Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Membujuk Bu Yura


__ADS_3

Cinthya berkunjung ke rumah Egy untuk menepati janjinya pada Abang sepupunya itu. Ah..., rasanya sungguh berat melakukannya, andai saja bukan Egy yang memintanya, jelas Cinthya tak mau mengambil resiko melakukannya. Gimana tidak coba? Bu Yura atau Tante dari Cinthya adalah seorang yang kejam, yah maksudnya jika ada seseorang yang menentang niatnya, maka habislah dia. Apa Cinthya juga akan bernasib seperti itu?


Sebelum ia ke rumah Bu Yura, ia sudah terlebih dulu menghubungi Bu Yura untuk mengatkan bahwa ia akan bertandang ke rumah. Cinthya beralasankan kangen pada Bu Yura, hingga ia ingin main ke sana. Padahal ia harus turun tangan atas kasus yang menimpa Egy, walau kemungkinan Bu Yura akan mendengarnya adalah satu persen. Tapi setidaknya ia sudah berusaha, bukan begitu?


"Cinthya udah datang? Sendiri?" Tanya Bu Yura begitu ramah ketika melihat keponakannya baru masuk.


"Iya Tan!" Jawab Cinthya seadanya dengan cengiran di bibirnya.


Lihatlah betapa sangat manisnya sikap Bu Yura. Biar ku beri tahu. Bu Yura ini sebenarnya adalah orang yang tegas dan ramah, ia juga sosok perempuan yang bisa menghargai orang lain. Namun minusnya dia adalah ia gampang termakan omongan orang lain. Nah! Sekalinya dia gak suka, maka itu tidak bisa lagi di ganggu gugat.


"Ayok sini bantuin Tante bikin kue?" Bu Yura menarik tangan Cinthya untuk ke dapur bersamanya.


Mengapa hati Cinthya rasanya dag dig dug sekali ya? Sejujurnya ia masih ragu-ragu untuk mengatakannya, karna ia tahu adik ayahnya ini sangat keras kepala dan sulit di ajak kompromi.


"Tumben datang ke sini." Kata Bu Yura berbasa-basi sambil menguleni adonan yang sempat ia tinggal ketika kedatangan Cinthya.


"Iya Tan baru sempat, soalnya sibuk banget!"


"Sibuk apa sekarang?"


"Lagi siapan buat diri nih buat UKMPPD (Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter)"


"Owh iya. Semoga berhasil deh."


"Makasih Tan!"


"Mama sama Papa apa kabarnya?"


"Baik. Mareka baik-baik aja kok!"


Bu Yura manggut-manggut. "Berarti akhir-akhir ini kamu sibuk banget dong ya?"


"Iya Tan!"


"Kamu kayak Mas Egy saja, sibuk terus!"


Nah! Namanya Egy sudah yerpancing nih!


"Namanya juga udah dewasa Tan! O ya aku ngapain nih Tan? Masa cuma berdiri aja kayak patung."


"Masukin ini dalan loyang terus ke oven ya?" Perintah Bu Yura pada Cinthya. Dan Cinthya melakukan sesuai arahan dari Bu Yura.


"Kalau yang ini di goreng ya?" Tanya Cinthya sambil menunjuk donat yang sudah selesai, tinggal menunggu penggorengan.


"Iya. Apinya jangan besar ya?"


"Baik Tante!" Cinthya pun mengambil donat itu untuk di goreng.


"Kamu tahu gak Cin? Tante kesel sama Mas mu akhir-akhir ini." Bu Yura mulai melancarkan aksi curhatnya.

__ADS_1


"Kenapa Tante?"


"Kamu tahu gak? Dia nekat mau menikahi janda bodoh yang jadi sekretarisnya."


Deg! Tanpa harus ia pancing, Bu Yura lebih dulu mengatakannya pada Cinthya. Cinthya yang mendengar itu menelan salivanya kasar. Tamatlah riwayatnya kali ini pada Tantenya itu.


"Sudah begitu, Mas mu itu gak mau dibilangin. Dia tetep kekeh mempertahankan janda itu. Tante gak habis pikir, entah apa yang dilihat dari perempuan seperti itu. Tante yakin itu perempuan pasti pake pelet yang manjur di kampungnya. Dia kan berasal dar kampung."


"Yang Tante maksud itu apa namanya Nabila?" Ah pake nanya lagi. Padahal jelas ia sudah tahu.


"Iya. Kok kamu tahu?" Bu Yura berhenti menguleni tepungnya dan mengedarkan pandangannya pada Cinthya.


"Itu temen aku Tan!"


"Yang bener?"


"Iya Tan!"


"Baguslah kalau begitu. Kamu ingetin tuh temen kamu supaya gak deket-deket sama Mas mu, jangab suka menggoda Egy. Kamu beneran harus bilang gitu ke dia loh Cin." Ucap Bu Yura sambil melanjutkan kegiatannya.


"Aa?" Cinthya melongo.


"Bilang juga kalau Mas Egy sudah tante jodohkan dengan wanita lain."


"Sama siapa Tante?"


"Emang Mas Egy mau Tan?"


"Harus mau." Tekad Bu Yura.


Cinthya mendekat ke arah Bu Yura, mengikis jarak di antara keduanya. Sepertinya inilah saatnya ia mengatakannya.


"Tan...," Lirih Cinthua.


"Heum..."


"Sebenarnya Cinthya kenal baik dengan Nabila. Dia itu baik loh Tan!"


Bu Yura menyipitkan matanya mendengar penuturan Cinthya. Apa yang saat ini terjadi? Mengapa semuanya malah membela perempuan itu?


"Mas Egy sayang banget sama dia." Lanjut Cinthya.


"Kamu jangan menghasut tante deh! Tante gak akan terpedaya."


"Beneran Tan, Mas Egy yang selalu mengejar-ngejar Nabila" Cinthya membenarkan ucapannya.


"Tante jangan halangin hubungan mareka ya?" Tambah Cinthya.


"Punya hak apa kamu boleh ngatur-ngatur tante?" Tanya Bu Yura pedas.

__ADS_1


"Cinthya gak bermaksud ngatur-ngatur Tante, tapi yang Cinthya bilang ini bener Tan!" Cinthya meyakinkan Bu Yura. "Tante jangan menghalangi hubungan mareka lagi ya?"


"Enggak!" Tolak Bu Yura keras. "Kamu ini apa-apaan? Kok kamu jadi berada di kubunya janda itu?" Sungut Bu Yura kesal.


"Tan..., kasian Mas Egynya."


"Lebih kasian kalau Mas mu menikah sama janda itu."


Cinthya menelan ludah, ia kehabisa akal sudah, ia tak tahu dengan cara apa ia harus meyakinkan Bu Yura. Apa yang harus dilakukannya sekarang?


"Tante belum kenal Nabila aja, makanya tante bisa berasuamsi begitu. Ya kan?"


"Siapa bilang gak pernah?"


"Tapi dia beneran baik kan Tan?" Cinthya meastika n.


Bu Yura tak merespon, ia terus melanjutkan kegiatannya.


"Tante bakalan nyesel gak restuin hubungan Mas Egy. Mas Egy bakalan hancur banget."


"Kamu ngancam tante?


"Enggak Tan! Aku bukan ngancam Tante, tapi itu kenyataan yang akan terjadi kalau Tante tetap bersikukuh untuk tidak merestui hubungan Mas Egy."


Bu Yura diam.


"Mas Egy bakaln hancur banget." Lanjut Cinthya.


"Justru kalau sama perempuan itu dia hancur. Kamu jangan campurin urusan Tante." Bu Yura mengingatkan.


"Tante, Mas Egy cinta sama Nabila." Cinthya mencoba lagi.


"Cinta?" Bu Yura teryawa mengejek. "Tau apa kamu tentang cinta, kamu masih bocah ingusan sudah berani bilang cinta."


"Mending kamu gak usah ikut campur, sebelum tante marah." Lanjut Bu Yura.


Cinthya terdiam. Ia menghembuskan napas pelan. Sudah ia bilang ia tak akan mampu membujuk Bu Yura.


Cinthya menyerah, ia tak punya banyak keberanian untuk menghadapi singa betina tidur. Mamanya sungguh keras kepala.


"Maafin aku Mas Egy? Aku gak berhasil" yakinin Tante." Batin Egy.


"Udah sana! Selesaiin kerjaan kamu." Perintah Bu Yura.


"Iya Tan!" Jawab Cinthya dan melanjutkan kembali pekerjaannya.


Cinthya tak bisa lagi fokus pada kerjaannya sekarang. Otaknya hanya diisi dengan wajah Egy dan juga Nabila. Betapa malangnya nasib percintaan mareka. Cinthya jadi tak sangguo untuk membayangkannya.


Hy Hy semua. Readers setiaku. jgan lupa like dan komen.

__ADS_1


__ADS_2