
"Assalamualaikum?"
"Waalaikum salam, sebentar!"
"Siapa Buk?" Tanya Pakde yang sedang menonton TV.
"Gak tau, Ibu buka dulu."
Dengan langkah tergesa Bude lari membuka pintu. Seseorang yang berada di balik pintu berhamburan memeluknya dan menangis di pelukannya. Bude turut menangis terharu.
"Kenapa Nak?"
"Mana suamimu?"
"Kenapa pulang malam-malam?"
Bude mencecar wanita yabg ada dalam pelukannya dengan berbagai pertanyaan.
"Kenapa Nak? Ada apa?"
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Bude belum kunjung menemukan jawaban. Mungkin yang di tanya belum bisa menjawab.
"Ada apa? Siapa yang datang?" Kini giliran Pakde yang bertanya. Ia mendengar seperti suara tangisan, dan membuatnya penasaran hingga menghampiri Bude yang masih di ambang pintu.
"Nabila?" Pakde begitu terkejut ketika tahu Nabilalah yang datang. Tapi apa yang membuat gadis kecilnya menangis?
Drama menangis di ambang pintu berakhir. Sekarang mareka sama-sama duduk di sofa. Dan alasan mengapa Nabila menangis belum menemukan titik jawabannya. Pasalnya Nabila masih enggan bicara. Jika hanya rindu, maka tak mungkis tangis itu terus berlanjut. Pasti ada sesuatu di balik ini.
Atensi Pakde tertuju pada Nabila yang duduk di samping Bude, dan di rangkul olehnya. Sedangkan Pakde dusuk di single sofa. Mengapa Nabila datang sendiri? Kemana suaminya? Mengapa juga suaminya tak menemani istrinya. Sebenarnya ada begitu banyak pertanyaan yang ingin Pakde lontarkan pada Nabila. Tapi ia masih menunggu Nabila sendiri yang menjelaskannya.Jika boleh di tebak, sepertinya Nabila punya masalah dengan Nadeo. Begitu pikir Pakde. Ia sudah sangat kenal asam manis pernikahan.
Terakhir kali bertemu Nabila saat dia masih berada di rumah sakit jarna keguguran. Tak ada yang aneh, semua terlihat baik-baik saja. Nadeo yang setia menemani Nabila, juga keluarga Nabila yang tak kalah peduli pada Nabila. Tak ada drama, menantu tidak akur dengan mertua dan ipar. Semua berjalan baik-baik saja menurut amatan Pakde. Bahkan ia sendiri tak kebagian menjaga atau merawat Nabila barang sedetik. Nadeo siap siaga dua puluh empat jam di samping Nabila.
Lalu jika bukan masalah rumah tangga, apa yang membuat Nabila menangis, dan nekad pulang sendiri?
Berbagai asumsi timbul begitu saja di hati Pakde.
"Kenapa Nak? Ayok cerita. Kok kamu pulang sendiri, tidak mengabari pula. Suamimu juga tidak ikut." Desak Bude.
Nabila masih bungkam. Bude dan Pakde saling melempar pandangan, seolah ada komunikasi antara mata mareka.
"Kamu ada masalah ya sama suamimu?" Tebak Bude kini menggenggam tangan Nabila.
Nabila masih menunduk dan diam.
"Dalam rumah tangga itu, pasti selalu ada cekcoknya. Tapi alangkah baiknya, kita tidak lari dari masalah itu. Selesaikan baik-baik." Bude mencoba memberi saran.
"Kalau gak, Bude telepon Nadeo ya? Dia pasti khawatir sama kamu. Dia gak tahu kan kamu pulang ke sini?"
Nabila mendongakkan wajahnya melihat Bude. "Tahu Bude."
__ADS_1
Bude jadi semakin bingung. "Jadi kenapa? Kalian kenapa?"
"Aku dan Mas Nadeo bercerai Bude."
Seketika hati Bude dan Pakde mencelos. Pengakuan Nabila bagaikan pisau yang menyayat hati. Bagaimana bisa mareka bercerai, sedangkan kemarin mareka terlihat baik-baik saja.
"Kenapa bisa? Apa karna kamu keguguran? Pakde lihat, kemarin kalian baik-baik saja." Kini giliran Pakde yang berbicara.
"Kami tidak pernah baik-baik saja Pakde." Ada air mata yang sebentar lagi akan keluar dari pelupuk mata Nabila.
"Maksudnya bagaimana Bila? Jelaskan biar Pakde dan Bude mendengar." Bude berkata dengan lembut. Ia harap tak ada kejadian yang begitu besar, semoga mareka bisa tetap bersama.
"Pakde, Bude. Maafin Nabila, selama ini Nabila sudah bohonhin kalian..." Akhirnya air mata yang ditahan Nabila tumpah juga.
"Bohong apa?"
Bude dan Pakde semakin tidak mengerti dengan ucapan Nabila.
"Sebenarnya Nabila..."
Nabila menceritakan semua keluh kesah yang disimpannya selama ini. Nabila menceritakan dari awal pernikahannya sampai titik saat ini. Tak ada yang terlewatkan satu pun. Ditemani air mata, Nabila menumpahkan semuanya pada Pakde dan Bude, selaku pengganti orang tuanya.
BRAK!!!
Pakde memukul meja. Ia benar-benar kecewa dengan apa yang diceritakan Nabila. Ia merasa gagal menjaga Nabila. Selama ini Pakde berpikir bahwa Nabila bahagia dengan pernikahannya. Ternyata semua berbanding terbalik dengan apa yang ada di pikirannya.
"Maafin Pakde Bila, maafin Pakde."
"Pakde gak salah." Sahut Nabila dalam isakannya.
"Pakde sudah salah menjodohkan kamu dengan bajingan itu. Pakde gak tahu kalau selama ini kamu menderita. Pakde benar-benar menyesal menjodohkan kamu dengan dia. Pakde pikir dia laki-laki yang baik. Maafin Pakde Bil, maafin Pakde."
Sungguh Pakde dan Bude tak menyangka bila Nadeo selama ini sudah bermain drama dengan mareka. Pakde dan Bude sangat menyesal menyetujui perjodohan bodoh, dan mengorbankan perasaa Nabila.
...****************...
Tiga hari sudah Nabila berada di rumah Pakde dan Bude. Ia merasa bebannya sedikit berkurang, setelah menumpahkan segala isi hatinya.
Mungkin setelag Nabila dan Nadeo bercerai, Nabila akan pindah dari rumah itu. Ia akan mencari rumah sewa dan kontrakan. Tak mungkin jika ia terus tinggal di situ.
Tok!! Tok!! Tok!!
Suara ketukan pintu terdengar. Nabila sedang bersantai menonton TV di ruang tamu.
"Soegi, buka pintunya ada tamu!" Teriak Nabila.
"Aku lagi di kamar mandi Mbak!"
"Uhhhh kamu!"
Terpaksa Nabila sendiri harus bangkit dan membukakan pintu. Ia terkejut mendapati orang yang berada di balik pintu. Orang tersebut melemparkan senyum pada Nabila. Alih-alih membalas senyum itu, Nabila malah memutar bola mata malas.
__ADS_1
Ngapain orang itu ke sini? Mau apa dia? Ada perlu apa dia?
Tak mau berurusan, Nabila segera menutup pintu. Tahu gerak-gerik Nabila, orang tersebut langsung menahannya dengan badannya.
"Bila! Tolong Bila!"
"Ngapaib Mas ke sini? Pergi sana!" Usir Nabila.
"Bila, tolong Bila, jangan tutup pintunya?"
"Ngapain sih Mas Nadeo masih di sini?"
Iya. Orang itu adalag Nadeo. Ia yang bertekad meminta maaf, langsung menyusul Nabila.
"Bila, aku mau minta maaf Bila. Pleas maafin aku Bila." Mohon Nadeo dan terus menahan agar Nabila tak menutup pintu.
"Enggak!"
"Kenapa ini ribut-ribut, ada apa?" Suara berat Pakde mengejutkan Nabila dan Nadeo.
Pakde datang bersama Bude. Mareka baru saja pulang dari pasar untuk berbelanja.
Nadeo membalikkan badan. Sekarang tampaklah rupa pria yang berusaha memaksa masuk ke dalam.
"Kamu?" Pakde langsung menghampiri Nadeo. "Ngapain kamu ke sini lagi?"
Bugh!!!
Satu pukulan mengenai wajah Nadeo. Dan Nadeo tersungkur ke lantai. Belum sempat Nadeo bangkit, satu pukulan kembali menyusul.
"Laki-laki kurang ajar!" Berang Pakde. Ia terlalu murka melihat wajah Nadeo.
"Pakde, udah Pakde."
Entah kapan Nabila sudah berada di samping Pakde. Yang jelas ia mencoba menahan Pakde untuk pukulan selanjutnya.
"Jangan begitu toh Pak, malu dilihat tetangga." Bude turut menengahi. "Mending masuk dulu kita selesaikan di dalam."
Pakde tak menyahut. Ia terus masuk ke dalam rumah.
"Masuk Deo!" Perintah Bude tanpa ada keramahan, dan tanpa ada niat membantu Nadeo.
Tak tega melihat Nadeo, Nabila mengulurkan tangannya. Jangan tanya wajah Nabila. Ia masih memasang tampang cuek dan judes pada Nadeo.
"Yuk, aku bantu!" Ajak Nabila ketus.
Nadeo menatap tangan itu. Kemudian menatap wajah empunya. Lalu Nadeo tersenyum dan menerima uluran tangan tersebut. Nadeo bangkit.
"Makasih Bil."
"Harusnya Mas gak datang dan bikin ulah!" Ujar Nabila jengkel dan memutar bola mata malas.
__ADS_1
"Aku mau berjuang!" Sahut Nadeo semangat.
"Terserah!" Balas Nabila tak peduli.