Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Masa Lalu


__ADS_3

Setahun berlalu....


Umur pernikahan Nabila sudah menginjak setahun lebih. Dan hari ini tepatnya adalah hari resepsi pernikahan dari pemilik rumah sakit terkenal yang ada di Jakarta, juga tempat Nadeo bekerja.


Yups! Yang lebih tepatnya lagi adalah hari ini resepsi pernikahan dari Cinthya yang tak lain adalah sahabat Nabila sendiri. Ya ini adalah resepsi Cinthya dan Dewangga.


Membahas tentang Cinthya, dia memang pantas. Malah sangat pantas mendapatkan Dewangga sebagai pasangannya. Ia memang jarang memiliki masalah dengan Dewangga, tapi kemarin hubungannya sempat mendapatkan ujian. Mareka hampir saja putus di tengah jalan karna kesalah pahaman. Dan mungkin karna Cinthya adalah sosok malaikat berwujud manusia, jelas masalahnya dapat terselesaikan dan ia dapat berdiri sekarang di pelaminan.


Cinthya mengenakan ball gown dengan bubuhan kristal mewah dengan harga fantastis. Gaun berwarna putih itu berpadu indah dengan riasan yang natural. Cantik? Sudah sangat pasti. Sedangkan dewangga mengenakan jas putih dengan dasi kupu-kupu yang melekat di lehernya. Serasi.


Banyak tamu penting yang berdatangan. Mulai dari pengusaha, perdana menteri, dan orang-orang penting lainnya. Tidak lupa juga Nadeo dan Nabila tentunya yang saat ini sedang hamil.


Nabila mengenakan longsleeve dress berwarna peach yang bertabur payet, dengan hijab model ikat yang berwarna senada. Sedangkan Nadeo mengenakan kemeja berwarna putih untuk dalaman, dan luarnya jas hitam tanpa dikancing, mareka tampak serasi.


Nadeo juga saling bertegus sapa dengan beberapa orang yang dikenal atau ada juga rekannya.


"Sayang? Mas ke toilet sebentar ya? Kamu tetap di sini, jangan kemana-mana." Pesan Nadeo pada Nabila.


"Iya Mas."


Nadeo pun melenggang pergi menuju toilet. Dan seperti pesan sang suami, Nabila tetap berdiri di tempatnya tanpa berpindah.


"Ehem!" Suara deheman dari belakang, dan Nabila refleks menoleh ke arah sumber suara.


"????" Mata Nabila sedikit terkejut.


Egy? Iya! Nabila tak salah lihat, itu memang Egy Al-Vikri, laki-laki yang tak pernah ia jumpai lagi setelah ia menikah dengan Nadeo. Awalnya Nabila mang kaget mendapati kehadiran Egy, tapi di detik selanjutnya ia teringat, ini kan resepsinya Cinthya, adik sepupunya Egy, tak mungkin juga ia tak hadir.


"Long time no see." Kata Egy dengan ekspresi yang hampir tidak bisa ditebak.


Entah mengapa Nabila sedikit takut bertemu dengan Egy. Bukan takut, tapi lebih kepada rasa bersalah.


Nabila mengangguk pelan dan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Apa kabar?" Tanya Egy lagi.


"Seperti yang Mas lihat aku baik dan sehat."


Egy manggut-manggut saja mendengar jawaban Nabila. Ya! Sepeti yang Egy lihat Nabila sepertinya memang baik-baik saja. Dan dari raut wajahnya juga terlihat bahwa selama ini ia bahagia. Ia terlihat lebih cantik dari dulu, ditambah tubuhnya yang tambah berisi entah karna perutnya yang kian membuncit akibat hamil besar.


Rasanya Egy sedikit lega melihat keadaan Nabila sekarang. Walau tak bersama dengannya ia bahagia. Egy akhirnya bisa berlapang dada menerima keputusannya Nabila setelah melihat keadaan Nabila, dan sekarang ia tahu bahwa Nabila tidak mengambil keputusan yang salah.


Atensi Egy tertuju pada perut besar Nabila. Ia hamil? Harusnya ia yang menanamkan benih pada rahim Nabila. Ah Egy masih menjerit seperti itu dalam hatinya. Walau ia sudah berlapang dada bukan berarti ia sudah bisa melupakan begitu saja. Toh baru tadi ia bisa ikhlas setelah melihat Nabila.


"Kamu hamil?" Ah Egy malah merutuki mulutnya dalam hati setelah bertanya demikian. Basa-basinya terlalu basi.


Nabila mengangguk.


"Selamat ya?"


"Terimakasih Mas. Mas Egy sendiri gimana kabarnya?"


Kabar? Apakah ia sekarang terlihat baik-baik saja di mata Nabila? Egy tersenyum getir.


Nabila menunduk lesu. Dirinya kah penyebab kehancuran Egy? Apalagi ia dapat menangkap cahaya redup pada mata Egy, kian terasa rasa bersalahnya pada pria itu.


Seperti jawaban Egy yang mengatkan ia hancur dan berantakan, itu memang adanya. Egy yang kini berdiri di depan Nabila sekarang bukanlah Egy yang dulu Nabila kenal. Egy yang sekarang adalah Egy yang terlihat berantakan dan tak terurus dengan rambut panjang, juga bulu tipis yang tumbuh dipipinya benar-benar tak terurus.


"Maa sudah menikah?" Nabila memberanikan diri bertanya tentang itu.


Egy tersenyum gwtir. "Kalau aku sudah menikah, pasti aku akan bersama istriku, dan ku kenalkan pada mu Bila."


Ah rupanya belum.


"Lagi pula bagaimana caranya aku menikah sedangkan bayang-bayangmu masih setia menghiasi hatiku Bila." Tambah Egy.


Ah mengapa Egy mengungkit tentang itu lagi?

__ADS_1


"Mas! Tolong jangan katakan itu." Egy membuat Nabila semakin merasa bersalah dengan menunjukkan dirinya yang belum bisa move on dari Nabila.


"Tapi itu kenyataannya Bila. Aku adalah laki-laki yang teguh memegang janji. Sudah aku katakan aku tidak akan menikah dengan perempuan manapun, jika bukan dengan kamu. Aku masih menunggu kamu Nabila," Tegas Egy,


"Bahkan sampai aku mati." Lanjut Egy kemudian.


Ah Egy, membuat Nabila ditambah dengan rasa bersalah saja. Tapi tunggu, Nabila ingat akan satu hal, bukankah ia merelakan Egy dulu demi orang lain? Kemana dia?


"Mas..., bagaimana dengan Putri dan Haizi?" Tanya Nabila pelan penuh hati-hati, takutnya Egy marah atau tersinggung dengan pertanyaan yang ia lontarkan.


Egy tertawa kecil, seolah itu lelucon basi.


"Aku akui Haizi adalah anakku secara biologis. Aku bertanggung jawab menafkahinya, tapi jika menikahi ibunya,"


Egy menggeleng, "Aku tidak bisa melakukannya."


"Rasanya juga terlalu kejam aku menikahi Putri, tapi aku tidak bisa memberi cinta untuknya. Aku tidak mau dia terluka seumur hidupnya karna aku tak bisa membalas cintanya."


Nabila memang tak lagi tahu menahu tentang Putri setelah terakhir bertemu di cafe dan Putri memintanya meninggalkan Egy. Dan di acara pernikahan Nabila, Putri tidak hadir atau entah Nabila tak melihatnya. Seingat Nabila hanya Ariflah yang hadir saat itu dan saat sesi salaman saat itu Arif meminta maaf padanya yang langsung diiyakan oleh Nabila.


"Ehem!" Suara deheman Nadeo yang datang dari belakang Nabila.


Dengan sengaja Nadeo berdiri di samping Nabiala dan merangkul Nabila di depan Egy. Pemandangan yang menyesakkan dada.


"Lama gak ketemu ya?" Kata Egy basa-basi.


Nadeo tak menanggapinya, ia malah menoleh ke samping pada sang istri seolah memamerkan kemesraannya pada Egy.


"Kamu nunggu lama sayang?" Tanya Nadeo lembut.


Nabila menggeleng.


"Maaf Pak Egy, tapi saya rasa kami harus permisi. Saya harus membawa istri saya mencari tempat duduk. Bapak bisa lihat sendiri bahwa dia sedang hamil besar, rasanya tak baik jika dia berdiri terlalu lama terlebib lagi itu bersama anda." Ucap Nadeo dengan formal tapi sedikit nyelekit.

__ADS_1


Egy tak menjawabnya. Ia hanya bisa diam menyaksikan Nadeo yang menarik Nabila pergi dari hadapannya. Dan satu yang disadari Egy, rasanya masih sesakit dulu.


Tak jauh berbeda, Nadeo masih juga cemburu walau sudah jelas-jelas Nabila sekarang miliknya. Dan Nadeo tak ingin kejadian dulu terulang lagi, cukup sekali ia kehilangan Nabila. Tak kan ia biarkan Nabila pergi lagi dari hidupnya.


__ADS_2