Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Memilih


__ADS_3

Setelah berpikir secara matang, juga melakukan shalat istikharah, akhirnya Nabila punya jawaban yang tepat untuk diberikan pada Nadeo. Tak baik juga rasanya ia menggantungkan jawaban pada Nadeo.


Jangan tanya Egy. Jelas Nabila tak memilihnya, tapi sekali lagi ingin author tegaskan bukan berarti Nabila memilih Nadeo, tapi belum tentu juga ia menolak duda itu.


Kenapa Nabila tak memilih Egy? Jelas jawabannya adalah karna janjinya pada Putri.


Nabila menghubungi Nadeo dan mengundang pria itu ke rumah.


Dan sekarang mareka duduk di sofa berhadalan.


"Mas? Aku ingin memberikan jawaban atas lamaran Mas tempo lalu." Ucap Nabila tanpa basa-basi.


"Kamu sudah tahu?" Tanya Nadeo sedikit kaget.


Nabila mengangguk pelan. "Aku boleh nyebut Mas lancang gak? Ngelamar aku, tanpa aku tahu?" Tanya Nabila becanda.


Nadeo tersenyum. "Itu jalan terbaik biar kamu percaya jalau Mas serius sama kamu."


"Mas hanya berharap aku percaya kalau Mas serius?" Tanya Nabila sembari menaikkan sebelah alisnya, "Aku percaya kok!" Gurau Nabila.


"Ya.., sekalian sama jawabannya juga."


"Kalau jawabannya enggak, gimana Mas?" Gertak Nabila.


Jeda, lalu tersenyum dengan terpaksa. "Kamu berhak untuk mengambil keputusan untuk kebahagiaan kamu sendiri Bil! Mas gak berhak memaksa kamu. semua terserah sama kamu." Percayalah sebenarnya hati Nadeo kecewa sedalam-dalamnya.


"Mas mencintai kamu, tapi bukan berarti Mas memaksa kamu untuk membalasnya. Mas tidak akan marah, selama kamu bahagia dan baik-baik saja."


"Terimakasih Mas sudah mau berlapang dada menerima keputusanku."


"Iya, gak papa kok Bil. Mas sama sekali gak marah kamu menolak Mas!" Balas Nadeo berusaha tegar.


Lama mareka saling diam dan tak ada yang memulai. Nadeo yang menunduk larut dalam kecewanya, dan Nabila juga sama yang juga larut dalam pikirannya.

__ADS_1


"Mas..., tapi sepertinya aku menerima lamaran Mas!"


Sontak Nadeo mengangkat kepalanya dan menatap Nabila dengan tatapan serius, seolah bertanya apakah Nabila sedang bergurau?


"Jangan becanda Nabila."


"Kalau Mas menganggap ini candaan juga tak apa."


"Bila?Kau serius kan? Jangan menerima Mas karna terpaksa atau kasihan. Mas ingin hati kamu juga menerimanya."


"Insya Allah, aku berharap Mas mampu meyakinkan hati aku."


"Mas janji akan melakukan itu."


"Aku menerima Maa Nadeo kembali menjadi suami aku, dengan satu syarat."


"Apa itu Nabila? Katakan dengan cepat, Mas siap melakukannya untuk kamu." Tanya Nadeo tak sabar. "Katakan syaratnya."


"Aku ingin menikah dalam waktu sebulan ini Mas,"


"Sebelum menuju pernikahan, aku ingin Mas Deo membawaku bertemu Mas Egy!"


...****************...


Setelah lamarannya diterima. Nadei tak lagi berlama-lama. Ia langsung memberitahu Pakde dan Bude. Juga esoknya ia langsung mengurus ***** bengek pernikahannya, dan mendaftarkan pernikahannya ke KUA.


Begitu juga dengan acara resepsinya. Nadeo tak ingin ambil pusing, Nadeo menyerahkan semuanya ke wedding organizer, dan tentu saja Nadeo begitu sibuk.


Pernikahan Nadeo terhitung tinggal seminggu lagi. Dan hari ini setelah pulang fitting baju, Nadeo menempati janjinya pada Nabila untuk membawanya bertemu dengan Egy.


Dan sekarang di sinilah Nadeo berada, di depan ruangan Egy. Nadeo menggenggam tangan Nabila berusaha menguatkannya, dan juga mengangguk kecil menandakan Nabila pasti bisa melewatinya.


Nadeo memberi kode kode agar Nabila masuk, sedang dirinya menunggu di luar.

__ADS_1


Nabila mengetuk pintu pelan, namun tak ada sahutan. Nabila menguatkan hatinya untuk masuk. Nabila berjalan pelan dan hati-hati menuju meja Egy, awalnya Egy tak menyadari bahwa itu Nabila, sehingga ia tak terlalu peduli.


"Assalamualaikum Mas?" Sapa Nabila dengan nada pelan juga hati-hati.


Egy yang duduk membelakanginya memutar kursinya agar dapat melihat orang yang memberikan salam kepadanya.


"Nabila?" Panggil Egy kaget, dan di detik selanjutnya ia tersenyum bahagia melihat orang yang dinantinya kini datang menghampirinya.


Egy langsung bangkit dan memeluknya.


"Aku rindu kamu Nabila." Lirih Egy dalam pelukan Nabila.


Nabila tak membalas pelukan Egy, tapi juga tak.berusaha melepaskannya. Untuk kali inu saja Nabila membiarkan Egy memeluknya. Ia memilih diam, namun jangan tanya hatinya yang sudah hancur.


"Aku tahu kan? Aku tersiksa tanpa kamu!"


"Mas sebenarnya ada hal yang ingin aku sampaikan pada Mas!"


Egy melepas pelukannya dan menatap Nabila penuh tanya.


"Apa itu penting?" Tanya Egy, tapi penuh rindu.


Nabila mengangguk lemah.


"Kalau gitu kita duduk di sofa sana!" Ajak Egy sembari menunjuk ke arah sofa, namun Nabila menolak.


"Di sini saja!" Tolak Nabila.


"Oh ok!" Egy tak mempermasalahkannya.


Egy kembali duduk di kursinya, dan Nabila duduk berhadapan dengannya. Ini mengingatkannya ketika ia bekerja di sana. Ia jadi kangen masa-masa menjadi sekretaris Egy.


"Apa yang ingin kamu tanyakan Nabila?" Tanya Egy.

__ADS_1


Diam.


__ADS_2