Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Tega


__ADS_3

Bangun subuh untuk melaksanakan kewajiban sebagai hamba yang lemah dan meminta agar diberikan ketabahan atas segala masalah yang menimpa. Itulah yang dilakukan Nabila, bersimpuh di hadapan Rabb maha mengetahui segalanya.


Setelah shalat subuh, Nabila turun ke dapur untuk membantu Ibu mertuanya memasak sarapan pagi.


Siap memasak dan menaruhnya di atas meja makan, Icha dan Nadeo keluar dari kamar masing-masing dengan pakaian rapi untuk sarapan pagi bersama.


Nadeo memakai kemeja warna hitam yang membuat warna kulit putihnya semakin menonjol dan menampakkan sosok tegas dari dirinya. Icha juga berpakain rapi dengan seragam SMAnya. Semua pun sarapan seperti biasanya.


"Nadeo, kamu bareng istri kamu kan? Kan satu kampus!" Tanya Bu Ningrat memulai pembicaraan.


"Iya" Jawab Nadeo sekenanya.


Dalam hati Nadeo menolak, ogah sekali dia ke kampus bersama dengan istri tengilnya ini. Bisa-bisa semua orang tahu kalau ia sudah menikah, dengan mahasiswanya sendiri pula. Membayangkannya saja sudah sakit jantung, apabila ada yang tahu.


"Oh iya, kalian kan pengantin baru, kapan ada rencana bulan madunya. Mau kemana nih rencananya?" Tanya Bu Ningrat menggoda.


Nadeo tersedak seketika mendengar pertanyaan mamanya, ia segera minum. sebenarnya Nadeo paling malas pembahasan seperti ini, mana ada bulan madu, menyentuh tangan Nabila saja ia ogah. Nader memang sudah bersiap-siap untuk pindah ke rumah baru agar terhindar dari pertanyaan-pertanyaan Mamanya yang dianggap konyol.


"Nggak ma, kita gak ada rencana bulan madu kemana pun, karna tabungan Nadeo akan Nadeo gunakan buat beli rumah, mungkin minggu depan juga kita bakal pindah." Jelas Nadeo.


"Loh, kok buru-buru?"


"Enggak kok ma, kita beli rumah yang deket sama kampus, biar enak gak jauh." Kilah Nadeo


Nabila diam saja, tidak memberi tanggapan apapun, takutnya yang ada malah salah jawab. Sesungguhnya Nabila sedang merasakan syok berat mengetahui pernikahan yang sedang dijalani adalah palsu. Dia sedang berakting untuk memanipulasi ibu mertuanya saja.

__ADS_1


"Terus, Mama kapan dikasih cucunya dong?" Singgung Bu Ningrat yang ujung-ujungnya memang ke cucu.


Kali ini Nabila yang tersedak mendengar pertanyaan Ibu mertuanya. Nabila cepat mengambil segelas air putih dan meminumnya. Bagaimana mau punya cucu, tidur saja terpisah, pikir Nabila.


"Kita usaha Ma!" Jawab Nadeo aman.


Usaha? Usaha bagaimana yang dimaksud oleh Nadeo? Usaha untuk terus-terusan menipu Bu Ningrat dan berakting seolah semuanya baik-baik saja.


Selesai sarapan, Nadeo, Nabila, dan juga Icha menyalami Bu Ningrat berpamitan untuk memulai aktivitasnya masing-masing. Icha akan ke sekolahnya diantar supir, sedangkan Nadeo dan Nabila akan berbarengan.


Di tengah perjalanan, Nadeo menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Padahal ke kampus masih menempuh jarak sekitar sepuluh menit lagi. Nabila heran dan bertanya, "Kenapa berhenti?"


"Turun!" Perintah Nadeo.


"Tapi inikan belom sampai."


Mata Nabila berkaca-kaca. Mana Nadeo yang katanya baik dan ramah kepada semua orang? Sopan dan lembut kepada siapa pun? Sedih pastinya diperlakukan kasar oleh suami sendiri.


Nabila membuka pintu mobil dan keluar. Dengan teganya Nadeo meninggalkan Nabila di pinggir jalan. Ini adalah awal penderitaan Nabila.


...****************...


Seminggu sudah pernikahan Nadeo dan Nabila. Dan hari ini mareka pindah ke rumah baru dibantu oleh Bu Ningrat, Mbak Ines, Mas Hanis dan juga Icha.


Setelah semuanya pulang, tinggallah Nadeo dan juga Nabila di rumah minimalis berlantai dua itu. Nadeo memanggil Nabila yang sedang mengambil barang yang masih tersisa di mobil. Tahu bahwa dirinya dipanggil oleh sang suami, Nabila menghampiri Nadeo yang ada di tangga.

__ADS_1


"Ada apa mas?" Tanya Nabila lembut.


"Dengar ya, kita gak akan sekamar. Seperti yang aku bilang kemarin, aku gak pernah berharap kalau kamu jadi istri aku. Jadi itu kamar aku dan kamar kamu di atas" Ujar Nadeo sembari menunjuk ke arah kamarnya yang ada di dekat tangga.


Nabila hanya merespon dengan anggukan saja. Setelah kejadian kemarin, Nadeo yang menyuruhnya tidur di sofa, dan juga kejadian Nadeo yang selalu mengantarnya setengah jalan, Nabila agak sadar diri bahwa kehadirannya menjadi istri Nadeo tidak diharapkan sama sekali.


Nabila pun sempat di cecar dengan berbagai pertanyaan oleh Cinthya, mengapa tidak ke kampus bersama Pak Nadeo atau mengapa tidak pulang bersamanya juga. Bukankah mareka berdua sudah sah sebagai suami istri? Nabila pun mengatakan yang sebenarnya, bagaimana rumitnya rumah tangga yang dijalaninya sekarang. Cinthya pun merasa empati setelah mendengar cerita Nabila, dan memberi saran untuk mencoba mengambil hati Pak Dosennya itu.


Cinthya tidak menyangka di balik sikap ramah dosennya itu, ternyata menyimpan sifat kasar tersendiri. Tenyata dosen yang terlihat tegas di mata Cinthya tak lebih dari seorang pecundang.


Walaupun sakit rasanya Nabila akan tetap menjalaninya. Toh tak ada yang bisa dilakukannya kan? Nabila akan tetap berusaha mengambil hati sang suami dinginnya itu siapa tahu bisa luluh.


"Oya aku ingatkan sekali lagi, jangan pernah sesekali kamu coba masuk ke kamar aku" Ancam Nadeo.


Nabila hanya mengangguk.


"Di sini aku sebagai suami akan yetap menafkahi kamu secara materi. Aku juga akan beliin kamu mobil, supaya kamu gak nebeng sama aku kalo ke kampus. Takutnya nanti ada yang lihat kamu turun dari mobil aku, bisa-bisa gagal deh semua rencana aku, dan aku gak mau semua itu terjadi." Terang Nadeo lagi


"Aku gak bisa bawa mobil Mas."


"Motor?"


Nabila menganguk tanda bisa. Tidak mau banyak berkomentar, takutnya salah ngomong yang ada malah dimarahin lagi.


"Oke aku akan beliin kamu motor!" Simpul Nadeo akhirnya, "Dan satu lagi, kamu gak perlu ngurusin keperluan aku, apapun itu kamu ngerti?" Tegas Nadeo lagi.

__ADS_1


Nabila mengangguk. Nadeo langsung pergi ke kamarnya. Rasanya Nabila ingin sekali menangis sekeras-kerasnya, tak sanggup menjalani rumah tangga yang entah sampai kapan begini.


__ADS_2