
Hari-hari pun berlalu. Sejak malam kelam itu lagi, Nadeo dan Nabila sudah benar-benar canggung. Bahkan Nabila selalu melayangkan tatapan sinis saat berpas-pasan dengan Nadeo. Nabila benar-benar membenci Nadeo sekarang. Berbeda dengan Nadeo, Nadeo tak lagi dingin dan cuek. Walau ia jarang menyapa Nabila, tapi raut wajahnya telah berubah, dari dahulu yang enggan melihat Nabila, kini mulai sering-sering memperhatikan wanita itu.
Hari ini Nabila berangkat kerja dengan keadaan lemas. Mukanya pucat, bahkan ia tak sanggup menyetir, dan memilih untuk naik ojek online. Nabila merasa tak enak badan akhir-akhir ini. Ia juga kerap merasakan pusing dan mual, Nabila berpikir ini pasti karna asam lambungnya naik, karna ia yang stress, begadang atau bahkan telat makan. Tapi tamu bulanannya tak juga datang, apakah ia sedang...,? Ah tidak mungkin, Nabila menepis semua pikiran buruk. Pasti menstruasinya sedang tidak teratur dikarnakan ia depresi dan capek.
Di tempat kerja Nabila tak bisa bekerja dengan baik. Ia tak mampu melihat layar komputer dengan jelas. Tiap kali ia menatap layar komputer, matanya akan berkunang-kunag dan pusing, bahkan mual juga sesekali datang.
"Kamu sakit ya Bil?" Tanya Andmesh rekan kerja Nabila.
Nabila menggeleng. "Enggak, kayaknya cuma asam lambung lagi kambuh aja. telat makan, biasa."
"Soalnya muka kamu pucat banget."
"Gak papa kok, aku baik-baik aja."
"Ya sudah kalau kamu gak papa, kamu di panggil Pak Egy tuh, katanya disuruh bawa dokumen untuk rapat besok ya? Pak Egy mau periksa." Pesan Andmesh akhirnya sebelum berlalu pergi.
"Iya, makasih!" Sahut Nabila seraya mengangguk.
Akhirnya Nabila mengambil beberapa dokumen yang diperlukan dan bergegas ke ruangan Egy.
Nabila meletakkan dokumen di depan Egy, dan ia duduk.
"Udah siap dokumennya ya Bil?"
Nabila hanya mengangguk sekenanya saja.
"Kamu sakit ya?" Tanya Egy ketika menyadari keadaan Nabila yang pucat dan nampak tak sehat.
"Enggak kok Mas, cuma sedikit gak enak badan saja." Bantah Nabila. "Nanti juga baikan sendiri kalau udah minum vitamin."
"Harusnya kalau gak enak badan kamu istirahat aja di rumah, gak usah masuk kerja."
"Gak kok Mas, aku sehat. Bentar lagi juga baikan."
"Atau kamu istirahat di kamar aku aja di sini, mau gak? Jangan terlalu dipaksa." Bujuk Egy.
Di dalam ruangan Egy memang ada kamar pribadi khusus untuknya beristirahat.
"Gak usah Mas, aku beneran baik-baik aja."
Tapi tiba-tiba Nabila merasa ada sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya, seperti menggelitiknya, dan membuatnya mual. Dan mual yang Nabila rasakan tak dapat lagi ditahan, segera ingin Nabila tuntaskan.
"Mas, permisi ke toilet sebentar ya?"
__ADS_1
Tanpa menunggu izin Egy, Nabila berlari tergesa-gesa ke toilet, lalu memuntahkan semua isi perutnya.
"Huek..., huek...!"
Egy dapat mendengar suara Nabila muntah, ia segera mendekati toilet dan mengetuk pelan pintu toilet.
"Bil...., kamu gak papa kan?"
Tak ada jawaban. selang sesaat Nabila membuka pintu dan keluar.
"Kamu gak papa kan Bil?" Ulang Egy. "Muka kamu pucet banget!"
"Gak papa, kayaknya aku masuk angin deh!"
"Ke rumah sakit aja yuk? Aku takut kamu kenapa-napa."
Nabila menggeleng menolak. "Gak usah Mas! Pakai minyak kayu putih saja."
"Yaudah duduk di sofa dulu aja yuk?"
Nabila melangkahkan kakinya ke sofa dibantu Egy. Rasa pusing semakin menyerangnya, dan rasanya Nabila sudah tidak sanggup lagi menahannya, bahkan ian seperti pitam tak bisa melihat apa-apa.
"Aku pusing banget mas!" Ujar Nabila yang memegang kepalanya, dan setelah itu ia ambruk ke dalam dekapan Egy. Nabila pingsan.
"Bil! Nabila!"
...****************...
Nabila mulai sadar. Ia membuka mata pelan, yang awalnya kabur, hingga ia bisa melihat dengan jelas, ia berada di kamar yang di dominasi dengan cat berwarna putih. Dimana ia sekarang? Seingatnya tadi ia berada di ruangan Egy, ia ke toilet lalu..., ah sepertinya tadi ia pingsan. Bau pekat obat-obatan menusuk hidungnya, kini Nabila sadar, sepertinya ia dibawa ke rumah sakit. Nabila juga sadar bahwa sudah ada selang infus di tangan kirinya. Separah itukah dirinya?
Nabila melirik ke kiri, ada Cinthya. Lalu Nabila melirik ke kanan ada Nadeo. Kenapa Nadeo? seingatnya bukankah tadi ia bersama Egy? Kemana pria itu? Harusnya kan dia yang ada di sini.
"Kamu udah sadar?" Tanya Cinthya ketika melihat Nabila sudah membuka mata.
Nabila mengangguk lemah. Nabila hendak bangun dan duduk, segera Nadeo membantunya. Ingin rasanya menolak bantuan Nadeo, tapi apalah daya, tenaganya juga membutuhkan bantuan.
"Mas Egy dimana?" Tanya Nabila.
Deg!
Hati Nadeo terasa nyeri mendengar nama itu. Kenapa Egy? Kenapa harus Egy yang pertama kali ditanyakan Nabila? Bukankah di sini ia yang menjadi suaminya? Mengapa harus menanyakan laki-laki lain, di depannya lagi? tak tahukah Nabila perasaan Nadeo. Sedangkan kehadirannya tak diharapkan sama sekali.
"Pulang!" Jawab Cinthya singkat tanpa penjelasan.
__ADS_1
Nadeo nampak kesal dengan nama yang disebutkan Nabila. Apalagi ia sampai perhatian begitu.
"Aku kenapa di bawa ke sini?" Tanya Nabila, "Padahal aku gak papa, cuma pusing aja."
Tak ada yang menjawab. Cinthya melempar pandangan ke Nadeo, begitu pun sebaliknya Nadeo.
"Mas Nadeo kenapa ada di sini? Kok Mas tahu aku sakit?"
"Ini rumah sakit tempat aku bekerja Bil." Jawab Nadeo lirih.
"Tapi aku gak papa kan Mas? Aku mau pulang aja, mau lanjutin kerja, soalnya banyak banget yang belum aku kerjain." Nabila hendak bangun, dan berencana akan pulang saja.
"Kamu hamil Bil." Ucap Nadeo datar.
Hah? Hamil? Siapa yang hamil? Bilang kalau ini hanya mimpi. Siapa pun itu tolong bangunkan Nabila sekarang juga. Bagaimana ia bisa hamil, ia hanya melakukannya dua kali, ralat ia hanya diperkosa dua kali.
Rasanya tak percaya ia hamil. Nabila memalingkan wajahnya ke arah Cinthya, seolah mencari jawaban padanya. Cinthya mengangguk. Artinya ia benar-benar hamil.
Tidak. Ia tidak mau hamil dengan cara begini, di tambah dengan keadaan rumah tangga yang rumit. Nabila menggeleng, seolah menolak semua kenyataan yang diterimanya.
"Aku gak mau!!!" Teriak Nabila histeris dan memukul perutnya.
Dengan cepat Nadeo dan Cinthya menghentikan aksi Nabila mengamuk.
"Pleas Bil, jangan marah, jangan sakitin anak kita." Lirih Nadeo yang memeluk Nabila.
Nabila menggeleng, ia masig tak terima. Air mata tumpah dengan sendirinya tanpa bisa di tahan, hingga Nabila mendorong tubub Nadeo, serasa murka pada orang yang telah menghamilinya.
"Ini semua gara-gara Mas!" Hardik Nabila.
"Bil jangan gini dong, semua udah terjadi." Bujuk Cinthya dan mengelus lengan Nabila, berharap perempuan di depannya ini bisa tenang.
"Aku gak mau, aku mau gugurin!"
Astagfirullah.
Nadeo terkejut dan langsung memegang kengan Nabila dan membenamkan dirinya di sana untuk memohon. "Jangan Bil, aku mohon. Jangan guvurin bayi itu, apa pun akan aku lakukan untuk kamu." Pinta Nadeo.
"Bil, bayi itu gak salah. Dia bukan anak hasil zina." Cinthya mencoba untuk menasehati.
"Bil, aku mohon jangan ya? Aku sangat mengharapkan kehadiran dia!"
Nabila diam, mencerna semua yang dikatakan Cinthya dan Nadeo. Bukan ia tak ingin kehadiran si kecil dalam perutnya, tapi Nabila ingin jika buah hatinya hadir karna rasa cinta dari orang tuanya.
__ADS_1
Sungguh, Nadeo sangat gembira kala mendapat pemberitahuan bahwa istrisya sedang hamil. Tak tahu bahwa Nabila tidak senang dengan semua ini.
"Bil, jangan gini dong."