Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Nadeo VS Egy


__ADS_3

Soegi tidur di antara Egy dan Nadeo. Anggota di kamarnya bertambah lagi. Di kanan ada Egy, dan di kiri ada Nadeo. Dua laki-laki yang saat ini sedang mengejar cinta kakaknya.


Sungguh dua-duanya pria sempurna, tidak ada cacat cela. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang satu Nadeo, ganteng, putih, profesinya dokter. Yang kedua Egy, hitam manis, tak kalah ganteng, dan seorang CEO. Sungguh pilihan yang sangat berat.


"Ngapain sih lo ke sini?" Tanya Nadeo sebal.


"Pertanyaan kayak gitu, kayaknya aku gak harus jawab." Jawab Egy dengan pembawaan santai.


"Eh lo lupa ya, pikun atau gimana? Nabila masih istri sah gue."


"Lo juga jangan lupa, Nabila itu calon mantan istri. Setelah itu siap-siap aja dapat undangan pernikahan dari gue." Balas Egy.


"Mimpi lo!"


"Gue harap lo gak shock saat menerima itu semua."


Nadeo bertambah kesal, karna Egy terus memanas-manasinya, sedang Soegi sudah bosan melihat mareka adu mulut.


"Gak akan gue biarin! Lo pikir lo siapa?"


"Calon suami Nabila." Jawab Egy santai diiringi senyum jenaka.


"Mending lo berhenti sekarang deh! Daripada gak kesampaian jadinya malah sakit hati. Mau pergi ke negara mana lagi kalau sakit hati?" Nadeo menyindir Egy karna dulu sempat harus pindah ke USA karna kecewa di tolak Raya.


"Harusnya itu lo ucapin ke diri lo sendiri. Pernikahan udah di ujung tanduk, masih sok so-an." Sahut Egy sesikit emosi.


"Lo makin lama makin ngeselin ya?"


"Lo duluan!"


"Lo!"


"Lo!"


"Lo!"


Mareka bagaikan anak ABG yang memperebut perempuan, masih pakai gaya adu mulut, dan saling melotot.


"Stop!" Teriak Soegi.


Telinga Soegi sudah panas mendengar mareka berantem. Saling sindir menyindir.


"Aku mau tidur!" Tambah Soegi.


"Dia tuh!" Seru Nadeo.


"Kamu liat kan tadi Soegi, dia duluan." Egy mencari pembelaan.


"Lo ya?" Nadeo melototkan matanya oada Egy.

__ADS_1


"Lo tuh!" Egy juga melakukan hal yang sama.


"Arrghh!!!" Soegi berteriak frustrasi.


Egy bangun dan duduk. Sepertinya ia harus mengungsi malam ini, bisa-bisa ia tidak tidur gara-gara kelakuan dua pria ini.


"Aku tidur di kamar Mbak Nabila saja deh, kalau mau berantem lagi, silahkan!"


Soegi oun beranjak dari tempat tidur dan keluar. Ia langsung masuk ke kamar Nabila. Soegi duduk di tepi ranjang, sedangkan Nabila sedang melakukan ritual skincare-an nya.


"Soegi?" Nabila mengerutkan keningnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Nabila saat menyadari muka Soegi yang begitu cemberut.


"Itu cowok-cowoknya kakak ngeselin."


"???"


"Aku mau tidur Mbak!"


"Emangnya ada apa?"


"Mareka lagi adu mulut."


"Gak adu fisik kan?"


Nabila tertawa kecil.


"Aku jadinya gak bisa tidur gara-gara mareka. Berisik!!" Ujar Soegi frustasi. "Aku tidur di sini ya Mbak? Boleh ya?"


Kasihan juga Nabila melihat Soegi yang tak bisa tidur enak, karna ada Egy dan Nadeo.


...****************...


Malam ini mareka semua makan malam bersama, tak terkecuali Nadeo dan Egy.


Nabila duduk di antara Pakde dan Bude, sedangkan Soegi duduk di antara Nadeo dan Egy. Dua laki-laki yang mendadak cosplay menjadi bocah.


"Soegi, tahun ini kamu jadi mendaftar kuliah?" Tanya Pakde mengawali pembicaraan di makan malam itu.


"Lagi Soegi pikir Yah, Soegi masih bingung mau pilih jurusan apa." Jawab Soegi apa adanya.


"Yang kamu suka aja, yang sesuai keinginan kamu. Bapak dukung apa pun yang kamu suka." Saran Pakde yaitu Ayah Soegi.


"Iya dek, biar kamu nyaman nantinya." Tambah Nabila.


"Jurusan kesehatan aja Gi, nanti Mas bisa bantu." Saran Nadeo.


"Mending manajemen bisnis, nanti bisa kerja di perusahaan Mas." Sambung Egy tak mau kalah dari Nadeo.

__ADS_1


"Mending kesehatan loh Gi, kamu bisa masuk sesuai kebutuhan. Kayak Mas dulu, mamanya Mas sakit jantung, jadi Mas ambil spesialis jantung. Bisa bantu keluarga." Nadeo mencoba merayu Soegi dengan sarannya.


"Tapi meninggal juga kan?" Tanya Egy sengaja.


"Emang kalau jadi pengusaha gak bakal meninggal?" Balik tanya Nadeo dengan nada sengit.


"Gak. Jangan mau Gi, berat! Lama lagi. Banyak ngabisin uang juga loh. Mending manajemen bisnis, langsung Mas masukin ke perusahaan Mas, gak.perlu pusing cari kerja. Bisa juga buka usaha sendiri loh!" Egy memperdaya.


"Jangan dengarin Gi. Mending kesehatan. Itu penting buat semua loh! Tenaga kesehatan sangat dibutuhkan sekarang. Apalagi setelah maraknya covid-19 kemarin."


"Eh, enakan menajemen bisbis ya? Dia bisa buka usaha sendiri, kalau gak kerja sama orang."


"Loh! Loh! Kesehatan bisa juga, buka apotek!" Nadeo tak mau kalah.


Nabila, Pakde, Bude dan Soegi menjadi heran melihat mareka berdua yang saling adu argumen.


"Jangan mau Gi, kesehatan itu bahaya. Salah dikit dampaknya besar buat keselamatan orang lain. Beda, kalau bisnis itu untung rugi, gak membahayakan nyawa orang."


"Eh, Soegi itu mau belajar, bukan mau main-main. Pekerjaan yang berkaitan dengan kesehatan seperti Dokter, Perawat, itu sangat mulia ya? Lo aja kalau sakit butuh Dokter."


"Terus maksud lo, jadi pengusaha itu hina?"


"Gue gak bilang gitu. Udah Gi, pokonya kamu harus dengar kata Mas. Mas juga Dosen, jadi bisa bantu kamu."


"Mas juga bisa kok!" Sahut Egy tak mau kalah.


"Apa-apaan sih lo?"


"Lo tuh yang apa-apaan!"


"Lo!"


"Lo!"


"Lo!"


Lagi-lagi Nadeo dan Egy kembali adu mulut hanya perkara jurusan kuliahnya Soegi. Mareka sangat pede dengan sarab mareka masing-masing, padahal belum tentu juga Soegi mau.


"Stop!!" Teriak Soegi. "Aku gak pilih dua-duanya. Jadi udah cukup adu mulutnya. Dan terimakasih untuk sarannya. Tapi maaf saya tidak tertarik."


"Mas Egy sama MasNadeo kenapa sih?" Tanya Nabila keheranan.


"Dia duluan!" Jawab Nadeo menyalahkan Egy.


"Enak aja, lo tuh!"


"Eh eh udah, kok kayak anak kecil?" Lerai Bude.


Akhirnya keduanya diam.

__ADS_1


__ADS_2