Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Pertemuan


__ADS_3

Nasihat Bude selalu terngiang-ngiang di kepala Nabila. Ia terus memikirkan Budenya yang lebih pro kepada Nadeo. Ia terus menimbang-nimbang apa yang dikatakan Budenya. Dan yang lebih mengusik pikitannya adalah Nadeo yang secara diam-diam sudah melamarnya. Nekat sekali duda itu.


Jika dipikir-pikir, ia memang tak akan memilih Egy, tapi bukan berarti ia bisa menerima Nadeo. Bagaimana jika ia melupakan keduanya saja, lalu membuka lembaran baru tanpa keduanya. Apa itu akan terdengar lebih baik?


Ah..., bukankah memang iya sudah membuka lembaran baru? Hanya saja keduanya saja yang tak terima dan selalu mengejar kemana pun ia pergi.


Daripada pikirannya terkuras terus menerus dan membuatnya kacau, akhirnya Nabila memilih untuk berjalan-jalan sebentar, mumpung ia baru pulang dari tempat kerja.


Yang ia syukuri dari hidupnya sekarang adalah, di tempat barunya bekerja tak ada yang menyukainya. Ah bukan tak ada, maksudnya tak ada yang nekat mendekatinya ketika ia sudah memberi aba-aba tak tertarik.


Nabila masuk ke sebuah resto, dan tanpa sengaja ia menyenggol seorang Ibu hamil.


"Maaf Mbak maaf, gak sengaja!" Ucap Nabila penuh penyesalan.


"Baby are you oke?" Tanya Sang suami penuh perhatian.


"I'm oke baby!" Balas sang perempuan.


Nabila menangkupkan tangannya meminta maaf. "Mbak maaf saya benar-benar gak sengaja. Sekali lagi saya minta maaf Mbak!"


"Nabila?"


Nabila mengangkat wajahnya ketika si perempuan itu memanggilnya. Ia mencoba mengenali perempuan itu, tapi sayangnya ia tak tahu siapa, karna perempuan itu memakai masker juga kaca mata.


"Maaf, Mbak kenal saya?" Tanya Nabila penuh hati-hati.


Perempuan itu tak menjawab. Ia lebih memilih membuka masker dan juga kaca matanya agar Nabila bisa mengenalinya.


"Mbak Raya?" Seru Nabila agak kaget.


"Iya, ini Mbak Raya kan?" Tanya Nabila sambil memeluk perempuan itu.


Kini Mareka sama-sama duduk di resto. Nabila duduk berhadapan dengan Raya yang di sampingnya ada laki-laki yang diakui suaminya.


Wajahnya tampan, sepertinya ia adalah seorang bule. Apalagi mareka tidak mengobrol dalam bahasa Indonesia tapu menggunakan bahasa Inggris.


Tak perlu heran, selera bule kan memang orang Indonesia. Apalagi Raya, ia punya paras yang sexy, cantik dan rupawan. Tak dapat diragukan lagi perempuan ini mampu menaklukkan pria bule setampan itu.


Menurut dari cerita Raya, nama suaminya adalah Runy. Usianya berkisar sekitar tiga puluh lima tahun, begitulah kira-kira.

__ADS_1


"Mbak kapan pulang?" Tanya Nabila diiringi senyum.


"Sekitar tiga hari yang lalu." Jawab Nabila.


"Mbak menetap di sini?"


"Enggak. Mbak pulang karna ada kerjaan di sini. Mbak dipercayakan menjadi designer untuk mewakili brand Mbak untuk fashion show kali ini di Indonesia."


"Wah Mbak hebat." Kata Nabila kagum.


Raya mengulum senyumnya, "Kamu bisa aja. Alhamdulillah sih Mbak bisa meraih cita-cita Mbak!"


"Selamat ya Mbak. Karir Mbak semakin hari semakin cemerlang. Aku juga seneng dengernya."


"Terimakasih Bila. Kamu berlebihan deh!"


"Enggak kok. Bye the way Mbak lagi hamil ya?" Terka Nabila.


Raya menunduk sesaat melihat perutnya yang membuncit, dan semakin hari akan semakin membuncit. Kemudian Raya mengangguk.


"Mbak juga gak tahu anugerah yang diberikan tuhan begitu besar. Mbak yang awalnya divonis tidak bisa hamil, tapu sekarang? Mbak bisa mengandung." Jelas Raya penuh haru, matanya juga ikut berkaca-kaca membayangkan betapa tak disangkanya hidupnya akan sedemikian rupa.


"Kami memang tidak kenal lama, tapi entah kenapa hati Mbak mantap menerima suamu Mbak ini. Dia pun sama menerima Mbak apa adanya."


Nabila ikut tersenyum bahagia melihat mantan madunya ini bahagia.


"Lantas kamu sendiri bagaimana Bil? Apa kamu maaih menunda kebahagiaan kamu?" Kini sasarannya pada Nabila.


Nabila sendiri menjadi canggung ketika pertanyaan mengarah padanya.


"Atau kamu masih bingung memilih antara Egy dan Mas Nadeo?" Tebak Raya.


Tebakan Raya tak meleset, tapu juga tak sepenuhnya tepat.


"Dua-duanya baik Bil! Kamu gak akan rugi sama sekali memilih salah satunya." Tambah Raya.


Kalau istilah anak jaman sekarang, milih sambil merem pun tak akan rugi. Yang satu Dokter dan satunya lagi CEO. Dua-duanya juga punya tampang yang menjual. Jadi memilih sambil cap cip cup, rasanya juga tak akan apa-apa. Tapi bukan itu yang jadi masalahnya.


"Tapi kenapa dulu Mbak Raya menyuruhku memilih Mas Deo?" Tanya Nabila.

__ADS_1


Jelas ia penasaran dulunya Raya pernah menyuruhnya memilih Nadeo, tapi sekarang ia malah mengatakan dua-duanya baik. Jadi yang benar bagaimana?


"Mbak rasa Mbak pernah mengatakan banyak penghalang antara kalian. Dan itu benar-benar terbukti kan?" Raya menaikkan sebelah alisnya.


"Kejadian seperti itu lebih dulu Mbak yang mengalami. Jujur Mbak sayang sekali pada kamu Nabila, maka dari itu Mbak tidak ingin kamu merasakannya juga. Kamu pasti mengerti maksud Mbak kan?"


Seolah-olah Raya tahu apa yang telah terjadi pada Nabila selama ini. Nabila diam. Ia mencerna setiap bait yang keluar dari mantan madunya.


"Jangan tunda kebahagiaan kamu Bil! Segeralah menikah! Dengan begitu kamu tidak akan menyakiti banyak pihak, juga tidak menyakiti keduanya." Saran Raya.


"Jika aku memilih salah satu di antara mareka, pasti salah satu dari mareka akan terluka Mbak." Lirih Nabila.


"Luka akan sembuh seiring berjalannya waktu. Tapi Nabila kamu harus tahu, kalau kamu tidak mencabut pedang yang sudah kamu tancapkan untuk keduanya, kapan luka itu akan sembuh? Keduanya akan terus tersakiti sampai akhir."


Nabila diam.


"Pilihlah orang yang kamu cinta. Tapi jika kamu masih bingung, pilihlah orang yang jika kamu pilih tidak akan banyak orang uang terluka."


Nabila merasa dejavu dengan ucapan Raya barusan.


"Oh ya satu lagi Nabila. Jangan pernah terbebani dengan perpisahan Mbak dan Mas Deo. Menurut Mbak ini adalah keputusan besar Mbak yang paling benar. Mas Deo sudah banyak membantu Mbak, dia terlalu banyak berkorban juga untuk Mbak. Mbak rasa sekarang Mas Deo berhak bahagia, dan Mbak sangat berharap Mas Deo bahagia dengan orang yang dia cinta, seperti Mbak sekarang. Dan Mbak rasa orang yang bisa membahagiakan Mas Deo itu kamu Bil!"


Nabila masih diam. Ia juga bingung harus menjawab apa.


"Titipkan salam Mbak pada Mas Deo ya Bil?"


Nabila tersenyum dan mengangguk pelan.


"Kalau gitu Mbak permisi lebih dulu ya? Kalau ada waktu kamu bisa ke tempat Mbak. Mbak di sini mungkin sekitaran dua minggu."


"Iya Mbak."


"Sekali lagi, pikirkan saran dari Mbak ya? Kamu juga bwrhak bahagia."


Setelah mengucapkan itu, Raya permisi bersama sang suami yang setia di sampingnya. Sedari tadi sang suami hanya sebagai bodyguard yang tak mengeluarkan sepatah kata pun kecuali di awal perkenalan diri dengan Nabila. Selebihnya ia lebih memikih diam, entah mungkin ia tak mengerti obrolan mareka, atau memang tak mau mencampuri.


Sedangkan Nabila merenungi setiap apa yang dikatakan Raya kepadanya.


Hay semuanya jangan lupa dukung terus ya? Ini mau hampir ending kok.

__ADS_1


__ADS_2