Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Tuduhan Dan Ancaman


__ADS_3

Ines menenteng keranjang buah yang berisikan buah Apel, Jeruk, Anggur dan juga Pisang. Hari ini Ines menjenguk adik iparnya lagi yang masih meringkuk di rumah sakit. Ini adalah hari ke empat Nabila di rumah sakit. Nabila masih belum diperbolehkan pulang.


Di dalam ruangan sudah ada Nadeo yang masih setia menemani Nabila. Kendati dulu laki-laki itu membenci Nabila, tapi kini dialah orang yang paling merasa bersedih ketika Nabila harus di rawat di rumah sakit. Entah itu karna semua yang terjadi ini juga ada kaitannya dengan dia.


Saat Nabila sakit, Nadeo benar-benar telaten mengurus Nabila. Bahkan Pakde dan Bude tak kebagian tugas apa pun. Alhasil Pakde dan Bude hanya menjenguk Nabila saja.


Tapi tak apa. Lebih baik Nadeo cepat sadar, bahwa Nabila adalah wanita yang baik untuknya. Ines menaruh keranjang buah di atas nakas, lalu mendekat ke arah Nabila.


"Mbak bawakan buah buat kamu,Nanti di makan ya?" Ujar Ines diiringi senyum lembut.


Nabila mengangguk pelan. "Makasih Mbak!"


"Gimana keadaan kamu, apa sudah baikan?"


"Alhamdulillah Mbak."


"Mbak kesini sendirian?" Tanya Nadeo.


"Iya Mas Hanis lagi ada kerjaan." Jawab Ines. "Mas Hanis cuma titip salam buat kalian berdua. Dia minta maaf belum bisa datang. Katanya kalau kerjaannya udah selesai, pasti langsung ke sini. Gak papa kan?"


"Gak papa dong Mbak." Jawab Nabila. "Mama gimana Mbak?"


Agak berat menjawab pertanyaan dari Nabila. "Sehat kok! Udah gak usah pikirin apa-apa dulu, fokus untuk kesembuhan kamu dulu."


Sebenarnya keadaan Bu Ningrat tidaklah sehat. Semenjak Nabila di rumah sakit, kesehatannya kian hari kian menurun. Bahkan ia harus duduk di kursi roda.


"Deo, ada hal yang mau Mbak omongin sama kamu." Ucap Ines yang kini sudah berdiri di samping Nadeo. Ia mengode dengan matanya untuk keluar.


"Ngomong apa Mbak?"


"Di luar aja." Jawab Ines agak melotot. "Bil, Mbak pinjam Mas Deo nya sebentar ya?"


"Iya Mbak, ambil aja!"


"Kalau ada perlu langsung telpon Mas ya?"


Ines pun menarik tangan Nadeo keluar dari ruangan. Walau terlihat raut muka yang malas dari Nadeo, biarlah! Ines tak pedulu tentang itu.


"Mbak mau ngomong apa sih?" Tanya Nadeo dengan raut kesal.


"Jawab jujur!!"


"Belum juga Mbak tanyain!"


"Mbak harus mastiin kamu jawab jujur pertanyaan Mbak!"


"Iya Mbak Iya!" Kata Nadeo sedikit dongkol.


Susah berurusan dengan kakaknya yang satu ini. Ia sangat keras kepala. Di antara Ines, Nadeo, dan juga Icha. Hanya Ichalah yang boleh dikatakan normal dan lembut. Bahkan Icha terkesan tidak banyak ngomong. Ia gadis yang pendiam.


"Kenapa Nabila sampai bisa jatuh dari tangga? Apa yang sebenarnya terjadi?" Cecar Ines.


Rasanya hawanya bakalan panas nih. Ini adalh pertanyaan jebakan. Dan Nadeo malas membahas ini sekarang, tapu tak mungkin ia menghindar dari kakaknya yang keras kepala ini.


"Dia kepeleset Mbak, karna gak hati-hati."


"Jawaban seperti apa itu?"


Jadi jawaban bagaimana yang Mbak butuhkan? Ini adalah kenyataannya. Bahkan Nabila sendiri yang mengatakan itu.

__ADS_1


"Deo, jangan coba bodohin Mbak dengan jawaban kamu. Tolong jawab! Kamu berpikir ini sebuah film? Kalau pun iya, kamu belum bisa memerankan peran yang baik."


Nadeo rasa Mbaknya ini sedang ngelantur. Dikasih tahu malah ngomongin hal aneh.


"Gak mungkin kepeleset. Kalau pun iya, pasti ada alasannya."


Orang terpeleset harus ada alasan? Sejak kapan itu. Sepertinya sejak barusan.


"Ya karna Nabila gak hati-hati, Mbak gimana sih?" Nadeo semakin dongkol. " Kepeleset aja kok harus ada alasan!"


"Kok kamu kesannya kayak nyalahin Nabila sih?"


Nah ini nih! Memang susah berdebat dengan perempuan. Nadeo kan tak pernah bilang Nabila yang salah.


"Ya ampun Mbak, aku gak pernah nyalahin Nabila. Saat kejadian itu, aku gak di situ. Aku gak liat, Nabila sendiri yang bilang begitu."


"Kamu kenapa sih gak mau jujur?" Ines menatap Nadeo intens. "Di dorong Raya kan?"


Dari tadi berbelit-belit. Pasti tujuannya ke sini. Raya. Raya yang salah.


"Astagfirullah Mbak. Gak mungkin lah Mbak!"


Kenapa buruk sekali prasangkan Kakaknya ini pada istri keduanya.


Ines mengedikkan bahu. "Mana tahu, dia iri sama Nabila."


"Nabila kepeleset karna tangganya licin. Karna baru selesai di pel!" Jelas Nadeo.


"Siapa yang ngepel?" Tanya Ines cepat.


Rencananya Nadeo menjelaskan agar kakanya tak berprasangka buruk pada Raya. Tapi justru penjelasannya membuat Ines semakin curiga.


"Tuh kan bener. Dugaan Mbak memang gak pernah salah. Memang ****** itu dalangnya. Dia emang berencana celakain Nabila." Tuding Ines.


"Enggak kok Mbak! Dia gak ada maksud gitu."


"Tuh! Kamu masih nyangkal, dan belain perempuan itu." Cetus Raya malas."Jelas-jelas dia udah bikin kamu kehilangan anak kamu."


"Mbak..."


"Kayaknya itu perempuan gak ada kapoknya. Aku harus samperin dia, dan kasih pelajaran."


...****************...


Sore itu Raya baru pulang kerja dan baru sampai ke rumah. Rencananya hari ini ia akan menjenguk Nabila. Karna bukan apa, sejak Nabila di bawa ke rumah sakit, ia tak pernah mengunjungi Nabila.


Mungkin ia harus konfirmasi dulu dengan Nadeo terkait niatnya itu. Takutnya ketika ia sampai ada keluarganya Nabila atau Keluarga Nadeo di situ, bisa lebih panjang lagi urusannya. Terlebih lagi kalau ada Mbak Ines.


Baru saja ia memikirkan Ines, tiba-tiba saja perempuan itu sudah ada di depannya. Raya terkejut saat masuk ke dalam rumah dan mendapati orang yang dalam pikirannya tengah duduk santai di sofa.


Raya menelan salivanya ketika matanya bertemu dengan netra Ines. dari tatapannya yang siap mengintimidasinya, dan juga tangan yang dilipat di dada, menambah kesan angkuh dari perempuan itu.


Takut. Itulah yang sedang Raya rasakan. Iya memang selalu takut bertemu dengan Ines. Bukan tak ada alasannya, setiap kali pertemuan mareka, tidak ada yang berakhir dengan baik. Pertemuannya dengan Mbak Ines selalu di awali dengan ancaman, dan hinaan. Ines memang sangat membencinya.


Dengan mengumpulkan keberanian, Raya tetap menyapa. "M..Mbak I..Ines."


Dibalas dengan tatapan sengit. Ines tak rela jika namanya keluar dari bibir perempuan murahan seperti Raya.


Tatapan Ines menambah ketakutan dalam diri Raya. "Mbak kok bisa di sini?"

__ADS_1


Raya berjalan pelan ke arah Inea. kendati berat, ia harus tetap menghadapi kakak iparnya itu.


"Kenapa aku gak boleh ada di sini? Ini rumah adikku, bukan rumah mu. Kamu hanya ****** yang di tamoung di sini. Kamu parasite!"


Yah.., jawaban Ines selalu berakhir umpatan kepadanya. Raya tak punya niat membalasnya. Karna jika ia membalas, semua tak akan berakhir dengan baik dan malah memperkerih suasana.


Ines bangun dari sofa lalu berjalan mendekat ke arah Raya, ia berdiri tepat dihadapan Raya. Dan di detik selanjutnya.


PLAKK!!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Raya dan menyisakan bekas kemerahan di pipi putih Raya.


"Mbak! Mbak apa-apaan?" Raya mengusap pipinya yang perih.


"Itu gak seberapa sama apa yang udah kamu lakukan ke Nabila." Jawab Ines tajam.


Raya menggeleng, dan tak dapat di tahan air matanya luruh begitu saja.


"Aku gak ngerti maksud Mbak Ines."


Apakah kedatangan Inea juga sama dengan Nadeo? Ingin menyalahkannya atas kecelakaan yang Nabila alami? Sepahit itukah hidupnya?


"Jangan nangis. Air mata kamu sama sekali gak laku sama aku!" Cemooh Inea kejam. "Jangan munafik! Kamu kan yang udah celakain Nabila?"


Benarkan seperti dugaannya Raya? Pasti ia akan dikaitkan dengan kecelakaan Nabila. Raya hanya bisa menggeleng.


"Jangan bohong kamu!"


"Enggak Mbak!"


"Aku tahu kamu iri kan sama Nabila? Karna dia bisa hamil, sedangkan kamu enggak!" Hardik Ines. "Perempuan licik!"


Ternyata adik dan kakak sama saja.


"Kenapa sih Mbak selalu berpikiran buruk sama aku?" Raya memberanikan diri mengeluarkan isi hatinya.


Ines menarik rambur Raya. "Heh! Gak usah ngerasa kalau kamu yang paling tersakiti di sini ya? Kamu tau gak gara-gara kamu celakain Nabila, dia keguguran! Dan gara-gara itu kesehatan Mama menurun!"


Lalu Ines melepas jambakannya kasar. "Atau kamu sengaja ya mau bikin Mama mati? Lalu gak ada lagi yang bisa halangin kamu sama Nadeo? Bener-bener licik ya kamu!"


"Kalau sampai terjadi sesuatu sama Mama, aku gak segan-segan untuk bunuh kamu!" Ancam Ines seolah ia belum puas memarahi Raya.


"Padahal udah diingatin beberapa kali, tapi kamu gak tau malu!" Berang Ines tak tahan tak menghina. "Owh aku lupa! Urat malu kamu kan memang sudah lama putus, saat jadi pelacur!"


"Mau Mbak Ines apa?" Teriak Raya yang sudah tak tahan dengan segala umpatan Ines. Ada air mata yang mengalir seiring dengan teriakannya.


"Jangan pernah sebut namaku dengan mukut sampah kamu!"


Keduanya diam beberapa saat dengan napas yang tersengal.


"Kamu masih tanya kemauan aku apa? Sudah berapa kali aku bilang? Tinggalin Nadeo!"


"Iya Mbak, aku akan tinggalin adiknya Mbak, Mbak gak usah khawatir!"


Rasanya tak ada alasan lagi Raya bertahan dengan Nadeo. Jika dulu ia punya Nadeo yang mencintainya, tapi kini di rasa Nadeo sudah berubah.


"Bagus kalau gitu, akhirnya kamu sadar juga. Kamu hak pernah diterima oleh kami." Ucap Ines dengan seringainya. Ia puas. Puas akhirnya perempuan itu menyerah juga.


"Kalau gitu saya permisi. Saya pegang omongan kamu barusan. Sekali lagi saya katakan, tinggalin Nadeo sesegera mungkin."

__ADS_1


Setelah itu, Ines pun melenggang pergi meninggalkan Raya. Tujuannya sampai. Memisahkan Nadeo dan Raya.


__ADS_2