahu sendiri bagaimana dampak dari berita itu. Karir yang susah-susah dibangun Raya di dunia model, harus kandas karena berita itu. Bukan hanya karirnya saja yang kena, tapi nama kamu juga akan terseret. Dan kamu tahu juga kan dampak bila nama kamu ikut terseret? Dan Raya tidak mau itu terjadi pada kamu. Dia tidak ingin keegoisannya membuat reputasi kamu hancur." Jelas Nadeo panjang.
Bolehkan jika Egy bilang bahwa ia terkejut mendapati fakta yang baru saja ia dengar? Dan dalang dari semuanya adalah Putri? Putri yang seolah menjadi dewa penolong ketika ia sedang terpuruk.
"Tapi pada akhirnya kamu mencintai Raya kan?" Tanya Egy.
"Kamu tahu sendiri, dulunya aku yak pernah pacaran, dan tak pernah tertarik akan hal itu. Dan Raya adalah pacar pertamaku." Jawab Nadeo.
"Awalnya aku hanya menjalankan misiku saja. Raya memintaku berpura-pura menjadi pacarnya. Namun hak itu keterusan. Kami berpacaran. Aku memang nyaman dengan Raya. Kamu tahu sendiri Raya adalah orang yang good attitude. Aku selalu mendukung karirnya, begitu pula sebaliknya. Karna Raya bisa mengimbangi ku, dia mengerti perasaanku, dan aku dapat berbagi keluh kesah yang aku alami bersamanya. Aku pikir aku sudah jatuh cinta padanya, rupanya aku salah. Setelah aku pikir-pikir sekarang, aku bukan mencintainya, aku hanya kasihan padanya. Aku takut dia menghadapi masalah sendiri, karna dia tidak punya keluaga bahkan orang tua. Ditambah dulu oran tua ku yang tidak suka padanya, dan menentang hubungan kami, membuat aku benar-benar bersimpati padanya, karna ia selalu terpojokkan.
"Bodoh!!!" Sergah Egy. "Itu adalah cinta. Katika kamu merasa harus selalu melindunginya kan?Itu juga yang aku rasakan ketika aku tahu Nabila diperlakukan tidak layak."
"Tidak!" Sangkal Nadeo, "Rasa cinta itu beda. Aku memang tidak tahu kapan paatinya aku mencintai Nabila. Tapi yang aku rasakan adalah jantungku selalu berdetak jika dekat dengan Nabila, aku selalu memikirkan Nabila, dan tak jarang pula aku memimpikannya. Aku selalu tersenyum saat di dekatnya. Aku takut kehilangannya, bahkan aku sangat kekanak-kanakan saat dengannya. Dan satu hal yang dapat aku pastikan bahwa ternyata aku tidak mencintai Raya, aku tidak pernah mencarinya." Urai Nadeo panjang.
"Cukup mengejutkan mendengar inu semua, tapi bukan berarti aku menyerahkan Nabila begitu saja. Aku akan tetap berjuang untuknya." Tegas Egy.
"Aku gak minta kamu berhenti berjuang. Aku hanya mengingatkan mu kembali, bahwa sainganmu bertambah! Aku juga tidak peduli siapa yang akan dipilih Nabila akhirnya, aku harap pilihan Nabila tidaklah salah." Balas Nadeo.
"Ok! Mari bersaing!" Egy mengulurkan tangannya pada Nadeo, Nadeo menatap tangan itu sejenak, sebelum akhirnya ia membalas uluran tangan itu.
Dan ya! Nadeo dan Egy kembali bersaing memperebutkan Nabila.
Hay! Hay semua. jangab ada yang bosan ya? Ini menuju ending kok.
__ADS_1