Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Keresahan Egy


__ADS_3

Egy belum bisa pulang ke Jakarta. Pasalnya proyeknya memiliki sedikit kendala, dan ia harus berada di Surabaya paling tidak dua hari lagi.


Namun tahukah kalian? Egy sama sekali tak betah berada di sana. Sejak keberangjatannya tempo hari, Nabila sama sekali tak memberi kabar padanya. Tepatnya ia tak membalas whatsapp atau pun panggila dari Egy. Dan yang lebih anehnya, sekarang semua akun media sosial Egy diblokir oleh Nabila. Ada apa dengan perempuan itu?


Egy menatap gawainya yang masih tak ada notif dari Nabila. Akhirnya ia merebahkan diri di ranjang dengan pasrah. Pikirannya terus menerka-nerka apa yang telah terjadi di sana.


"Kamu kenapa sih Bil? Aku telpon gak kamu angkat, WA gak dibalas. Kayaknya aku bener-bener harus cepat selesaiin proyek ini. Pulang dari sini, Nabila harus jadi istri aku!" Gumamnya sendiri.


Akhirnya Egy memutuskan untuk menyekesaikan proyeknya dulu di sini. Setelag itu ia akan pulang dan memebereskan semuanya.


...****************...


Dan dua hari setelahnya proyek Egy selesai. Dan tanpa menunggu lagi, Egy segera saja kembali ke Jakarta. Sungguh ia tak tahan bila harus berlama-lama berjauhan dengan perempuan itu. Apalagi selama ia pergi, mareka tidak berkabar.


Hari ini Egy kembali masuk ke kantor. Ia bertekad akan meminta penjelasan pada Nabila nantinya.


Tadi sebelum Egy masuk ke dalam ruangannya, ia sempat melirik ke ruangan Nabila, tapi wanita itu belum sampai. Mejanya masih kosong. Aneh sih sebenarnya, biasanya Nabila datang lebih awal daripadanya. Ah, tapi Egy tak terlalu mempermasalahkan itu, ia tak ingin berpikir terlalu jauh, ia ingin memikirkan hal-hal yang positif saja.


Jam menunjukkan pukul sebelas, masa iya Nabila belum datang. Dan akhirnya Egy memanggil Andmesh untuk ke ruangannya.


"Ada apa Bapak manggil saya?" Tanya Andmesh yang sudah duduk di depannya.


"Nabila gak masuk? Dia izin, atau sakit?"


"Loh? Bapak gak tahu? Kan Nabila kemarin sudah resign." Andmesh oun nampak bingung dengan pertanyaan Egy.


Egy menautkan alisnya. "Resign?"


"Iya Pak!" Angguk Andmesh.


Sebentar-sebentar, otak Egy tak bisa bekerja sepenuhnya. Ia masih mencerna ucapan Andmesh.


"Kok bisa dia resign tanpa persetejuan saya, dan itu secara tiba-tiba?"


"Maaf pak, kalau itu saya kurang tau. Mungkin Pak Bahar lebih tau." Andmesh cari aman.

__ADS_1


Jangan pikir Andmesh tak tahu. Ia juga punya mata dan telinga untuk melihat dan mendengar semua gosip yang tersebar di kantor. Ia pun tahu ini ulahnya bu Yura. Tapi, ia lebih memilih untuk mengunci mulutnya. Ia rasa bukan kapasitasnya juga untuk menjawab pertanyaan itu. Ia juga takut pekerjaannya bisa terancam.


"Panggil HRD ke sini, kamu boleh keluar!" Perintah Egy.


"Baik Pak!" Angguk Andmesh.


Dan setelahnya Andmesh yang menjabat sebagai staf admin ini keluar dari ruangan Egy. Bukan tanpa alasan Egy bertanya pada Andmesh, Andmesh dan Nabila berada pada satu ruangan. Kali saja Andmesh tahu alasan Nabila tak masuk.


Resign?


Kata itu terus saja berputar-putar dalam otak Egy. Ada banyak pertanyaan yang terus menari dalam benaknya. Kenapa tiba-tiba Nabila resign? Padahal kemarin mareka baik-baik saja. Alasan apa yang membuatnya resign? Apa yang sebenarnya terjadi?


Lamunan Egy dibuyarkan ketika seorang HRD masuk ke ruangannya. Dan di name tagnya bertuliskan Bahar, yang artinya nama HRD tersebut bahar. Umurnya kisaran empat puluh tahun.


"Duduk!" Perintah Egy kasar ketika melihat HRD itu berdiri seperti takut-takut.


"Kenapa sekretaris saya bisa resign tanpa izin saya dan sepengetahuan saya?"


HRD itu tak menjawab, ia lebih terlihat seperti orang yang ketakutan sekarang.


"Jawab Pak!" Teriak Egy. "Saya tanya sekali lagi kenapa sekeretaris saya bisa resign? Bahkan saya tidak tahu. Bapak tahu aturan di kantor ini seperti apa kan?"


"Bapak gak bisa bicara atau bagaimana? Pertanyaan saya sedari tadi tidak di jawab."


"Anu pak..., sebenarnya Ibu memang menyetujui."


"Ibu?" Egy menyipitkan matanya.


"Iya, Nyonya maksud saya."


"Mama saya?"


Pak Bahar mengangguk.


"Bapak tahu sendiri kan, Mama gak punya jabatan di kantor sama sekali. Mama gak berhak membuat keputusan apa pun, termasuk menyetujui pengunduran diri karyawan. Urusan kantor sekarang seratus persen tanggung jawab saya. Dan hanya saya yang berhak memutuskan apa pun."

__ADS_1


"Maaf Pak, saya diancam Ibu. Sebenarnya kemarin juga ada kejadian di kantor."


"Kejadian? Kejadian apa? Ngomong yang jelas Pak! Jangan setengah-setengah!"


"Kemarin Bu Putri ke sini!"


"Ngapain ke sini?"


Pak Bahar pun menceritakan apa yang dilihat, dan di dengarnya kemarin, tanpa tinggal sedikit pun. Dan kalian tahu bagaimana Egy? Jelas ia begitu emosi dan frustasi mengetahui semuanya.


Ah.., maksudnya apa? tak sampai seminggu ia pergi, banyak kejadian aneh yang terjadi. Mamanya yang memaksa pengunduran diri Nabila, juga Putri yang datang dengan tingkahnya yang tak masuk akal.


"Tetap saja di sini Bapak salah ya? Tapi kali ini saya maafkan. Jika Bapak mengulanginya lagi, bertindak tidak sesuai dengan perintah saya, saya pastikan Bapak saya pecat! Ini terakhir kali Bapak melakukan kesalah." Pesan Egy pada HRD.


"Baik Pak! Saya mengaku saya salah!"


"Bagus! Sekarang silakan keluar dari ruangan saya!"


Tanpa menunggu lagi, HRD itu langsung bangkit dan keluar dari ruangan Egy, takutnya Kalau kelamaan, Egy malah berubah pikiran kemudian memecatnya. Sungguh ia tak ingin merasakan kesialan itu, kesialan yang disebabkan oleh masalah pribadi pemilik perusahaannya.


"Arghhh!!!" Teriak Egy frustasi.


Egy yang emosi menjatuhkan semua barang yang ada di meja. File penting bahkan laptop yang harganya fantastis, ia sudah tak peduli lagi.


Tahu begini kejadiannya, ia pasti tak akan pergi ke Surabaya, biarlah orang lain saja yang mengurusnya. Jika sudah begini apa yang harus ia lakukan.


"Nabila? Kenapa kamu lakuin ini ke aku?"


Egy duduk di kursinya dan mengacak rambutnya kasar.


"Mama? Mama juga. Kenapa Mama bisa setega ini sama aku? Kenapa Mama bisa lakuin itu semua ke aku?"


"Dan Putri? Arghhh!" Egy tak mampu berkata-kata.


Semakin Egy berpikir semakin membuat suasana hatinya buruk. Ia pun bingung, apa langkah selanjutnya yang harus ia lakukan. Menemui Nabila? Pulang ke rumah bertemu Mama? Atau menemui Putri terlebih dahulu? Semuanya seperti opsi yang tak tepat. Ia terlalu sedih untuk bertemu ke tiga orang itu, ia merasa tak ada satu pun yang menyayanginya. Seperti Nabila, mengapa ia begitu cepat menyerah? Lalu Mama, mengapa ia tega melihat anaknya menderita, dan yang terakhir Putri, padahal ia adalah sahabatnya dari kecil, ia pun tak jauh bedanya. Tapi kendati begitu, Egy tetap harus bertemu mareka.

__ADS_1


Hay hay semua. Mohon vote nya, like, comen dan suncribernya bertambah ya? Biar aku semangat nulisnya.


O ya? Kalian dari kota mana saja? Absen yuk di kolom komentar?


__ADS_2