
Nadeo kembali pulang ke kediaman orang tuanya. Sekarang status yang di sandang Nadeo adalah duren, yaitu duda keren. Emang ada yang bilang Nadeo gak keren? Kalau ada, pasti matanya sudah rabun. Wong orangnya ganteng, pakek banget malah.
Skip tentang kegantengan Nadeo, mari kembali lagi ke topik sebelumnya. Pernikahan Nadeo dan Nabila benar-benar sudah berakhir. Semuanya selesai.
Benarkah ini selesai? Atau ternyata ini semua adalah bagian awal?
Kini Nadeo sudah berada di rumah Mamanya. Rumah yang puluhan tahun ia tempati. Di runah masih ada Ines dan Hanis yang sedang berkemas. Mareka akan kembali ke rumahnya lagi, dikarnakan sudah ada Nadeo yang menemani Icha.
Kadang ketika Nadeo melihat Ines dan dan Hanis, Ia menjadi iri. Mareka tampak saling mencintai satu sama lain. Padahal mareka juga sama dengannya, menikah jalur perjodohan. Jadi apa sih yang membuat Ines dan Hanis bisa langgeng dalam rumah tangganya?
Di bilang rumah tangga yang sempurna, gak sama sekali. Mareka sudah menikah sembilan tahun, tapi masih belum dikaruniai keturunan. Tapi Nadeo masih bisa melihat Mas Hanis yang tetap setia dengan kakaknya.
Rasanya ia harus banyak belajar pada Ines dan Hanis caranya membangun rumah tangga yang harmonis. Terutama oada Hanis. Karna setau Nadeo dulu, saat mareka dijodohkan Mas Habus punya pacar, persis sepertinya dulu.
Yang menjadi pertanyaan, bagaimana dulu Mas Hanis bisa menerima Mbak Ines? Bahkan terlihat bahwa Mas Hanis sangat menyayangi Mbak Ines.
Segala pertanyaan bermunculan di benak Nadeo. Ia benar-benar harus berguru pada Kakak, dan kakak iparnya. Bila nanti Nabila telah didapatkan Nadeo kembali, setidaknya ia sudah punya banyak wejangan dari mareka. Walaupun nantinya jodohnya bukan Nabila, ia tetap akan berusaha menerima. Ia ingin rumah tangga ke duanya itu, upss ralat! Rumah tangga ke tiga lebih tepatnya.
Eh kok kepikiran tentang rumah tangga sih? Baru juga bercerai, udah mikirin rumah tangga lagi. Dasar jantan!
"Deo! Nadeo!" Panggil Mbak Ines yang disertai tepukan itu membuyarkan semua lamunan Nadeo.
"Eh iya Mbak!"
"Kok bengong?"
"Eh enggak! Udah siap Mbak?" Tanya Nadeo pada Ines yang kini sudah ada di sebelahnya.
"Sudah! Kamu nih gak bantu apa-apa."
"Hehe, Maaf Mbak." Ujar Nadeo polos disertai cengiran.
__ADS_1
"Ngelamunin apa sih? Udah beberapa kali Mbak panggil, kamu gak nyahut."
Benar saja, menurut pandangan Ines sedari tadi Nadeo hanya duduk melamun tanpa ada semangat.
"Sayang? Baju biru Mas ada kamu masukkan?" Tanya Hanis yang baru duduk di sofa.
"Ada Mas."Jawab Ines lembut.
Tuh kan, mareka romantis sekali. Bikin duda iri deh.
"Mbak, Mas? Gimana sih caranya biar hubungan langgeng terus?" Tanya Nadeo.
"Emang kamu mau langgeng sam siapa lagi? Udah cerai baru minta tips, rada abeh emang adik Mbak satu ini." Bukannya menjawab, Ines malah balik bertanya.
Lagian ada-ada saja Nadeo ini. Sudah bercerai baru minta tips hubungan langgeng. Kan aneh. Di mana-mana orang cari tips hubungan langgeng saat mau menikah.
"Ck! Mbak apaan sih. Aku lagi minta wejangan nih, kalau aku berumah tangga lagi, aku gak gagal lagi." Jawab Nadeo sebal.
"Emang siapa yang ada dalam pikiran kamu sekarang Deo?"
Ines menarik napas dan menghembuskannya lagi. Ada sesuatu yang terasa berat baginya.
"Deo, kalau Mbak boleh kasih saran, jangan terlalu ngejar-ngejar Nabila. Fokus perbaiki diri sendiri dulu. Dan satu hal lagi, Nabila gak mau sama kamu. Dia gak mau di anggap sebagai pelarian kamu dari Raya. Dia ingin kalau memang kamu cinta sama dia, cintai dia sebagai Nabila, bukan pengganti Raya. Kamu paham kan maksud Mbak?"
Nadeo sedikit merenungi ucapan Kakaknya ini. Yang diucapkan Ines memang benar. Adakalanya ia harus berpikir, apakah selama ini ia mencintai Nabila? Atau mencintai dia sebagai penghanti Raya.
"Deo coba kamu tanya sama hati kamu sendiri, ada gak sih dia di hati kamu?" Ujar Ines dengan mode serius pada Nadeo.
"Pernah gak kamu mencintai dia? Atau jangan-jangan itu hanya obsesi kamu untuk lebih unggul dari Egy." Tebak Ines.
"Kalau kamu sudah dapat jawabannya. Kamu pasti tau apa yang mesti kamu lakukan. Langkah apa yang harus kamu ambil, kamu akan mengerti sendiri. Percaya sama Mbak. jangan sakiti Nabila untuk kesekian kalinya Deo." Tambah Ines.
__ADS_1
Ahh benar kata Mbak Inesnya. Ia memang harus berpikir. Apakah selama ini ia mencintai Nabila? Atau hanya ingin menang dari Egy saha? Atau ternyata tanpa sadar ia telah benar-benar jatuh cinta pada Nabila. Rasanya opsi ketiga adalag yang paling benar.
Ia memang tak tahu tepatnya kapan ia mulai mencintai Nabila. Tapi sepertinya rasa itu benar. Namun Nadeo tak akan gegabah. Ia akan mengambil langkah dengan memikirkan seribu kali lagi. Untuk sementara biarlah seperti ini dulu.
"Iya Mbak!" Jawab Nadeo akhirnya.
"Mbak akan dukung apa pun, asal itu memang yang terbaik untuk kamu. Selama ini Mbak selalu berusaha menyadarkan kamu, bahwa Nabila adalah wanita pilihan terbaik untuk kamu. Hanya saja kamu telat menyadarinya. Tapi ini juga bisa menjadi sebuah pelajaran untuk kamu ke depannya. Jangan terlalu membenci sesuatu, kita tidak tahu bahwa kedepannya sesuatu itu yang paling kita cintai."
"Iya Mbak!"
"Deo jangan berpikir bahwa rumah tangga Mbak yang kamu lihat itu berjalan manis. Mbak dan Mas Hanis juga punya banyaj masalah, namun beruntungnya Mbak dan Mas Hanis mampu melalui ini semua."
Nadeo mengangguk seolah mengerti dengan apa yang dikatakan Ines. Tapi memang ia mengerti kok.
"Mbak sama Mas Hanis pamit. Jaga Icha, kalau kamu butuh Mbak atau Mas Hanis, telpon Mbak, atau datang ke rumah. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kamu. Bagaimana pun juga kamu tetap adiknya Mbak, Walau sedikit bodoh." Di ujung kalimat Ines sengaja bercanda agar Nadeo tak begitu tegang.
"Mbak.." Rengek Nadeo tak terima. Kalau seperti ini, Nadeo sudah kembali ke mode manjanya. Ia seolah masih bocah SMP yang di goda kakaknya.
"Ya udah Mbak jalan dulu. Pokoknya ingat pesan Mbak tuh ya?"
"Iya Mbak."
Ines dan Hanis pun bangkit dari sofa.
"Aku antar sampai pintu depan!" Seru Nadeo.
Sampai di depan pintu, Ines memeluk Nadeo sesaat, seolah memberikan sedikut energu dan semangat. Akhir-akhir ini dapat di lihat Ines, Nadeo menjadi lebih kurus. Dan garis hitam di bawah matanya juga lebih kentara terlihat.
"Bilang sama Icha, Mbak gak sempet tunggu dia pulang."
Nadeo mengangguk. "Iya Mbak, nanti aku sampaikan."
__ADS_1
"Baik-baik di rumah, kalau ada apa-apa langsung telpon Mbak." Entah sudah berapa kali Ines mengatakan hal itu. Padahal yang ia tinggal bukanlah anak kecil.
Setelah kepergian Ines, dan Hanis Nadei merasa sangat kesepian. Rasanya tak ada yang terlalu berarti lagi di dunia ini. Ini adalah saat-saat ia sangat terpuruk.