Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Gelap Mata


__ADS_3

Sungguh Egy sangat depresi saat ini. Bagaimana tidak? Akhir-akhir ini selalu saja ada kejutan dalam hidupnya. Baru beberapa hari yang lalu ia bertemu dengan Nadeo yang membeberkan fakta bahwa selama ini hubungannya dengan Raya kandas sebab Putri.


Tapi yang lebih mengejutkan lagi apa yang ia dapati ketika menemui Putri, ia dikejutkan kembali dengan pengakuan Putri yang mengatakan sudah melahirkan seorang anak dari hasil kesalahan satu malamnya.


Arghh!!! Semuanya membuatnya frustasi. Jika terus begini, rasanya kepala Egy akan pecah sebentar lagi. Apakah ini adalah suatu pertanda Nabila tak akan menjadi miliknya? Tidak! Tentu saja itu tak boleh terjadi. Ia harus segera memikirkan cara agar Nabika tetap menjadi miliknya. Akhirnya terlintas satu niat di hati Egy diiringi dengan terbentuknya seringai di sudut bibir Egy.


Alhasil Egy cepat-cepat masuk ke dalam mobil. Tak ingin menunda niatnya terlalu lama, Egy segera tancap gas ke rumah Nabila.


Sampai di rumah Nabila, ia segera mengetuk pintu rumah itu. Tak lama perempuan yang ia dambakan membuka pintu. Anehnya reaksi Nabila ketika melihat Egy malah seperti melihat setan, syok dan ketakutan.


Tapi tak ingin berburuk sangka, Egy segera memberikan sebuah senyum manis pada Nabila, walau tak mendapat balasan.


"Ngapain Mas ke sini?" Nabila sedikit kasar bertanya.


"Biarin Mas masuk dulu, gak enak diliatin orang di luar kayak gini." Jawab Egy sabar.


Nabila nampak berpikir dan menimang. Tak dapat dipungkiri ia juga setuju dengan pendapat Egy. kemudian Nabila melebarkan pintu agar Egy bisa segera masuk. Tanpa menunggu lama, Egy segera masuk diikuti Nabila yang menutup pintu.


"Ada apa sih Mas ke sini? Aku kan sudah bilang, Mas gak boleh ke sini lagi." Kesal Nabila dari belakang.


"Kenapa?" Tanya Egy yang terus berjalan kw arah sofa.


"Aku gak mau punya hubungan apa-apa lagi sama Mas Egy. Semuanya sudah berakhir Mas! Dan Mas harus menerima itu. Kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama."


Langkah Egy langsung terhenti, segera saja ia berbalik dan menatap Nabila. "Itu gak akan terjadi!" Tekan Egy tajam.


"Mas! Jangan egois begini. Mas sudah punya anak, cobalah untuk menerima dia!" Ini salah satu alasan Nabila memberi izin Egy masuk, ia ingin sedikit menasehati Egy agar mau menerima anaknya dari Putri. Setelah dipikir-pikir Nabila, Putri bukanlah perempuan yang buruk. Ia tulus mencintai Egy, jadi tak salah jika Egy memberinya kesempatan.


"Kamu percaya sama perempuan licik itu? Dia bohong Bil!"


"Sayangnya aku tidak melihat raut kebohongan dari dia kemarin. Dan justru Mas Egy lebih terlihat sedang berbohong." Bantah Nabila. "Aku tahu dia licik Mas! Tapi seenggaknya aku tahu mana ucapan yang bohong dan enggak."


Egy berdecih. "Jadi dia udah ketemu kamu?"

__ADS_1


Nabila mengangguk. "Dia cerita tentang anak kalian, namanya haizi."


Egy menggeleng menolak. "Gak! Itu bukan anak aku, aku yakin ini hanya trik dia saja supaya kita berpisah!" Bantah Egy, "Kalau pun benar malam itu aku tidur sama dia, tapi bukan berarti itu anak aku. Bisa saja itu anak orang lain kan? Dan Putri memanfaatkan situasi seperti ini."


"Jahat kamu Mas!"


"Nabila ayo sadarlah. Kamu gak ingat kemarin Abangnya Putri nyekap kamu? Dan kamu masih bisa percaya kata-kata dia?"


"Tapi dia berani untuk tes DNA Mas! Hati aku juga berkata kalau itu benar anak kamu. Dia mirip sama kamu! Aku sama-sama perempuan, jadi aku ngerti Mas! Dia memperjuangkan hak anaknya agar diakui oleh Ayahnya."


Mendengar itu, emosi Egy memuncak dan mendorong Nabila kuat hingga Nabila jatuh ke sofa. Egy mendekatkan wajahnya pada Nabila.


"Tolong jangan bahas itu Bila! Aku ke sini ingin menyampaikan hal penting sama kamu!"


"Apa Mas?"


Egy semakin mendekat dengan tatapan menggoda. "Aku tahu cara mendapatkan restu Mama Bil!"


Egy menarik pinggul Nabila dan mendekapnya.


"Ayok lakukan ini Bila, agar kita bisa mendapatkan restu Mama!" Ucap Egy sensual diiringi kecupan di bibir Nabila. Dan Nabila tak sempat menolak, itu terjadi begitu cepat, hingga ia tak sempat mengelaknya lagi.


"Jangan gila Mas!" Nabila mendoromg Egy hingga ia terlepas dari jerat Egy dan segera bangkit dari sofa.


"Ayolah Bil, ini cara satu-satunya agar Mama merestui kita." Goda Egy sembari terus mendekat ke arah Nabila yang sedang ketakutan dan terus mundur ke belakang.


"Mas! Sebaiknya Mas pergi dari sini." Ucap Nabila takut-takut.


Egy menyeringai. "Tidak! inu satu-satunya cara agar kita tetap beraama. Bukankah ini dulu yang dilakukan Nadeo untuk membuat kamu menetap di sisinya? Dan aku juga bisa melakukannya Bil!"


"Pergi Mas! Kamu sedang tidak waras!"


"Ayolah ******! Sebenarnya kamu juga ingin kan melakukannya denganku? Aku janji akan memberikan sesuatu yang luar biasa untuk kamu. Percayalah ini akan terasa nikmat sayang!" Egy dengan segala ketidak warasannya.

__ADS_1


"Mas! Aku tahu kamu gak akan lakuin ini ke aku, sadarlah Mas Egy!"


"Katakanlah sesukamu Bil! Aku akan memilikimu!"


Nabila yang mundur kini sudah mentok di dinding, di sampingnya ada meja hias minimalis, dan di sana terdapat beberapa hiasan. Nabila mengambil gelas hiasan itu dan memukul kepala Egy. Berdarah, kening Egy sedikit berdarah, Egy mengelusnya lalu tersenyum licik.


Kesempatan itu Nabila gunakan untuk masuk ke dalam kamar Nadeo dulu, tapi Egy segera menyusulnya. Bahkan Nabila tak sempat menutup pintu kamar, Egy sudah lebih dulu masuk. Egy menarik pingganh Nabila dan membawakannya dalam dekapannya.


"Jangan coba lari dari aku. Aku tidak akan mengizinkannya Bil! Biarlah brengsek jika ini jalan satu-satunya untuk mendapatkan mu!"


"Mas egy sadarlah Mas! Jangan gila Mas!"


"Kamu juga tahu aku gila Bil! Jadi nikmatilah kegilaanku ini." Egy kembali mengecup bibir Nabila dan tersenyum.


Nabila memberontak agar terlepas dari dekapan Egy, tapi ia tak sanggup, tanganya tak cukup kuat untuk menandingi Egy.


"Mas Egy aku mohon Mas! lepasin aku." Nabila menangis. Kali ini ia benar-benar menangis.


Egy tak menggubris. Egy segera menghempaskan tubuh kecil Nabila ke ranjang, dan segera menindihnya. Egy menarik jilbab yang dikenakan Nabila, dan Egy takjub melihat Nabila tanpa balutan hijab, lebih cantik dari biasanya.


"Mas jangan aku mohon!" Isak Nabila.


Kejadian seperti ini, apakah akan terulang lagi? Tapi setidaknya dulu Nadeo adalah suaminya yang berhak atas dirinya. Lalu Egy?


"Tolong!"


"Teriaklah sayang! Tak akan ada yang mendengarmu!"


"Mas Egy jahat!"


Egy bangkit sebentar untuk membuka kancing bajunya, lalu melemparnya asal, dan kembali menindih Nabila.


Siapa pun itu, Tolong aku!

__ADS_1


__ADS_2