Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Nadeo Dewa Penyelamat


__ADS_3

Akhitnya Arif melepaskan Nabila sebenatar. Dan sekarang barulah Nabila menyadari. ternyata ia berada di sebuah rumah tua uang pastinya tak ada penghuni.


Baru saja Nabila keluar dari kamar mandi. Kamar mandi yang sudah tak terlalu berfungsi lagi. Nabila melihat pintu rumah tempat ia disekap ada yang mendobrak. dan alangkah terkejutnya Nabila ada orang yang memanggil-manggilnya. ia tahu betu suara siapa itu.


"Nabila!!! Nabila!!!"


Apakah orang itu datangvsebagai pahlawan untuknya? Nabila segera mencari sumber suara tersebut.


"Mas! Aku di sini!" Seru Nabila.


Dan seseorang yang berstatus mantan suami Nabila itu berlari je arah Nabila dan memeluknya. Memeluk? Iya! Bahkan Nabila juga membalas pelukan itu. Dan Nabila menangis.


"Kamu gak papa Bil?" Tanya Nadeo khawatir.


"Aku takut Mas! Bawa aku pergi dari sini!" Isak Nabila.


"Iya, Mas akan bawa kamu oeegi dari tempat ini."


Setelahnya Nadeo dan Nabila saling melepaskan pelukan. Hampir Nabila lupa, ia tak boleh malakukan hal itu pada Nadeo, namun ia reflek saja. Karna merasa Nadeo bagaikan dewa penyelamat untuknya.


"Maaf Mas. " Lirih Nabila pelan dan canggung.


Nadeo tak terlalu menghiraukan. Ia memgambil tangan Nabila, yang empunya menunduk dan sesegukan. Nadeo menggenggam tangan itu erat seolah meyakinkan tak akan terjadi apa-apa.


"Jangan nangis lagi, Mas akan bawa kamu pergi." Ucap Nadeo lembut sembari menghapus air mata di pipi Nabila.


Nabila mengangkat wajahnya. Tapi betapa terkejutnya dia mendapati seseorang berdiri di belakang Nadeo dengan tangan terangkat, memegang sebuah balok kayu dan siap memukul Nadeo.


"Mas!!" Teriak Nabila keras.


Telat! Nadeo audah jatuh tersungkur di depan Nabila. Ulah orang tersebut yang memukul tengkuk Nadeo dengan keras, dan kuat hingga mengakibatkan terhentinya aliran darah dan aliran saraf di sekitar tengkuk beberapa saat. Sehingga aliran darah dam saraf dari tengkuk ke otak terhenti fan mengakibatkan Nadeo tak sadarkan diri.


Nabila segera menarik Nadeo ke dalam pelukannya.


"Mas Deo!" Teriak Nabila mengguncang tubuh Nadeo.


"Kalau aku liat kamu masih berani mendekati Egy, aku akan lakuin lebih dari ini. Saat inu berbahagialah kamu karna telahbaku bebaskan. Awas jangan berani kamu lapor polisi." Bisik Arif pada Nabila yang sudah memeluk Nadeo yang pingsan di lantai.


...****************...


Nadeo membuka matanya pelan. Kesan oertama yang ia dapat adalah bau pekat obat-obatan. Dapat ia tebak sendiri, ia pasti berada di rumah sakit.

__ADS_1


Nadeo mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, yang identik dengan cat warna putih. Dan ketika ia melihat ke sampingnya, ada seorang wanita sedang terlelap dengan memeluk lengannya. Nadeo tersenyum, kemudian menarik tangannya pelan agar tak mengganggu tidur wanita itu. Setelahnya Nadeo mengusap pucuk kepala wanita itu yang tertutup hijab.


Nadeo agak bangun dan bersandar.


Tiba-tiba sang wanita terjaga dari tidurnya. Apa usapannya mengganggu tidur wanita ini? Perempuan itu menguap dan menutup mulutnya dengan tangan kanan, kemudian mengucek matanya.


"Eh Mas Deo? Mas udah sadar?" Tanya wanuta yang taknlain adalah Nabila, ia sedikit kaget.


"Seperti yang kamu lihat." Jawab Nadeo ditambah senyumnya.


"Alhamdulillah, syukurlah Mas!"


Kemudia mareka berdua dihinggapibrasa canggung. Ah bagaimana bisa begini? Mareka adalah mantan. Namun pertemuannya yang begini tak keduanya sangka.


"Ngomong-ngomong makasih ya Mas? Udah nolongin aku." Ucap Nabila agak kikuk.


Nadeo mengangguk. Ia juga sama, tidak tahu harus menjawa seperti apa. Semuanya terlalu tiba-tiba, belum lagi ketika ia mengingat saat peetama kali menemukan Nabila, ia yang juga sangat khawatir pada keadaan Nabila langsung saja memeluk Nabila. Ia begitu tenang mendapati Nabila yang tidak apa-apa.


Dalam hati Nadeo berjanji, mulai sekarang ia akan menjaga wanita itu dengan baik, tak ada seorang pun yang boleh menyakitinya.


"Aku berhutang sama Mas!" Ucap Nabila.


"Artinya kamu harus bayar ya?" Balas Nadeo dengan alis yang naik sebelah dan juga senyum nakal, ia bercanda. Ah rasanya ia tak pernah bercanda begini ketika pernah menjadi suami Nabila. Padahal rasanya begitu menyenangkan.


Ingin rasanya Nadeo menjawab, bayarnya harus jadi istri Mas! Namun ia tak mampu. Dan hanya terucap dalam hati, katakanlah ia pengecut, tapi dalam keadaan seperti ini tak memungkinkan untuk mengatakan hal seperti itu.


"Nanti saja deh kalau Mas sudah butuh." Jawab Nadeo akhirnya, pastinya dengan nada candanya.


Mareka tertawa pelan.


Tunggu!


Sejak kapan mareka bercanda? Ini kali pertama rasanya.


"Long time no see Mas!" Ucap Nabila pelan, "Gimana kedaan Mas selama ini?"


"Seperti yang kamu lihat, Mas sehat aja." Jawab Nadeo jujur.


Nabila menganggung mengerti.


"Kamu?" Balik tanya Nadeo.

__ADS_1


"Sama juga seperti yang Mas lihat sekarang!"


"Dengan banyak masalah?" Tebak Nadeo. Ah Nadeo tidak menebak, ia tagu semuanya.


"Mas kayaknya harus istrirahat dulu." Bukan menjawab, Nabila malah mengubah topiknya.


Nadeo sadar, Nabila tak mau berbagi cerita dengannya. Sedangkan Nabila, ia tahu batas. Ia tak mau melibatkan Nadeo dalan urusannya. Dan rasanya huga tidak etis jika ia berbagi keluh kesahnya dengan mantan suami.


"Aku panggil Mbak Ines ya? Biar bisa temenin Mas!" Tawar Nabila.


Nadeo menggeleng, yang artinya ia menolak. "Jangan! Mas mau kamu saja yang temenin, bisa kan?" Pinta Nadeo.


Ah.., agak berat ya dengan permintaan Nadeo. Tadinya ia memang yang menjaga, tapi Nabila ingin memastikan keadaan saja, dan ternyata sekarang Nadeo baik-baik saja.


"Mas nyelametin kamu loh!" Ucap Nadeo bercanda, sekaligus agar Nabila tak bimbang untuk menemaninya.


"Iya deh!" Terpaksa Nabila mengiyakan permintaan Nadeo. Mau bagaimana lagi? Ia juga berhutang pada Nadeo. Jika Nadeo tidak datang, bisa saja Arif gelap mata lalu memperkosanya di sana. Ah, Nabila tidak bisa membayangkan jika itu benar-benar terjadi padanya.


"Mas mau minum?" Tanya Nabila. Ia yang tidak tahu harus bagiamana akhirnya menawari Nadeo minum. Ya ampun, sekian lama ia duduk di situ, mengapa ia baru ingat sekarang untuk menawarkan minum oada Nadeo? Sama sekali tidak berguna.


Nadeo mengangguk. Nabila mengambil segelas air putih yang ada di atas nakas dan membantu Nadeo meminumnya. Selesai. Nabila menaruh kembali gelas yang tersisa setengah itu di tempat semula.


"Mau makan gak Mas? Ada bubur nih!" Tawar Nabila, ia ingin keberadaanya sedikit berguna untuk Nadeo.


Ah, kesemparan bagi Nadeo. Kapan lagi coba ia diurusi begini sama Nabila? Kanjarang dapat kesempatan seperti ini.


"Mau!" Tak ada penolakan sama sekali, "Mas juga laper banget, di suapin kan?"


Nabila menghela napasnya.


"Tangan Mas masih agak sakit nih!"


Entah apa hubungannya, intinya Nadeo memberi alasan agar Nabila menyetujui menyuapinya.


"Iya-iya!" Jawab Nabila.


Nabila pun menyuapi Nadeo bubur, saat tinggal setengah, ketika Nabila menyuapinya, Nadeo memegang tangan Nabila, dan menatap Nabila lekat.


"Andai ini tidak berakhir Bil!"


Segera Nabila memalinhkan wajahnya ke samping agar tak bertatap mata dengan Nadeo. Ia tahu, sedari tadi Nadeo terus memerhatikannya.

__ADS_1


"Mas!"


"Sebentar saja ya?"


__ADS_2