Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Musibah lagi


__ADS_3

"Rumah sepi ya Mas, gak ada Mbak Raya?"


Nadeo tak menghiraukan ucapan Nabila. Hatinya masih merasa kehilangan perempuan yang sudah lama menemaninya itu. Raya adalah cinta pertama Nadeo. Dan memang sulit melupakannya.


"Kita berangkat sekarang ya? Takutnya Mama lama nungguinnya. Mama kangen kamu." Ujar Nadeo.


"Iya Mas!"


Sampai di rumah Bu Ningrat, Nadeo dan Nabila langsung masuk ke dalam kamar Bu Ningrat. Di dalam kamar sudah ada Hanis, Ines, dan juga Icha. Ines dan Hanis memang sekarang tinggal di situ, semenjak keadaan Bu Ningrat semakin parah. Ines tak tega jika Icha harus mengurus Mama sendiri.


Kondisi Bu Ningrat semakin parah, terlihat dari tubuhnya yang semakin kurus, dan lemah. Tapi ia menolak untuk di bawa ke rumah sakit. Padahal Ines sudah mencoba membujuknya dengan berbagai cara, tapi ia tetap menolak. Katanya percuma ke rumah sakit, ia tak akan sembuh lagi.


Bu Ningrat terbaring lemah di atas ranjangnya. Ia juga sudah tak banyak bicara, karna napasnya terasa pendek. Bu Ningrat juga harus memakai pampers karna sudah tak sanggup lagi ke kamar mandi.


"Ma..., ada Nadeo dan Nabila di sini." Bisik Ines di telinga Bu Ningrat. "Mareka jengukin Mama."


Bu Ningrat membuka mata perlahan. Andaikan ia sehat, ia akan menyambut menantu kesayangannya dengan antusias. Tapi apa daya badannya tak mampu sekadar hanya untuk bergerak.


Nabila mendekat ke arah Ibu mertuanya, dan bersimpuh di lantai. Nabila mengambil tangan Bu Ningrat dan mengelus lembut tangan itu. Ada perasaan sedih, karna ia telah menganggap Bu Ningrat seperti Ibu kandungnya sendiri.


"Ma..., Nabila ada di sini. Nabila mau jenguk Mama." Bisik Nabila.


Tanpa sadar ada air mata yang keluar dari pelupuk mata Nabila.


"Mbak, keadaan Mama enggak meningkat ya?" Tanya Nadeo pada Ines yang sekarang sudah berdiri di sampingnya.


Ines mengedikkan bahunya. "Entahlah Deo, keadaan Mama menurun drastis setelah kabar Nabila keguguran. Dan semakin hari bukannya membaik, tapi malah menurun."


Nadeo menghela napas berat. Frustasi.


"Ini semua gara-gara ****** kamu itu, andaikan dia gak buat Nabila begini. Mama pasti baik-baik aja." Ines berkata dengan suara pelan.


"Mbak? Berhenti salahin orang lain. Memang Mama lagi drop aja."


"Enggak. Malahan saat Nabila masih hamil kemarin, Mama sangat sehat. Bahkan ia sanggup untuk memasak dan dikirimi untuk Nabila."


Kembali Raya menjadi sasaran kemarahan Ines.


"Mbak sudahlah jangan di bahas itu lagi. Sekarang kita lagi ada di depan Mama, Mama bisa denger loh!" Sahut Nadeo juga dengan suara pelan.


"Mbak masih greget sama kamu. Di saat seperti ini, kamu masih aja belain perempuan itu. Padahal kamu sendiri udah liat gimana kelakuan dia, kamu kehilangan anak kamu loh Deo!"

__ADS_1


"Mbak, cukup! Lagian sekarang dia udah pergi kok, seperti keinginan Mbak! Kami sudah beepisah."


"Oh ya? Baguslah! Seharusnya memang sedari dulu dia pergi. Berarti sekarang gak ada lagi yang gangguin hubungan kamu sama Nabila?" Ucap Ines diiringi senyum bahagia. "Mbak bersyukur dengernya, ternyata perempuan itu sadar diri juga, kalau dia gak pantas buat kamu."


"Udahlah Mbak, aku mau ketemu Mama dulu. Berdebat sama Mbak gak ada habisnya."


"Mas! Mama mau ngomong!" Panggil Nabila.


Nadeo segera mendekat dan bersimpuh di samping Nabila. Nadeo menggenggam tangan Mamanya yang tampak lemah.


"Ma..." Lirih Nadeo. "Maafin segala kesalahan Nadeo ya? Nadeo belum bisa jadi anak yang berbakti sama Mama. Nadeo belum bisa bahagiain Mama. Nadeo belum bisa banggain Mama."


"Na...deo.., Nadeo..., anak Mama, yang... hebat!" Sahut Bu Ningrat lemah. "Mama titip icha...ya? Sama kamu dan Ines. Ja..gain dia."


"Ma..."


"Mama...,juga.., minta satu hal lagi sama kamu."


"Bilang Ma, akan Deo kabulin."


"Jangan tinggalin Nabila."


Nadeo melirik wanita di sampingnya, Nabila. Pandangan mareka bertemu.


"Iya Ma?"


Pandangan Nabila beralih pada Bu Ningrat.


"Jangan tinggalin Deo ya? Mama yakin kamu adalah wanita yang tepat untuk dia."


Berat!


"Iya Ma, Nabila janji!"


"Aku harap kamu bersungguh-sungguh Nabila mengatakankannya." Batin Nadeo.


...****************...


Malam itu Nadeo dan Nabila menginap di rumah Bu Ningrat. Mareka tak bisa pulang ketika melihat keadaan Bu Ningrat yang semakin parah. Alhasil mareka akan menginap barang dua atau tiga hari, atau sampai keadaan Bu Ningrat membaik. begitulah rencananya.


"Mas Nadeo, Mbak Nabila, bangun Mas, Mbak, liat Mama!!!" Teriak Icha antusias.

__ADS_1


Icha menggedor-gedor pintu kamar Nadeo, berharap sang empunya cepat keluar. Di situ Icha sudah panik setengah mati, beberapa kali ia sudah memanggil Nadeo dan Nabila.


Nadeo dan Nabila yang masig tidur sontak terkejut dengan teriakan Icha dari luar, apa lagi Icha sampai menggedor pintu. Karna panik, Nadeo dan Nabila langsung bangun dan keluar.


Di luar kamar ada Icha dalam keadaan panik, dan matanya juga berkaca-kaca. Pikiran Nadeo sudah tak enak. Apa yang sedang terjadi?


"Ada apa cha?" Tanya Nadeo tak kalah panik.


"Mama Mas!"


"Kenapa Mama?"


"Mama makin parah. Mas harus liat Mama!"


Tak tunggu lama, Nadeo segera berlari ke lantai bawah menuju kamar Bu Ningrat, diikuti oleh Icha dan Nabila di belakangnya. Langkahnya tergesa, pikirannya sudah tak enak lagi. Banyak bisikan menghampiri Nadeo.


Ketika Nadeo masuk ke dalam kamar, sudah ada Ines yang mengusap mata Bu Ningrat. Ines sendiri nampak sedang menahan tangis. Dan juga ada Hanis yang masih dengan pakaian piyamanya duduk di samping Ines di atas ranjang. Sepertinya Hanis juga baru bangun.


Tadi malam, Icha dan Ines memang tidur di kamar Bu Ningrat untuk menemaninya. Tapi, ketika pukul tiga Icha bangun, dan melihat kondisi Mamanya yang semakin parah. Icha membangunkan Ines, dan Ines menyuruh Icha agar membangunkan semuanya.


"Mama udah gak ada." Lirih Ines disertai air mata.


"Ma..!!!" Seru Nadeo dan langsung bersimpuh di samping Mamanya.


Sedangkan Hanis langsung menarik Ines ke dalam pelukannya. Ines menangis dalam pelukan sang suami, menumpahkan kesedihannya.


"Innalillahi wa innailaihi rajiun." Lirih Nabila.


Nabila juga memeluk Icha yang ada di sampingnya yang tampak sudah sesegukan. Kasian adik iparnya ini, hanya dia yang belum menikah. Dan pasti Icha sangat merasakan kehilangan, karna selama ini Ichalah yang tinggal bersama Bu Ningrat,dan dia anak bungsu.


"Sabar sayang." Bisik Nabila.


"Mbak, Mama Mbak!"


"Mama udah tenang sayang. Jangan Nangis ya? Mama sedih liat Icha Nangis."


Lain halnya dengan Nadeo, tak ada yang memeluknya. Tak ada yang membisikkan mantra semangat kepadanya.


"Ma.., jangan tinggalin deo Ma!" Teriak Nadeo.


"Sebentar ya Cha?"

__ADS_1


Nabila melepaskan pelukannya pada Icha, dan mendekati suaminya. Nabila menarik lengan Nadeo, dan laki-laki itu langsung memeluk Nabila.


__ADS_2