
"Kok jadi lebih gantengan Mas sih daripada aku?" Komentar soegi saat melihat Nadeo memakai hoodienya.
Rasanya sebal sekali, ketika Nadeo memakai bajunya, tapi aura ketampanan lebih memukai darinya. Umur Nadeo jadi terlihat sepuluh tahun lebih muda saat berpakaian begitu.
"Mas mu ini kan, memang ganteng!" Sahut Nadeo percaya diri.
"Ah payah!"
"Kayaknya bisa nih Mas koleksi baju seperti ini, biar kelihatan lebih muda. Siapa tahu Mbak mu bisa jadi jatuh cinta lagi sama Mas."
Soegi hanya terkekeh menanggapi ocehan Nadeo. Sepertinya Abang iparnya ini betul sudah tergila-gila pada Mbak Nabila.
"Udah ah Mas, yuk keluar. Nanti udah selesai lagi filmnya."
Nadeo mengangguk. Iya mareka akan menonton TV bersama. Ada film box office yang akan diputar malam ini di salah satu stasiun TV Indonesia.
Setelah tadi selesai makan malam dan mengobrol dengan Pakde, Nadeo batu mandi. Sekarang ia nampak seperti anak ABG, yang memakai pakaian soegi. Dia tidak membawa apa pun, hanya mobil dan dompet. Maksudnya tidak ada perlengkapan apa pun. Alhasil selama di sini ia terus memakai pakaian soegi. Untungnya badannya tak terlalu besar, jadi semua pakaian soegu muat padanya. Dan kerennya ia terlihat seumuran dengan soegi sekarang.
Nadeo dan soegi keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu. Nabila yang sedang menonton TV, menoleh ketika melihat Nadeo dan soegi keluat bersama.
Tidak! Nabila hanya fokus kepada satu orang. Jangan bilang orang itu Nadeo. Tapi sayangnya iya. Nabila melongo melihat Nadeo bak idol K-pop yang selalu terlihat awet muda. Vibesnya kayak anak sekolahan, padahal umurnya sudah bapak-bapak. Siapa pun itu tolong bangunkan Nabila, tolong sadarkan Nabila.
Dan yes! Akhirnya Nabila sadar, orang yang sekarang ada di sampingnya, adalah calon mantan suaminya. Jadi ia tak boleh terkecoh hanya dengan kegantengannya itu.
Nadeo duduk di sigle sofa, dan Soegi di samping Nabila.
"Mas gak tidur?"
Nadeo bingung harus menjawab apa. Pasalnya ua tak tahu harus tidur di mana. Tidur bersama Nabila, gak mungkin. Tidur bersama Soegi, tak enak juga. Masa ia terus menyusahkan Soegi. Memang kemarin ia tidur bersama Soegi, tapu rasanya kalau terus-terusan gak enak juga. Satu ide muncul. Tidur di hotel saja, begitu pikir Nadeo.
Nabila yang melihat Nadeo kebingungan, jadi berpikir apa laki-laki itu tak nyaman tidur di kamar soegi ya? Soegi ka kalau tidur suka nendang orang di sampingnya sampai jatuh.
"Ah...iya, kayaknya aku harus cari penginapan." Jawab Nadeo akhirnya.
"Kenapa gak tidur di sini aja? Bude sama Pakde gak papa kok. Mareka izinin."
Tuh kan benar! Nadeo gak nyaman tidur bersama Soegi. Apa ia tawari saja kamarnya untuk Nadeo? Kasihan juga Nadeo, dia kan tidak terbiasa tidur di tempat sempit seperti ini.
"Mas tidur di kamar aku aja, aku tidur di kamar Soegi." Tawar Nabila.
"Jangan!" Tolak Nadeo cepat. "Aku cari penginapan saja."
"Di sini gak semudah di kota loh Mas. Susah cari penginapan, mana jaub lagi."
Iya juga ya? Apalagi ini juga sudah agak larut. Kalau ia bersikukuh ke kota, dan belum tentu juga ada penginapannya. Ada sih pasti ada. Cuma, kamar kosongnya ada gak?
"Iya Nak Deo, tidur di sini saja." Ujar Bude yang melewati mareka. Ia sudah ingin tidur.
"Kalau gak, tidur di kamar aku aja Mas. Kemarin kan juga tidur di kamar aku."
__ADS_1
"Jangan!" Tolak Nabila. "Kamu kan tidurnya suka ngorok. Mas Nadeo pasti gak bisa tidur. Mas Nadeo gak nyaman tidur sama kamu."
"Ih... Mbak enak aja. Kemarin enteng-enteng aja kok." Celetuk Soegi. Ia agak kesal Nabila membongkar aibnya.
"Lagian kemarin enteng-enteng aja kok. Mas Nadeo nyaman aja tuh tisur sama aku. Ya kan Mas?"
Nadeo mengangguk menyetujui.
"Udah Mas, gak usah dengerin Soegi, tidur di kamar aku aja."
"Aku tidur di kamar Soegi aja." Putus Nadeo.
"Mas yakin?"
Nadeo mengangguk.
"Tapi dia kalau tidur suka nendang-nendang loh Mas?"
"Gak papa."
"Yaudah kalau Mas yakin."
...****************...
Nadeo dan Soegi kini sudah berbaring dibranjang, dan pastinya di dalam kamar soegi. Untungnya ranjang soegi cukup luas, bahkan bisa muat untuk tiga orang, tiga orang yang kurus maksudnya.
"Gi, Mbak Nabila itu kesukaannya apa sih?"
"Kesukaan yang gimana maksudnya Mas?" Balik tanya Soegi. Ia tampak sedikit berpikir tentang maksud fmdari pertanyaan Nadeo.
"Ya..., apa aja gitu. Kayak makanan, kriteria cowok idaman, pokoknya segalanya lah."
Nadeo tertawa pelan. Sepertinya Nadeo sudah terkena sindrom jatuh cinta nih. Berasa kayak ABG mau dekatin gebetannya aja.
"Ah..., Mas Deo ini gimana sih? Masa segitu lamanya tinggal sama Mbak Nabila gak tau kesukaan Mbak Nabila?"
"Ya..., bukan gitu. Kamu gak ngerti masalahnya. Kamu kan bocah!"
"Enak aja Mas bilang gitu. Dulu Mbak Nabila waktu nikah sama Mas, umurnya masih 19 tahun loh! Sama kayak aku sekarang." Sangkal Soegi tak terima.
"Tapi Mbak mu keliatan dewasa pikirannya, kamu mah bocah banget!"
"Mbak Nabila memang orangnya dewasa banget sedari dulu, penurut, makanya Bapak dan Ibu sayang banget sama Mbak Nabila."
"Cerita dong!"
"Cerita Bapak ibu?" Soegi dengan polos bertanya.
"Ya cerita tentang Mbak mu lah!"
__ADS_1
"Owh.." Soegi tersenyum bodoh. "Jadi selama ini Mas ngapain aja udah lima tahun?" Tanya Soegi menoleh menatap Nadeo.
Nadeo menggaruk kepala yang tidak gatal. Ada benarnya pertanyaan Soegi, ngapain dia selama ini?
"Ya apa ya?" Nadeo kebingungan. "Mas menyianyiakan Mbak mu, makanya Mas sekarang mau ngejar dia. Makanya kamu cerita dong, makanan kesukaan, pokoknya semuanya."
"Harus ada imbalannya dong!" Soegi mengedipkan matanya ke arah Nadeo.
"Iya! Mas turutin!"
"Aku cerita nih ya?"
Nadeo mengangguk penuh harap dan semangat.
"Mbak Nabola itu kalau makanan ya.., gak pilih-pilih sih. Cuma dia itu suka masak rendang. Mbak Nabila pinter masak rendang."
Nadeo manggut-manggut. "Terus-terus apa lagi?"
Soegi berpikir. "Mbak Nabila sukanya bunga mawar, Mas lihat kan mawar di belakang rumah? itu Mbak Nabila yang tanam."
"Kalau cowok idaman gimana?" Tanya Nadeo penuh harap.
Soegi tersenyum. "Mas pernah jadi anak ABG gak sih?"
"Ya pernah lah." Jawab Nadeo sebal.
"Aku pikir gak pernah. Makanya sekarang Mas sedang pubertas kedua." Timpal Soegi diiringi tawa kecil.
"Sembarangan kalau ngomong."
"Ya siapa tahu Mas melewati masa-masa itu."
"Udah ah, lanjut cerita Mbak mu dulu."
"Sampe mana tadi?"
"Pria idaman."
"Sebenarnya kalau itu sih aku kurang tahu Mas. Mbak Nabila gak pernah pacaran. Yang suka banyak sih, tapi dia yang gak suka."
"Beneran?" Tanya Nadeo tak percaya.
Soegi mengangguk. "Kalau menurut aku sih Mas, Mbak Nabila kan udah dewasa. Gak ada lagi namanya pria idaman. Asal laki-laki itu mapan, baik. Kalau ganteng itu bonus menurut aku sih."
"Lagian Mas aneh banget. Kayak mau pacaran aja sama Mbak Nabila." Tambah Soegi.
"Usaha Gi, siapa tahu Mbak mu berubah pikiran."
Dan sepanjang malam itu, Nadeo terus mengorek fakta-fakta tentang Nabila melalui Soegi. Bagaimana kehidupan Nabila, dan semua tentang Nabila.
__ADS_1