Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Cemburu?


__ADS_3

Perasaan tak enak menteruak ke dalam dada Nabila. Ia merasakan hawa negatif sejak kedatangan rubah betina itu ke kantornya tadi. Putri. Siapa lagi coba yang ingin Putri temui jika bukan calon suaminya?


Ah, Nabila jadi tersenyum ketika mendengar kata calon suami, entah ia akan berjodoh dengan Egy ataukah tidak.


Eits, kembali lagi ke topik yang tadi. Saat Putri melewatinya, ia memberikan satu seringai jahat pada Nabila. Perempuan bersifat ular itu pasti sedang melakukan hal yang tidak benar sekarang. Nabila tebak, ia sedang bergelayutan manja pada Egy, bahkan bisa jadi peluk cium.


Daripada di dera gelisah, alangkah baiknya Nabila menghampiri Egy dalam ruangannya. Nabila ingin menyaksikan langsung apa yang dilakukan rubah betina itu di dalam ruangan bersama Egy. Dia kan memang perempuan genit, pantas saja Nabila curiga.


Ceklek!!


Nabila membukakan pintu ruangan tanpa permisi terlebih dahulu. Dan pemandangan di depannya langsung membuat dadanya sesak. Egy dan Putri berpelukan. Persetan dengan semuanya, memang tak ada yang bisa dipercaya dari mulut laki-laki.


Egy yang menyadari kedatangan Nabila, segera melepaskan Putri dan sedikit mendorong Putri agar pelukan mareka benar-benar terlepas. Dapat dipastikan pasti Nabila marah kepadanya.


"Bil! Bila!"


Egy terus mengejar Nabila yang tidak menggubris panggilannya. Kuat juga wanita itu berlari. Sampai di depan lift, Egy berhasil menyusul Nabila.


"Bil! Ini gak seperti yang kamu liat." Egy berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi tadi.


"Udahlah! Kalau Mas mau sama dia, ya sama dia aja, ngapain sama aku?" Balas Nabila kesal.


"Bila, denherin Mas dulu!" Egy menarik tangan Nabila lembut, namun Nabila menolak secara kasar. Enak saja tadi sudah memeluk siluman ular, eh sekarang mau menyentuhnya.


"Jangan pegang-pegang aku, aku bukan wanuta murahan yang bisa bebas dipegang-pegang."


"Iya maaf sayang, dengwrin penjelasan Mas dulu ya?"


Belum sempat Nabila menjawab, Putri menyusul dan berdiri di samping Egy. Sumpah! Nabila melihat lagi seringai jahat Putri yang diberikan padanya.


"Ini ada Putri. Ayo Put jelasin kalau kita gak ada apa-apa tadi, soalnya calon istri aku ini agak cemburuan." Ujar Egy sedikit tersenyum. Di satu sisi ia bahagia melihat Nabila cemburu, itu artinya perempuan itu memang sudah menaruh hati padanya.


"Maaf ya Bila? Tadi aku lagi sedih. Mas Egy cuma nenangin aku aja kok." Kata Putri sok dramatis, seolah itu benar.


"Putri lagi sedih Bila, hari ini peringatan meninggal Mamanya yang ke lima belas tahun, dia sedih ingat sama Mamanya, jadi sekedar curhat sama aku. Kamu jangan salah paham lagi ya?"


Nabila masih memasang tampang cuek dengan tangan bersideka di dada. Menurut Nabila, semua tidak sesederhana itu. Jelas-jelas ini dramanya siluman rubah itu. Ini hanya sebagai alasan saja, Jelas-jelas saat Nabila datang, ia enteng-enteng saja tuh, gak ada tampang sedih-sedihnya. Dan sebelum Nabila pergi dari ruangan Egy, ia masih sempat memberikan senyum licik, saat ia masih berada dalam pelukan Egy. Nabila tak bodoh, ini tidak sesederhana itu.


Tapi ngomong-ngomong, benarkah perempuan ini sudah tak punya Ibu? Bodo amat lah!


"Percaya ya Bil? Kita gak ada apa-apa kok!" Egy nasih berusaha meyakinkan.


"Tolonh jangan salah paham ya Bil? Aku fan Mas Egy sudah biasa kok seperti ini. Kamu juga harus terbiasa dengan dia yang juga sayang sama aku. Aku udah anggap Mas Egy kakakku sendiri."


"Jangan marah lagi ya sayang?" Egy mencoba merayunya.


Nabila malas hanya sekedar untuk menjawab. Tapi jika ia marah, itu artinya ia memberikan kesenangan pada Putri. Oh tidak bisa!

__ADS_1


"Bil?"


Nabila tak menjawab, ia hanya memutar bola mata malas.


"Gak marah kan Bil?" Egy masih berusaha.


"hm."


...****************...


Nabila membukakan pintu ketika suara seorang laki-laki pengantar paket memanggilnya. Setelah pintu terbuka, nampaklah seorang pemuda dengan pakaian khas aplikasi mareka. Pemuda itu memberikan bunga untuknya, tulip putih.


"Ini ya Mbak?"


Nabila mengangguk, "Makasih Mas!"


"Saya permisi ya Mbak?"


"Iya, terimakasih!" Nabila memeberikan senyum tipis kepada pria tersebut.


Tak lama laki-laki yang bekerja sebagia ojek itu meninggalka. pekarangan rumah Nabila, sedangkan Nabila beegegas masuk ke dalam rumah.


Nabila duduk di sisi ranjangnya, sedangkan atensinya tertuju pada buket tulip putih yang berada di tangan kanannya. Ia mendapati sepucuk karyu ucapan dalam bunga tersebut. Nabila mengambik dan membacanya.


Maaf ya Bila, semoga suka bungnya. Ini untuk permintaan maaf Mas kemarin. Mas salah! Tolong jangan marah lagi ya?


Begitulah kira-kira isi kartu ucapan tersebut. Dan kalian pasti tahu siapa pengirimnya, jelas jawabannya Egy.


Tak lama ponsel Nabila berbunyi. Nabila segera mengangkat panggilan tersebut.


"Halo?"


Udah nyampe bunganya?" Tanya Penelpn dari seberang.


"Udah!"


"Suka?"


"Lumayan!"


"Kok lumayan?"Protes Egy dari seberang.


"Ya terus apa? Suka? Iya aku suka!" Jawab Nabila ketus.


"Masih marah ya sama Mas?"


"Gak!"

__ADS_1


"Tapi kok kayaknya Iya tapi ya?"


"Perasaan mas saja."


Egu di sana tersenyum membayangkan wajah cemberut Nabila. Pasti sangat menggemaskan! Ingin rasanya Egy segera menghalalkan wanita itu agar dirinya dapat mencubit, mencium wanita itu sepuasanya.


Awas saja Nabila, kalau sudah Egy menghalalkannya. Dapat dipastikan Egy tidak akan mengampuninya. Ah..., membayangkannya saja sudah sangat indah.


"Kalau gak ada perlu lagi, aku tutup telponnya."


"Eh jangan dulu!"


"Ada perlu apa lagi sih Mas?" Tanya Nabila kesal.


"Jangan marah lagi dong!" Pinta Egy agak merengek manja.


"Siapa juga yang marah?"


"Kamu. Mas sebenarnya senang kamu begini, artinya itu kamu cemburu! Tapi jangan lama-lama juga, Mas juga gak tahan dicuekin kamu terus."


"Mas tahannya di peluk-peluk perempuan itu kan?"


"Hahahah, Mas gak nyangka kamu beneran cemburu. Mas seneng deh!"


Heh? Gimana ceritanya ini? Nabila kesal, Egy malah senang. Dasar laki-laki!


"Udah ah Mas, aku capek mau istirahat!"


"Eh tunggu!"


"Apa lagi?" Tanya Nabila masih dengan nada kesalnya.


"Kamu maafin Mas kan?"


" Gak tau!"


"Mas kesana aja ya?"


"Mau ngapain?" Tanya Nabila panik.


"Mau minta maaf. Mas gak tenang kalau belum dapat maaf dari kamu!"


"Gak usah! Iya deh aku maafin! Tapi ini yang terakhir, kalau Mas masih suka peluk-pelukan sama dia, awas!" Kata-kata Nabila dipenuhi dengan ancaman.


"Siap Princess!!"


"Udah ya Mas? Aku tutup, aku mau istirahat!"

__ADS_1


"Selamat istirahat sayang!"


Nabila pun memutuskan sambungan telponnya dengan Egy. Memang Egy ini tipe pria yang pantang menyerah. Buktinya saja tadi, jika ia tak memaafkannya, ia tetap bersikukuh melakukan cara apa pun.


__ADS_2