Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Dia Datang Lagi


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Nabila dan Egy sama sekali tifak mengobrol. Alih-alih berbincang, Nabila lebih memilih melihat ke luar jendela, menikmati pesona malam


berkali-kali Egy mengajaknya mengobrol, Tapi Nabila hanya menanggapi dengan anggukan atau gelengan tanpa berniat mengrluarkan suara, apalagi balik bertanya.


Tapi siapa yang tahu? Jauh di lubuk hati terdalam Nabila, ia merasa sangat bersalah pada Egy. Egy yang tetap sabar walaupun sudah ia perlakukan sedemikian rupa. Kadang Nabila berpikir apa ia keterlaluan dengan Egy?


Tapi, apa boleh buat? Ia juga takut akan segala ancaman Arif. Orang kaya arogan itu tak main-main dengan kata-katanya, dan Nabila tak ingin mengorbankan keluarganya dalam masalahnya.


Sampai di depan gerbang rumah Nabila, mobik Egy berhenti. Tanpa menunggu Egy membukakan pintu mobik untuknya, Nabila segera melakukan itu dan turun. Egy yang niatnya turun untuk membukakan pintu, hanya bisa berdiri canggung.


"Euhmm, makasih Mas! Aku masuk dulu." Pamit Nabila.


Nabila hendak pergi. Namun Egy segera berkata. "Euhmm, besok ada waktu gak?"


"Mas tolong segeralah pulang." Bukannya menjawab, Nabila malah mengusir Egy secara halus.


"Tapi Bil?" Egy hendak protes, namun Nabila cepat memotong ucapannya,


"Aku mohon Mas! Aku gak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada keluargaku!" Terang Nabila.


Ucapan Nabila membuat Egy bingung. Ingin ia meminta penjelasan pada wanita cantik iti, tapi apalah daya, Nabila sudah berlalu dari hadapannya.


Dengan berat hati dan sedikit kecewa Egy pulang. Lagi-lagi dunia tak mau berpihak padanya. Padahal ia sudah berjuang begitu lama, sampai ia harus tega membujuk Nabila agar mau berpisah dengan Nadeo. Dan tinggal selangkah lagi menuju final, tapi orang tuanya mengacaukannya. Belum lagi masalah yang melebar, dan ditambah kedatangan Putri, semua bagaikan benang kusut. Runyam.


Jika di pikir-pikir, rasanya selalu ada saja rintangan pada hubungannya dengan Nabila. Entah itu suatu pertanda mareka tak berjodoh, atau malah ujian agar hubungan mareka semakin kuat. Egy berharap opsi kedua yang benar terjadi.


Setelah memastikan mobil Egy pergi dipandang mata, barulah Nabila menarik gorden jendelannya.


Namun tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Nabial bergegas membuka pintu.


Ceklek!!


Mata Nabila melotot sempurna ketika melihat orang yang ada di balik pintu saat ini. Orang tersebut memberikan senyum smirk padanya.


Cepat Nabila ingin menutup pintu kembali. Namun sayang ia kalah cepat. Nabila mundur ke belakang setelah orang tersebut menutup pintu.


"Apa kabar Nabila?" Tanya laki-laki yang tak lain adalah Arif.


Ia semakin mendekati Nabila dengan langkahb pelan, sedang Nabila memilih langkah mundur.


"Tetap di situ! Jangan mendekat!" Teriak Nabila panik.


Sedang Arif yang melihat itu menjadi tersenyum, seolah ini adalah sesuatu yang lucu, dengan takutnya Nabila.

__ADS_1


Nabila berlari ke arah sofa, dan mengambil bantal sofa lalu melempar ke arah Arif yang mendekatinya.


"Aku mohon pergi!" Teriak Nabila menahan tangis.


Nabila berpikir kali ini tak akan ada yang membantunya. Soegi sudah balik lahi je kampung.


"Hey ada apa?" Tanya Arif santai tanpa merasa bersalah.


"Aku mohon tolong pergi." Nabila mengiba.


Tak habis pikir, Nabila mengambil vas bunga kaca yang ada di sofa, "Pergi sebelum benda ini melayang ke muka kamu."


"Kamu ngancam aku?"


"Cepat pergi! Sebelum aku nekat!"


"Silahkan saja baby!" Tantang Arif dan terus mendekat ke arah Nabila.


Melihat Arif yang tak mundur, Nabila semakin panik. Nabila tak punya pikihan lain, ia nekat melayangkan benda itu ke arahnya Arif, dan ya! Meleset! Benda itu tak mengenai Arif.


"Rupanya nekat juga kamu!" Kata Arif tajam dan langsung mendekati Nabila. Arif menarik tangan Nabila dan menghempaskan tubuh kecil itu ke sofa. Nabila meringis kesakitan. Tak sampai di situ, Arif menarik dagu Nabila hingga Nabila mendongakkan wajahnya pada Arif.


"Ternyata sifat kamu benar-benar nekat ya?" Ucap Arif tajam, "Kamu sama sekali tidak mengindahkan perkataanku tempo lalu."


Air mata lolos dari pelupuk mata Nabila. Ia benar-benar takut sekarang.


Nabila menggeleng, "Jangan aku mohon!"


Arif melepaskan cengkramannya di dagu Nabila, dan berdirik tegak. Ia berdecak kesal.


"Kamu tahu kesalahan kamu apa?"


Nabila menggeleng.


"Kamu masih berani menemui Egy. Apa belum cukup yang aku lakuin kemarin? Arau memang kamu ingin sekali diperkosa olehku?"


Cepat Nabila menggeleng. "Enggak! Mas Egy hanya menawari aku tumpangan."


"Lantas? Kamu mau?" Tatap Arif tajam.


Nabila tak menjawab.


"Murahan sekali!" Hinanya. "Ini adalah peringatan terakhir untuk kamu Nabila, Masih berani kamu menemui Egy. Dapat aku pastikan kamu akan jadi santapanku atau anak buahku. Mengerti?"

__ADS_1


Nabila mengangguk.


"Jangan pernah berpikir bahwa aku tidak tahu apa yang kamu lakukan. Ini terakhir kali aku memaafkanmu." Ucap Arif, kemudian ia berlalu pergi.


Nabila membuang napas kasar, darimana Arif bisa tahu kalau ia pulang bareng Egy? Apakah laki-laki itu memata-matainya?


...****************...


Nabila benar-benar frustasi dengan yang ia alami akhir-akhir ini. Kedatangan Arif tadi malam benar-benar membuatnya takut. Dan tampaknya Arif memang tak pernah bercanda dengan ucapannya.


Apalagi Arif semalam bagaikan cenayang yang mengetahui apa yang ia lakukan. Jika tiadak, bagaimana bisa ia tahu kalau ia pulang denga Egy? Arif adalah cenayang versi modern, ia mengetahui bukan berkat ilmu atau jin, tapi berkat uang dan anak buah. Kira-kira begitulah.


Lamunan Nabila dibuyarkan ketika seseorang mengetuk pintu rumahnya. Sebenarnya ia sedikit trauma dengan namanya ketukan pintu. Namun ia kembali berpikir. jika yang datang adalah orang yang penting. Mau tak mau ia tetap harus membuka pintu


Nabila berjalan dan membukakan pintu, dan! Arghh!!! Mengapa pria itu belum menyetah juga? Nabila mengakui kegigihan Egy. Sampai detik ini ia tidak menyerah sama sekali.


"Nabila! Bila!" Panggil Egy cepat ketika Nabila hendak menutup pintu lagi.


"Mas! Tolong pergi sekarang deh! Aku gak mau berurusan lagi sama Mas!"


"Nabila sebentar saja Pleas!!!" Mohon Egy.


Jika sudah begini, siapa yang tak kasihan coba? Akhirnya luluhlah hati Nabila, ia urung menutup pintu, tapi juga tidak membukanya.


"Ngomong aja Mas! Cepat dua menit!"


Tak membuang waktu, Egy segera mengungkapkan kejanggalan dalam hatinya.


"Kenapa Bil? Kenapa kamu ngehindarin aku? Kasih aku alsannya?"


"Aku gak mau Mas, gara-gara hubungan kita, hidupku selalu terancam." Jawab Nabila jujur, berharap Egy mengerti dan mau menjauhinya.


"Terancam?" Egy menaikkan alisnya, "Maksud kamu, ada yang ngancam kamu gitu?"


"Pokoknya kalau Mas Egy sayang dan cinta sama aku, tolong jauhi aku!"


Dan Brak!!!!


Nabila menutup pintunya tanpa mau mendengar Egy lagi.


Tapi tahukah kalian? Dibalik pintu Nabila menangis. Ia merasa menjadi wanita paling jahat dan tega, juga kejam pada Egy.


Jujur ia tak sanggup melihat keadaan Egy hancur seperti tadi, ia benci pemandangan seperti itu. Tapi jika ia nekat melanjutkannya, maka ia akan mengorbankan banyak orang lainnya. Dan Nabila tak mau itu terjadi.

__ADS_1


Egy juga tak kalah menyedihkan, ia yang masih berdiri di depan pintu mengacak rambutnya frustasi. Ia hancur sehancur-hancurnya. Mengapa tuhan menakdirkan hidupnya seperti ini?


Dan di sana ada seseorang yang bahagia melihat pemandangan itu, ia menyeringai penuh kemenangan.


__ADS_2