
Pagi ini Nabila turun ke bawah tidak seperti biasanya. Nabila turun ketika mendengar suara mobil Nadeo telah pergi. Toh Nadeo juga tidak membutuhkannya dan lagi pula semua keperluan nadeo juga sudah dipersiapkan oleh istri barunya. Nabila ini hanya sebagai simbol saja, betapa sangat berbaktinya Nadeo pada orang tuanya.
Memang agak telat dari biasanya Nabila ke dapur, setidaknya demi menghindari rasa sakit di dada yang entah kapan dapat disembuhkan. Di dapur pun ternyata masih ada Raya.
Perempuan dengan rambut yang masih terlihat agak basah itu tersenyum ramah ke arah Nabila. Nabila membalas sekenanya. Rambut basahnya itu pasti gara-gara pertempuran semalam, pertempuran yang dulunya sangat Nabila impikan.
Raya terlihat sangat sibuk membereskan dapur.
"Eh Nabila, sarapan dulu. Aku tadi buat nasi goreng lebih lo!" Ujar Raya sopan seraya meletakkan nasi goreng ke meja.
"Eh, makasih Mbak." Balas Nabila sembari duduk lalu menyendokkan nasi ke mulutnya.
Raya kemudian meletakkan segelas susu hangat untuk Nabila lalu duduk berhadapan. Nabila terlihat makan dengan sangat pelan dan hati-hati.
Ternyata perempuan yang ada di depan Nabila sekarang terlihat sangat baik. bukan seperti perempuan pelakor yang ada di film ikan terbang atau di novel online yang pernah Nabila baca. Upss ralat. Sebenarnya di sini masih bingung untuk menentukan yang mana pelakor, dirinyalah ataukah Raya. Ini kesalah pahaman.
"Nabila, Mbak minta maaf ya?" Ujar Raya serius.
"Untuk?"
"Mbak minta maaf, karna udah jadi orang ketiga dalam rumah tangga kamu."
Nabila diam sejenak lalu menjawab, "Seharusnya aku yang minta maaf Mbak, karna yang sebenarnya jadi orang ketiga adalah aku. Aku adalah orang ketiga dalam hubungan Mbak dan Mas Nadeo. Mbak yang udah lebih dulu memiliki."
__ADS_1
Raya menggenggam tangan kiri Nabila yang berada di atas meja. "Mbak gak seharusnya menerima saat Mas Nadeo melamar. Tapi Mbak juga nggak bisa tanpa dia, karna kami udah bertahun-tahun bersama. Sekali lagi Mbak minta maaf ya Bil. Mbak janji akan jadi kakak yang baik buat kamu."
Nabila mengangguk. "Iya mbak, aku ngerti. Mbak juga berhak kok bahagia."
Sebenarnya jika ada yang bisa disalahkan, Nadeo adalah orang paling bersalah. Menyakiti hati dua wanita yang sama-sama mencintainya.
Tidak ada orang yang mau mempunyai cinta segi tiga yang begitu rumit.
...****************...
Air mata tak tertahan lagi di pelukan Cinthya. Cinthya hanya bisa mengelus punggung sahabatnya itu. Berat sekali permasalahan yang sedang dihadapi oleh Nabila. Dimadu dan diabaikan oleh orang yang dicinta, seolah-olah dunia tidak berpihak kepadanya.
Cinthya tidak menyangka jika Pak Nadeo yang selama ini ia kenal ternyata penjahat wanita. Bisa-bisanya Pak Nadeo menyakiti sahabatnya sedemikian rupa.
"Aku sakit Cin, aku sakit ngeliat mareka." Isak Nabila.
"Cin, aku mau berhenti kuliah!" Ungkap Nabila seraya melepas pelukannya.
"Loh kenapa?"
"Aku gak bisa terus-terusan ketemu sama Pak Nadeo"
"Di rumah kan ketemu juga Bil."
__ADS_1
"Iya. Tapi aku pengen menghindari dia sebisa mungkin."
"Kamu gugat cerai aja Bil, jangan mau dimanfaatkan sama dia. Lah dia enak bisa sama bininya, sedangkan lo, mau cari pengganti harus mikir dulu seribu kali." Saran Cinthya.
Cinthya tidak habis pikir sama Pak Dosennya, bisa-bisanya dia dengan tenang menikah dengan perempuan lain, dan hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri. Sedangkan Nabila harus menanggung penderitaan.
"Gak mungkin Cin, aku gak tega sama ibu mertuaku. Dia sayang banget sama aku. Dia udah seperti ibu kandungku sendiri."
Disaat seperti ini nabila masih sempat memikirkan perasaan orang lain.
"Terus kamu mau aja mengubur cita-cita kamu cuma gara-gara si brengsek itu."
"Aku gak bisa terusan begini, aku pengen bangkit. Mungkin aku akan kuliah di jurusan lain saja, pastinya di kampus yang berbeda." Jelas Nabila pasrah.
"Kayaknya akutansi cocok deh sama aku." Tambah Nabila lagi.
"Tapi dulu kamu bilang pengen banget bisa bekerja di bidang kesehatan." Ucap Cinthya mengingatkan akan cita-cita Nabila dulu.
"Kayaknya gak lagi deh, aku pengen ngejauhin diri dari mareka berdua." Lirih Nabila.
"Ya udah gimana baiknya aja. Aku selalu ada buat kamu Bil, bahu aku selalu ada untuk kamu bersandar. Kalo kamu pengen cerita, bilang sama aku ya?" Kata Cinthya pasrah.
Nabila mengangguk. Betapa bersyukurnya Nabila di saat terpuruk seperti ini, Cinthya selalu hadir sebagai pendengar segala keluh kesahnya. Cinthya selalu setia menemani Nabila di saat sedih.
__ADS_1
Entah bagaimana jadinya tanpa Cinthya, Nabila tidak tahu harus mencurahkan isi hatinya kemana. Dia jauh dengan keluarga, orang tua pun tidak ada. Sedangkan pakde dan bude, rasanya tidak mungkin juga untuk mengatakan yang sebenarnya pada mareka. Nabila yakin jika mengatakan hal yang dialaminya itu, Pakde dan Bude akan membuat perhitungan dengan Nadeo, sangking sayangnya pada dirinya.
...****************...