Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Musibah


__ADS_3

Raya baru saja selesai mengepel di seluruh rumah. Dari lantai satu hingga lantai dua, tak luput Raya bersihkan. Tak ada satu pun ruangan yang ketinggalan dibersihkannya.


Walau nantinya ia tidak di rumah, tapi ia senang kalau Pakde dan Bude Nabila akan berkunjung. Ia akan mengungsi ke hotel untuk dua atau tiga hari.


Menurut kata Nabila tadi, Pakde dan Budenya akan sampai sore hari nanti. Sekitar jam empat, dan sekarang masih jam dua belas.


"Huh! Akhirnya selesai juga!" Gumama Raya. "Tinggal masukin baju ke koper."


Setelah itu Raya masuk ke dalam kamarnya. Memasukkan beberapa helai pakaian untuknya saat di hotel nanti. Ini adalah resiko menikah tanpa restu. Ia harus bersembunyi, dari keluarga Nabila apalagi Nadeo. Kadang ia benci situasi seperti ini. Seolah-olah ia adalah istri simpanan. Tapi istri simpanan juga tidak sepenuhnya salag bila dilakapkan padanya.


Sedangkan di lantai dua, ada Nabila yang baru saja mendapatkan telpon dari Nadeo.


"Assalamualaikum Mas?"


"Waalaikum salam. Kamu siap-siap ya? Kita jemput Pakde dan Bude."


"Loh kok cepet?"


"Iya, jadwalnya berubah!"


"Oh..., ya sudah Mas. Aku siap-siap dulu. Mas udah di rumah?"


"Lima menit lagi aku sampai."


"Oh ok! Hati-hati Mas!"


"Iya! Kamu juga!"


Setelah sambungan telpin terputus, Nabila segera siap-siap. Ia mengganti pakaiannya dengan gamis syar'i berwarna tosca dan jilbab dengan warna yang sama.


Nabila nampak terburu-buru ketika melihat mobil Nadeo sudah masuk ke pekarangan rumah. Rasanya tak sabar ia berjumpa dengan Pakde dan Budenya. Dengab tergesa Nabila menyemprotkan parfume ke bajunya.


Tanpa hati-hati ia berlari kecil keluar kamar. Ia sudah tak sabaran bertemu dengan Pakde dan Budenya. Lantai masih basah, tapi Nabila tak menghiraukannya. Ia tetap berlari kecil, hingga baru sampai anak tangga ke tiga yang ia injak, ia terpeleset karna ketidak hati-hatiannya, tak luput juga disebabkan karna anak tangga yang masih basah dan licin karna baru selesai di pel.


BRUGH!!!


BRUGH!!!


"AH.."

__ADS_1


Nabila terjatuh dan terguling hingga ke dasar tangga. Dan dalam sekejab suara teriakannya hilang, diganti dengan keheningan.


Karna mendengar suara teriakan, Raya yang sedang memasukkan baju ke dalam kooer keluar dengan tergesa. Ia panik bukan main. Apalagi ia sempat mendengar seoerti suara jatuh.


Raya histeris mendapati Nabila Nabila yang sudah terkapar tak sadarkan diri di lantai. Ditambah ada banyak sekali darah di kepala bahkan kakinya. Ia segera mendekat ke tubuh Nabila.


"Mas!! Tolong Mas!!" Raya berteriak. "Nabila Mas!!"


Dengan cepat Nadeo keluar dari kamar. Tadinya ia berada di kamar mandi karna ingin mencuci muka. Nadeo lebih terkejut lagi saat melihat istri pertamanya sudah terkapar di lantai. Apa yang terjadi padanya?


"Kenapa bisa gini?" Tanya Nadeo panik


"Gak tau mas!!" Jawab Ray tak kalah panik. "Kayaknya jatuh dari tangga!"


"Kok bisa?"


Raya menggeleng, ia tak tahu pasti karna tak.melihatnya. "Mungkin karna lantainya licin!"


"Arghh!!" Nadeo berteriak frustrasi.


Dengan cepat Nadeo menggendong Nabila untuk langsung bisa di bawa pulang ke rumah sakit.


"Iya Mas!"


...****************...


Nabila banyak sekali kehilangan darah, sampai tadi Nadeo harus mendonorkan darahnya pada Nabila. Untung saja golongan darah mareka sama, hingga tak perlu susah-susah untuk mencarinya.


Sekarang perempuan itu belum sadarkan diri. Hening. Suasana dalan kamar bernuansa putih itu sangat hening. Hanya suara monitor yang memecahkan kesunyian di kamar itu. Bau pekat obat-obatan menusuk ke hindung laki-laki yang masih setia di samping sang istri. Rasanya hatinya hancur berkeping-keping.


Semua penyesalan terasa sangat kentara. Mengapa ia bisa begitu bodoh dan ceroboh? Mengapa ia tak bisa menjaga istrinya?


Sudah tengah malam, tapi ia masih malas beranjak dari sisi Nabila yang belum ada kemajuan. Di luar ruangan ada Bu Ningrat, Ines, Pakde dan juga Bude. Mareka semua sudah mencoba untuk minta bergantian menjaga Nabila, tapi laki-laki itu menolak.


Nadeo. Mulai dari membawa Nabila ke rumah sakit, Nadeo tak mau menjauh barang sejengkal pun dari sisi Nabila. Nadeo bahkan melupakan istri keduanya, entah dengan apa istri keduanya itu pulang. Ia tak peduli. Itu tak penting, yang penting adalah Nabila. Sadarlah sayang!


Nadeo bahkan melupakan tujuannya tadi menjemput Pakde dan Bude, dan ia suruh pada Mas Hanis.


Bu Ningrat meminta Ines untuk membawanya masuk ke dalam. Ia ingin menghampiri anak laki-lakinya yang sedang terluka hatinya. Ia harus menggunakan kursi roda, dikarenakan tadi ia shock berat mendapati kabar Nabila kecelakaan di rumah, ya jatuh dari tangga.

__ADS_1


Bu Ningrat mengusap punggung Nadeo yang terlihat sesegukan. Menangiskah dia? Sepertinya iya.


"Sudah, doakan dia Deo, sebentar lagi pasti siuman." Lirih Bu Ningrat. Ia dapat merasakan bagaimana hancurnya perasaan Nadeo saat ini.


Nadeo menggeleng, menangkupkan wajahnya ke lengan Nabila. Menangis tanpa suara.


"Aku banyak salah Ma sama Nabila. Aku menyesal. Gimana kalau Nabila ninggalin aku?" Ratap Nadeo. Pikirannya sudah jauh berkelana. "Aku gak sanggup Ma! Aku benar-benar gak sanggup!"


Kini pria itu mendadak menjadi pria cengeng. Kemana sifat cuek dan dinginnya selama ini?


"Bil..., bangun sayang. Maafin Mas mu ini. Mas memang gak becus jagain kamu!"


"Jangan begini Nak!" Bu ningrat semakin tak kuasa melihat Nadeo yang frustrasi.


"Ines bawa adikmu keluar, ajak dia ke mushalla, agar sholat dulu, biar hatinya tenang."


Ines mengangguk. Segera ia menarik lengan Nadeo. "Yuk? Bukan gini caranya kamu sayang sama Nabila. Berdoa! Dia gak butuh tangisan kamu, dia butuh doa kamu!"


Dengan kata-kata Ines, akhirnya Nadeo mau di ajak ke mushalla. Untuk bersujud dan memohon kepada Rabb Maha segalanya. Dia lah yang telah mengatur semuanya hingga sedemikian rupa.


Semua terluka mendengar kabar Nabila. Apalagi Pakde dan Bude yang tujuannya kesini mau menemui Nabila. Nyatanya yang mareka dapat adalah kabar buruk dari Nabila.


Setelah Nadeo mengadu pada tuhan tentang keluh kesahnya, Ines menghampirinya. Ines duduk di samping Nadeo.


"Mbak gak pernah lihat kamu nangis sebelumnya. Kecuali pas Mama sakit."


Nadeo menoleh sebentar. "Aku takut Mbak!" Suara Nadeo terdengar serak dan pelan, mungkin karna sedari tadi ia menangis.


Ines menghembuskan napas pelan. Ingin rasanya ia menghujat adiknya itu, tapi ia kembali berpikir bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk menyalahkan. Biarlah keadaan sedikit tenang. Banyak pertanyaan kasar ingin Ines tujukan pada Nadeo. 'Kenapa takut? Bukannya kamu seneng liat Nabila menderita?' Tapi itu semua tak Ines keluarkan, takutnya Nadeo malah semakin merasa bersalah.


"Emang Laki-laki gak boleh nangis Mbak ya?"


"Gak ada sih aturan seperti itu."


"Jadi?"


"Laki-laki kan juga pernah sedih! Tapi ya gak usah nangis lagi juga. Nangisnya udah cukup, simpan buat hari ke depan. Mungkin setelah ini kamu harus nangis lagi."


"Mbak..." Rengek Nadeo manja.

__ADS_1


Ketika bersama Ines, Nadeo berubah menjadi seperti anak ingusan. Ia terlampau manja dengan kakak perempuannya itu. Ia merasa masih bocah saat bersama Ines. Padahal umurnya sudah kepala tiga.


__ADS_2